Perjuangan Si Alter Ego Memperbaiki Hidup

Perjuangan Si Alter Ego Memperbaiki Hidup
Pingsan


__ADS_3

Selama beberapa hari kemudian Bagas disibukkan dengan persiapan acara ulang tahun perusahannya, Adijaya Group. Perusahaan keluarga yang sudah turun-temurun dan hanya memiliki satu pewaris satu-satunya yaitu, Bagas Adiwijaya. Nenek Bagas memang hanya memiliki satu anak saja, yaitu Harun Adijaya atau bisa dibilang sebagai ayah Bagas. Lalu, Ibunya, Rahmawati merupakan seorang anak yatim piatu yang memang diangkat oleh Nenek Bagas sebagai anak didiknya untuk mengelola perusahaan. Ayah Bagas dan Ibunya terlibat cinta perkantoran yang mengantarkan mereka kepada tali pernikahan yang sakral.


Tibalah malam ini, malam acara ulang tahun perusahaan yang sudah dinantikan oleh semua orang. Pasalnya bukan hanya akan mengundang seluruh karyawan yang bekerja di Adijaya Group, tapi juga akan mendatangkan beberapa orang penting yang cukup berpengaruh di Indonesia. Adijaya Group memang tidak pernah main-main dalam setiap acara yang digelarnya.


Bagas mengancingkan lengan kemejanya. Lalu, menata rambutnya agar terlihat lebih rapi. Kali ini Bagas memilih untuk menggunakan jas semi formal. Bagas ingin acara kali ini bukan hanya dapat dinikmati oleh kalangan atas saja, namun ia juga berharap para karyawannya akan merasa dimanjakan dalam acara malam ini.


Setelah dirasa penampilannya sudah sempurna. Bagas melangkah keluar dari kamarnya dan melihat kamar Rena yang tertutup. Sejak Bagas pulang dari kantor, Bagas memang tidak melihat Rena sama sekali. Bagas yang penasaran pun mendekati kamar Rena dan mengetuknya.


“Ren? Kamu baik-baik saja?”


Rena yang sedang mengoleskan beberapa riasan di wajahnya mendadak kaku dan kaget.


‘Tenang, lalu jawab seperti orang sakit.’


Uhuk uhuk. “A-aku lagi nggak enak badan Mas?”


Bagas panik mendengar kalimat yang dilontarkan oleh Rena.


“Kamu sakit? Kita ke dokter aja ya?”


“Nggak perlu Mas, aku baik-baik aja kok. Aku cuman butuh tidur aja kok. Nanti setelah tidur pasti tubuhku baik-baik aja.”


“Kamu yakin? Atau aku nggak perlu pergi aja?”


“Jangan Mas! Itu kan acara penting. Kalau Mas nggak pergi Nenek nanti marah!” Rena lupa berteriak. Padahal, seharusnya ia berakting untuk sakit.


Menutup mulutnya dan kembali terbatuk-batuk yang dibuat-buat, uhuk uhuk.


“Kamu yakin?” ragu Bagas.


“Sangat yakin Mas?”


‘Gimana nggak yakin. Kalau kamu nggak pergi yang ada aku malah nggak bisa pergi ke acara itu,’ dumel Rena dalam hati.


“Yaudah kalau gitu aku akan pergi sampai acara pembukaan saja. Setelah itu aku akan cepat pulang.”


“Ya Mas.”

__ADS_1


Bagas melangkahkan kakinya pergi dari depan pintu Rena. Setelah Rena mendengar suara deru mobil yang keluar dari rumah. Rena langsung mengenakan gaun pesta panjang berwarna merah dengan belahan yang cukup tinggi di bagian pahanya. Secara cepat menganti pakaiannya dan mulai bersiap-siap dengan segala penampilannya agar tidak terlihat buruk.


“Nah, aku udah siap untuk menghancurkan acara kamu Mas,” senyum licik Rena saat mengaca untuk terakhir kalinya di cermin.


Setelah itu Rena memesan taksi online dan memulai perjalannya ke perusahaan suaminya.


‘Aku nggak sabar lihat wajah kamu kaya gimana waktu tahu istrimu hadir di acara itu.’


Sesampainya di gedung acara, Rena dibuat kagum dengan hiasan yang sangat mewah ala selebriti yang akan berjumpa fansnya.


‘Wah, aku nggak nyangka kalau Mas Bagas punya perusahaan sebesar ini.’


Namun, saat Rena akan masuk ia dijegat degan penjaga pintu untuk memperlihatkan kartu undangannya.


‘Kartu undangan, bagaimana aku bisa lupa!’ rutuk Rena dalam hati.


Rena benar-benar lupa jika acara ulang tahun Adijaya Group pastinya bukan acara main-main dan tidak sembarang orang bisa hadir di sini.


Rena hanya terlihat celingukan dan menunduk.


“Bu, Anda harus menunjukkan surat undangannya untuk bisa masuk!” ulang penjaga lagi.


“Baiklah, silahkan Bapak Ibu,” ucap penjaga itu dengan tersenyum manis.


“Ayo!” laki-laki itu mengajak Rena untuk masuk.


“Rayan!” Rena terkejut bukan main.


Rena memang sedari tadi terlihat menundukkan kepalanya karena takut dan malu bercampur satu. Rena juga sudah berpikiran untuk kembali pulang saja dan semua dandannya akan menjadi sia-sia.


Rayan tersenyum manis menatap Rena.


“Kamu cantik sekali dengan riasan seperti itu,” puji Rayan.


“Makasih,” balas Rena malu-malu.


Suaminya bahkan tidak pernah mengucapkan cantik kepada Rena. Tapi Rayan justru mengucapkannya dengan kalimat yang terdengar tulus. Rena jadi terharu.

__ADS_1


“Yuk masuk!” Rayan menyodorkan lengannya agar Rena mengandeng lengannya.


Rena dengan senang hati merangkul lengan Rayan dengan mesra. Siapa pun yang melihat mereka pasti akan mengira kalau mereka adalah pasangan kekasih. Rena yang nampak sangat cantik dan Rayan terlihat sangat tampan.


Namun, belum sempat mereka melangkah masuk. Suara teriakan dan riuh yang sangat menggelora membuat Rena menghentikan langkahnya. Bagas juga ikut menghentikan langkahnya karena Rena yang berhenti.


Dapat Rena lihat dari sini bahwa terdapat sebuah mobil keluaran terbaru dari merk sport. Tidak lama nampak seorang laki-laki turun dari mobil itu dan disusul dengan seorang wanita yang nampak sangat elegan. Lelaki itu adalah Bagas dan pasangannya Vina.


‘Aku tidak menyangka jika aku akan tetap merasa sakit hati melihat secara langsung seperti ini. Padahal kamu bukan suami sebenarnya, Mas,’ batin Rena pedih.


Rena tanpa sadar menguatkan genggaman tangannya kepada lengan Rayan. Rayan yang menyadari hal itu meremas telapak tangan Rena dengan lembut. Seakan-akan mengatakan, ‘Kamu kuat.’


Rena menatap Bagas dan Vina sekali lagi, sebelum melangkah masuk dengan Rayan.


‘Tega-teganya kamu menghianati istrimu sendiri! Aku tidak akan melepaskan Rena sampai kapan pun,’ janji Rayan dalam hati.


Acara pada malam hari itu dimulai dengan pidato sambutan dari Bagas yang sangat menggema dalam ruangan itu. Nenek Bagas kali ini tidak hadir. Sehingga Bagas yang menanggungjawabi semua acara pada malam hari itu. Hingga salah satu audience meminta untuk Bagas membawa Vina naik ke atas panggung.


“Pak Bagas, bolehkah Anda membawa Ibu Vina ke atas panggung juga?”


Bagas yang dihadapi dengan pertanyaan itu tersenyum kikuk. Berbeda sekali dengan Vina yang justru terenyum dengan sangat manis. Para awak media hanya mengetahui jika Vina dan Bagas merupakan teman dekat yang selalu terlihat bersama, bahkan saling mendukung sama lain.


Rena yang melihat pemandangan itu tersenyum kecut dan meminum minuman yang ia ambil begitu saja dari pelayan yang lewat di depannya. Rena saat ini sedang sendiri karena Rayan pamit kepada Rena untuk ke toilet sebentar. Rena yang kembali melihat Bagas dan Vina bersanding begitu kesal. Hingga ia langsung menggak habis minuman di dalam genggamannya.


Sampai saat ini Bagas masih tidak menyadari kehadiran Rena. Begitu banyaknya orang di gedung itu membuat Bagas juga harus fokus dengan klien-kliennya dan beberapa orang yang cukup penting di perusahaannya. Namun, tiba-tiba suara gelas pecah yang sangat keras mampu menghentikan semua aktivitas di gedung itu.


Bagas awalnya tidak ambil pusing dengan hal itu. Namun, saat samar-samar ia mendengar ada seseorang yang pingsan, Bagas pun langsung bergerak menuju ke kerumunan itu. Saat Bagas berhasil menerobos kerumunan itu, ia dapat melihat istrinya, Rena sudah tidak sadarkan diri di lantai. Bagas yang sudah tidak berpikir jernih langsung mengangkat Rena dan mengendongnya keluar dari gedung. Perilaku Bagas tersebut tentu mengundang banyak pertanyaan dari semua orang yang hadir di sana. Tidak terkecuali Vina.


‘Apa sebenarnya yang ingin kamu ubah Mas?’ menatap Bagas yang semakin manjauh.


Rayan yang juga melihat adegan itu tidak dapat melakukan apa-apa. Rayan paham jika itu bukan areanya untuk ikut campur.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa dukung karya ini dengan like, komen, dan vote ya! Terima kasih😘


__ADS_2