
Keesokan harinya Rena sudah mulai tidak berangkat kuliah. Entah izin bagaimana yang sudah Bagas buat tapi intinya Rena sudah bisa melakukan cuti kuliah mulai hari ini. Mungkin kekuasaan dan jabatan juga ikut andil banyak dalam hal itu.
“Huft, aku bosan!” ucap Rena lesuh.
Pagi hari yang biasanya Rena sibuk menyiapkan keperluan kuliah atau minimal menyiapkan sarapan untuk Bagas jika tidak ada kuliah pagi. Sekarang malah nganggur karena sudah tidak diperbolehkan untuk kuliah dan juga tidak diperbolehkan untuk ke dapur oleh Nenek Bagas.
Rena mendongak menatap langit pagi. Padahal pagi itu langit begitu cerah. Tapi Rena malah sudah merasa lesuh seperti ini.
Rena menghembuskan napasnya lagi dengan bosan.
Saat ini Rena memang sedang duduk santai di kursi panjang yang ada di taman belakang rumah keluarga Adijaya. Memang pemandangan di sini begitu indah. Meskipun taman itu berupa taman buatan, tapi tetap saja keasrian dari banyaknya tanaman hias yang ditanam masih tetap terasa.
Rena pun berusaha sedikit melakukan perenggangan tubuhnya. Namun, yang terjadi adalah Rena mendapati suara kain robek.
‘Apa yang robek?’ panik Rena.
Rena mengecek semuanya dan dapat ia lihat jika ternyata bagian lengan bajunya sedikit terkoyak. Rena sampai sedikit tercengang mengetahui jika bajunya sampai robek.
“A-apakah aku tambah segemuk itu?” monolog Rena.
Rena pun sepontan bangkit dan memutar-memutar tubuhnya untuk mengecek seberapa besar perubahan tubuhnya.
“Ya ampun, ternyata perut aku juga sudah besar ya!” ucap Rena sambil memegangi perutnya.
“Sampai suka nggak nyadar kalau aku hamil!” heran Rena.
Rena pun berjalan menuju ke arah dinding kaca yang mengubungkan taman belakang dengan rumah kecil bagian belakang. Rena terlihat mengaca di dinding kaca itu dengan tingkah-tingkah yang bisa dibilang sedikit absurd. Tanpa disadari Rena, Bagas melihat hal itu semua. Bagas sampai sedikit menahan tawanya saat melihat Rena menggembungkan pipinya dan membuat seolah-olah badannya melebar.
'Ada-ada saja anak itu!'
“Huh! Aku harus beli baru nih!” ucap Rena sedikit manyun.
Rena pun kembali masuk ke dalam rumah. saat ia sampai di dalam dapur, Rena mendapati Bagas yang sedang menyeduh kopi hitam. Rena pun memutuskan untuk menghampiri Bagas dan menanyakan keberadaan Nenek. Pasalnya sejak tadi pagi setelah sarapan Rena tidak melihat Nenek Bagas sama sekali.
“Mas, Nenek ke mana sih?”
“Nenek? Kamu nggak dikasih tahu kalau Nenek mau pergi ke belanja?”
“Belanja? Emang Nenek belanja apa Mas?”
“Nenek itu suka mengoleksi barang-barang antik. Hampir setiap bulannya Nenek pasti menyempatkan waktunya hanya untuk berkeliling di toko antik dan melihat barang-barang antik model baru.”
Rena mengerutkan keningnya, “Barang antik model terbaru?”
“Kamu nggak tahu?”
Rena menggeleng.
__ADS_1
“Yaudah kalau nggak tahu,” ucap Bagas santai.
Rena memandang tidak percaya dengan sikap Bagas. “Mas! Ya masudnya tuh kalau aku nggak tahu ya kamu kasih tahu lah!”
Bagas memandang sejenak kepada Rena dan menyuruput kopi hitamnya dengan pelan. “Kalau kamu nggak tahu, mau dijelasin kaya gimanapun tetep nggak bakal ngerti.”
Rena jadi sedikit kesal dengan jawaban yang diberikan Bagas. Memangnya menurut Bagas dia sebodoh itu apa?
Rena yang mulai sedikit kesal pun sudah akan pergi ke kamarnya saja. Meskipun nanti entah apa yang akan ia lakukan di kamarnya. Tapi, Rena ingat, sekarang kan sudah jam 9 pagi. Kenapa Bagas masih di rumah saat jam segini?
“Mas, kamu nggak kerja?”
“Nggak,” jawab singkat Bagas.
“Kenapa?”
“Aku bosnya kan, suka-suka aku lah mau apa!” ucap Bagas pongah.
Rena sampai menjulurkan lidahnya jijik mendengar ucapan Bagas. “Mas, kamu temenin aku beli baju yuk!”
“Baju?” Bagas menaikkan satu alisnya.
Rena mengangguk, “He em.”
“Kenapa memangnya?”
“Nih lihat! Tubuh aku udah sebesar ini tahu!” ucap Rena sambil sedikit memamerkan lekuk tubuhnya ke arah Bagas.
“Yaudah, sana siap-siap kita berangkat sekarang!” titah Bagas sambil berlalu menuju ke ruangan keluarga.
Rena yang mendengar titah Bagas pun sedikit bersorak gembira. “Yeay! Akhirnya bisa belanja! Sejak jadi Rena aku sampai lupa kalau aku belum pernah belanja!"
Rena langsung melesat ke dalam kamarnya dan mengganti bajunya dengan setelan sedikit santai namun tetap layak untuk bepergian. Kali ini Rena menetapkan untuk memakai kemeja dan celana jens yang sedikit longgar. Hal itu bukan tanpa alasan karena ternyata baju-baju dan dress yang ada di rumah Nenek telah kekecilan untuk dipakai Rena. Tentu saja, baju-baju itu adalah peninggalan Rena saat masih SMA. Apalagi sekarang dengan perubahan bentuk tubuh Rena, jelas semakin tidak muat.
“Yuk, Mas aku udah siap nih!” ucap Rena mendekati Bagas yang ada di ruang keluarga.
Bagas melihat Rena dari atas sampai bawah. Karena pakaian Rena tidak aneh-aneh maka Bagas langsung bangkit dan mengambil kunci mobil di atas meja.
Bagas dan Rena pergi ke salah satu mall yang ada di Jakarta. Sebenarnya Bagas mengajak Rena ke butik untuk membeli baju. Tapi Rena menolak dan malah ingin pergi ke mall. Tentu saja hal itu bukan tanpa alasan, Rena kan sebenarnya hanya ingin main-main juga di mall.
Sesampainya di mall, Rena berkeliling ini itu untuk membeli baju dan beberapa peralatan lain yang bahkan mungkin tidak akan digunakan oleh Rena.
“Ren, kamu beli sebanyak ini udah kaya mau pindahan rumah aja!” ucap Bagas yang sedikit kesal. Pasalnya Bagas malah seperti tukang bawa barang karena membawa belanjaan yang luar biasa banyak dari seorang Rena Maharani.
“Yaudah sih Mas, kan juga kadang-kadang,” ucap Rena santai.
Bagas hanya mampu mendengus mendengar hal itu.
__ADS_1
“Ini mau ke mana lagi?” tanya Bagas yang sudah mulai bosan dan pegal.
“Aku pengen makan Mas, laper!” cengir Rena.
Bagas sampai tidak tahan sebenarnya untuk tidak mencubit pipi Rena karena nampak begitu menggemaskan dimata Bagas. Namun, sayang kedua tangannya penuh dengan belanjaan Rena sehingga tidak dapat melakukannya.
Setelah sampai di sebuah resto yang masih di dalam mall itu. Bagas pamit dengan Rena untuk pergi ke kamar mandi sebentar.
“Aku ke toilet dulu sebentar.”
“Oke, Mas,” jawab Rena sambil fokus melihat isi dari buku menu yang ada.
Setelah memesan beberapa makanan, Rena pun memilih membuka ponselnya dan men-scroll akun medsosnya.
Tanpa disadari oleh Rena, terdapat sebuah pasang mata yang terlihat sedang mengintai Rena. Orang itu adalah Viola. Sejak hari di mana ia mengunci Rena di dalam kamar mandi itu, Viola menjadi bulan-bulanan di kampusnya karena ayahnya diturunkan dari jabatan secara tidak terhormat. Hal itu tidak luput karena ayah Viola telah menyimpangkan sejumlah dana besar dari universitas untuk keperluan pribadi.
Viola yang kebetulan sedang main dengan teman-temannya tanpa sengaja melihat Rena yang sedang belanja, tapi kali ini justru dengan seorang laki-laki. Viola memang tidak mengetahui kalau laki-laki itu adalah Bagas Adijaya karena Bagas yang menggunakan masker dan topi untuk menutupi wajahnya.
Begitu Viola melihat Rena yang sedang sendirian, Viola nampak menggapai minuman panasnya dan berniat untuk menyiramkan minuman itu kepada Rena. Namun, saat sudah dekat dengan Rena, tanpa diduga terdapat seseorang berpakaian serba hitam yang sudah menyenggol Viola terlebih dahulu dengan tenaga lumayan keras sehingga minuman panas yang seharusnya menyiram Rena itu justru menyiram tangan Viola sendiri.
“Akh!” teriak Viola kesakitan di samping Rena.
Rena yang kaget spontan berdiri dan melihat ke arah teriakan berasal.
“Kak Vio! Kakak nggak papa?” tanya Rena panik dan mengelap tangan Viola yang mulai memerah dengan tisu seadanya.
Namun, bukannya berterima kasih Viola justru mendorong Rena dengan sentakan keras sampai-sampai Rena terpental lumayan jauh. Untung saja Bagas yang baru saja kembali dari toilet dengan sigap menangkap Rena agar tidak sampai terjatuh.
“Kamu nggak papa?” tanya Bagas kepada Rena.
Rena membalas dengan anggukan singkat.
Bagas beralih ke arah Viola dan menatapnya tajam. “Anda jika memang tidak mau dibantu tidak usah mendorong orang juga. Anda kasar sekali dengan orang yang membantu Anda,” ucap Bagas dingin.
Viola terlihat marah dengan ucapan Bagas. “Maksud kamu apa hah? Jelas-jelas ini semua gara-gara cewek murahan itu! Kalau bukan karena dia minuman itu nggak bakal tumpah di tanganku! Papaku juga nggak bakal masuk penjara!” teriak Viola kesal.
Viola tahu, jika penurunan jabatan ayahnya itu terdapat campur tangan dari keluarga Adijaya yang mengaku sebagai keluarga Rena. Jelas saja Viola tidak percaya, bagaimana bisa Rena menjadi keluarga Adijaya? Memang Rena siapanya keluarga Adijaya?
Bagas meneliti wajah seorang gadis di depannya dengan saksama. Sekarang Bagas ingat, jika gadis ini adalah gadis yang mengunci Rena. Dengan begitu Bagas melepas masker dan topinya dengan pelan. Semua orang yang ada di tempat itu terkejut mendapati seorang Bagas Adijaya ada di sebuah mall dan terlibat perseteruan.
“Saya memang tidak pernah menoleransi orang-orang yang mencelakai keluarga saya. Biar saya tekankan kepada Anda jika gadis ini,” merangkul Rena dengan erat, “gadis ini adalah istri saya dan secara sah adalah keluarga Adijaya. Saya harap Anda tidak melakukan kesalahan lagi dengan mencari perkara dengan gadis ini. Jika Anda juga tidak mau berurusan dengan keluarga Adijaya,” ucap Bagas tegas sambil membawa Rena berlalu dari restoran itu. Pasalnya banyak sekali orang yang merekam kejadian itu, entah berita apa yang akan muncul di keesokan harinya.
Disamping itu seseorang berjaket hitam dan mengenakan topi hitam itu tersenyum tipis melihat seberapa hancurnya Viola saat ini.
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa like, komen, dan vote ya... makasih😘😘😘