
Rena Maharani pagi itu juga langsung pergi menemui seorang dokter psikiater yang juga tempat Rena Sari berkonsultasi. Rena langsung membuat janji temu dengan psiater itu dan kebetulannya langsung mendapatkan respon jika sang psikiater bisa bertemu hari itu.
“Pagi, Dok!” sapa Rena sopan kepada dokter perempuan itu.
“Pagi juga Ibu Rena!” sapa balik sang psikiater yang bernama Stefani.
“Jadi, Ibu Rena ada apa Ibu tiba-tiba saja membuat janji temu dengan saya. Bukankah hari ini saya tidak memberikan jadwal untuk konsul?”
“Maaf, Dok. Saya Rena Maharani, saya kepribadian asli dari tubuh ini.”
Dokter bernama Stefani itu sedikit terkejut mengetahui bahwa yang berada di hadapannya adalah seorang Rena Maharani, kepribadian asli dari Rena.
“Bagaimana bisa Anda mengetahui saya?” tanya Dokter Stefani penasaran.
Rena langsung mengeluarkan hpnya dan menunjukkan sebuah video yang disimpan oleh Rena Sari.
‘Ternyata kepribadian dari alter ego Rena memang lebih pintar dari dugaanku,’ batin Dokter Stefani.
“Lalu, apa yang akan Anda lakukan selanjutnya?”
“Saya ingin tahu tentang lebih lanjut penyakit saya, Dok. Langkah apa juga yang bisa saya lakukan untuk menyembuhkannya.”
Dengan permintaan itu, Dokter Stefani mulai menjelaskan seluruh detail dari pokok permasalahan yang menjadi sumber penyakit Rena. Tidak lupa Dokter Stefani juga memaparkan beberapa kasus serupa sebagai sebuah gambaran dari Rena.
“Kurang lebih seperti itu Ibu Rena,” tutup Dokter Stefani.
“Lalu, saya harus apa, Dok? Saya juga tidak mengingat hal-hal yang menyebabkan saya membentuk kepribadian dari Rena Sari.”
“Apakah Anda mau mencoba melakukan psikoterapi lewat memori recall?”
“Apa maksudnya, Dok?”
“Semacam metode hipnotis yang digunakan untuk membuat Anda kembali lagi ke masa di mana Anda melupakan kejadian yang pernah Anda alami. Tapi, hal ini dapat berefek untuk pikiran Anda ke depannya. Kemungkinannya adalah Anda akan kembali mengingat kejadian traumatis yang mungkin justru membangkitkan kepribadian yang lain dalam diri Anda.”
Rena Maharani terlihat berpikir selama beberapa saat hingga akhirya Rena Maharani mendadak kehilangan kesadarannya. Hanya beberapa detik, karena setelahnya Rena kembali membuka matanya dan menatap Dokter Stefani dengan pandangan yang galak.
“Ada apa Ibu Rena?”
“Kenapa kau mau mengulang masa lalu yang sudah aku simpan rapat-rapat?” ucap Rena berat dengan penuh penekanan.
“Apa maksud Anda Ibu Rena?”
Rena memajukan dirinya untuk lebih mengintimidasi Dokter Stefani. “Aku tahu kau seorang Dokter, tapi bagaimana bisa kau malah mau mengingatkan kejadian tarumatis yang bahkan mampu membuat seorang Rena kembali melakukan percobaan bunuh diri.”
Dokter Stefani paham sekarang, kepribadian yang ada dihadapannya sudah berubah lagi. “Dengan siapa saya berbicara?”
“Aku ingat kenapa aku bisa hadir di tubuh ini. Itu semua tidak lepas dari kejadian traumatis yang pernah Rena alami. Aku bungkam dan menemui kau untuk membuat aku menghilang dari sini karena ku pikir kehidupan Rena yang sekarang sudah lebih baik. Tapi kau malah mau mengingatkan dia tentang kejadian masa lalu itu? Apakah kau Dokter gila?!” hardik Rena.
Dokter Stefani mengambil napas yang panjang untuk menetralkan kepalanya agar jangan sampai ia juga terpancing dengan emosi itu. “Ibu Rena, saya paham apa yang saya lakukan memang dapat berdampak buruk. Tapi, jika Anda sebegitunya peduli terhadap Ibu Rena, harusnya Anda membantu saya untuk melakukan prosedurnya dengan baik dan benar.”
Rena tertawa mencemooh dan menyepelakan setiap kata dari Dokter Stefani. “Asal Dokter tahu, aku adalah Rena Sari yang kemaren datang ke sini. Tadi malam aku ingat semuanya, aku mengingat kenapa aku bisa dibentuk dengan Rena Maharani. Maka dari itu, aku tidak akan membiarkan ingatan traumatis yang ada di dalam diriku mengalir ke Rena Sari. Biarkan saja aku yang menyimpan memori tragis itu sendirian. Dan aku hanya meminta kau untuk membantuku menghilang dari tubuh ini. Hanya itu!” tandas Rena Sari lalu bangkit berdiri dan beranjak keluar dari ruangan Dokter Stefani.
__ADS_1
Dokter Stefani tidak percaya dengan apa yang lihat barusan. Ia baru saja digertak dengan seorang alter ego. ‘Hah! Aku tidak menyangka jika aku diperlakukan seperti ini,’ batin Dokter Stefani kesal.
Rena yang keluar dari ruangan itu menatap papan nama Dokter Stefani yang terpajang di depan pintu dengan kesal.
“Bagaimana bisa ia malah akan membuat Rena Sari kembali trauma? Aku ini sudah menganggap diriku sebagai kakak untuk Rena Maharani, bagaimana mungkin aku membiarkan Rena kembali ke masa-masa itu lagi?” monolog Rena.
Rena melangkah keluar dari rumah sakit dengan pandangan lurus ke depan. Hal itu bukan tanpa alasan karena Rena sedang fokus memikirkan sesuatu. Hingga tidak sadar jika di depannya terdapat seorang anak kecil yang sedang bermain di taman rumah sakit itu. Sehingga Rena tanpa sengaja menabrak anak kecil itu sampai terjatuh dan menangis.
Rena yang menyadari suara tangisan anak kecil langsung menghentikan langkahnya dan berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan anak laki-laki itu.
“Dek, kamu nggak papa?”
Tangisan anak laki-laki itu justru semakin keras. Hingga Rena sedikit kalang kabut karena bingung menjadi pusat perhatian.
Rena langsung menggendong anak kecil dan memangkunya di kursi taman.
“Dek, ada yang sakit?” tanya Rena kepada anak kecil itu sambil memeriksa bagian tubuh anak laki-laki itu.
Anak laki-laki itu yang sudah sedikit tenang menjawab dengan gelengan.
“Kalau gitu nggak usah nangis dong. Masa anak cowok nangis sih! Nanti gantengnya ilang lho!” ucap Rena bergurau.
“Memang kalau nangis jadi nggak ganteng?” tanya anak cowok itu dengan suara yang sedikit cadel dan terpotong-potong karena masih menetralkan napasnya sehabis menangis.
“Iya dong!” Rena mengusap linangan air mata di pipi anak cowok tadi.
“Kakak minta maaf ya tadi nggak lihat kamu, makanya kakak jadi nabrak kamu!” sesal Rena.
Rena tanpa sadar tersenyum simpul melihat tingkah menggemaskan dari anak cowok yang ada di pangkuannya ini.
“Kamu sama siapa di sini hem?”
“Aku sama Mama kok, tapi tadi Mama nitip aku ke Kak Dewi. Terus Kak Dewi sekarang ilang,” rajuk anak cowok tadi.
“Ohh gitu.” Rena tampak mengangguk-anggukan kepalanya. “Terus sekarang kamu mau gimana?”
“Nggak tahu,” jawab anak cowok tadi dengan gelengan lucunya.
“Kalau gitu mau main sama kakak?” tawar Rena.
“Nggak bisa, Mama bilang aku nggak boleh main sama orang asing.”
“Kalau gitu kenalan yuk! Aku Rena, panggil Kak Rena aja! Nama kamu siapa?”
“Doni,” jawab singkat Doni.
“Jadi, Doni mau main sama kakak nggak?”
Doni yang ditanya seperti itu justru tidak menjawab dan malah fokus melihat ke arah seorang perempuan yang terlihat sedang berdebat dengan seorang laki-laki.
“Mama,” ucap Doni pelan.
__ADS_1
Rena mengalihkan pandangannya ke arah atensi Doni. Dapat dilihat dari sini jika Dokter Stefani tadi sedang berdebat dengan seorang pria dewasa yang terlihat sedikit amburadul. Tampilannya sangat tidak rapi sekali.
“Itu Mama Doni?” tanya Rena kepada Doni.
Doni menjawab dengan anggukan dan langsung memberontak turun dari pangkuan Rena. Rena yang menyadari jika Doni lari ke arah Dokter Stefani pun langsung menyusulnya.
“Jangan pukul Mama!” ucap Doni lantang.
“Hei anak kecil! Kamu bisa apa ha?!” ucap pria dewasa itu dengan cemoohan.
“Doni, kenapa kamu ada di sini?!” panik Dokter Stefani.
Awalnya Rena hanya melihat saja kejadian itu, tapi saat tangan pria itu terangkat akan memukul mereka berdua. Rena langsung melangkahkan kakinya lebar-lebar dan menahan tangan pria itu dengan kuat.
“Jangan hanya beraninya dengan seorang perempuan lemah dan seorang anak kecil!” ucap Rena dingin.
“Siapa kamu?! Nggak usah ikut campur!” kesal pria itu.
Rena yang dibilang seperti itu justru memelintir tangan pria itu sampai cowok itu kesakitan. Lalu, setelahnya cowok itu malah membalas perlakukan Rena sehingga terjadi sedikit kerusuhan antara Rena dan pria itu yang menjadi pusat perhatian sekarang.
Mereka sempat berkelahi selama beberapa menit hingga akhirnya Rena melumpuhkan pria itu dan berjongkok di depan pria itu.
“Kalau kau mabuk harusnya sadar diri. Kau tahu, kau tidak akan pernah bisa melawan seseorang yang sepenuhnya sadar!” ucap Rena dingin.
“K-kau!” ucap pria itu terakhir kalinya sebelum seorang satpam datang dan membawa pergi pria itu.
“Terima kasih!” ucap Dokter Stefani sambil menggendong Doni.
Rena menatap dingin ke arah Dokter Stefani. “Seharusnya kau tidak membiarkan seorang anak kecil melihat kejadian seperti itu!” ucap tajam Rena.
“A-aku tahu, tapi suamiku suka datang seenaknya dan melakukan kekerasan yang tidak bisa aku hindari.”
“Kalau begitu lepas dari dia! Kau tidak kasian kepada anakmu yang bahkan ingin melindungimu itu?! Anak sekecil Doni jika ditampar dengan pria dewasa pasti akan jatuh sakit!” ucap Rena menusuk.
Dokter Stefani tanpa sadar mengeratkan pelukannya kepada Doni.
“Kak Rena, nggak papa kok! Doni kan juga nanti bakal jadi pelindung Mama Doni!” ucap Doni antusias.
Rena merubah tatapan dingin dan tajamnya ke arah Doni, lalu mendekat ke arah Doni. “Iya kakak tahu, Doni pasti bakal jadi laki-laki kuat dan tampan kan?”
“Yaudah kalau gitu Kakak pamit ya?! Dah Doni!” ucap Rena riang.
“Dah Kak!”
Rena pergi meninggalkan Dokter Stefani yang masih terpaku di sana. Dokter Stefani sekarang menyadari sesuatu, ‘Tenyata memang ada sosok kepribadian alter ego yang terlalu baik hati. Sampai-sampai memperjuangkan kebahagiaan dari kepribadian asli.’
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa untuk like, komen, dan vote ya.... tambah ke favorit juga biar nggk ketinggalan! Jangan lupa juga untuk kasih bintang 5😉😊, makasih😘😘