Perjuangan Si Alter Ego Memperbaiki Hidup

Perjuangan Si Alter Ego Memperbaiki Hidup
Ketegasan Bagas


__ADS_3

“Rena!”


Rena yang merasa namanya terpanggil pun melepaskan pelukan Rayan dan langsung bangkit. Rena dapat melihat Bagas yang berjalan dengan langkah tegas dan rahang yang mulai mengeras. Rena bahkan sampai sedikit beringsut mundur melihat Bagas seperti itu.


Bagas langsung menggapai pergelangan tangan Rena dan menarik Rena sedikit kasar untuk berada di belakang tubuhnya.


“Saya sudah memberitahu kamu kan kalau Rena adalah istri saya?!” tandas Bagas kepada Rayan.


Rayan hanya mampu diam terpatung menyaksikan kemarahan Bagas.


Terlihat tangan Bagas yang lain terkepal dengan erat.


“Dan kamu.” Bagas menatap Rena dengan pancaran yang tajam. “Kenapa kamu pergi tidak bilang kepadaku?”


“A-aku kan tadi udah bilang ke kamu Mas,” cicit Rena.


Bagas menaikkan alisnya.


“Jangan kasar dong kalau sama cewek!” ucap Rayan tegas kepada Bagas.


Bagas mengalihkan pandangannya kepada Rayan dan menatap Rayan tajam, “Tahu apa anda tentang saya?! Jangan ikut campur!” tekan Bagas kepada Rayan.


Setelah itu Bagas terlihat menyeret Rena dengan keras. Sampai-sampai Rena sedikit terseok dan akan terjatuh. Untung saja keseimbangan Rena cukup bagus sehingga Rena tidak sampai terjerembab ke tanah. Bagas yang melihat itu justru langsung menggendong Rena dengan sekali angkatan.


Hal itu sontak menjadi tontonan yang langsung menarik perhatian orang-orang yang ada di taman itu.


“Mas! Lepas! Kamu apa-apaan sih!” ucap Rena sambil memukul bahu Bagas.


Bagas menatap Rena dengan rahang yang masih terkatup rapat. Rena yang melihat itu jelas langsung diam tidak berkutik. Jujur saja, Rena tentu merasa takut melihat Bagas dalam keadaan begini.


Bagas tetap diam sampai menurunkan Rena di kursi penumpang samping sopir. Bagas menghidupkan mobil dalam diam dan menjalankan mobilnya dalam diam sampai kembali ke rumah Neneknya.


Bagas langsung menggendong Rena lagi setibanya di rumah Nenek.


“Mas! Aku bisa jalan sendiri!” ronta Rena.


“Diam atau kamu jatuh!” peringat Bagas yang tidak terbantahkan.

__ADS_1


Nenek yang melihat Rena digendong langsung menghampiri Rena dan Bagas.


“Ya ampun, Rena kenapa, Gas?” tanya Nenek khawatir.


“Rena nggak papa, Nek. Cuman Bagas mau gendong Rena aja. Soalnya kalau digendong gini dia nanti kabur!” Bagas menekankan kalimat terakhir kepada Rena sambil melirik Rena.


Nenek yang tahu ada yang tidak beres pun sadar diri dan mengundurkan diri.


Bagas melangkahkan kakinya untuk menaiki tangga dan mendaratkan Rena di lantai saat sudah tiba di kamar mereka.


“Duduk!” perintah Bagas.


Rena langsung seperti kerbau yang terciduk langsung menurut duduk di Kasur.


“Jadi, kenapa kamu pergi nggak izin?”


“Aku nggak mau ganggu kamu sama Vina, Mas,” ucap Rena sambil sedikit cemberut.


“Memangnya aku mau ngapain sama Vina?” tanya Bagas yang masih tidak paham arah pembicaraan Rena.


“Aku tahu kamu mencintai Vina, Mas! Makanya aku nggak mau jadi penghalang di antara kalian. Saat anak sudah lahir nanti. Kamu akan menjadi ahli waris sepenuhnya di keluarga Adijaya. Saat itu tiba, kamu boleh menceraikan aku, Mas. Tapi sebelum hari itu tiba aku juga minta ke kamu untuk jangan temui aku!” ucap Rena tegas dengan nada getir.


“Apa yang kamu pikirkan itu salah,” ucap Bagas pelan dan justru mendaratkan kepalanya di paha Rena.


Rena tentu merasa kaget melihat sikap Bagas yang Rena pikir akan semakin marah.


“Aku nggak mau kehilangan Rena kecilku. Aku tidak mau kehilangan anakku. Aku tidak mau berpisah dengan dirimu. Tolong berikan aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya!” ucap Bagas sambil menggenggam kedua tangan Rena.


“A-apa maksud kamu, Mas?” tanya Rena ragu.


Rena tentu saja ragu dengan perkataan Bagas. Apa sebenarnya yang Bagas yang mau? Bukankah selama ini Bagas selalu berselingkuh dan selalu bilang jika ia tidak pernah menginginkan Rena dan calon anaknya kecuali karena untuk menjadi ahli waris keluarga Adijaya.


“Maaf, seribu kali pun aku tahu tidak akan pernah bisa memulihkan hatimu yang terluka. Tapi aku tidak mau pisah dengan dirimu,” ucap Bagas dengan nada rendah serak yang matanya sudah berkaca-kaca.


“Maaf, maaf, maaf,” gumam Bagas terus-menerus sambil menyerukkan wajahnya di paha Rena.


“Mas!” Rena mengangkat kepala Bagas.

__ADS_1


Dapat Rena lihat wajah Bagas yang berantakan. Rena benar-benar tidak tega kalau kasusnya seperti ini.


“Kenapa kamu melakukan ini, Mas?”


Bagas mempererat genggamannya di tangan Rena.


“Dengarkan dulu ceritaku ya?”


Rena menatap Bagas lama sebelum akhirnya memutuskan untuk mengangguk.


Bagas mulai menceritakan semua kejadian di masa lalu yang membuat Bagas mau tidak mau dekat dengan Vina. Bagas bahkan menceritakan dengan detail latar keluarga Vina dan Steve. Rena yang mendengar cerita itu bingung akan bereaksi apa. Dirinya tahu dan sadar jika memang itu bukan kemauan Bagas. Tapi apa yang sudah Bagas lakukan itu juga sedikit terlihat keterlaluan.


“Kalau begitu kenapa kamu ingin mempertahankan hubungan ini, Mas? Aku tahu masa lalu kamu dengan Vina seperti itu, tapi apa alasan kamu tidak mau pisah dengan aku?” tanya Rena serius.


“Aku menyukai kamu sejak kamu kecil, Ren,” lirih Bagas.


“Terserah kamu mau percaya atau tidak. Tapi saat kamu datang mengenakan dress merah jambu yang terlihat sedikit kusam dengan wajah yang berseri menggandeng tangan Nenek. Jantungku sudah berdebar sejak itu. Tapi aku takut ini hanya perasaan yang tidak benar. Bagaimana bisa seorang anak laki-laki berusia 21 tahun menyukai seorang anak kecil yang bahkan masih berumur 12 tahun. Kamu tahu?” Bagas terkekeh. “Aku sampai ke psikolog waktu itu karena aku takut menjadi pedofil.”


Bagas menatap Rena dalam. “Aku tahu aku salah, tapi aku juga tidak mau kehilangan dirimu. Ijinkan aku untuk egois sekali lagi.” Bagas menyampirkan helaian rambut Rena yang menutupi sebagian wajahnya. Bagas menangkup tengkuk Rena dengan pelan dan mulai mendekatkan wajahnya kepada Rena. Bagas sempat ragu untuk bertindak lebih lanjut, tapi saat Bagas melihat Rena yang menutup matanya seakan menerima apa yang akan Bagas perbuat. Membuat Bagas semakin yakin untuk melakukan apa yang diinginkannya.


Perlahan namun pasti Bagas menempelkan belah bibirnya kepada bibir ranum Rena. Mengulumnya dan mencecap rasa manis yang ada si bibir itu. Hingga Bagas merasakan cengkraman tangan Rena di pundaknya yang menandakan napasnya Rena mulai kehabisan. Bagas melepas pangutannya dari Rena dengan terkekeh.


Wajah Rena sudah merah padam dan acak-acakan itu justru membuat Bagas senang dan ingin melakukan hal lebih.


“Kamu cantik sekali,” ucap Bagas sambil menghapus saliva yang ada di sudut bibir Rena.


Rena hanya mampu menunduk dan terus menghindar dari tatapan Bagas. Bagas yang melihat itu pun memegang dagu Rena. Memaksa Rena untuk melihat ke arahnya.


“Aku mohon berikan aku kesempatan lagi untuk memperbaiki semuanya,” ucap Bagas penuh penyesalan dan nada yang serak parau.


Rena menatap Bagas dalam, sebelum memutuskan untuk mengangguk kemudian.


Bagas yang melihat hal itu langsung berhambur memeluk Rena dengan erat. Seakan-akan Bagas tidak akan melepaskan Rena lagi dan tidak akan membiarkan Rena pergi darinya.


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa, like, komen, dan vote ya...🤗🤗


__ADS_2