
Nenek Bagas jadi menginap di rumah mereka berdua. Sehingga mau tidak mau mereka harus berbagi kamar jika tidak ingin Nenek Bagas curiga. Untung saja tadi Rena sempat mengunci kamarnya saat Nenek Bagas sedang di kamar mandi. Jika tidak mungkin juga akan ketahuan kalau sebenarnya Bagas dan Rena tidak pernah tinggal dalam kamar yang sama.
Rena menatap Bagas yang berdiri di sampingnya. “Kamu nggak akan modus kan Mas?”
Bagas yang dituduh seperti itu justru malah semakin menggoda Rena. “Modus sama istri sendiri itu dapat pahala kan?” Bagas mensejajarkan wajahnya dengan Rena.
“Kau kan sudah punya Vina. Jadi, sana ke Vina saja! cari kehangatan dari sana!” Rena balas menatap Bagas dengan sengit.
“Hem.” Bagas melipat kedua tangannya. “Tapi kan aku sudah ada istri di sini. Sayang dong kalau dianggurin.”
“Mas! Kamu nggak usah sok-sokan perhatian ke aku ya?!” Rena tanpa sadar mengubah kosa katanya aku-kamu.
“Cie-cie yang udah pakai aku-kamu. Kenapa? Udah nggak sabar mau tidur di balik dekapan hangatku ya?”
“Idih! Ogah! Dengar ya Mas! Aku nggak akan pernah ngijinin tubuhku kamu jamah lagi!” Rena menghampiri tempat tidur dan langsung memasang guling di tengah.
“Awas aja kalau Mas sampai melewati batas ke Rena! Pokoknya Rena bakal marah,” ancam Rena.
“Lagian siapa juga sih yang tergoda dengan-“ Bagas melihat tubuh Rena dari atas sampai bawah.
“Apa? Kaya gini juga ada buktinya kalau aku bisa hamil kok anak kamu!” Rena marah.
Siapa yang tiak marah sih kalau dengan blak-blakan dibilang datar. Apalagi dengan suami sendiri. Yah, meskipun memang Bagas bukan suami yang Rena cintai sih.
“Udah lah aku mau tidur! Bye!” tandas Rena menarik selimutnya dan miring ke arah yang berlawanan dengan Bagasa.
Bagas yang melihat itu hanya mampu bergeleng-geleng kepala. ‘Kayaknya dulu nggak sebegitunya deh. Malah dulu kayaknya bakal seneng banget kalau kejadiannya begini.’
Bagas memposisikan dirinya di samping Rena dengan badan yang miring ke arah Rena. ‘Duh! Sejak kapan Rena punya bau parfum yang menggoda gini sih?’
Bagas memang tidak terlalu dekat dengan Rena, namun aroma tubuh Rena tercium dengan sangat kuat saat Bagas sengaja menghadapkan dirinya ke arah Rena.
'Lihatlah leher itu! Aku jadi ingin mendaratkan kecupan ringan di sana.’
Bagas mencoba mengecek Rena. Apakah sudah tidur atau belum dengan melambai-lambai tangannya di depan wajah Rena. Karena tidak ada reaksi apa pun dari Rena, maka Bagas berasumsi bahwa Rena sudah tidur nyenyak.
Bagas mulai menyingkirkan bantal guling yang menjadi penyekat mereka berdua.
__ADS_1
'Pelan-pelan saja!’
Bagas mulai melancarkan aksinya dengan mulus tanpa gangguan. Bahkan Rena yang mendapatkan serangan dari Bagas tidak terusik sama sekali. Mungkin karena saking pulasnya Rena tertidur.
Setelah dirasa puas, Bagas memeluk tubuh Rena dengan erat dari belakang. Tidak lupa Bagas menyematkan senyuman yang sangat tipis saat ia mengelus perut Rena yang sekarang sedang mengandung anaknya.
...***...
Beberapa jam sebelumnya. Lebih tepatnya saat Bagas baru saja bertengkar dengan Rena. Setelah pertengkaran yang membuat Bagas melihat Rena menangis untuk pertama kalinya. Bagas pergi ke luar malam harinya. Tepat tengah malam.
‘Aku harus mencari udara segar. Rasanya pusing sekali sampai tidak bisa tidur.’
Bagas mengendarai mobilnya membelah jalanan padat Jakarta. Jakarta memang tidak akan pernah surut untuk dilalui dengan kendaraan. Bagas menepikan mobilnya di salah satu club malam terbesar di Jakarta. Ia pikir dengan sedikit minuman, setidaknya ia mampu menenangkan pikirannya.
Bagas hanya sibuk minum tanpa memedulikan lingkungan sekitar. Bahkan rayuan-rayuan menggoda dari para wanita penghibur itu tidak digubrisnya sama sekali.
'Cantikan itsriku ke mana-mana.’
Lalu, sosok laki-laki seumuran Bagas datang ke arah Bagas dengan beberapa wanita yang mengikutinya.
“Hai bro! Sejak kapan Bagas mau minum-minum begini!”
“Yoi!” berjabat tangan ala laki-laki. Dan kembali duduk dengan segelas minuman yang penuh lagi.
“Kenapa lo? Vina buat masalah lagi?”
“Nope, justru yang buat masalah kali ini istri gue. Gue sekarang bingung sama istri gue. Padahal biasanya ia kalem dan terkesan manis ke gue kan? Nah, sekarang lo tau?! Rena bahkan mampu melawan perkataan gue. Gue jadi bingung dengan perubahan Rena.”
“Bro, Lo bilang lo menjauh dari istri lo karena dia masih bocil. Tapi, kemaren Sagala bilang Rena udah hamil. Jadi, yang benar lo udah sentuh dia ya?!”
Bagas menatap Rey diam. Menghembuskan napas dengan pelan. “Ada sebuah kejadian yang membuat gue menyentuh Rena. Gue mabuk waktu itu.”
“Wah gila! Jangan bilang lo bayangin Vina waktu lo ngelakuin dengan Rena?!” Rey heboh dengan asumsinya.
Bagas menabok belakang kepala Rey sampai membuat kepala Rey menjadi terpelungkup.
“Gue bahkan belum pernah kaya gitu sama Vina. Lo tahu sendiri alasan gue kenapa buat selingkuh dengan Vina.”
__ADS_1
“Kalau gitu bagus dong kalau Rena berubah. Itu tandanya lo udah bisa cukup percaya sama dia. Dia udah bukan gadis manja yang suka ngejar-ngejar lo lagi dong?”
Bagas menggeleng pelan. “Rena jadi gadis pembangkang yang bahkan dengan beraninya meminta cerai denganku!” Bagas mengeratkan tangannya yang memegang gela minuman.
Rey menepuk bahu Bagas pelan. “Mending lo perbaiki semuanya. Sebelum lo terlambat,” petuah Rey.
“Tumben lo kasih ajaran yang bener? Biasa nggak gini?”
Rey menatap kosong ke depan. “Beberapa bulan yang lalu gue jatuh cinta untuk pertama kalinya. Perempuan itu beda, Gas. Dia cantik, berkelas, bahkan dia mampu menyeimbangi gue di ranjang.”
Bagas berdecak. “Lo mah jatuh cinta ma cewek ya karena itu!”
“Dengerin gue dulu! Yang kali ini itu beneran! Gue nggak pernah ngelibatin perasaan di malam-malam panas gue. Tapi dia … gua bahkan nggak mampu buat nggk jatuh cinta sama dia.”
“Terus kenapa lo sedih kaya gitu?”
“Dia pergi, Gas. Gue nggak tahu sekarang dia ada di mana. Gue marah waktu ngelihat dia jalan sama laki-laki lain. Ternyata laki-laki itu adalah atasan kerjanya. Sialnya lagi, gua tahu kalau dia hamil anak gue saat dia udah pergi entah ke mana,” sesal Rey.
‘Andai waktu bisa kuulang. Aku pasti nggak akan berkata seperti itu, sayang’
Bagas melihat Rey dengan iba. “Jadi lo diam aja setelah perempuan itu pergi? Lo harusnya cari dong bro! Masa Rey jadi melo gini sih?!”
“Gue udah cari, Gas. Tapi nggak ada hasil sampai sekarang.”
“Seenggaknya lo harus berubah. Jangan nakal lagi lah. Lo kan tahu udah mau jadi bapak. Masa lo malah bertingkah begini sih?”
Rey menatap Bagas sendu. “Gue ragu kalau dia masih mertahanin anak gue.”
Rey menatap meja bar dengan kosong. “Gue sadar diri, Gas. Gue nggak patut buat ada di sampingnya.”
Bagas tidak bisa berkata-kata lagi. Akhirnya mereka hanya asyik merenung dengan ditemani segelas minuman sampai dini hari.
Dini hari Bagas bukannya pulang ke rumah. Tapi ia justru mengendarai mobilnya ke kantor. Ia akan tidur di kantor untuk mendinginkan pikirannya.
‘Apa iya aku harus membuka kedokku sekarang?’ Bagas tiduran di atas sofa.
Sebenarnya terdapat sebuah kamar tidur yang memang biasa Bagas gunakan untuk ia lembur. Namun, ia sedang ingin di sofa.
__ADS_1
‘Benar kata Rey. Jangan sampai semuanya terlambat.’
Bagas menutup matanya setelah menyakinkan dirinya dengan apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Mengistirahatkan dirinya. Dan berharap semoga apa yang akan lakukan ke depannya dapat berjalan dengan lancar.