Perjuangan Si Alter Ego Memperbaiki Hidup

Perjuangan Si Alter Ego Memperbaiki Hidup
Kebenaran Yang Menyakitkan


__ADS_3

Bagas yang terlalu sibuk dengan jenazah steve terus memeluk jenazah steve dan menangis tanpa suara. Steve adalah teman pertama bagi Bagas. Sebelumnya, Bagas tidak pernah mendapatkan teman dekat. Tapi, sepertinya alam tidak mengizinkan Bagas untuk memiliki teman dekat. Sampai-sampai dengan teganya Tuhan juga sudah mengambil Steve darinya.


“Tuan Muda, saya menemukan dia di kamar lainnya!” ucap seorang laki-laki yang berpawakan tinggi besar dengan membawa serta seorang gadis berambut pendek.


Bagas mengalihkan pandangannya dari jenazah Steve dan melihat wajah Vina yang sudah pucat pasi dan terjatuh di lantai.


‘Apa-apaan ini? Apakah ini mimpi?’ batin Vina tidak percaya melihat tubuh Steve yang sudah terbujur kaku di pangkuan Bagas.


“Vin, a-aku—” Bagas tidak mampu melanjutkan kalimatnya.


Tiba-tiba Vina berlari dan menerjang Bagas sehingga tubuh Bagas sedikit tersungkur ke lantai dingin itu. Vina memeluk Steve erat dan terus menepuk mengelus pipi Steve dengan sayang.


“Ayolah Veve, aku tahu kamu bercanda kan denganku?”


Veve, merupakan panggilan sayang dari Vina kepada Steve. Terdengar lucu memang, tapi Vina memang berniat seperti itu agar semakin terlihat spesial.


“Bangunlah! Aku mohon!”


“Buka matamu! Kamu janji kan akan menikah dan hidup bahagia dengan aku. Kamu bilang tidak perduli orang tua atau bahkan dunia menentang hubungan kita. Kamu akan tetap menikahiku aku! Mana janjimu! Sekarang aku minta ke kamu, buka matamu!” ucap Vina panjang lebar dengan kalimat akhir yang bernada tinggi.


Bagas yang melihat hal itu merasa begitu miris. Ia paham bagaimana rasanya kehilangan orang yang disayang. Meskipun saat itu umurnya masih terbilang kecil. Tapi Bagas sudah dapat merasakan bagaimana rasanya kehilangan.


Bagas mendekat ke arah Vina secara pelan dan memegang kedua pundak Vina pelan.


“Vin, kamu harus kuat!” ucap Bagas dengan nada yang lemah.


Vina mengalihkan pandangannya ke arah Bagas. Matanya sudah berlinangan air mata. Wajahnya sudah kacau dengan ekspresi yang sangat memprihatinkan.


“Veve tidak mungkin meninggalkan aku kan?” tanya Vina lemah.


Bagas yang mendengar pertanyaan Vina dengan nada rendah itu semakin tidak tega dan memeluk Vina secara hangat.


Bagas membiarkan Vina memeluk dirinya erat dan menangis sepuasnya di dada bidangnya. Bagas terus memeluk Vina dan sedikit mengelus punggung Vina pelan.


‘Steve, aku tidak menyangka jika pertemanan kita hanya akan berakhir sampai di sini. Bukan karena sebuah pertengkaran, tapi karena perpisahan beda alam. Sakit, melihat kau seperti itu Steve,’ batin Bagas pilu melihat jenazah Steve yang sudah mulai akan diangkat dengan para pengawal Bagas.


Beberapa hari setelah kejadian naas itu. Bagas rutin menjenguk Vina yang sedang dirawat di rumah sakit. Vina mengalami depresi yang sangat berat sampai-sampai ia sering tidak sadarkan diri. Belum lagi, ternyata Steve datang ke rumah kosong itu untuk menyelamatkan Vina yang sedang disekap dengan kaki tangan ayah Steve sendiri. Sehingga Vina banyak kehilangan cairan tubuh yang menyebabkan tubuhnya menjadi lebih lemah. Ditambah saat Vina sadar dari pingsannya, Vina hanya mengingat kepergian Steve. Pandangannya begitu kosong dan tidak bergairah sama sekali. Jangankan untuk makan atau minum, untuk membuka mulutnya menjawab pertanyaan saja Vina tidak mau melakukannya.


Bagas mendekati Vina yang sedang duduk di kursi yang menghadap ke arah jendela. Bagas jongkok di hadapan Vina sambil membawa sebuket bunga lili putih.

__ADS_1


“Halo Vina! Selamat sore! Maaf ya aku baru bisa dateng. Oh ya, nih aku bawa bunga lili putih kesukaan kamu lho!” Bagas menjeda kalimatnya berharap agar Vina menimpali omongannya atau setidaknya mengalihkan atensinya terhadapnya.


Namun lagi-lagi, Vina tetap diam dengan pandangan kosong ke depan.


Bagas yang melihat Vina tetap diam berinisiatif untuk meletakkan bunga lili putih itu ke meja kecil dengan ranjang pasien.


Baru saja Bagas akan kembali mendekati Vina, seorang perawat masuk dan meminta Bagas untuk meluangkan waktu sejenak untuk pemeriksaan Vina.


“Baik, Dok!” angguk Bagas dan melangkah keluar ruangan.


Bagas memandang langit senja kala itu yang masih diselimuti awan mendung. Beberapa hari ini, sejak kepergian dari Steve. Langit seakan-akan juga ikut berkabung dengan warna gelapnya. Tidak pernah membiarkan cahaya matahari bersinar dengan terang. Seperti memberi peringatan kepada Bagas, jika ia tidak diperbolehkan bahagia.


Bagas menghembuskan napas lelah. ‘Apa yang harus aku lakukan untuk Vina, Steve?’


Bagas yang sedang merenungi pikirannya sendiri itu tersentak saat mendengar suara teriakan seorang wanita. Bagas langsung memasuki ruangan Vina karena suara teriakan itu berasal dari ruangan Vina.


“Ada apa, Sus” tanya Bagas kepada perawat tadi.


“Pasien, pasien melarikan diri!” tunjuk perawat itu ke arah jendela yang dibiarkan membuka.


Bagas langsung mengalihkan pandangannya ke arah jendela yang terbuka dan melompat lewat jendela itu. Saat mendarat ke tanah, Bagas mengedarkan pandangannya mencari sosok Vina. Hingga Bagas dapat melihat sosok Vina dari kejauhan yang sudah berlari ke arah jalan raya. Bagas yang melihat itu langsung berlari mengejar Vina. Namun, semuanya terlambat saat Bagas melihat sebuah mobil berkecepatan tinggi sedang melaju ke arah Vina.


Lalu, seketika tubuh Vina melayang ke udara dan mendarat ke jalanan dengan darah yang sudah berceceran.


Bagas membeku di tempat. Lagi, untuk kedua kalinya ia melihat bagaimana seorang temannya kehilangan nyawa. Apakah ia tidak berhasil menjalankan pesan terakhir Steve untuk menjaga Vina?


***


“Dok, saya mohon tolong selamatkan nyawa teman saya!” pinta Bagas dengan wajah yang terlihat frustasi.


“Baik, Pak. Saya akan mengusahakan yang terbaik yang saya bisa,” ucap dokter tersebut sebelum memakai masker dan memasuki ruang operasi.


Saat lampu tanda operasi dimulai, Bagas tidak bisa berhenti resah. Kakinya terus melangkahkan tubuhnya untuk berbolak-balik di Lorong rumah sakit itu. Bagas benar-benar merasa tidak becus diandalkan sebagai teman.


“Ya Tuhan, biapun aku jarang menyembahmu. Tapi tolonglah selamatkan nyawa temanku!” ucap Bagas sedikit miris dengan dirinya.


Dia tidak pernah melakukan sembahyang dan sekarang dengan tidak tahu malunya dia meminta pertolongan Tuhan.


Cukup lama Bagas menunggu sampai ruangan operasi itu terbuka dan lampu operasi sudah tidak menyala lagi.

__ADS_1


“Bagaimana Dok?”


“Syukurlah, operasinya berjalan lancar. Kita pantau kelanjutannya, Pak. Tergantung seberapa besar pasien ingin bangkit dari alam bawah sadarnya.”


Bagas hanya diam menerima penjelasan itu dan memandang ruangan untuk merawat Vina.


“Kalau begitu saya permisi!” pamit Dokter tadi.


“Terima kasih, Dok!” angguk Bagas dengan sopan.


Bagas mendekat ke arah kaca ruangan perawat Vina. “Aku mohon bukalah matamu!” harap Bagas dengan pandangan sendu.


“Setelah itu, kamu sadar dan tidak mengingat apa pun. Kamu mengalami amnesia total, sampai-sampai kamu melupakan identitas dirimu sendiri,” tutup cerita Bagas.


Vina yang mendengar cerita Bagas tersebut hanya mampu diam dan mencerna sedikit demi sedikit kalimat Bagas.


“J-jadi intinya Mas Bagas peduli ke aku karena janji itu?” tanya Vina dengan rasa sedikit linu di hati.


Bagas menggenggam tangan Vina dengan lembut. “Maaf!” sesal Bagas.


Vina menarik tangannya yang digenggam Bagas. Lalu, memperbaiki tas selempangnya sebelum beranjak berlalu pergi dari rumah Bagas.


“Vin! Vina!” panggil Bagas dengan menggapai lengan Vina.


“Lepas Mas! Aku butuh waktu untuk sendiri!” ucap Vina pelan dengan jelas dan terlihat tidak dapat diganggu gugat.


Dengan perlahan Bagas melepaskan genggamannya dan membiarkan Vina pergi dari rumahnya dengan luka baru di hatinya.


Tanpa disadari dengan Bagas maupun Vina, Rena melihat semua itu. Sedikitnya Rena tahu, jika mereka sedang bertengkar. Dan Rena dapat menebak jika biang masalahnya adalah tentang dirinya.


“Kasian kamu Bagas, aku bingung sekarang. Apakah aku harus membantumu kembali dan menjalin hubungan baik-baik dengan Vina? Atau aku tetap membiarkan kamu menjalin hubungan pernikahan ini dengan Rena disaat kamu sedang bermain api dengan wanita lain?”


.


.


.


Hai hai hai! Alhamdulillah Author bisa update lagi🤧. Jangan lupa tinggalkan jejak ya para readers hehe, makasih! Love you all😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2