
"Permisi mbak, bisa bertemu Mas Bagas?"
Rena mendekati meja resepsionis dan bertanya kepada resepsionis itu.
Wanita yang menjadi resepsionis itu terlihat memandang Rena dari atas ke bawah meneliti. Lalu, tersenyum meremehkan.
"Hei bocah, memangnya kamu itu siapanya Pak Bagas? Sok kenal banget! Lagian mana kenal sih Pak Bagas sama bocah ingusan kaya kamu!" ketus sang resepsionis.
Rena yang mendapatkan perlakuan seperti itu jelas meradang. Wajah Rena terlihat memerah menahan amarah yang sudah siap membumbung tinggi di kepalanya.
"Mbak saya tanya baik-baik. Kenapa mbak malah jawab kaya gitu? Mbak kan wanita dewasa, harusnya mbak itu tahu bagaimana bersikap terhadap tamu. Saya datang ke sini sebagai tamu dan Anda memberikan perilaku seperti ini. Saya yakin jika atasan Anda tahu, Anda pasti akan dipecat!" Rena berbicara dengan nada yang santai namun begitu menusuk.
"Kamu! Beraninya kamu berbicara seperti itu!" Resepsionis itu terlihat begitu meradang.
Rena yang mendengar nada berbicara sang resepsionis semakin tinggi tersenyum puas. Memang itu tujuan Rena untuk membuat sang resepsionis berbicara dengan nada tinggi sehingga menarik perhatian dari seluruh karyawan yang lain.
Kebetulannya Bagas sedang turun menggunakan lift dengan Sagala dan melihat Rena yang sedang menjadi pusat perhatian. Bagas mengernyitkan alisnya. Menghampiri Rena dan melihat sang resepsionis yang terlihat akan menampar Rena. Bagas meradang melihat itu dan langsung akan menghentikan tangan sang resepsionis. Namun, sudah didahului dengan Sagala.
Resepsionis yang merasakan tangannya dicekal dengan seseorang sudah akan memarahi orang tersebut. Tapi, saat berbalik ia justru melihat direkturnya yang sedang menatap tajam ke arahnya. Sehingga sang resepsionis langsung ciut dan menunduk dalam.
"Apa yang akan kamu lakukan?" nada rendah menakutkan yang mampu membuat orang merinding diucapkan oleh Bagas.
Resepsionis menjawab, "Saya hanya ingin memberikan pelajaran pada bocah ini. Anda pasti tidak mengenalnya. Dan bocah ini pasti hanya mengaku-ngaku kenal dengan Anda."
Bagas memberikan isyarat kepada Sagala untuk memberitahu siapa Rena.
"Ibu ini adalah istri dari Bapak Sagala Adijaya. Jadi, Anda silahkan untuk mengajukan surat pengunduran diri paling lama besok," tandas Sagala.
Sang resepsionis yang mendengar hal itu begitu terkejut, malu, dan takut di waktu bersamaan. Resepsionis itu tentu tidak mau dipecat hanya karena akan menampar seorang bocah. Sang resepsionis menatap tajam kepada Rena.
'Apa mungkin istri dari seorang Bagas Adijaya adalah seorang bocah ingusan seperti ini!'
Resepsionis itu menghampiri Rena lagi dan akan menampar Rena. Namun, Bagas yang melihat hal itu sudah melayangkan tamparan terlebih dahulu kepada resepsionis itu sampai terjatuh ke lantai.
Pipi resepsionis itu terlihat begitu merah dan sedikit lecet di bagian sudut bibirnya. Bahkan, resepsionis itu masih berani menatap tajam kepada Rena dan Bagas.
__ADS_1
Bagas mendekati resepsionis itu dan berjongkok di depannya. "Kamu memang tidak tahu diri!'
Setelah berucap seperti itu Bagas mengajak Rena untuk pergi ke ruangannya. Meninggalkan resepsionis itu begitu saja.
Sang resepsionis begitu malu dan marah mendapatkan perlakuan seperti itu. Sagala yang masih di sana dan melihat respon sang resepsionis yang tidak menunjukkan penyesalan sama sekali. Mengubungi pihak satpam dan meminta untuk membawa keluar resepsionis itu. Sagala pasti akan memberikan pelajaran yang tidak terlupakan kepada resepsionis itu.
...***...
Rena yang melihat kejadian barusan tersenyum dalam hati. Rena puas sekarang, Bagas sudah mengakuinya sebagai istri di kalangan umum. Selama Rena dan Bagas berada di perjalanan menuju ruangan direktur utama, banyak karyawan yang terlihat berbisik-bisik.
Begitu masuk ke ruangan milik Bagas, dapat Rena lihat jika ruangan itu berada di lantai atas perusahaan itu. Rena bahkan bisa melihat awan dari sini.
"Duduklah!" perintah Bagas.
Rena duduk di sofa yang tersedia di ruangan Bagas. Duduk berhadapan dengan Bagas alih-alih berasa di samping Bagas.
"Kenapa kamu ke sini?" Bagas menyilangkan kakinya dan menyenderkan punggungnya di sofa.
"Mas, setelah aku pingsan di acara ulang tahun malam itu aku terus ngapain?"
"Kamu nggk inget kita ngapain aja setelah kamu sadar?"
Rena menggeleng dengan pasti. "Makanya aku tanya Mas. Apa aku pingsan selama dua hari?"
Bagas semakin mengerutkan dahinya saat Rena justru bertanya seperti itu. "Kamu hanya pingsan semalaman aja, Ren. Terus kita udah beli bakso, periksa kehamilan, bahkan makan malam bersama. Kamu nggak inget semua itu?"
Rena nampak berpikir dengan keras. 'Apa iya aku melakukan hal-hal yang disebutkan dengan Mas Bagas tadi?'
Bagas yang melihat Rena berpikir keras. Bangkit dan berpindah tempat ke samping Rena. Bagas meletakkan punggung tangannya ke arah dahi Rena.
"Kamu sakit?"
"Nggak kok!" Rena menggeleng.
Bagas meletakkan kedua tangannya ke bahu Rena. Memiringkan Rena untuk menghadap ke arahnya.
__ADS_1
"Apa yang kamu rasakan?"
"Aku nggak merasakan apa-apa Mas."
"Kamu jangan bohong! Aku serius Rena!"
'Apa sih maksudnya? Aku juga serius kok!' batin Rena.
"Ren, kita periksa sekarang ke dokter! Aku takut kamu kenapa-napa."
Bagas sudah mencekal pergelangan tangan Rena untuk membawanya ke dokter.
"Nggak mau Mas, aku baik-baik aja kok!" tolak Rena.
Bagas kembali duduk di hadapan Rena dan menatap Rena dengan serius. "Kamu lupa apa yang terjadi kemaren, itu bukan hal yang baik-baik saja."
"Tapi Mas, aku kan pertama kali ke sini. Apa kamu mau langsung membawa aku pergi dari kantormu Mas?" Rena menatap Bagas dengan tatapan puppy eyes-nya berharap Bagas luluh.
Bagas menghembuskan napas lelah. "Kenapa kamu memperlihatkan tatapan mata yang seperti itu sih!" menutup wajahnya frustasi.
"Baiklah, kita nggak jadi periksa ke dokter. Tapi, cuman hari ini tidak untuk besok. Kamu harus periksa!" titah Bagas yang sudah tidak dapat diganggu gugat lagi.
Rena mengangguk pelan tanda setuju. Lalu, Rena bangkit menuju ke arah meja Bagas dan melihat berbagai dokumen yang masih berserakan. Serta hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan Bagas. Namun, ada satu hal yang mampu membuat Rena manaruh atensinya secara penuh, yaitu foto pernikahan Rena dan Bagas.
Dalam foto itu nampak Bagas dan Rena yang dibalut dengan pakaian pernikahan berwarna putih, tersenyum menghadap ke arah kamera. Lebih tepatnya Rena yang tersenyum, sedangkan Bagas hanya menatap datar ke arah kamera.
Rena yang terlalu fokus dengan foto itu tidak menyadari Bagas yang sudah berada di belakangnya. Hingga tiba-tiba saja Rena merasakan dirinya dipeluk dari belakang. Rena baru menoleh ke arah Bagas.
"Aku terlihat jelek di sana," ucap Bagas yang teredam karena menduselkan wajahnya ke ceruk leher Rena.
"Benar kamu nampak jelek sekali Mas!"
Bagas mengangkat kepalanya dan menatap Rena dengan serius. "Mari kita buat foto lagi lain kali. Kali ini foto dimana aku dan kamu tersenyum bahagia."
Rena menatap Bagas dengan pandangan meneliti. 'Apa benar ini kamu Mas Bagas yang aku kenal selama beberapa bulan ini?'
__ADS_1