Perjuangan Si Alter Ego Memperbaiki Hidup

Perjuangan Si Alter Ego Memperbaiki Hidup
Rayan


__ADS_3

“Mas kamu kenapa lagi? Istrimu membuat masalah lagi ya?” tanya Vina yang sedang tiduran di badan besar milik Bagas.


Saat ini Vina dan Bagas sedang berada di apartemen tempat ia dan Vina menginap selama di Perancis. Ya, sesuai perkataan Bagas kemaren bahwa ia akan pergi ke Perancis selama beberapa hari. Dalam perjalan bisnis itu Bagas tidak mengajak Vina sebenarnya, namun Vina yang menawarkan diri sehingga Bagas hanya menyutujuinya saja.


“Aku benar-benar tidak tahu lagi ada apa dengan Rena. Rena benar-benar berubah.”


Bagas menerawang sikap Rena yang dulu. Rena yang dulu adalah seorang gadis yang penurut. Mereka memang menikah dengan umur yang lumayan jauh, 8 tahun karena perjodohan keluarga. Tapi Rena yang dulu selalu bersikap manis terhadapnya, tidak peduli seberapa kasar perlakuan dirinya. Rena yang dulu juga selalu mejadi gadis baik-baik yang bahkan tidak pernah macam-macam. Jangankan membalas perkataan Bagas, menatap mata Bagas secara langsung pun Rena tidak akan berani.


“Kenapa tidak kau ceraikan saja si Rena itu dan menikah denganku Mas. Aku mampu untuk menjadi istri yang baik untukmu kok mas.”


“Apalagi,” Vina memainkan jari-jari lentiknya di dada bidang Bagas. “Kau tahu sendiri maksudku Mas?”


Bagas tersenyum dan membelai rambut Vina pelan. “Aku masih belum bisa menceraikannya, Vin. Kau tahu sendiri kalau nenek tidak akan memberikan perusahan keluarga kepadaku sebelum aku memiliki anak.”


“Kau bisa mendapatkan anak dariku Mas!”


Bagas menggelang pelan. “Nenek hanya mau cucu dari Rena, Vin.”


‘Untung Vina masih belum tahu kalau Rena sekarang sudah hamil. Kalau tahu aku tidak berani jamin apa yg bakal terjadi.’


Vina bangkit begitu saja dari tidurannya di atas tubuh Bagas. Lalu, masuk ke kamar dengan cepat.


“Vin?” Bagas membiarkan saja Vina memasuki kamarnya. Ia cukup malas saat ini. Rena yang membangkang saja sudah membuat pusing, sekarang malah ditambah Vina yang merajuk.


Bagas menutupi wajahnya dengan lengan kanannya.


‘Rasanya malas sekali berurusan dengan wanita. Mereka membingungkan.’


Di sisi lain Rena sedang berada di café sendirian. Rena memang masih berumur 19 tahun, makanya saat ia duduk nongkrong di café sendirian seperti ini pun tidak akan menarik perhatian. Sudah menjadi hal yang umum seorang gadis nongkrong sendirian di café. Mungkin mereka dikira cewek yang baru putus dari pacarnya dan sedang galau.


Rena duduk malas sambil sesekali menyeruput jus jeruk kesukaanya. Melihat pemandangan jalan raya yang padat mengingatkannya pada masa-masa ia menjadi Rena yang bebas. Rena yang bisa melakukan apa pun semaunya. Rena yang biar pun mengalami kesulitan ekonomi tetap dapat tersenyum dengan bahagia.


“Boleh aku duduk di sini?”

__ADS_1


Seorang pemuda tampan yang memiliki postur tubuh tinggi menjulang berada di depan Rena. Rena mendongakkan kepalanya untuk melihat pemuda itu. Dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling café, memang sore itu café sedang penuh dengan pengunjung, hanya kursi yang ada di depan Rena yang masih kosong. Jadi, Rena cukup sadar arah pembicaraan pemuda itu.


“Silahkan.” Angguk Rena.


Pemuda itu duduk di depan Rena dengan sebuah minuman yang telah ia pesan.


“Sendirian saja, Minggu sore begini?”


Rena menaikkan alisnya satu. ‘Dia kelihatan orang baik-baik. Namun ternyata semua laki-laki sama saja, modus.’


“Hemm,”jawab Rena malas.


Pemuda itu hanya tersenyum menatap sosok gadis cantik yang ada di depannya. Kecantikan gadis ini beda dengan gadis pada umumnya. Hidung mungil, bibir tipis, dan mata yang sedang. Semuanya terlihat sempurna dengan rambut lurus yang dibiarkan tergerai dengan indah. Belum lagi sifatnya yang terlihat angkuh dan sulit untuk didekati.


'Gadis ini benar-benar menarik.'


“Aku Rayan, boleh tahu namamu?”


“Rena,” jawab singkat Rena.


‘Aku jalan dengannya saja apa ya? Sepertinya akan seru kalau aku bisa membuat Mas Bagas marah terhadapku dan menceraikan aku.’


Ya, memang tujuan Rena melakukan segala pemberontakan adalah karena ia ingin lepas dari ikatan pernikahan dengan Bagas. Ia tidak sudi lagi untuk tinggal bersama dengan Bagas. Apalagi Bagas yang hanya menganggap rumah sebagai tempat singgah saja. Tidak pernah sebenarnya terjadi sebuah percakapan panjang antara Bagas dan Rena yang dulu. Namun, Rena yang dulu tetap mau melayani Bagas dengan sepenuh hati. Hal itu simple, hanya karena Rena yang dulu begitu menyayangi Nenek Bagas. Sehingga pesan Nenek Bagas untuk Rena selalu berada di sisi Bagas selalu menjadi alasan terkuat Rena mencoba untuk mendapatkan cinta Bagas.


Rena yang sekarang justru berpikir bahwa Rena yang dulu adalah sosok yang bodoh. Rena heran, mengapa seseorang yang terlalu baik itu malah menjadi sangat bodoh seperti ini. Jelas sekali jika Bagas tidak mungkin mencintai Rena. Itu mustahil. Apalagi dengan adanya Vina di samping Bagas.


‘Aku tidak akan pernah mengemis cintamu lagi Mas.’


Rena berdehem. “Mau tukeran nomor telepon?”


Rayan tidak menyangka jika Rena ternyata cukup agresif juga. Ia pikir Rena akan sangat sulit untuk ditaklukan.


‘Aku akan membuat Mas Bagas marah dan membuat ia mau tidak mau menceraikan aku. Tunggu saja’

__ADS_1


Rayan mengangguk dan memberikan ponselnya kepada Rena.


“Kau baik sekali langsung memberikan ponselmu. Memangnya nanti tidak ada yang marah?” Rena mencoba menggoda Rayan.


Rayan terkekeh. “Kalau maksudmu nanti kamu yang marah, mungkin saja.”


Rena terkekeh pelan. “Kau bisa saja.”


“Ini, coba cari namaku di kontakmu ya nanti.” Rena menyerahkan ponsel milik Rayan.


“Maksudmu--?”


Belum sempat Rayan menyelesaikan ucapannya Rena sudah bangkit terlebih dahulu.


Rayan memandangi tubuh ideal Rena dari belakang yang menjauhinya.


‘Menarik.’


...***...


Rena menatap Rayan dari kejauhan.


‘Dia memang ganteng sih. Tapi pemain perempuan nggak ya? Kalau aku malah yang kejebak dengan permainanku sendiri bagaimana?’


Rena menghembuskan napas dengan kasar.


‘Benar-benar Mas Bagas itu bikin pusing saja. Ia nggak tahu apa kalau aku tuh pengen nikmatin kehidupan Rena ini tahu. Malah dia udah nitipin benihnya aja. Udah gitu, mana aku sama Mas Bagas lagi nggak sadar waktu ngelakuin itu.’ Rena geleng-geleng kepala dengan segala pemikirannya sendiri.


Tiba-tiba hujan grimis turun di malam itu. Rena suka hujan. Saat kebanyakan orang berlari mencari tempat berteduh. Rena justru dengan santai melangkahkan kakinya menuju ke arah taman. Taman yang berada di samping café tadi. Duduk di kursi taman yang terletak di bawah pohon sehingga sedikit menghalau titik-titik gerimis yang mengenai tubuhnya.


Rena mendongak dan mencari bintang di langit. Namun sayang tidak ada bintang sama sekali di langit. Mungkin karena mendung yang menyebabkan gerimis ini.


‘Andai aku bisa jadi bintang. Sendiri tapi tetap mampu bersinar terang.’

__ADS_1


Ia mengelus perutnya tanpa sadar. Dan seketika ingat bahwa ia sedang hamil. Maka ia pun berlari ke tempat lain untuk berteduh. Dan memesan taksi untuk pulang.


__ADS_2