Perjuangan Si Alter Ego Memperbaiki Hidup

Perjuangan Si Alter Ego Memperbaiki Hidup
Tekad Rena


__ADS_3

Vina hari itu juga langsung mendatangi kantor Bagas.


“Minggir! Aku mau ketemu sama Mas Bagas!” ucap Vina tegas kepada seorang sekretaris perempuan yang berjaga di depan ruangan Bagas.


“Mohon maaf, Bu. Tapi Pak Bagas memang sedang tidak ada di ruangannya.”


“Aku tidak percaya, Mas Bagas pasti ada di dalam dan sengaja kan mau menghindari aku! Mas! Mas!” teriak Vina.


Hari itu Sagala memang sedang ada rapat penting untuk menggantikan ketidakhadiran Bagas. Sehingga Sagala juga tidak mengetahui akan hal itu.


“Di mana Sagala?!”


“Tuan Sagala juga sedang rapat, Bu!”


Vina benar-benar kesal dengan apa yang tahu sekarang ini. “Ahk! Sialan!”


Rena langsung pergi begitu saja meninggalakan kantor Bagas dengan meninggalkan pandangan penuh tanya dari beberapa karyawan kantor.


Beberapa karyawan kantor bahkan sampai ada berbisik-bisik membicarakan tingkah Vina.


“Lihatlah, dia bahkan masih berani untuk datang ke sini.”


“Benar, padahal sudah jelas di berita kalau Pak Bagas sudah beristri.”


“Aku benar-benar jijik dengan perempuan yang seperti itu.”


Meskipun para karyawan itu berbicara secara bisik-bisik dan berjarak lumayan jauh dari Vina. Tapi Vina masih dapat mendengar perkataan mereka dengan jelas. Vina yang sempat berhenti untuk mendengar perkataan mereka pun melangkahkan langkahnya lagi untuk keluar dari kantor Bagas. Tapi sayang, belum sampai keluar dari kantor Bagas. Vina malah menabrak salah satu cleaning service sehingga membuat cleaning service itu terpental.

__ADS_1


“Apa lihat-lihat!” sewot Vina kepada karyawan lain yang memandanginya.


“Kalau jalan pake mata! Jangan cuman fokus ngepel aja!” hardik Vina kesal kepada petugas kebersihan itu dan pergi begitu saja dari kantor Bagas.


Para karyawan yang melihat hal itu semakin menjadikan Vina sebagai topik pembicaraan di kantor. Sagala yang kebetulannya baru saja kembali dari rapatnya juga melihat apa yang telah diperbuat dengan Vina. Sehingga Sagala menelepon Bagas untuk memberitahu kejadian yang terjadi di kantor hari ini.


“Apa? Jadi Vina datang ke kantor hari ini?”


“Iya, Tuan. Saya tidak tahu jika Bu Vina sempat menerobos juga untuk masuk ke ruangan Anda.”


Bagas mulai berjalan mondar-mandir sedikit gelisah. Bagas tahu bagaimana sifat asli dari Vina. Vina memang terlihat seperti wanita baik-baik. Tapi anak mana yang bahkan tidak menangis sedikitpun saat ditinggal mati orang tuanya? Vina adalah jawaban pasti untuk hal itu. Saat emosi marah dan dendam menguasainya, maka tidak ada lagi yang namanya belas kasihan. Vina dapat dengan tega melakukan apa pun terhadap orang lain yang membuat emosi memuncak.


‘Aku harus lebih berhati-hati mulai sekarang,’ batin Bagas.


Sedangkan di sisi lain, Rena langsung menemui seorang psikiater tanpa izin dengan Bagas maupun Nenek Bagas. Rena pergi begitu saja dengan menyelinap lewat pintu samping rumah.


Rena memasuki rumah sakit dengan langkah pasti dan memasuki sebuah ruangan yang ia yakini adalah ruangan seorang dokter yang telah membuat janji temu dengannya.


Rena memasuki ruangan itu dan melakukan konsultasi awal. Psikiater di sana merasa sedikit heran dengan apa yang dibicarakan Rena. Karena begitu banyak melupakan kejadian-kejadian di masa lalunya. Tetapi malah perlahan memori itu muncul kembali di otaknya.


“Bu Rena, apakah benar saya berbicara dengan alter ego?”


“Saya tidak tahu, Dok. Tapi yang saya ingat adalah saya memasuki tubuh Rena ini sudah beberapa bulan terarkir.”


“Bisa tolong ceritakan lebih detailanya?”


“Saya tidak mengingat apa-apa, Dok. Yang saya ingat adalah bahwa saya adalah seorang anak yatim piatu yang dulu pernah tinggal di sebuah panti. Lalu, seingat saya, saya juga belum menikah. Tapi saat saya ada di tubuh ini status saya sudah menikah bahkan sedang hamil, Dok.”

__ADS_1


Sang Dokter terlihat berpikir secara serius dan melakukan beberapa tes lain kepada Rena. Sampai akhirnya sang Dokter hanya mampu memberikan beberapa obat kepada Rena dan menyuruh Rena untuk lebih rajin lagi konsul dengannya. Agar dapat dengan mudah mendiagnosis dan melakukan langkah selanjutnya untuk pengobatan Rena.


Rena sampai di rumah Nenek Bagas dengan aman. Maksudnya baik Bagas maupun Nenek Bagas tidak menyadari kepergian Rena. Rena memang hanya pergi selama tiga jam saja. Dan Rena sebelumnya sudah memastikan bahwa Bagas dan Neneknya sedang sibuk di jam-jam sedikit sore. Untung saja masih ada Dokter yang membuka praktek di sore hari.


Rena merenung di dalam kamarnya sendirian. ‘Apa yang harus aku lakukan untuk memunculkan si kepribadin asli?’


‘Aku justru berharap jika aku mampu menghilang dari dunia ini dan biarkan kepribadian yang asli yang ada di tubuh ini.’


Rena yang berpikir tentang dirinya tiba-tiba saja memiliki sebuah ide sederhana. Rena mengambil gawai miliknya dan membuka aplikasi perekam video. Memposisikan sedemikian rupa agar gawainya tidak terjatuh. Rena mulai merekam dirinya sendiri.


Keesokan harinya, kepribadian Rena yang asli kembali muncul. Awalnya ia tidak menyadari jika ada sebuah pesan video di dalam gawainya. Tapi saat ia melihat sebuah pesan yang ada di notice gawainya untuk melihat video itu sendirian tanpa orang lain. Rena Maharani memutuskan untuk beranjak pelan dari ranjangnya agar tidak membangunkan Bagas yang masih terlelap.


Rena memilih untuk pergi ke area taman belakang dan duduk di kursi panjang taman itu. Lalu, mulai menonton video yang ada di gawainya.


“Rena, jika kamu melihat hal ini maka kamu pasti akan kaget karena kamu berbicara dengan diri kamu sendiri. Tapi Rena, aku bukan Rena dirimu yang sekarang ini. Aku Rena Sari, aku tidak tahu bagaimana diriku muncul di dalam dirimu. Tapi, aku juga tidak mau mengambil semua kehidupanmu. Mari kita bekerja sama untuk memulihkan kamu di sini. Kamu berhasil melawanku waktu itu dan muncul di dalam diri ini sebagai Rena Maharani. Apakah kamu bisa melakukannya lagi? Atau jika perlu kamu bisa berkonsultasi dengan seorang dokter yang juga tempat konsulku. Nomor dan alamat Dokter itu aku letakkan di dalam buku catatan yang selalu kau tulis. Aku harap kamu percaya ini meskipun terlihat mustahil,” tutup Rena sari di video itu.


Rena Maharani sedikit bertanya-tanya dengan isi video itu. ‘Apakah benar jika aku memiliki kepribadian ganda?’


Rena yang sudah tidak sabar langsung memutuskan untuk bersiap-siap menemui Dokter yang sudah berkonsultasi dengan Rena Sari.


‘Aku harus bergegas, sebelum Mas Bagas bangun dan Nenek mencariku.’


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa untuk tetap tinggalkan jejak ya... Makasih😉😘😘😘


__ADS_2