Perjuangan Si Alter Ego Memperbaiki Hidup

Perjuangan Si Alter Ego Memperbaiki Hidup
Siuman


__ADS_3

Suasana acara ulang tahun perusahaan Adijaya Group menjadi sangat riuh. Mereka bertanya-tanya tentang siapa wanita yang digendong dengan Bagas. Sehingga Bagas begitu peduli terhadap wanita itu. Bahkan, Vina yang notabennya seorang wanita yang diketahui sedang dekat dengan Bagas ditinggalkan begitu saja dengan Bagas.


Pihak awak media yang penasaran dengan apa yang terjadi langsung menghampiri Vina untuk mengkonfirmasi wanita itu. Begitu juga dengan Sagala, sekertaris pribadi Bagas itu langsung mendapatkan sorotan dari berbagai media. Sehingga tak heran, keesokan harinya berbagai artikel tentang Rena yang digendong dengan Bagas dan asumsi hubungan tentang mereka memenuhi kolom pencarian internet.


Setelah mengendong Rena dan membawanya ke rumah sakit terdekat. Dimana rumah sakit itu masih merupakan naungan dari Adijaya Group. Bagas langsung memerintahkan beberapa anak buahnya untuk berjaga di sekitaran rumah sakit. Bagas tidak ingin lagi masalah ini mendapatkan terlalu banyak perhatian dari media.


Semalaman penuh Bagas terus menemani Rena yang tidak sadarkan diri hingga pagi ini. Setelah melakukan pemeriksaan, Rena pingsan akibat terlalu kelelahan. Bagas tidak habis pikir dengan Rena. Saat Bagas akan berangkat tadi ia sudah menanyakan bagaimana kabar Rena. Dan Rena bilang bahwa dia kurang sehat. Lalu, kenapa saat Rena kurang sehat ia justru menghadiri acara itu? Bagas sekarang menyesal melarang Rena untuk hadir di acara ulang tahun perusahannya. Setidaknya, jika Rena berangkat dengan Bagas maka Bagas akan menjaga Rena. Dan begitu Bagas melihat keanehan dari dalam diri Rena, Bagas pasti akan langsung membawa Rena pulang. Tidak sampai pingsan seperti ini.


Namun, untung saja dokter menjelaskan bahwa tidak ada hal serius yang mengancam kehamilan Rena. Jika sampai kandungan Rena kenapa-kenapa, Bagas yakin ia tidak akan bisa berdiri lagi. Karena Neneknya pasti akan memotong kakinya atas kelalaiannya terhadap Rena. Bagas bahkan tidak habis pikir dengan Neneknya yang langsung pergi ke rumah sakit ini tepat pukul 11 malam. Padahal, jika Bagas sakit saja Neneknya tidak pernah sepeduli itu.


Bagas menatap wajah Rena yang nampak ayu meskipun sedang tertidur. Wajah itu begitu damai, hingga Bagas tidak yakin jika Rena mampu meminta cerai darinya. Bagas beralih melihat Neneknya yang masih tertidur di sofa ruang pasien itu. Bagas mendekati Neneknya dan menyelimutinya, tidak lupa juga membenarkan posisi tidur Neneknya yang terlihat tidak nyaman. Bagas takut jika Neneknya akan mengalami sakit di beberapa bagian tubuhnya karena kesalahan posisi tidur.


Bagas kembali duduk di kursi yang berada di samping ranjang pasien. Bagas meraih tangan Rena yang terasa dingin di tangannya. Menggenggamnya dengan hangat dan mendaratkan sebuah kecupan di punggung tangan itu.


‘Sadarlah, sayang. Kamu lama sekali tertidur.’


Sedangkang dalam mimpi Rena. Rena mendapati bahwa ia sedang bercanda dengan Nenek Bagas. Nenek Bagas sedang sibuk merapikan tatanan rambut Rena yang terlihat begitu berantakan.


“Nek, Rena betah banget di sini,” ucap Rena riang.


Nenek Bagas tersenyum menanggapi.


“Rena mau kan tinggal sama Nenek?”


Rena mengangguk dengan sangat antusias. “Mau banget Nek. Nanti kalau Rena tinggal di sini Nenek beliin banyak boneka buat Rena ya!”


Nenek Bagas tersenyum dan mengelus rambut Rena dengan pelan penuh kasih sayang. “Pasti sayang. Sekarang kita masuk yuk! Udah sore nih, nanti kamu dimakan nyamuk kalau terus di sini,” goda Nenek Bagas.


Rena yang digoda hanya tertawa saja dan mengikuti langkah Nenek Bagas untuk masuk ke rumah megah bak istana milik keluarga Adijaya.


...***...


Rena menyipitkan matanya untuk menghalau cahaya yang masuk di mata. Rena merasa sangat silau.

__ADS_1


‘Di mana aku?’ batinnya bertanya saat ia mulai dapat menyesuaikan matanya dengan cahaya di ruangan serba putih itu.


Rena dapat melihat Bagas yang sedang menelungkupkan kepalanya di samping ranjang Rena.


“Kenapa Mas Bagas tidur di sini?” tanya Rena pelan.


Rena mencoba bangkit dari posisi berbaringnya untuk duduk. Namun, meskipun Rena sudah mencoba untuk bergerak pelan-pelan agar Bagas tidak terusik. Kenyataannya, Bagas tetap membuka matanya karena terusik dengan pergerakan Rena.


“Kamu udah bangun, Ren?”


Ren? Sejak kapan Mas Bagas memanggilku seperti itu? bukanya biasanya Mas Bagas hanya akan memanggilku ‘gadis manja’? batin Rena.


Rena hanya dapat mengangguk pelan.


“Kamu mau apa?” tanya Bagas dengan nada yang begitu lembut.


Rena bahkan sampai terbengong dengan perubahan dari nada berbicara Bagas.


“Eh, aku haus Mas.”


Setelah menengguk hingga hanya tersisa setengah gelas. Rena mengembalikan gelas itu kepada Bagas.


“Apa yang terjadi dengan aku Mas?”


“Kamu kelelahan, Ren. Mulai sekarang kamu cuti kuliah saja ya!” bujuk Bagas


Hamil. Rena ingat kalau Rena sedang hamil. Maka dengan rasa yang masih tidak percaya dan diringi rasa takjub. Rena mengelus perutnya sendiri dengan senyum yang begitu menawan.


‘Kenapa aku merasa Rena yang sekarang bukan Rena yang menjadi pembakang beberapa hari yang lalu?’ batin Bagas.


“Ehm, untuk cuti kuliah sepertinya Rena masih belum memerlukannya Mas. Lagian Rena kan baru hamil sekitar tiga bulanan. Perut Rena juga belum kelihatan menonjol,” papar Rena dengan suara yang begitu lemah lembut.


“Kamu yakin?” tanya Bagas dengan pandangan kurang setuju.

__ADS_1


“Aku yakin, Mas!” mengangguk dengan pasti.


Bagas menghembuskan napas lelah. “Baiklah, tapi jika sampai hal-hal seperti ini terjadi kembali. Maka tidak ada alasan lagi untuk cuti kuliah oke?”


Rene mengagguk dengan pelan pertanda menyetujui.


Beberapa saat kemudian, seorang dokter laki-laki nampak memasuki ruangan pasien Rena.


“Permisi, Pak. Boleh saya mengecek keadaan pasien?” tanya dokter laki-laki itu dengan ramah. Mungkin usianya seumuran dengan Bagas.


“Apa tidak ada dokter perempuan di sini?” jawab Bagas ketus.


Nenek Bagas yang mulai terusik dengan keberisikan yang terjadi, bangun dari sofa tempat ia tidur dan mendekat ke arah Rena.


“Ren, kamu sudah sadar?” tanya Nenek Bagas dengan senyum manis yang terukir.


“Udah, Nek,” tersenyum menanggapi.


Nenek Bagas mengalihkan perhatiannya kepada Bagas yang nampak kesal dan dokter laki-laki yang berada di samping Bagas.


“Pagi, Dok!” sapa Nenek Bagas.


“Pagi, Bu!” sapa balik Dokter laki-laki itu.


“Mau memeriksa keadaan Rena?”


Dokter itu mengangguk sekali. “Silakan!” lanjut Nenek Bagas.


Bagas yang melihat itu langsung memelototi dokter laki-laki itu. Semua pergerakannya mendapatkan tatapan tajam dari seorang Bagas Adijaya.


‘Ya ampun, tuh mata nggak bisa santai ya!’ batin dokter laki-laki itu.


Setelah semua pemeriksaan selesai. Dokter mengatakan jika Rena sudah boleh pulang hari ini. Namun, untuk mengetahui keadaan yang lebih spesifik lagi untuk janinnya. Dokter laki-laki itu menyarankan Rena untuk melakukan pemeriksaan ke dokter spesialis kandungan.

__ADS_1


Sang Nenek yang mendengar hal itu tentu langsung bersemangat. Karena memang Nenek Bagas begitu ingin melihat kondisi janin yang sedang dikandung cucu menantu kesayangannya itu. Tanpa menunggu persetujuan dari Bagas, Nenek Bagas bahkan sudah mendaftarkan Rena untuk pemeriksaan hari ini. Sehingga mau tidak mau, Bagas mengikuti keinginan sang Nenek.


__ADS_2