
Keesokan harinya, Rena berangkat kuliah seperti biasa. Bahkan kali ini juga sama seperti hari lalu. Rena kembali dihadang oleh kakak tingkat yang kemaren. Tapi, bedanya kali ini hanya 4 orang. Rena yang malas sudah akan melarikan diri dengan melewati jalan memutar. Namun, belum sempat Rena berbalik Kakak tingkatnya itu sudah mengejar dan menggapai lengan Rena sehingga Rena mau tidak mau menghentikan langkahnya.
“Ada apa lagi?” tanya Rena malas.
“Ren, kita minta maaf soal kejadian kemaren ya?” pintan salah satu cewek yang berambut pendek.
Rena memiringkan kepalanya karena mengira ia salah dengar.
“Kamu kepentok apa?”
Keempat gadis itu nampak menundukkan kepalanya. Mereka seakan tidak berani menatap mata Rena secara langsung.
‘Apa ada sesuatu yang sudah terjadi dan tidak aku ketahui?’ pikir Rena.
“Sudahlah, aku maafkan kalian semuanya. Lagian kalian kan kakak tingkatku kalau aku tidak memaafkan kalian yang ada aku akan dicap sebagai adik tingkat yang sombong.”
Keempat kakak tingkat itu nampak mendongakkan kepalanya dengan wajah yang sumringah.
Batin mereka, syukurlah! Mereka tidak akan kehilangan anggota badannya dan tidak akan menjadi santapan buaya.
“Terima kasih, Ren!” ucap mereka bersamaan.
Rena mengangguk sekali dan melangkah pergi. Namun, belum sampai ia melangkah sejauh seratus meter. Rena sudah kembali dihadang dengan Viola. Viola, pemimpin dari kakak tingkat yang kemaren menghadang Rena. Rena menghembuskan napas lelah.
‘Apa lagi ini? Satu sudah selesai muncul yang satu lagi.’
“Kalian, apa yang kalian lakukan barusan?!” bentak Viola kepada teman-temannya.
Teman-temannya tidak ada yang berani menjawab.
Viola mendekat ke Rena dan mencoba mendorong Rena. Namun, berhasil dihentikan oleh kakak tingkat yang berambut panjang dan yang paling bongsor. Justru kakak tingkat itu malah balik mendorong Viola sampai jatuh ke tanah.
“Apa yang kamu lakukan?!” bentak Viola.
“Kamu itu harus sadar diri, Vio! Bagas juga nggak bakal mau kok sama kamu! Lagian kita kan masih nggak tahu si Rena ini punya hubungan apa sama Bagas!” tandas kakak tingkat itu.
“Kamu!” Vio bangkit dari tanah.
“Kamu pikir kamu siapa hah?! Lancang kamu berbicara seperti itu!”
“Ya … aku kan hanya tidak mau kamu terus-terusan mengganggu orang yang tidak bersalah!” Kakak tingkat tadi mengedikkan bahunya.
__ADS_1
“Mari Rena, kita antar kamu sampai kelas kamu!” tawar kakak tingkat berambut pendek.
Rena hanya mengikuti saja langkah kakak tingkatnya itu. Rena sendiri juga bingung dengan apa yang terjadi.
‘Ada apa sih ini?’
Sedangkah Viola mengepalkan tangannya kesal melihat teman-temannya malah membantu Rena dan berkhianat kepadanya. Viola adalah anak dari Rektor kampus Rena. Tak heran bahkan saat Viola melakukan tindakan yang sampai mengancam nyawa orang lain pun. Tidak ada yang berani melaporkannya kepada rektor apalagi sampai ke pihak berwenang.
“Awas saja, aku pasti akan membalasmu Rena!”
...***...
Setelah selesai mata kuliah terakhir Rena merasakan kandung kemihnya sudah penuh sehingga melangkah menuju toilet yang berada di gedung fakultasnya yang paling pojok. Karena hari yang sudah mulai sore dan sudah tidak ada kegiatan lagi di faluktas Rena. Rena hanya sendirian di toilet itu.
“Hah, leganya!”
Rena sudah akan membuka pintunya untuk keluar dari toilet. Namun, pintu itu seperti ada yang menghalanginya. Sehingga Rena tidak dapat membuka pintu itu.
“Kok nggak bisa dibuka sih!”
Rena kesal bukan main karena pintu itu tidak dapat dibuka.
TIba-tiba dari arah atas mengalir air yang berbau menyiram seluruh tubuh Rena.
Kembali lagi air bau itu menyiram tubuh Rena untuk yang kedua kalinya.
“Hei! Bukain pintu ini!” gedor Rena ke pintu itu sambil terus meneriakkan apa saja berharap ada orang yang mendengar.
Namun, sudah hampir setengah jam Rena berteriak tidak ada sahutan apa pun. Kecuali Rena justru mendengar suara pintu terkunci dari luar. Sekarang Rena mulai takut. Hari sudah mulai petang dan tentunya penerangan toilet itu tidak dihidupkan.
Rena mulai menggigil akibat siraman air pel tadi. Air yang menyiram tubuh Rena semakin membuat Rena bersin-bersin karena baunya yang tidak enak. Rena memeluk tubuhnya sendiri dan berjalan mundur sampai mentok ke tembok. Menatap langit-langit toilet yang mulai gelap. Rena tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan untuk keluar dari sini.
“Handphoneku!” Rena mencari handphonnya yang berada di tas kecil yang tadi ia bawa. Namun, nasib baik tidak memihak kepadanya. Tas kecil itu juga sudah basah oleh air yang mengenai seluruh tubuhnya. Saat Rena mencoba menghidupkan gawainya. Gawai itu tidak bereaksi apa-apa.
Rena duduk lemas di atas bangku toilet. Merasa putus asa. Mendongak melihat langit dan berharap seseorang sadar jika ia menghilang.
“Apakah Mas Bagas akan sadar kalau aku belum pulang?” monolog Rena.
Lalu, Rena tersenyum kecut. “Mana mungkin, Mas Bagas pasti sedang dengan Vina saat ini."
Rena merasakan dingin yang terlalu menusuk ke tulang. Badannya sampai bergetar karena tidak dapat menahan hawa dingin itu. Sehingga perlahan Rena menutup mata dan kesadarannya hilang.
__ADS_1
Sedangkan di tempat lain, Bagas sudah pulang dan tidak menemukan Rena di rumah. Padahal Bagas sudah mencari Rena ke suluruh penjuru rumah.
“Ke mana sih Rena? Kok sampai jam segini belum pulang,” heran Bagas.
Rena meskipun suka membangkang dari Bagas tapi Rena jarang sekali pulang telat. Atau minimalnya Rena pasti akan pulang dulu untuk sekedar mengganti pakaiannya sebelum main. Tapi, bahkan sampai hari sudah petang Bagas tidak melihat batang hidung dari Rena. Bahkan nomor hpnya tidak aktif. Bagas jadi mulai sedikit khawatir.
Bagas yang sudah tidak tenang, memutuskan untuk pergi ke kampus Rena.
Setibanya di kampus Rena, tempat itu sudah sepi. Sehingga Bagas didatangi oleh petugas keamaan.
“Sore Pak! Ada yang bisa saya bantu?”
“Pak, apakah masih ada mahasiswa di dalam?”
“Mohon maaf Pak, Bapak mencari siapa dan dari fakultas apa?”
“Saya mencari atas nama Rena Maharani dari fakultas Pendidikan Pak!”
“Mari Pak, ikuti saya!”
Petugas keamanan itu justru membawa Bagas ke ruang cctv. Dari sana Bagas dan petugas keamaan itu dapat melihat Rena yang mau masuk ke kamar mandi.
“Nah, itu Pak!”
Petugas keamanan nampak mengulang selama beberapa detik dan menunggu apa yang terjadi setelahnya. Setelahnya nampak seorang perempuan masuk ke toilet itu dengan mengendap-endap. Lalu, setelahnya mereka menunggu selama sepuluh menitan baru perempuan yang masuk ke toilet dengan mengendap-endap itu keluar dan malah mengunci pintu toilet.
“Pak, boleh tunjukan di mana toilet itu?”
Petugas keamaan terlihat mengangguk.
Bagas dan petugas keamaan menuju ke lokasi Rena berada. Begitu sampai di sana petugas keamaanan membuka pintu toilet itu dan melihat Rena yang sudah tidak sadarkan diri. Bagas yang melihat itu begitu miris. Tubuh Rena sudah basah semua, bibirnya mulai membiru, kulitnya mulai berwarna pucat, dan yang lebih parah lagi baunya tidak enak karena dari penyiraman air pel tadi.
Bagas langsung masuk dan menggedong Rena tanpa rasa risih sedikitpun.
‘Bertahanlah sayang, aku tahu kamu kuat!’ Bagas mengecup dahi Rena dan memeluk tubuh Rena dengan erat.
.
.
.
__ADS_1
Hai! Jangan lupa dukung karya ini dengan like, komen, dan vote! Makasih😘