Perjuangan Si Alter Ego Memperbaiki Hidup

Perjuangan Si Alter Ego Memperbaiki Hidup
Ceraikan Aku!


__ADS_3

“Mas! Kamu kok nggak bujuk aku sama sekali sih?” Vina memasuki kamar Bagas dengan mendobrak pintunya.


Bagas yang saat itu sedang mengerjakan data proyek jelas merasa kesal karena diganggu. Bagas menghembuskan napas pelan untuk meredakan emosi yang akan memuncak di kepalanya.


“Aku kan lagi memperbaiki beberapa data proyek, Vin.”


“Tapi harusnya kamu tetap bujuk aku dong Mas!”


Vina memang tidak tahu tempat untuk mencari perhatian Bagas. Mereka memang sering tinggal bersama, tapi sesungguhnya Bagas tidak pernah membiarkan dirinya menyentuh Vina layaknya seorang istri. Bahkan saat Vina menggodanya dengan pakaian terbuka sekalipun. Dan sekarang rasanya ini bukan waktu yang tepat untuk itu.


“Kamu juga harus ngertiin aku dong. Aku kan juga ke sini karena ada pekerjaan.” Bagas tetap menyelesaikan pekerjaannya tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop.


“Mas!” Vina menutup laptop Bagas begitu saja.


Bagas yang diperlakukan seperti itu langsung mendongak dan menatap Vina dengan tatapan tajam.


“Ehm, aku kan juga mau jalan-jalan. Kita jalan-jalan saja yuk!” Vin takut sebenarnya dengan tatapan tajam dari Bagas, tapi ia tetap mencoba berbicara untuk mengalihkan emosi Bagas.


Bagas menghembuskan napas lelah dan mengalihkan pandangannya ke arah tembok.


‘Sekarang aku mempertanyakan diriku kenapa aku mau menjalain hubungan dengannya.’


Bagas bangkit dari kursi kerjanya dan mengambil dompet di atas nakas samping meja kerja.


“Kita pergi kan Mas?” Vina mengekspresikan rasa senangnya dengan mata yang nampak berseri-seri.


“Hem,” jawab Bagas singkat.


Tidak jauh dari tempat menginap Bagas dan Vina mereka mendapati sebuah tempat yang nampak sejuk. Seperti taman kota yang baru saja dibangun. Karena nampak banyak sekali pengunjung, Bagas menepikan mobilnya ke taman itu.


Sebenarnya ia bisa saja memang kalau ke Menara Eiffel atau ke tempat-tempat rekreasi yang popular lainnya. Tapi sesunggunya Bagas malas pergi, hanya agar Vina tidak menggangunya dalam ia bekerja makanya ia melakukan apa yang Vina mau.


“Wah! Bagus juga ya Mas.” Vina setengah berteriak kepada Bagas. Mungkin karena saking sukanya?


Mereka memang jarang pergi ke luar negeri bersama. Paling mentok hanya di Bali. Itu pun sudah terjadi sejak satu tahun yang lalu.


Mereka menghabiskan waktu di sana dengan melihat-lihat beberapa penari dan penyanyi jalanan. Juga terdapat beberapa makanan yang dijual di pinggir jalan. Lalu, mereka hanya menonton orang yang berlalu lalang di taman itu sampai sore hari.


‘Kalau akhirnya seperti ini, harusnya aku tidak mengiyakan Vina untuk ikut.’


‘Aku jadi harus lembur nanti malam.’


Bagas menatap sekelilingnya dengan lesu. Ia akhirnya membuka gawainya untuk menghilangkan rasa bosan. Namun, apa yang ia lihat di pesan membuat ia seketika naik darah. Ia langsung bangkit dan meninggalkan Vina begitu saja.


“Mas, mau kemana?!” Vina sedikit berterik sambil berlari-lari kecil menyusul Bagas.


Bagas hanya diam dan masuk ke dalam mobilnya yang diikuti oleh Vina.


“Mas kenapa sih?” Vina terus bertanya dalam perjalanan itu tapi sama sekali tidak digubris dengan Bagas.


Hingga mereka tiba di apartemen, Bagas tiba-tiba menelepon Sagala--sekretaris peribadinya--untuk membelikannya tiket kembali menuju Jakarta.


“Mas, kamu mau pulang?”


“Kemasi barangmu. Kita pulang sekarang!” titah Bagas tidak terbantahkan.

__ADS_1


“Tapi Mas kita baru sampai tadi pagi masa sekarang udah pulang?”


“Kalau kamu tidak mau pulang. Tetaplah di sini!”


“Apa? Maksudmu kamu akan meninggalkan aku Mas?”


Bagas menatap Vina sejenak, lalu kembali memasukkan baju-bajunya di koper kecil miliknya. Tidak tertata sama sekali memang, tapi setidaknya ia sudah memasukkan barang-barang dan dokumen penting miliknya.


“Ada hal yang harud aku urus di Indonesia. Benar-benar mendadak.” Bagas berucap dengan mengertakkan rahangnya dengan keras. Nampak sekali jika ia sedang menahan amarah.


Vina yang melihat itu langsung menunduk tidak berani sosok Bagas.


“Aku tetap di sini saja Mas,” cicit Vina.


“Baiklah, aku pergi.”


Bagas pergi bergitu saja meninggalkan Vina di sana. Vina menatap sosok Bagas dari belakang dengan sendu.


‘Entah kenapa aku takut Mas, kamu mulai terasa jauh.’


...***...


Setalah menempuh jarak yang jauh serta waktu yang memuakkan akhirnya Bagas sampai di rumah pada sore hari. Tepat saat Rena pulang dari kuliahnya. Namun, hal yang tidak diduga kembali terjadi. Rena pulang dengan lelaki asing, bahkan sekarang Bagas melihat Rena sedang dipeluk dengan laki-laki itu.


Bagas melangkahkan kakinya lebar ke arah mereka. Rena yang menyadari sosok Bagas langsung mendorong dada laki-laki itu untuk menjauh.


Bagas langsung menarik tangan Rena untuk berada di belakangnya.


“Kenapa kamu udah pulang sih Mas?”


“Siapa ini?”


“Oh, dia-“


“Saya Rayan, teman Rena.” Rayan memberikan tangannya guna menjabat tangan Bagas.


Bagas hanya menatap tangan Rayan tanpa minat sedikit pun untuk menjabatnya.


“Perkenalkan saya Bagas, suami Rena.”


Rena mendongak untuk melihat Bagas.


‘Dia itu kenapa sih?’


“Suami?” Rayan melongok ke arah Rena yang ada di belakang Bagas.


Bagas yang mengetahu hal itu, menggeser tubuh Rena untuk lebih ke arah kiri agar Rayan tidak menjangkau Rena.


“Ah, iya. Dia suamiku," Rena menyahuti dari belakang tubuh Bagas.


Rayan memiringkan kepalanya.


‘Rena sudah bersuami? Dengan laki-laki ini?’


“Kenapa kau ke sini?”

__ADS_1


“Ah, saya mengantarkan Rena tadi karena dia terlihat sedang menunggu angkutan umum.”


“Kalau begitu pergilah! Sudah kan mengantarnya?” usir Bagas terang-terangan.


“Kalau begitu aku pamit dulu ya, Ren.”


“Ya, hati-hati.”


Rayan menaiki motor besarnya dan beranjak pergi.


Bagas menarik Rena dengan kasar untuk masuk ke rumahnya.


‘Kenapa suaminya seperti itu?’


Rayan sempat berhenti sejenak sebelum memasuki jalan raya dan melihat Rena yang diseret secara paksa dengan Bagas.


“Harus ya kau begitu?!” kata Bagas setelah melempar tubuh Rena di sofa besar ruang tamunya.


“Memangnya apa sih yang aku lakukan? Aku kan hanya diantarkan dengan temanku, soalnya suamiku sedang pergi liburan ke luar negeri dengan selingkuhannya,” sindir Rena dengan sedikit mendramalisir.


“Kau! Aku pergi bekerja kalau kau lupa!” tandas Bagas.


“Oh ya? Well, nggak akan ada yang tahu sih.” Rena menaikkan bahunya.


Bagas melempar beberapa foto di ke arah Rena secara kasar. Sehingga foto-foto itu berserakan di sekitar Rena. Rena mengambil salah satu foto itu dan melihat ia yang sedang mengobrol dengan Rayan kemaren di café.


“Apa maumu sebenarnya?!” tekan Bagas.


“Cerai.” Rena mendongak ke arah Bagas.


“Ceraikan aku!” ulang Rena.


“Kau gila! Kau sedang hamil Rena! Tidak seharusnya kau berkata begini!”


“Kalau begitu aku harusnya begaimana? Suamiku yang menghamiliku bahkan dengan wanita lain. Aku harus bagaimana hah?” Kali ini untuk pertama kalinya Rena menangis di hadapan Bagas.


Rena frustasi. Kehidupannya yang dulu begitu sederhana tiba-tiba berbalik seratus delapan puluh derajat menjadi penuh intrik yang kompleks. Belum lagi masalah rumah tangga yang bahkan belum pernah dirasakan dengan Rena di kehidupan sebelumnya.


Bagas yang melihat Rena menangis untuk kali pertama merasakan hal aneh di hatinya. Bagas pergi begitu saja meninggalkan Rena menangis seorang diri di ruang tamu.


Beberapa saat lamanya Rena menangis gawainya berbunyi. Ia melihat kontak yang menelepon adalah Nenek Bagas. Menetralkan deru napasnya, menghapus ingus dan air mata, serta mencoba beberapa kali suaranya agar tidak terlihat setelah menangis ia baru mengangkat telepon itu.


“Halo Nek, Nenek apa kabar?”


“Halo Ren, Nenek baik. Kamu sendiri bagaimana?”


“Baik Nek. Nenek kenapa telepon?”


“Enggak kok, enggak papa. Nenek cuman kangen aja sama kamu. Jadi, Nenek mau ke rumah kamu besok.”


“Ehm, tapi Nek Mas Bagas ….”


“Udah, biar Nenek nanti yang urus cucu nakal itu.”


Rena mengangguk. “Iya, Nek.”

__ADS_1


__ADS_2