
Nenek Bagas terlihat mengambil napas panjang. “Sebenarnya …”
Beberapa tahun yang lalu, tepatnya saat Bagas pergi begitu saja ke Amerika setelah menikahi Rena. Malam itu Rena akan pulang dari tempat les-lesannya. Meskipun Rena memang pintar dan selalu mendapatkan peringkat kelas. Tapi hal itu tidak menyurutkan niatnya untuk terus belajar. Rena tetap melakukan keinginan Nenek Bagas untuk mengikuti les. Rena tahu, bahkan saat Rena lulus nanti kehidupannya juga pasti akan tetap berkecukupan. Tapi justru dari hal itu, melihat bagaimana besarnya keluarga Adijaya dan bersinarnya Bagas Adijaya. Rena ingin menjadi seorang perempuan yang cocok untuk berada di samping Bagas Adijaya.
Jalan yang dilewati Rena waktu itu memang terlihat sepi dibanding hari biasa. Biasanya memang Rena selalu diantar jemput dengan supir pribadi. Tapi kali ini supir pribadi suruhan Nenek Bagas sedang mengalami musibah. Keluarganya ada yang meninggal sehingga tidak dapat masuk kerja dan menjemput Rena sepulang lesnya.
Dari kejauhan terdapat segerombolan laki-laki yang mungkin umur pertengahan dua puhuhan. Rena berhenti berjalan, ia sempat ragu.
‘Apakah tidak apa-apa jika aku lewat sana?’
Rena bimbang, tidak ada jalan lain lagi. Hanya tinggal melewati perempatan itu Rena sudah sampai di perumahan keluarga Adijaya. Jika harus memutar maka dapat dipastikan Rena akan sampai di rumah lebih dari jam sepuluh malam. Karena jalan itu memutar cukup jauh, hampir dua kali lipat.
Rena mengambil napas dalam-dalam. ‘Nggak papa, kan kamu juga bisa bela diri. Mereka juga cuman bertiga kok. Nggak bakal terjadi apa-apa.’ Rena mencoba mengsugesti dirinya.
Perlahan Rena melangkah ke arah perempatan itu. Malam itu sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Ditambah situasi malam itu yang sangat sepi. Padahal biasanya akan banyak bapak-bapak ronda malam di pos ronda samping perempatan itu. Tapi, nampaknya hari ini bapak-bapak itu libur berjaga malam.
Saat Rena bejalan semakin dekat ke arah para laki-laki itu. Rena dapat melihat ketiga orang itu memiliki tato di beberapa tubuhnya. Terutama di bagian tangan yang sangat terlihat. Ada satu orang yang menggunakan tindik di bagian telinga. Satu orang lagi menggunakan tindik di bagian hidung. Lalu baju mereka dominan gelap yang sangat lusuh. Robekan sana sini, belum lagi dengan baju yang ketat yang tambah menampilkan bentuk tubuh orang-orang itu secara nyata.
Rena sudah berjalan di depan orang-orang itu. Orang-orang itu juga nampak sedang asyik meminum-minum minuman keras sepertinya. Terlihat dari beberapa botol yang sudah berserakan di jalanan. Awalnya mereka tidak menyadari kehadiran Rena. Tapi, salah satu dari ketiga orang itu ternyata merokok dan membuat asap rokok yang cukup tebal. Sehingga begitu memasuki hidung Rena, Rena secara otomatis terbatuk-batuk. Sehingga ketiga orang itu mengalihkan perhatiannya kepada Rena, mencari sumber suara.
Rena yang tersadar sedang diperhatikan sudah akan berlari sebelum mendapatkan panggilan dari mereka.
“Hei, Bocah!”
Rena berjinggat kaget dan berhenti tidak bergerak sama sekali.
Satu orang laki-laki terlihat berjalan sempoyongan ke arah Rena. Lalu, mencolek dagu Rena dengan lancang. “Mau ke mana hem?”
Rena mulai memundurkan langkah kakinya berniat menghindari laki-laki itu. Namun sayang, di belakangnya sudah ada dua laki-laki lain yang menyeringai menakutkan kepada Rena.
‘Bagaimana ini?’ Rena menolehkan kepalanya ke kanan dan kiri berharap ada seseorang atau minimalnya ada senjata yang mampu melawan mereka.
Dari jarak yang hanya beberapa langkah ini, Rena dapat mencium bau yang sangat tidak enak. Mungkin itu lah yang dimaksud dengan bau alkohol. Perut Rena terasa bergejolak mencium bau itu sampai-sampai rasanya ingin memuntahkan seluruh isi perutnya.
‘Benar-benar tidak enak baunya!’ Rena menutup hidungnya dengan tangannya sendiri.
“Hai, sayang! Main dulu sama Abang yuk!”
__ADS_1
Rena semakin mundur lagi sampai tidak menyadari jika dibelakangnya sudah ada orang lain. Sehingga Rena berhasil di rengkuh dari belakang dan tangan Rena dikunci.
“Lepaskan! Lepaskan aku! Apa mau kalian hah?!” berontak Rena.
Sejujurnya Rena merasa takut. Tapi akal sehatnya masih memberitahunya untuk mencoba bersikap tenang. Rena tidak ingin ia menjadi lengah dan semakin mudah terpedaya oleh tiga laki-laki biadab ini.
“Tenang lah cantik!” colek seorang laki-laki itu kepada dagu Rena.
Rena menghindar dari colekan itu, sehingga tidak mengenai dagunya.
“Uh! Gadis yang galak! Tapi pasti akan lebih menantang, ya kan teman-teman?” tanya laki-laki yang menggunakan ikat kepala.
Teman-temannya hanya tertawa membalas pertanyaan laki-laki berikat kepala itu. Jenis tawa menggelegar yang sangat menjijikkan.
“Lepaskan aku!” desis Rena.
“Kenapa memangnya kalau aku tidak melepaskanmu gadis manis?!” laki-laki berikat kepala itu terlihat mengelus pipi Rena. Rena sempat menghindar, tapi genggaman dari dua orang laki-laki di kedua tangannya membuat Rena tidak dapat bergerak leluasa. Sehingga tangan lancang itu mampu mengelus pipi mulus Rena.
“Atau kalian akan tahu apa akibatnya!” ancam Rena mencoba berani.
“Bos saja!” jawab mereka kompak.
Laki-laki berikat kepala itu terlihat tersenyum miring.
“Tidak-tidak! Tolong lepaskan aku! Aku akan lakukan apa yang kalian mau!” Rena mencoba menawar dengan kepanikan yang luar biasa.
Jika awalnya Rena masih mencoba tenang, sekarang Rena benar-benar panik.
“Iya sayang, sabar ya! Kita juga akan melakukan apa yang kita mau kok! Iya nggak teman-teman?” tanya laki-laki berikat kepala itu dengan gelak tawa di akhirannya.
“Udah bos, sikat aja!” provokasi laki-laki yang menggunakan topi hitam.
“Kalian pegangi dia baik-baik!”
Kedua laki-laki itu nampak memegangi tangan Rena dengan sangat kuat. Rena mencoba memberontak semaksimal mungkin dan terus berteriak. Namun sayang, tidak ada siapa-siapa di jalan itu. Jalan itu begitu sepi, sehingga tidak ada yang mendengar teriakan Rena. Laki-laki berikat kepala itu berhasil merobek bagian baju Rena sehingga dalaman Rena bagian depan tereskpos.
“Tolong! Tolong! Jangan lakukan ini saya mohon! Saya janji akan melakukan apa yang kalian minta!” mohon Rena dengan linangan air mata. Rena begitu ketakutan dan benci harus terlihat lemah dihadapan orang lain.
__ADS_1
“Tenanglah sayang! Jangan menangis! Nanti kamu juga akan senang kok dan bersyukur bertemu dengan kita!”
Rena terus berontak, berteriak, dan menangis histeris. Sampai tenaganya hilang dan berakhir pasrah. Keadaannya begitu acak-acakan. Sampai tiba-tiba terdengar suara sirine polisi yang lewat sehingga ketiga lelaki itu terlihat sibuk melarikan diri dan meninggalkan Rena yang terjatuh di lantai.
Rena menangis sesenggukan dengan pandangan kosong. Tatapannya begitu kosong tapi lelehan air mata terus mengalir di pipinya.
Dua orang polisi terlihat mencoba mengejar ketiga laki-laki bejat itu. Tapi tidak bisa, karena mereka langsung menaiki motornya. Sehingga kedua polisi itu mendekati Rena.
“Dek, kamu nggak papa?” tanya seorang polisi.
Sedangkan satu polisi lain terlihat kembali ke mobil patroli dan terlihat keluar menjinjing jaket. Lalu, mendekat ke Rena dan menyampirkan jaket itu kepada Rena.
“Mari dek, kita antar pulang!” ajak polisi itu membangunkan Rena.
Rena masih tidak tahu harus bereaksi apa. Rena masih syok dan hanya mengikuti instruksi kedua polisi tadi. Sayangnya Rena tidak mau menjawab pertanyaan kedua polisi itu tentang alamat ia tinggal sehingga kedua polisi itu terpaksa membawa Rena ke kantor polisi. Lalu dengan terpaksa menggeledah tas sekolah Rena dan menemukan handpone Rena. Sayangnya lagi handpone itu telah mati. Sehingga harus mengisi daya terlebih dahulu baru menghubungi Nenek Bagas. Kontak paling terakhir di riwayat panggilan.
Sedangkan di sisi lain, Rena terus-terusan memaki dirinya sendiri di pikirannya.
‘Aku kotor!’
‘Aku bodoh!’
‘Andaikan saja aku langsung melawan mereka, pasti nggak akan kaya gini!’
‘Aku harusnya nggak lewat jalan itu!’
‘Aku benar-benar bodoh!’
Semua umpatan-umpatan dan kalimat seadainya memenuhi otak Rena. Sampai-sampai Rena tidak mampu hanya untuk sekedar mengeluarkan beberapa kata. Dan malam memilih diam membisu.
.
.
.
Jangan lupa like, komen, dan vote ya... makasih😘😘😘
__ADS_1