Perjuangan Si Alter Ego Memperbaiki Hidup

Perjuangan Si Alter Ego Memperbaiki Hidup
Kejadian Naas


__ADS_3

Saat itu Bagas kebetulannya sedang main catur dengan salah satu satpam yang ada di rumah Neneknya. Bagas memang masih mengambil cuti hari ini. Mungkin Bagas akan cuti sampai satu minggu lamanya. Bagas masih tidak percaya dengan Rena, entah apa yang akan dilakukan Rena saat dia berangkat kerja nanti. Bagas di rumah saja Rena sudah berani pergi tanpa pamit kepadanya. Apalagi kalau Bagas sampai memiliki pekerjaan di luar kota atau bahkan luar negeri? Oleh karena itu, Bagas juga sedikitnya menyusun rencana agar mampu menaklukan Rena sehingga pikirannya tidak kacau seperti ini.


“Mas!” teriak seorang perempuan sambil mendekat kepada Bagas dan seorang satpam di rumah Nenek Bagas.


Saat itu Bagas dan Satpam itu memang sedang bermain di halaman rumah yang terdapat sebuah gazebo kecil. Nenek Bagas sengaja membuat itu karena Nenek Bagas dan almarhum suaminya dulu paling suka duduk di sana sambil melihat senja di kala matahari mulai kembali menuju tahtanya.


Bagas langsung menengok untuk mencari sumber suara. Pasalnya Bagas tahu jika itu bukan dari suara Rena, istrinya.


“Mas! Akhirnya aku ketemu juga sama kamu!” ucap Vina kesal sambil sedikit menaikkan suaranya.


Bagas sedikit melotot mengetahui jika Vina berada di sini. Entah bagaimana juga Vina dapat masuk ke pekarangan rumah ini. Apakah tadi pak satpam lupa untuk mengunci pagar rumah? Sampai-sampai Vina dapat masuk seenaknya seperti ini?


Vina menghamipiri Bagas dengan wajah yang penuh dengan emosi. Begitu sampai di depan Bagas, Vina bahkan memukul dada Bagas dengan keras berkali-kali sambil menangis.


“A-apa yang kamu inginkan?! Semua itu nggak benar kan?! Kamu cuman milik aku kan Mas?!” Ucap Vina terisak.


Bagas memang tidak merasakan sakit saat dipukul di dadanya. Tapi melihat seorang wanita yang menangis karena dirinya mampu mebuat sisi belas kasihannya teriris melihat itu.


“Vina,” ucap Bagas pelan sambil menggenggam kedua tangan Vina yang masih mengepal.


“Vin, tatap mataku!” perintah tegas Bagas kepada Vina saat Vina masih menunduk dan justru sibuk menangis.


Saat Vina menatap mata Bagas dapat dilihat jika pandangan Bagas bukan pandangan teduh sarat akan cinta. Tapi sejenis pandangan rasa kasian yang ingin melindungi seseorang yang nampak lemah. Dan kali ini Vina menyadari hal itu.


‘Apakah selama ini pandangan itu yang selalu kau tunjukkan kepadaku Mas?’ batin Vina sesak.


“Vin, aku bisa jelasin semuanya!” tuntun Bagas kepada Vina untuk duduk di gazebo mini itu.


Setelah sedikit menenangkan Vina dari tengisannya. Bagas mulai menceritakan kejadian beberapa tahun yang lalu, dimana Bagas mulai merasa mengemban tugas untuk selalu menjaga Vina.


Beberapa tahun yang lalu ….


Vina adalah seorang gadis yang masih sangat polos. Ia memiliki pacar yang bernama Steve. Steve adalah seorang laki-laki kaya raya yang menganggap Vina layaknya lentera dalam hidupnya. Steve hidup dalam keluarga yang penuh konflik. Keluarganya memiliki bisnis yang sangat kotor. Sampai-sampai nyawa Steve selalu menjadi incaran dari seluruh musuh keluarganya.


Namun, Steve dan Bagas dahulu menjadi teman yang sangat baik. Saat Bagas dan Steve duduk di bangku perkuliahan. Steve dengan bangga mengenalkan Vina sebagai pacarnya kepada Bagas. Bagas paham jika Steve begitu mencintai Vina, meskipun Vina berasal dari keluarga miskin yang terlilit utang. Steve tetap menerima Vina apa adanya, bahkan tak jarang ikut membantu secara finasial untuk keluarga Vina.


Namun, malam itu adalah malam yang sangat tidak terduga. Tidak berapa lama setelah Vina kehilangan ayahnya dan akan dijual ke orang-orang yang terlibat utang kepada ayahnya. Vina tetap menjadi incaran keluarga Steve karena menganggap jika Vina adalah seorang perempuan rendahan.


Saat itu Steve yang mengetahui jika Vina diculik dan akan dicelakai oleh orang suruhan keluarganya. Tanpa berpikir panjang, Steve langsung pergi ke tempat kejadian. Tapi saat itu Steve sedang bermain kriket berdua dengan Bagas. Sehingga Bagas yang mengetahui jika Steve terlihat panik dan buru-buru, memilih untuk menemani Steve meskipun Bagas tidak tahu apa-apa.


Steve mengendarai mobilnya dengan kesetanan pada malam itu. Sampai-sampai mendapatkan umpatan dan teriakan dari pengguna jalan lain. Hingga Steve menepikan mobilnya di sebuah rumah tua kuno yang terlihat sudah lama tidak ditinggali.


“Steve, apa yang kita lakukan di sini?” tanya Bagas.


“Kau tunggulah saja di sini, Gas! Kalau aku tidak kembali dalam waktu 30 menit, kau panggil bantuan atau polisi juga tidak apa-apa!” ucap Steve terburu-buru sambil melepasakan sabuk pengamannya.


“Tapi Steve! Steve!” teriak Bagas yang masih tidak paham dengan jalan pikir dari Steve.


Bagas yang diabaikan dengan Steve memilih diam dan tetap menunggu Steve di dalam mobil dengan gelisah. Entahlah, tapi saat itu firasat Bagas mengatakan bahwa akan terjadi sesuatu hal yang buruk.

__ADS_1


Bagas terus menunggu dengan gelisah sampai tidak tersadar jika waktu sudah lewat dari 30 menit lamanya. Bagas yang sudah kepalang gelisah langsung keluar dari mobil, setelah sebelumnya menelepon bala bantuan dari keluarganya.


Bagas memasuki rumah kuno itu dengan pelan dan mengendap-endap. Pasalnya Bagas tidak tahu hal apa yang sedang menanti dirinya di dalam. Sampai saat Bagas baru melangkah beberapa meter, ia dapat melihat linangan darah yang sudah menggenang. Baunya masih anyir, itu berarti baru saja ada orang terluka di sini. Bagas terus memasuki rumah itu semakin dalam. Dan saat ia mendekati sebuah kamar kecil dengan cahaya yang temaran. Bagas dapat mendengar suara-suara beberapa orang sedang panik.


“Bos, gimana ini? Kita malah membunuh anak Tuan!”


‘Siapa yang mereka bunuh?’ batin Bagas bertanya-tanya.


“Diamlah! Sialan! Aku tahu itu! Kau tenanglah! Kita akan cari jalan keluar dari ini!” ucap laki-laki lain dengan suara berat yang nampak menakutkan.


Bagas mencoba mendekat dan mengintip apa yang terjadi di dalam ruangan itu lewat sebuah lubang kecil seukuran ibu jarinya.


Bagas hanya mampu melihat seorang laki-laki yang tergeletak tak berdaya, kemungkinan laki-laki itu sudah mati kehabisan darah. Karena Bagas dapat melihat banyak sekali linangan darah yang merembas dari tubuh laki-laki itu.


Tapi ada satu hal yang aneh, jaket itu. Bagas mengenal jaket itu karena Bagas yang membelinya sebagai hadiah ulang tahun untuk Steve. Bagas memejamkan matanya pedih saat sadar jika itu Steve.


‘Astaga, apa yang baru saja aku lihat!’ batin Bagas membekap mulutnya sendiri dan berlari keluar. Sayangnya saat Bagas berlari keluar, ia tak sengaja menjatuhkan sebuah sapu kecil sehingga menimbulkan suara yang sedikit gaduh.


“Apa itu? Bontot, kau periksa sana!”


“Baik, Bos!”


Salah satu dari orang jahat itu berjalan pelan ke arah Bagas yang sedang bersembunyi di sebelah almari.


‘Tolong, cepatlah datang! Aku mana bisa melawan lima orang sekaligus!’ harap cemas Bagas kepada bantuan dari keluarganya.


Sayangnya nasib baik memang sedang tidak berpihak kepada Bagas. Sehingga Bagas ketahuan oleh orang jahat itu dan ikut diseret masuk ke ruangan itu.


“Bos, kita nemuin satu orang lagi nih!” lapor orang yang dipanggil Bontot tadi.


“Ikat dia di sana!” tunjuk seseorang yang dipanggil Bos itu ke sebuah kursi tua.


Bagas diikat di sana dan bisa melihat jenazah Steve secara jelas. Bagas bahkan sampai menutup matanya dengan erat karena tidak kuat melihat mayat Steve yang tergeletak mengenaskan.


“Kau! Kalau masih mau hidup tutup rapat mulutmu!” ucap si Bos tadi sambil sedikit menjambak rambut Bagas agar mendongak ke arahnya.


Bagas yang tidak tahan dengan rasa pedih di rambutnya bahkan sampai meneteskan air matanya.


“Jawab!” tekan Bos tadi.


Bagas yang hanya mampu memejamkan mata erat dan memilih bungkam.


“Bos, mending kita bunuh dia sekalian, biar nggak ada yang tahu perbuatan kita!” usul salah seorang dari kelompok penjahat itu.


“Kau diam atau kau mati?!” tanya si Bos dengan penekanan sekali lagi kepada Bagas.


Bagas sudah akan menjawab dan memberontak karena sudah tidak kuat dengan rasa pedih dari kepalanya. Tapi sebelum Bagas mengeluarkan suara, terdapat suara kericuhan yang terjadi di luar.


“Kau periksa yang di luar!” perintah si Bos sambil melepaskan jambakannya di rambut Bagas.

__ADS_1


“Kau akan mati hari ini!” ucap Bagas pelan yang masih mampu didengar oleh si Bos tadi.


“Apa? Aku akan mati? Kau yang akan mati hari ini! Sialan!” ucap si Bos sambil memukul wajah Bagas dengan telak.


Bagas hanya menyeringai dengan sadis menerima pukulan itu dan meludahkan darah yang terasa asin di mulutnya.


“Kita lihat saja siapa yang akan mati!” tantang Bagas.


“Sialan!” umpat Si Bos kesal dan akan menerjang Bagas. Tapi sebelum si Bos mampu menerjang Bagas, sudah ada beberapa orang yang melumpuhkan si Bos dan anggotanya. Lalu, salah seorang dari mereka mendekati Bagas dan melepaskan ikatan Bagas.


“Maaf, Tuan. Kami terlambat!” sesal orang suruhan keluarga Adijaya.


Bagas tidak menghiraukan kalimat itu dan justru melangkah mendekati Bos itu. Lalu, menginjak tangannya dengan keras.


“Kau pikir kau akan menang melawanku?! Jangan mimpi!” ucap Bagas semakin kuat menginjak tangan si Bos itu sampai menimbulkan suara retakan.


“Kalian urus mereka, jangan sampai mati! Aku ingin tahu apa masalahnya!” titah Bagas.


“Baik, Tuan!”


Saat Bagas berjalan menjauh dari Bos itu, Bagas tidak menyadari jika sang Bos masih membawa senjata api yang sudah dibidikkan kepada Bagas.


Door!


Bagas yang kaget melihat ke belakang dan melihat Steve yang masih setengah berlutut di tanah.


“Steve!” teriak Bagas.


Steve ambruk di dalam dekapan Bagas sambil tersenyum tipis.


“Steve! Bertahanlah, aku akan membawamu ke rumah sakit terdekat!” ucap Bagas kencang karena sambil khawatir dan takut.


“K-kau masih bodoh, Gas! A-aku t-ti-dak akan selamat,” ucap Steve pelan sambil tersendat-sendat.


“Apa yang kau bicarakan? Aku bahkan bepikir kau sudah mati tadi! Tapi buktinya kau masih bisa menyelamatkan aku!”


“Gas, berjanjilah padaku!” Steve mengenggam tangan Bagas dengan erat.


“Apa? Kau akan memberikan pesan terakhir? Jangan bercanda! Kau nggak akan mati!” ucap Bagas kesal.


“Aku titip Vina, dia sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi di dunia ini. Jaga dia untukku!” ucap Steve untuk terakhir kalinya. Sebelum napasnya sudah tidak berhembus dan genggaman tangannya kepada Bagas mulai mengendor.


“Steve! Steve! Steeevee!” teriak Bagas.


.


.


.

__ADS_1


Terjawab ya gaes kenapa Bagas selalu dekat dengan Vina sampai dikira berselingkuh dengan Vin. Jangan lupa untuk tetap dukung author ya! Dengan cara tinggalkan jejak, oke!😉 Makasih semua😘😘


__ADS_2