Perjuangan Si Alter Ego Memperbaiki Hidup

Perjuangan Si Alter Ego Memperbaiki Hidup
Mimpi Buruk


__ADS_3

Aku melihat diriku sendiri di sebuah rumah yang sangat mewah. Rumah itu berwarna putih dengan gaya yang sangat megah, seperti sebuah istana modern. Aku melihat diriku sedang duduk dengan seorang Nenek. Nenek itu nampak mengelus pelan rambutku dan nampak berbicara dengan riang dengan diriku.


Tapi, siapa Nenek itu? Kenapa aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas?


Setelah itu semua yang ada di hadapanku berlarian layaknya sebuah layar film yang sedang dicepatkan. Aku tidak dapat melihat dengan jelas. Belum lagi dengan dengungan yang aku dengar semakin terasa keras di telinga. Begitu memekkan telinga, sampai-sampai aku takut tuli karenanya.


Lalu, tiba-tiba aku melihat sebuah seorang laki-laki yang mendekatiku. Aku spontan mundur, aku tidak tahu siapa dia. Kenapa dia terlihat tersenyum mengerikan kepadaku. Aku mencoba berteriak, aku ingin lari dari sini. Tapi, mulutku terkunci, kakiku terasa melekat dengan erat dengan tanah. Aku harus apa?


Setelahnya semuanya gelap.


Hah hah hah.


‘Apa itu tadi?’


“Mengapa aku bermimpi seperti itu?” mengelap beberapa keringat yang ada di pelipisnya.


Rena bengun dari tidurnya dalam keadaan napas yang sudah tidak beraturan. Wajahnya terlihat kacau, rambut yang acak-acakan, keringat yang terlihat mengalir di dahinya. Rena benar-benar terlihat seperti seseorang yang habis berlari sejauh sepuluh kilometer. Bahkan, Rena dapat merasakan bagian baju belakangnya basah.


Rena mengatur napasnya dan melihat jam dinding. Sudah menunjukkan pukul tiga pagi. Rena selalu pulas dalam tidur. Ia bahkan jarang sekali bermimpi dalam tidurnya. Namun, beberapa bulan terakhir ini Rena selalu bermimpi hal-hal yang aneh menurutnya.


‘Sebenarnya apa yang sudah aku lewatkan selama ini?’


Di sisi lain, masih di jam yang sama. Nenek Bagas memandang sebuah foto yang menunjukkan seorang gadis muda dengan rambut pendek sebahu.


Nenek Bagas terlihat begitu sendu dalam menatap foto itu. Entah apa yang sedang dipikirkan dengan Nenek Bagas, tapi kelihatannya bukan sebuah kenangan yang baik.


...***...


Keesokan harinya Rena berangkat kuliah seperti biasanya. Ia mulai mendengarkan penjelasan dosen dengan serius, meskipun pikirannya saat ini bukan di tempat itu. Entahlah, Rena merasa aneh sekali dengan mimpi-mimpi yang ia dapatkan akhir-akhir ini.


“Ren!” Mira berusaha untuk mengageti Rena yang terlihat sedang duduk sendiri di sebuah kursi taman belakang gedung kampus.


“Hemm,” jawab Rena malas.


“Idih, kok gitu sih! Harusnya kamu kaget dong!” Mira protes kepada Rena. Karena memang setiap kali Mira mengageti Rena, Rena tidak pernah kaget sekali pun.


“Wah! Aku kaget!” ekspresi kaget yang dibuat-buat.


“Nggak lucu! Malah nakutin tahu!”


“Ya terus aku harus gimana dong?! Kamu sih emang nggak ngagetin!”


“Ye … bukan aku yang nggak ngegetin. Tapi kamunya yang terlalu dingin sekarang.”


“Sekarang?”

__ADS_1


Mira menepuk bibirnya pelan karena merasa salah ucap.


“I-iya sekarang ini. Kamu kan jadi dingin sekali. Kaya apa ya, kamu tuh bukan kamu yang dulu gitu.”


‘Aku memang bukan Rena yang kalian kenal. Bukan aku yang berubah, tapi memang jiwa dari tubuh Rena ini yang berbeda.’


“Hei! Kok malah bengong? Aku salah ngomong ya?”


“Nggak kok!”


“Eh, kemaren kata anak jurusan sebelah kamu nonton di bioskop bareng cowok, siapa? Kalau Kak Bagas sampai tahu, tamat riwayatmu Ren!”


“Apa sih? Orang Mas Bagas juga udah tahu kok kalau aku temenan sama Rayan kok!”


“Oh, namanya Rayan!” sedikit berteriak.


“Jangan keras-keras!” peringat Rena kepada Mira.


Mira hanya dapat nyengir saja mendapatkan pelototan dari Rena.


Rena mengemasi barang-barangnya dan mulai beranjak dari tempat duduknya.


“Lho mau ke mana?”


“Mau ke kelas selanjutnya. Kenapa mau ikut?”


Rena hanya mampu menghela napas pelan melihat tingkah Mira. Kadang Rena juga sedikit mempertanyakan kenapa Rena masih bertahan untuk berteman dengan Mira. Padahal, bisa saja Rena pura-pura tidak kenal dengan Mira dan menjauh begitu saja dari Mira ya kan?


Rena melewati kelas kulaih terakhirnya dengan lesu. Ia benar-benar lesu siang ini. Lebih tepatnya siang menuju sore ini. Rena melangkah ke depan gerbang universitas guna mencari angkutan umum. Karena sejak tadi ia memesan secara online tidak dapat-dapat.


Lagi-lagi sebuah motor gede berwarna hitam berhenti tepat di hadapan Rena.


“Kali ini apa lagi? Aku curiga kalau kamu sebenarnya pengangguran deh!” ucap Rena saat Rayan bahkan belum melepas helmnya sama sekali.


Rayan melepas helmnya dengan menahan ketawa.


“Aku masih cuti ini!”


“Mana ada pegawai baru malah kebanyakan cuti!”


“Lho beneran! Suer deh kalau aku masih cuti!”


Rena menatap Rayan dengan pandangan menyelidik.


“Aku nggak percaya!” menggelengkan kepala.

__ADS_1


“Yaudah sih kalau nggak percaya. Tapi, gimana? Mau diantar kan lagi kan pulangnya?”


Rena menghela napas. Entah kenapa memang beberapa hari ini Rena selalu sulit menemukan angkutan online. Dan disaat yang seperti ini kebetulannya Rayan datang seperti seorang malaikat penolong.


“Yaudah, antar aku pulang ya!” tersenyum dengan manis.


“Oke!”


...***...


Sedangkan ditempat lain, terlihat Bagas yang sedang sibuk meneliti pekerjaannya dengan serius. Bagas mengenakan kaca mata yang semakin membuatnya terlihat berwibawa. Bagas memang sering menggunakan kaca mata jika sedang bekerja di kantor.


Tok tok tok.


“Masuk!”


“Pak, ada seseorang yang ingin bertemu dengan bapak.”


“Siapa?”


Bagas melihat seseorang yang sudah berada di ambang pintu.


“Suruh dia masuk saja Pak.”


“Baiklan, Pak!” undur diri dan meninggalkan orang tadi di ruangan Bagas.


“Duduklah!”


Seseorang tadi terlihat duduk di hadapan Bagas dengan tenang. Seseorang itu mengenakan jaket hitam, topi hitam, dan celana hitam. Semuanya serba hitam.


“Apa lagi kali ini yang kau bawa?”


Seseorang itu meletakkan beberapa lembar foto Rena denan Rayan.


“Kapan ini terjadi?”


“Kemaren malam dan hari ini,” ucap seseorang itu.


Bagas mengambil foto-foto itu dan meremat foto-foto dengan kasar. Bagas terlihat mengeratkan rahangnya. Nampak sekali jika Bagas sedang menahan amarahnya.


Melepaskan napas secara kasar. Bagas memberikan amplop yang cukup tabal kepada seseorang tadi.


“Terus pantau dia!”


Seseorang itu terlihat mengangguk dan meninggalkan ruangan Bagas dengan smrik puas.

__ADS_1


Bagas masih mengenggam foto Rena dan Rayan yang sedang tertawa di pinggir jalan. Entah apa yang ada dipikiran Bagas saat ini.


__ADS_2