Perjuangan Si Alter Ego Memperbaiki Hidup

Perjuangan Si Alter Ego Memperbaiki Hidup
Masa Lalu 2


__ADS_3

Beberapa hari telah berlalu dari kejadian itu, tapi Rena benar-benar berubah. Tidak ada lagi Rena yang ceria. Rena berubah menjadi pendiam. Pandangan matanya begitu kosong bahkan terkadang mengamuk dengan teriakan yang sangat histeris.


Nenek Bagas yang melihat hal itu hanya mampu menangis dalam diam.


‘Ya Tuhan Rena, kenapa kamu jadi seperti ini Nak?’


Nenek Bagas selalu memantau Rena yang masih berada di bawah pengawasan dokter. Psikiater maupun psikolog bekerja sama untuk melakukan penyembuhan kepada Rena. Sayangnya dalam kasus Rena, bukan hanya kasus percobaan pelecehan saja. Sejak kecil saat dia hidup di panti asuhan, Rena mendapatkan Ibu Panti yang sangat galak. Bahkan tak segan memberikan seragan fisik kepada Rena.


Sejak kecil Rena sudah dituntut untuk menjadi anak yang bekerja keras. Rena selalu bangun lebih pagi dari anak-anak panti yang lain. Hal itu karena Rena selalu mendapatkan tugas untuk membersihkan panti sendirian. Panti asuhan yang memang masih berada di bawah naungan Adijaya Group itu terletak di Jakarta daerah pinggiran. Sehingga letaknya dan kinerjanya tidak mendapatkan perhatian dari pusat.


Anak-anak yang tinggal di panti juga hanya sedikit. Mungkin sekitar empat orang saja. Tapi, Ibu panti mereka begitu tamak. Rena dan anak-anak lain tidak pernah mendapatkan jatah makan yang seharusnya. Sehingga tidak jarang Rena dan anak-anak lain harus menahan lapar agar tidak semakin dihadiahi serangan fisik berupa pukulan dan tamparan.


Panti asuhan yang ditempati oleh Rena dipercayakan kepada Ibu Panti yang kebetulannya telah memiliki seorang pacar. Pacar Ibu Panti itu kerap mengunjungi panti hanya untuk berkencan atau sekedar meminta uang kepada Ibu Panti.


Rena yang memang diberikan kelebihan berupa kecantikan sejak kecil mampu membuat pacar dari Ibu Panti itu tertarik sampai ke batas yang tidak wajar. Waktu itu umur Rena masih delapan tahun. Rena yang tidak tahu apa-apa diajak pergi oleh pacar Ibu panti. Tentu saja Rena mau karena juga dijanjikan sebuah makanan yang sangat lezat. Rena yang memang pada dasarnya jarang makan makanan lezat mengikuti pacar Ibu panti.


Rena kecil tidak sadar jika sebenarnya ia dibawa ke sebuah rumah kecil yang sudah lama tidak berpenghuni. Rena memasuki rumah itu dengan takut dan bahkan sempat menolak untuk masuk.


“Paman, Rena tidak mau masuk ke rumah itu. Rena takut!” ucap Rena sambil meremas kedua tangannya.


Pacar Ibu panti itu berjongkok di hadapan Rena dan terlihat tersenyum menenangkan.


“Rena, nggak papa kok. Kan ada Paman, Paman janji nggak bakal membiarkan Rena kenapa-kenapa. Rena percaya kan sama Paman?”


Rena awalnya ragu, biar bagaimanapun diusianya yang ke delapan tahun ini Rena paham jika tidak mungkin ada makanan enak di rumah kosong itu. Tapi, di umur delapan tahun itu juga Rena tidak pernah menyadari apa yang bisa dilakukan Paman pacar dari Ibu panti itu kepada Rena.


Rena mengangguk dengan pelan dan menggenggam tangan Paman itu.


“Rena duduk di sini dulu ya!” Paman itu mengarahkan Rena untuk duduk di sebuah kursi tua yang memang masih nampak bersih. Tapi, ruangan itu benar-benar bukan ruangan yang cocok untuk seorang gadis kecil berumur delapan tahun.


Bagian dalam rumah itu memang cukup bersih jika dibandingkan dengan bagian depan rumah. Tapi, Rena dapat melihat hal-hal aneh yang ada di rumah itu. Banyak sekali alat-alat yang tidak Rena pahami bergantungan dan bahkan dipajang di dinding.

__ADS_1


“Paman, alat-alat itu untuk apa?” tanya Rena penasaran.


“Oh, kau melihatnya? Itu hanyalah mainan saja. Meskipun Paman sudah besar tapi Paman juga masih bermain. Rena mau nggak bermain sama Paman?”


Rena kecil yang mendengar kata bermain tentu langsung mengiyakan ajakan itu dengan semangat.


“Rena mau Paman!” teriak kecil Rena.


Paman itu tersenyum misterius. Lalu, menggiring Rena untuk memasuki sebuah kamar yang terletak agak belakang di rumah itu.


Di dalam kamar itu lah sang Paman melakukan hal-hal yang hina yang seharusnya tidak dilakukan oleh seorang pria dewasa kepada seorang anak kecil yang masih berumur delapan tahun. Teriakan dan tangisan Rena kecil begitu menggema dari kamar itu. Namun, letak rumah yang sangat jauh dari keramian, bahkan cenderung terisolasi membuat suara Rena hanya mampu didengar dengan Paman itu.


...***...


“Jadi, Ibu Adijaya sebenarnya apa yang telah terjadi kepada Rena?”


Nenek Bagas terlihat meremas kedua tangannya dengan cemas. Terlihat begitu sakit dan sedih.


“Lalu, bagamana bisa Rena kembali menjalani kehidapannya seperti biasa, Bu?”


Nenek Bagas terlihat sedikit menerawang jauh dengan menatap meja yang ada di depannya.


“Waktu kecil Rena begitu pendiam setelah kejadian itu. Ibu panti yang mengasuh Rena benar-benar minta maaf kepada saya. Saya yang merasa bersalah dengan Rena terus memantau Rena sejak kejadian itu. Meskipun saya tidak pernah menunjukkan diri secara langsung dengan Rena. Tapi saya selalu mengawasi Rena dari jarak jauh.


Rena berubah menjadi anak yang anti sosial. Rena tidak memiliki teman dan memang cenderung menjauh dari teman-temannya. Saya mengkonsultasikan hal ini dengan beberapa dokter dan meminta Ibu asuh Rena yang baru untuk membawa Rena berkonsultasi. Setelah konsultasi yang sangat lama dan beberapa pemeriksaan. Dokter menyarankan untuk kembali membentuk kepribadian dan menghapus memori Rena. Jadi, setelah penghapusan memori itu Rena secara perlahan kembali menjadi kepribadiannya yang dulu. Ceria, suka menolong orang lain, dan bahkan tak jarang juga berkorban untuk orang lain.


Di umurnya yang menginjak ke enam belas tahun. Rena menyelamatkan saya yang sudah akan terkena pukulan dari seorang pencopet. Rena memang memiliki ilmu bela diri yang bagus. Tapi sayangnya saat Rena merasakan ketakutan yang luar biasa maka ada sebuah kondisi dimana Rena akan melupakan segalanya. Bahkan hanya untuk berbicara, Rena bilang ia tidak bisa melakukan apapun.”


“Jadi, Rena melakukan psikoterapi di umurnya yang ke berapa tahun?” tanya Dokter.


Nenek Bagas terlihat mengingat-ingat, “Sepertinya sekitar sebelas tahun, Dok.”

__ADS_1


Dokter terlihat mengangguk-angguk.


“Kejadiannya sekarang adalah Rena berubah menjadi orang lain di waktu-waktu tertentu, Nek.”


“Maksud Dokter?”


“Saat Rena melihat seorang laki-laki yang terlihat mirip dengan pelaku itu. Atau bahkan hanya seorang laki-laki yang mampu membuat alarm berbahaya di dalam otaknya berbunyi. Rena memunculkan sebuah kepribadian baru dalam dirinya atau bisa disebut sebagai alter ego. Mungkin memang saat ini belum terlalu terlihat. Tapi jika melihat dari gejalanya, pribadi Rena yang asli akan terkalahkan dengan alter egonya. Pribadi Rena yang asli terlalu lemah untuk melawan alter ego itu.”


“Lalu, apa yang harus saya lakukan Dok?”


“Saya pikir akan lebih baik jika melakukan pemantauan secara berkala terhadap Rena. Saya akan merekomendasikan beberapa obat penenang dan pereda sakit kepala. Karena alter egonya juga tidak menyadari keberadaannya. Kita masih bisa menghilangkan alter ego itu dengan menghindarkan dia dengan hal-hal yang dapat memicu munculnya si alter ego.”


“Jadi, saya harus melakukan pengawasan yang ekstra kepada Rena, Dok?”


“Benar, Ibu Adijaya.”


Nenek Bagas melakukan semua saran dari Dokter itu. Bahkan tidak pernah absen untuk melakukan konsultasi dengan Dokter itu.


“Jadi, kurang lebih seperti itu Bagas," ucap Nenek Bagas sebagai akhir dari ceritanya.


Bagas melihat Neneknya dengan pandangan yang tidak percaya.


‘Seberapa tertekannya hidupmu Rena?’ batin Bagas dalam hati.


Sedangkan di sisi lain, Rena mulai tersadar dari tidurnya. Awalnya hanya bangkit duduk dan terus menatap sebuah pisau kecil yang terletak di samping buah-buahan. Tapi, selanjutnya Rena mengambil pisau kecil itu dan mengarahkannya ke pergelangan tangan sebelah kiri. Apa yang sedang Rena coba lakukan?


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, dan vote ya... makasih😘😘😘


__ADS_2