
Sesampainya Bagas di rumah sakit, ia mendapati Neneknya yang sedang menangis tersedu. Menghampiri Neneknya dan mencoba bertanya.
“Nek, apa yang terjadi? Kenapa Nenek ada di sini?” tanya Bagas pelan.
Nenek Bagas yang ditanya seperti itu justru bangkit dan menampar pipi Bagas dengan cukup keras. Sampai-sampai sura tamparan itu begitu menggema karena lorong rumah sakit yang masih sepi.
“Kamu benar-benar tidak becus mengurus Rena! Nenek akan membawa Rena untuk tinggal di rumah Nenek!” ujar Nenek Bagas dengan isakan air mata.
“A-apa maksud Nenek? Kenapa Nenek mau membawa Rena untuk tinggal dengan Nenek?” tanya Bagas yang tidak paham.
“Kamu tahu, Rena baru saja melakukan percobaan bunuh diri! Kamu bilang kamu akan menunggu Rena kan ke Nenek?! Sekarang mana buktinya? Bahkan saat Nenek sudah sampai di sini sekalipun, Nenek tidak melihat kamu sama sekali!” murka Nenek Bagas.
Nenek Bagas begitu murka mengetahui cucunya ternyata tidak menunggui Rena. Bagas telah berjanji kepada Nenek Bagas untuk menunggui Rena malam ini. Karena sebenarnya Nenek Bagas telah menawarkan diri untuk bergiliran menjaga Rena. Tapi, Bagas tidak mau dan melarang Neneknya dengan alasan kondisi Neneknya yang sudah rentan. Tapi, kalau keadaannya malah seperti ini. Nenek Bagas pasti akan tetap menjaga Rena dan mengabaikan larangan Bagas.
“R-Rena bunuh diri?” ucap Bagas terbata dengan pandangan kosong yang tidak percaya.
“N-Nek, terus bagaimana dengan kondisi Rena? Bagaimana dengan kondisi anak aku, Nek?” tanya Bagas panik saat sudah mampu menangkap apa maksud Neneknya.
Nenek Bagas terlihat begitu terpukul. Tangisannya justru malah semakin keras melihat Bagas yang bertanya seperti itu.
“Dimana? Kemana kamu setelah dari rumah Nenek?” tanya Nenek Bagas pelan setelah sedikit menenangkan diri.
Bagas mengalihkan pandangannya. Ia tahu sekarang, keputusanya untuk mengabaikan Rena adalah keputusan yang sangat fatal. Lagi dan lagi Bagas melakukan kesalahan karena bertindak tanpa berpikir dengan matang.
“Jawab Bagas! Kemana kamu?!” Nenek Bagas menuntut Bagas dengan memukul dada bidang Bagas.
Pukulan itu memang tidak keras, tapi mampu membuat hati Bagas begitu terluka melihat satu-satunya orang yang paling ia sayangi menangis dan tampak tidak berdaya. Bagas mengepalkan tanganya menahan rasa sakit di hatinya.
‘Ya Tuhan, aku kembali melakukan kesalahan. Sebenarnya, kenapa Kau menghadirkan wanita-wanita yang begitu baik di sekelilingku, tapi aku selalu menyakiti mereka?’ Bagas memejamkan matanya erat tidak mampu melihat wajah pilu Neneknya.
“Kandungan Rena lemah dan Dokter menyarankan Rena untuk bedrest selama beberapa minggu. Saat Rena sadar nanti, biarkan Rena tinggal dengan Nenek. Setidaknya, Nenek mampu untuk tetap menjaganya,” ucap Nenek Bagas dingin dan meninggalkan Bagas sendirian di lorong rumah sakit itu.
Sagala yang melihat bagaimana kacaunya Nenek Bagas dan Bagas memang memilih bungkam. Ia tahu, bukan ranahnya untuk ikut campur masalah keluarga Adijaya. Karena nyatanya ia bukan angota dari keluarga Adijaya.
Bagas berjalan pelan dan melihat Rena dari jendela kaca. Bagas merasakan sesak yang luar biasa melihat Rena yang seperti itu. Sekarang selang yang ada di tubuh Rena semakin bertambah. Meskipun keadaan ruangan itu temaram, Bagas masih dapat melihat pergelangan tangan Rena sebelah kiri yang sekarang dihiasi oleh perban.
‘Kenapa kamu melakukan itu? Apa lagi yang tidak aku ketahui tentang kamu?’ tanya Bagas dalam hati.
“Tuan, minumlah! Anda juga butuh istirahat!” ucap Sagala pelan dan memberikan secangkir minuman hangat kepada Bagas yang sudah terduduk dengan pandangan kosong.
Sagala tidak pernah melihat Tuannya seperti ini. Bahkan saat orang tuaya meninggal sekalipun. Sagala tidak melihat Bagas yang meneteskan air matanya. Bagas hanya terdiam dan terus menatap kosong makam milik orangtuanya saat pemakaman.
__ADS_1
Sagala memang dekat dengan Bagas bahkan diusia mereka yang masih berumur lima tahun. Saat itu Sagala lebih tua dua tahun dibanding Bagas. Tapi berkat kecerdasan yang Bagas miliki, Bagas mampu menjadi teman sekelas Sagala saat usianya menginjak tujuh tahun.
“Gala, apa yang harus aku lakukan untuk memperbaiki semuanya?” tanya Bagas pelan.
Sagala yang mendapatkan pertanyaan seperti itu memilih duduk di samping Bagas dengan secangkir minuman yang masih ia pegang.
“Tuan, saya tidak tahu apa yang menjadi pertimbangan Tuan sampai melakukan hal seperti ini. Tapi Tuan, setahu saya tidak ada kata terlambat dalam hidup. Apalagi saat Tuan memutuskan untuk memperbaiki sesuatu,” Sagala menatap Bagas yang menunduk menatap lantai keramik rumah sakit.
“Aku tidak tahu apakah aku masih memiliki kesempatan.”
“Tuan, Nona Rena adalah gadis yang baik. Tuan tahu sendiri bagaimana Nona Rena remaja, dulu mengejar-ngejar Tuan dengan sangat ceria. Bahkan saat tanggapan Tuan begitu dingin kepada Nona. Mungkin memang keadaan Nona Rena tidak seperti dulu, tapi saya yakin hati Nona tidak akan berbohong Tuan.”
“Kamu tahu tentang penyakit Rena juga?” tanya Bagas terkejut.
Sagala mengangguk. “Nenek menceritakannya kepada saya. Maaf karena saya memilih bungkam. Hal ini karena permintaan dari Nenek Anda sehingga saya juga tidak berani melanggar pesannya,” aku Sagala sarat penyesalan.
“Maaf Tuan saya akan pergi dulu,” pamit Sagala kepada Bagas.
Bagas melihat jam yang melingkar di tanganya. Sekarang sudah pukul lima pagi, pasti Sagala pamit pulang untuk berangkat ke kantor.
“Sagala!” panggil Bagas pelan saat Sagala sudah melangkah lumayan jauh.
Sagala masih dapat mendengar panggilan Bagas karena keadaan rumah sakit yang sepi.
Sagala mengangguk dengan pasti dan berbalik untuk pergi meninggalkan Bagas sendiri di Lorong rumah sakit itu.
Beberapa jam sebelumnya …
Rena perlahan membuka matanya. Lalu, menatap sekitar.
‘Aku ada di rumah sakit.’
Rena langsung bangkit dan merasakan kepalanya berdenyut luar biasa. Rena memengangi kepalanya dengan erat berharap sakitnya mereda. Tapi, yang ada sakitnya malah bertambah parah. Perlahan semua ingatan yang pernah Rena alami saat ia dilecehkan sewaktu kecil sampai kejadian percobaan pelecehan saat Rena berumur enam belas tahun berseliweran di pikirannya. PIkirannya begitu kacau. Belum lagi dengan ingatan-ingatan saat Rena dibully dan mendapatkan perlakuan yang buruk dari Ibu Panti. Semuanya terus berseliweran di otaknya seperti kaset rusak. Terus-terusan dan berulang-ulang.
Sampai Rena mendengar bisikan untuk mati.
‘Mati!’
‘Mati!’
‘Kamu harus mati agar tidak mengingat hal ini lagi.’
__ADS_1
Rena mendengar suara itu dengan jelas. Rena memejamkan matanya mencoba untuk menahan rasa sakit dan semua memori yang terus-terusan berjalan. Sampai saat Rena tidak kuat lagi, Rena membuka matanya tepat memadang sebuah pisau yang ada di samping buah-buahan.
‘Mati!’
‘Ambil pisau itu!’
‘Mati!’
“Diam!” teriak Rena.
Rena melihat seorang perempuan berbaju putih mengambil pisau itu dan menawarkannya kepada Rena.
‘Ayolah, saat pisau ini mengenai dirimu kamu pasti merasakan nikmatnya surga!’
‘Tidak ada lagi kesakitan, tidak ada lagi orang-orang yang akan menyakitimu!’
“Diam! Aku tidak akan melakukan itu!” teriak Rena menolak.
Tapi perempuan itu berubah menjadi sosok Rena kecil yang sedang menangis.
‘Aku mau mati!’
‘Aku mau bertemu dengan Ayah Ibu!’ tangis Rena kecil.
“Ah! Tidak! Apa-apaan ini!” teriak Rena tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
Bisikan-bisikan dan suara tangisan itu semakin nyata dan justru semakin keras sehingga Rena tidak tahan dan memilih mengambil pisau itu.
‘Betul, lakukanlah! Kau akan hidup bahagia setelah mati!’
Rena memejamkan matanya dan perlahan menggoreskan pisau itu di pergelangan tangannya. Saat ia merasakan perih di tangannya, saat itu rasanya begitu tenang.
‘Benar, seperti ini benar-benar terasa menyenangkan. Tidak ada lagi sakit, tidak ada lagi memori menyebalkan itu,’ batin Rena sambil memejamkan matanya secara perlahan dengan darah yang mengalir deras dari pergelangan tangannya.
.
.
.
Halo semua, makasih ya buat yang sudah setia membaca sampai di bab ini. Author sangat berterima kasih kepada kalian semua. Tapi Author juga mau minta maaf karena tidak bisa update dengan sering-sering. Sehari satu bab saja, itu sudah menguras pikiran author. Karena author juga masih sekolah hehe😅
__ADS_1
Pokoknya makasih buat semuanya, dan jangan lupa untuk tetap dukung karya ini dengan like, komen, dan vote ya.... makasih😘😘😘