Perjuangan Si Alter Ego Memperbaiki Hidup

Perjuangan Si Alter Ego Memperbaiki Hidup
Terjebak Permainan Sendiri


__ADS_3

Hari itu Rena kembali ke rumah Nenek Bagas tepat saat siang hari. Hal itu karena Rena juga sempat berhenti untuk makan siang. Mungkin karena memang tubuhnya sedang berbadan dua sehingga Rena menjadi lebih mudah lapar akhir-akhir ini.


Bagas yang menyadari Rena tidak ada di rumah saat terbangun dari tidur langsung kalang kabut mencari keberadaan Rena. Bahkan Nenek Bagas juga sampai menelepon beberapa orang suruhannya untuk mencari keberadaan Rena. Pasalnya lewat cctv rumahnya, Nenek Bagas mengetahui jika Rena pergi ke luar rumah menggunakan taksi. Sehingga tak heran saat Rena pulang, Rena langsung diberondong pertanyaan dengan Bagas dan Nenek Bagas yang kepalang khawatir dan takut Rena kenapa-napa.


“Rena! Astaga Nak, kamu dari mana saja?” tanya Nenek Bagas.


Sedangkan Bagas lansung mengecek tubuh Rena dengan cara memutar-mutar tubuh Rena. “Kamu nggak papa kan? Nggak ada yang luka?”


‘Ternyata mereka sekhawatir itu ya denganku. Padahal aku bukan Rena yang asli,’ Batin Rena.


“Ren, jawab! Kamu nggak papa kan?” ulang Bagas.


“Iya, aku nggak papa kok!” Rena mengangguk yakin.


“Syukurlah!” ucap Bagas sambil memeluk Rena erat. Rena bahkan sampai merasa sesak karena pelukan itu.


“M-mas sesak!” ucap Rena sambil sedikit menepuk pundak Bagas.


“M-maaf,” sesal Bagas melerai pelukan itu.


‘Kenapa mereka sampai seperti ini sih? Apakah Rena pergi nggk bilang-bilang?’


“Kamu udah tahu istrinya lagi hamil, malah meluknya seerat itu!” tegur Nenek Bagas sambil sedikit menabok lengan Bagas.


“Maaf, Nek!” sesal Bagas.


“Ren, kamu udah makan belum?” tanya Nenek Bagas perhatian.

__ADS_1


“Iya, tadi Rena udah mampir di rumah makan dulu Nek. Makanya sampai rumah jam segini,” cengir Rena.


“Kalau gitu kamu masuk dulu dan ganti pakaian dulu gih! Kamu kelihatan nggak nyaman dengan pakaian itu,” tutur Nenek Bagas.


Benar, sekarang Rena sudah merasa tidak nyaman dengan pakaiannya. Rasanya pakaian itu sudah kotor dan bau, padahal Rena baru saja ganti pakain pagi tadi. Entahlah, Rena merasa bajunya sudah terkena bau asap dan debu yang sangat kotor. Sehingga Rena merasa jijik dengan baju yang ia pakai sekarang ini.


“Kalau gitu Rena ganti pakain dulu ya Nek!” izin Rena.


Nenek Bagas hanya mengangguk sekali.


Dengan begitu, Rena melangkah pergi munuju ke kamarnya untuk berganti pakaiann.


“Kenapa Nenek nggak tanya kemana Rena pergi?” heran Bagas.


“Kamu juga kenapa nggk tanya?”


“Kita harus bicara Bagas!” tekan Nenek Bagas kepada Bagas.


Bagas yang mendapatkan kalimat itu seketika bingung dengan hal penting apa yang akan Nenek Bagas bicarakan kepadanya.


...***...


Saat ini Nenek Bagas dan Bagas sedang berada di ruang kerja milik Kakek Bagas. Bagas pernah masuk ke dalam ruangan ini saat kecil, tapi setelahnya bagas sudah tidak pernah memasuki ruangan ini lagi. Hal itu bukan tanpa alasan karena Nenek Bagas sendiri yang seperti menutup rapat ruangan itu setelah kepergian Kakek Bagas. Nenek Bagas ingin menjaga nuansa dari ruangan itu agar tetap sama seperti sebelum Kakek Bagas meninggal. Agar Nenek Bagas tetap mampu mengenang mendiang suaminya dengan baik lewat barang-barang peninggalan suaminya yang ada di ruangan itu.


“Nenek tahu apa yang terjadi di kantor baru-baru ini. Sampai kapan kamu akan terus menganggap dirimu bertanggung jawab atas Vina?”


Nenek Bagas menjeda kalimatnya.

__ADS_1


“Sekarang Rena sudah hamil dan hubungan kamu dengan Vina masih belum selesai. Apa yang kamu mau sekarang ini? Bukankah kamu sendiri yang meminta untuk menikah dengan Rena saat umurnya yang bahkan baru menginjak 17 tahun? Nenek pikir kamu mencintainya Bagas. Makanya Nenek menyetujui itu dan juga melakukan pernikahan kalian sesuai dengan kemauanmu untuk berbohong seakan-akan pernikahan kalian adalah sebuah perjodohan. Sekarang Nenek semakin nggak paham dengan jalan pikirmu!” keluh Nenek Bagas.


Bagas yang ditodong pertanyan untuk pertama kalinya dengan Nenek Bagas hanya mampu terdiam. Lidahnya terasa kelu untuk menjawab pertanyaan Neneknya. Karena sekarang Bagas sadar akan satu hal, jika apa yang Bagas lakukan adalah salah. Tidak seharusnya ia mendekati Vina sejak awal. Apalagi malah berpura-pura menjadi kekasihnya.


“Nenek tidak akan menuntut kamu untuk menjawab pertanyaan Nenek. Tapi Nenek meminta kepadamu untuk melakukan yang terbaik dan segera selesaikan masalah ini. Jangan sampai semuanya terlambat Bagas!” ucap Nenek Bagas sambil sedikit menepuk bahu Bagas pelan dan beranjak keluar dari ruangan itu.


Bagas masih terdiam dengan renungannya sendiri. Ia juga tidak tahu dengan cara apa ia akan jujur dengan Vina. Dan dengan cara apa pula ia dapat lepas dari Vina. Bagas selama ini selalu menganggap Vina sebagai seorang adik dan tumpuannya juga dalam masalah perkantoran agar tidak beredar skandal lain yang dapat membahayakan reputasinya dan berdampak buruk pada kelangsungan perusahaannya.


Sekarang Bagas malah terjebak dengan permaiannya sendiri dan juga terjebak dalama rantai ketidaktegaan kepada Vina.


'Apa yang harus aku lakukan?' tanya Bagas kepada dirinya sendiri.


Sedangkan di sisi lain, Vina mulai merasa frustasi karena tidak bisa bertemu dengan Bagas dan menghubungi ponsel Bagas. Vina sudah pergi ke rumah Bagas, tapi Bagas sudah tidak tinggal di sana lagi katanya. Begitu juga dengan kampus Rena, katanya Rena sudah beberapa hari tidak datang ke kampus. Dan kabar terakhir yang ia dapat ialah, Rena sudah mengambil cuti kuliah.


“Mas, apa benar kamu akan meninggalkan aku secepat ini?” ratap Vina.


Vina menangis dengan sesenggukan sampai akhirnya ia mengingat satu hal. Rumah Nenek Bagas, rumah keluarga Adijaya, Vina belum mengecek ke sana.


Vina pun langsung beranjak untuk pergi ke kediaman keluarga Adijaya. Entah apa yang akan dilakukan oleh Vina saat ini. Apakah Vina akan bertindak melewati batas? Atau justru mundur secara perlahan saat mengetahui fakta menyakitkan dari Bagas?


.


.


.


Nantikan kelanjutannya ya! Jangan lupa untuk tetap tinggalkan jejak... Makasih😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2