Perjuangan Si Alter Ego Memperbaiki Hidup

Perjuangan Si Alter Ego Memperbaiki Hidup
Bolos


__ADS_3

Rena bangun dari tidurnya dan merasa keadaan tubuhnya kembali bugar. Rena bahkan merasa jika tidurnya kali ini begitu nyenyak. Rasanya Rena sampai bisa melupakan kejadian di hari kemaren. Namun, Rena merasakan hal aneh saat ia bangun dari tidurnya.


‘Bukankah terakhir kali aku pingsan? Kenapa aku malah jadi di sini?’


Rena mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Beberapa lamanya ia mengedarkan pandangannya, barulah ia sadar jika ia sedang berada di kamarnya sendiri.


‘Ada seseorang yang membawa aku kembali ke rumah ya?’ pikir Rena.


Rena benar-benar bingung dengan situasi ini. Rena ingat kalau setelah meminum minuman yang ia ambil begitu saja dari pelayan pada malam hari itu. Ia merasakan pusing luar biasa sampai ia merasa jika bumi tempat ia berpijak terasa terombang-ambing. Rena yang sudah tidak kuat lagi dengan pijakan kakinya yang terasa begitu lemas tak betenaga. Tentu langsung menjatuhkan dirinya begitu saja di lantai dingin gedung acara itu. Sehingga gelas yang ada di genggaman tangannya terlepas begitu saja. Dan menimbulkan suara pecahan gelas yang begitu nyaring. Hingga membuat semua orang berhenti dari aktivitasnya dan mengarahkan atensinya kepada sumber suara itu.


Semakin lama pusing itu terasa begitu pening sampai2 membuat dadanya sesak. Hingga Rena hilang kesadaran.


Sesaat sebelum kegelapan mengambil alih kesadarannya. Rena sempat melihat beberapa orang yang di acara ulang tahun perusahaan itu mulai mengerumuninya. Seperti mengepung Rena dari segala arah. Rena sebenarnya juga tidak menginginkan kejadian seperti ini. Tapi, dengan ini Rena berhasil mengacaukan acara pada malam hari itu. Sehingga tanpa sadar rencananya memang berhasil.


‘Ah, iya. Jadi, aku berhasil mengacaukan acara itu ya?’


Rena bangkit dari tempat tidurnya untuk menuntaskan hajat dan ritual paginya di kamar mandi. Setelah selesai dengan ritual mandinya, Rena mengarah ke meja rias untuk merias wajahnya dan mengggunakan beberapa produk skincare untuk menjaga kulitnya.


Setelahnya baru Rena mengambil hp yang terletak di meja kecil samping tempat tidur. Saat melihat tanggal yang tertera di hp itu, Rena begitu terkejut.


‘Tanggal 4 September?’


‘Seingatku acara ulang tahun perusahaaan Adijaya Group tanggal 2 September,’ Batin Rena bertanya-tanya.


Rena yang tidak percaya beralih menuju tanggalan yang ada di kamarnya yang ia pajang di atas meja belajarnya.


“Huh? Kok udah tanggal 4 sih?” Rena mengambil tanggalan kecil itu dengan rasa tidak percaya.


“Ini bener kok kalau aku tandain ulang tahun perusahaan itu tanggal 2! Tapi kok bisa sekarang tanggal 4? Apa aku pingsan selama 2 hari?” monolog Rena sendiri.

__ADS_1


Rena benar-benar tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini.


‘Ah, aku harus tanya Mas Bagas!’ ide Rena.


Rena langsung berlari keluar dari kamarnya dan menuju ke kamar Bagas yang terletak di lantai dua rumah itu. Sampai-sampai ia tidak sadar jika sekarang sudah pukul 8 pagi, pasti Bagas sudah berangkat ke kantor saat ini. Karena jam-jam Bagas berangkat bekerja adalah puluh setengah delapan.


Tok tok tok.


“Mas! Mas Bagas!”


Rena terus mengetuk pintu kamar Bagas dan meneriakkan nama Bagas. Namun, hasilnya nihil, tentu saja Bagas tidak akan menjawab atau membuka pintu. Rena yang memang tidak sabaran langsung membuka pintu kamar Bagas yang memang tidak pernah dikunci pemiliknya. Menjelajahi seluruh kamar Bagas dan meneriakkan namanya lagi. Tapi tetap saja Rena tidak dapat menemukan batang hidung Bagas.


Sehingga Rena sadar akan sesuatu saat ia melihat jam dinding yang terpasang di dinding kamar Bagas. Lalu, menepuk jidatnya sendiri.


‘Bodoh! Kan sekarang Mas Bagas pasti sudah di kantor.’ Rena geleng-geleng kepala sendiri menyadari kelakuannya.


Setelahnya Rena berlari turun menuju lantai pertama untuk kembali ke kamarnya. Ia mengambil tas dan handponennya. Lalu, bersiap akan pergi menyusul Bagas ke kantor. Sebelum, ia mendapatkan pesan dari grup kelas yang mengatakan jika ada kelas dosen yang diajukan menjadi hari ini dan itu tepat satu jam lagi.


Pasalnya dosen yang mengajukan kelas mata kuliahnya itu adalah seorang dosen killer. Ia bahkan tidak segan memberikan nilai D sekali pun kepada seseorang yang membolos di mata pelajarannya.


Rena yang dilanda kebingungan mendadak mengingat Mira. ‘Iya, Mira pasti bantu. Aku minta Mira buat absenin aku aja.’


Rena menekal tombol dial untuk kontak Mira.


“Halo!” Suara dari seberang yang nampak malas-malasan layaknya orang yang baru bangun dari tidur.


“Halo, Mir! Kamu mau berangkat kuliah kan?”


“Berangkat kuliah?” tanya Mira bingung. “Bukannya hari ini libur ya?”

__ADS_1


Jadi, memang ada beberapa kelas kuliah yang sama antara Mira dan Rena. Meskipun, memang mereka jarang sekali bersama.


“Mir, kita ada kelas dari Pak Dosen Killer yang botak itu lho! Kamu nggk buka grup?”


Mira yang mendengat kata ‘Pak Dosen Killer’ langsung melek sepenuhnya dan mengecek grup kelas.


“Wah gila nih! Aku baru bangun tidur!” teriak Mira histeries.


Mira yang terkejut sekaligus takut langsung berlari ke kamar mandi untuk mencuci muka dan sekedar gosok gigi. Mira tidak mandi pagi itu, tapi mengenakan riasan sebagai penutup dan mengenakan parfum sebagai wewangian. Mira adalah mahasiswa baik-baik yang bahkan cukup ambis untuk lulus lebih cepat. Sehingga Mira tidak mau jika ada nilainya yang tidak sesuai dengan apa yang ia mau.


Mira bahkan tidak sadar jika teleponnya masih menyala atas nama ‘Rena polos’. Karena saking buru-burunya Mira melempar begitu saja ponselnya di atas kasu dan meninggalkannya.


Rena yang tidak mendapatkan jawaban apa-apa jelas kesal dan sudah mau membanting hpnya. Tapi ia ingat jika Rena yang dulu bahkan nggak bisa membeli hp ini. Sehingga ia kembali mengenggam erat hp itu dan mengelus-ngelusnya sayang.


'Maaf ya hp, aku nggk bakal gitu lagi kok!'


Kembali fokus ke masalahnya. Rena menarik napas dan bertekad untuk bolos dari kuliahnya kali ini.


‘Ini masalah penting! Masalah masa depan yang akan aku bawa ke mana! Nggak papa bolos, semoga ada toleransi dari Dosen!”


Yap, terkadang Rena memang mewujudkan perilaku lebaynya. Hal ini karena Rena yang dulu pernah mengalami beratnya hidup, sakitnya ditinggal, sakitnya dikhianati, sakitnya di olok-olok, bahkan ia merasakan bagaimaan rasanya terpaksa menghentikan mimpi demi menyambung kehidupan.


“Yuk Rena! Kita masuk!”


Sekarang Rena sudah ada di depan kantor Bagas, suaminya yang sangat megah. Tidak heran memang jika perusahaan Bagas menjadi perusahaan yang paling berpengaruh di dalam negeri.


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa like, komen, dan vote ya... makasih😘


__ADS_2