
Setelah mendengar cerita dari Bagas, Vina terus mengurung dirinya di dalam kamar. Sudah beberapa hari setelah kejadian itu, tapi Vina tidak beranjak sama sekali meski hanya untuk makan.
‘Aku masih tidak menyangka jika itu adalah alasan utama kamu memulai hubungan ini.’
‘Apakah aku sekarang juga harus melepaskan kamu, Mas?’
‘Aku tidak memiliki siapa-siapa sekarang,’ batin Vina sedih.
Vina sekarang benar-benar merasa terpuruk. Entah apakah ia bisa bangkit dan kembali beraktivitas seperti dulu atau justru hanya akan stuck seperti ini.
Cukup lama Vina berdiam diri dan merenung sampai suara perutnya berbunyi untuk kesekian kalinya.
Vina tersenyum miris. “Kamu lapar ya?” monolog Vina sambil mengelus perutnya.
Vina mengambil napas panjang dan beranjak bangkit dari kasurnya pelan-pelan. Saat pertama kalinya berdiri, ia merasakan pusing yang sangat luar biasa. Mungkin karena sudah berhari-hari tidak makan sehingga Vina juga merasa sedikit gemetar. Bahkan, sekarang keringat dingin sudah mulai mengucur dari dahinya.
‘Ayolah, kamu pasti kuat. Kamu hanya sendirian sekarang ini, kalau kamu menghadapi seperti ini saja tidak bisa bagaimana caranya kamu bisa melanjutkan hidup?’ batin Vina menyemangati diri sendiri.
Meskipun dengan langkah pelan dan sedikit tertatih. Vina berjalan sambil berpegangan di sekitar tembok. Sempat beberapa kali ia sudah akan terjatuh, tapi Vina terus berusaha berdiri sampai akhirnya tiba di depan kulkas.
Begitu sampai di depan kulkas, Vina membuka lemas es itu dan berharap ada makanan yang dapat ia gunakan sebagai pengganjal perut. Tapi sayang, dewi fortuna mungkin memang tidak berpihak kepadanya hingga ia tidak melihat makanan yang sudah siap saji. Bahkan, makanan instan saja juga tidak ada.
Vina menghembuskan napas lelah. “Sekarang aku mau makan apa?” mengedarkan pandangan ke arah sekeliling.
Vina melihat teleponnya yang sudah tidak ia pegang selama beberapa hari ini. Vina berjalan tertatih ke arah telepon yang terletak di meja ruang tamu dan mencoba menghidupkannya. Lagi-lagi, telepon itu mati. Mungkin karena memang sudah kehabisan baterai meskipun tidak digunakan selama beberapa hari.
Vina mendongak sebentar untuk meringankan kepalanya yang semakin terasa berat. Mengatur napas dengan pelan dan kembali melangkah keluar dari apartemen. Vina berniat untuk makan di restoran yang ada di depan komplek apartemennya. Dengan pelan dan perlahan Vina terus berjalan, meski tak jarang dirinya harus berhenti sebentar guna sedikit memulihkan tenaganya atau menunggu sampai denyutan di kepalanya menghilang. Sebelum melangkahkan kakinya lagi ke arah restoran yang ada di seberang jalan.
Vina sekarang sudah ada di seberang jalan restoran yang akan ia tuju. Tapi, dari jauh sekalipun Vina dapat melihat dua orang yang sedang tertawa dengan bahagia. Entah kenapa hati Vina semakin teriris melihat itu. Niat hati hanya ingin mengisi perutnya yang sudah berdemo ternyata malah melihat pemandangan yang sangat menyesakkan dada. Bukan, bukan lagi menyesakkan, tapi rasanya sampai meremukkan hatinya.
Vina tanpa sadar memegangi bagian dada sebelah kirinya. ‘Ya ampun, rasanya sakit sekali.’
Vina sudah akan berjalan berbalik arah sebelum dirinya menabrak seseorang yang menyebabkan ia oleng dan langsung pingsan. Vina kehilangan kesadarannya dan mengundang atensi para pejalan kaki di sekitar tempat itu.
Rena yang tanpa sadar melihat kerumunan di seberang jalan entah dorongan dari mana mengajak Bagas untuk melihat ke sana. Tanpa diduga, Bagas dan Rene mendapati Vina yang sudah tidak sadarkan diri dengan wajah yang sudah sangat pucat dan pakaiannya yang masih sedikit acak-acakan.
Tanpa babibu, Bagas langsung mengangkat Vina ke gendongannya dan membawa Vina kea rah mobilnya yang terparkir tidak jauh dari lokasi kejadian.
Rena yang melihat hal itu sekarang tahu apa yang harus ia lakukan ke depannya. ‘Kamu sepeduli itu dengan wanita itu ya Mas.’
***
“Bagaimana keadaan Vina, Dok?” tanya Bagas cepat setelah seorang Dokter keluar dari ruangan tempat Vina diperiksa.
“Pak, pasien mengalami dehidrasi yang sangat parah. Juga stress yang menyebabkan daya tahan tubuhnya turun drastis. Saya sarankan untuk merawat inap pasien setidaknya sampai saya tahan pasien kembali normal.”
__ADS_1
“Baik, Dok. Terima kasih!” ucap Bagas yang langsung berlalu masuk ke ruangan Vina.
Bagas memang melihat Vina yang pucat. Matanya memang menutup sampai saat ini. Lingkar matanya begitu hitam. Entah sudah berapa lama ia tidak tidur.
Rena yang melihat Bagas dengan buru-buru memasuki ruangan itu langsung beranjak berniat untuk pulang. Rena tahu kehadirannya tidak diinginkan saat ini. Tapi sebelum Rena pulang, Rena sempatkan untuk mampir ke taman kecil dekat kompleks perumahan rumah Adijaya. Di sana Rena mencoba menghibur dirinya sendiri dengan melihat-lihat anak kecil yang dengan asyiknya berlarian ke sana kemari.
‘Aku bisa saja pergi sekarang, tabungan yang Rena buat cukup untuk membiayai hidup. Tapi kandunagn ini? Apa yang harus kulakukan dengan kandungan ini?’ pikir Rena Sari.
Terkadang Rena Sari memang lupa jika ini bukan kehidupannya, tapi kehidupan dari Rena Maharani. Apakah Rena Maharani akan membiarkan Rena Sari mengatur kehidupannya?
Rena terlalu fokus dengan pikirannya sendiri sampai tidak menyadari jika sudah ada seorang laki-laki muda yang duduk mendekatinya.
Rayan memandang wajah cantik Rena dengan pandangan yang sulit diartikan.
‘Apakah kamu sedang memiliki banyak masalah?’
Rayan dengan jahilnya menempelkan minuman dinginnya ke pipi Rena hingga Rena sontak berteriak kaget.
“Aaaa!” Rene memandang Rayan dengan pandangan kaget yang malah terkesan lucu menurut Rayan.
“Rayan!” teriak Rena dengan mata yang melotot.
Rayan yang diteriaki justru tertawa dengan kencang. Sampai-sampai matanya terlihat menutup dan memegangi perutnya saking hebatnya ia tertawa.
“Kamu tuh ya!” Rena menabok lengan Rayan.
“Nggak usah bercanda deh! Orang aku naboknya nggak kenceng kok!” Rena cemberut.
“Tututu … merajuk nih? Kamu nggak cocok tahu kalau merajuk!” colek Rayan ke pipi Rena.
Rena menolehkan wajahnya ke arah lain asal tidak memandang Rayan.
“Kamu kok bisa ada di sini sih?”
“Ya bisa lah, kan suka-suka aku!” jawab Rayan songong.
“Kamu tuh ya! Aku tanya baik-baik malah kaya gini!”
“Ya terus aku harus jawab apa coba?”
Rena memandang Rayan dengan serius. “Udahlah, lupakan aja!”
Rayan hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Rena.
“Kamu sendiri ngapain di sini? Sendirian lagi, udah gitu aku lihat tadi dari jauh kamu kaya lagi bengong. Makanya aku samperin. Aku takut aja kamu kerasukan setan di sini kan bahaya!”
__ADS_1
“Enak aja! Nggak mungkin ya aku kerasukan setan!”
“Kenapa emang?”
“Soalnya aku temennya setan, makanya nggak mungkin setan ngerasuki temannya,” ucap Rena datar.
“Hahaha ….” Rayan kembali tertawa dengan kencang.
“Kamu kok ternyata suka ngelucu ya!” ucap Rayan sambil menghapus air matanya yang sedikit keluar karena tertawa tadi.
Rena memandang Rayan sekali lagi dan baru menyadari jika Rayan saat itu sedang berpakaian khas orang yang sedang olahraga. Dengan pakaian yang terbilang cukup santai dan sepatu sport putihnya memang mampu membuatnya terlihat lebih menawan. Makanya dari tadi Rena mendengar bisik-bisik perempuan yang bilang ada cowok ganteng.
‘Apakah cowok ganteng yang mereka maksud ini si Rayan?’ pikir Rena.
“Kamu memang mau olahraga atau udah olahraga?”
“Aku? Aku udah baru aja lari-lari sih. Lumayan buat ngehilangin stress,” ucap Rayan santai dan mengambil minuman botolnya. Setelahnya meneguknya dengan gerakan yang cukup erotis. Apalagi dengan jakunnya yang bergerak naik-turun. Tapi, sayangnya jiwa polos dari seorang Rena tidak dapat mengartikan itu. Lihat saja ekspresi Rena sekarang. Hanya menatap datar apa yang dilakukan dengan Rayan. Disaat perempuan-perempuan yang lain di taman itu berteriak histeris.
Rena memandang perempuan-perempuan itu dan mengalihkan perhatiannya ke arah Rayan.
“Rayan, aku boleh tanya sesuatu ke kamu?”
“Hemm, apa?” jawab Rayan sambil mengelap keringatnya dengan handuk yang ia kalungkan di lehernya.
“Kamu memang ganteng ya?”
“Hah?” Rayan terpelongo.
“Iya, aku tanya emang kamu ganteng ya?”
Rayan memegang dahi Rena seolah-olah mengecek apakah panas atau tidak.
“Kamu sakit?”
Bukannya menjawab Rena malah memajukan wajahnya dengan pandangan yang serius meneliti setiap inci wajah Rayan. Sedangkan Rayan yang diperlakukan seperti itu jelas menelan ludahnya gugup.
“K-kamu mau apa?” tanya Rayan terbata.
Rena terus memajukan wajahnya sampai tidak sadar jika tubuhnya begitu condong sehingga Rena kehilangan keseimbangan dan jatuh ke pelukan Rayan. Mereka terus pandang-pandangan selama beberapa saat. Hingga akhirnya ada suara teriakan yang menyadarkan mereka.
“Rena!”
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa tinggalkan jejak ya😍