
Sesuai dengan permintaan Rey kepada Bagas, sekarang Bagas telah berada di sebuah kompleks perumahan yang lumayan mewah untuk mencari tahu identitas seorang wanita. Sebenarnya bisa saja Bagas menyuruh orang-orang yang berada di bawahnya, tapi karena yang meminta secara langsung adalah Rey. Maka Bagas dengan senang hati akan membantu Rey, bahkan jika Bagas harus turun secara langsung di lapangan sekalipun.
Bagas memberkan isyarat kepada Rey jika ia akan mendekat ke salah satu rumah yang menjadi target mereka.
Rey mengangguk menyetujui.
Bagas mendekat secara perlahan ke sebuah rumah dengan gaya klasik bercampur modern dengan warna yang dominan adalah cokelat. Bagas mendekat ke gerbang besar nan tinggi yang menjadi penyekat rumah itu dengan jalanan besar yang berada di depannya.
Bagas memencet bel yang ada di pagar itu dua kali. Tak lama kemudian seorang satpam keluar dari gerbang itu dan menanyakan maksud kedatang Bagas.
“Ada perlu apa ya, Pak?” tanya satpam laki-laki seumuran setengah abad dengan ramah.
“Apa benar ini rumah dari Ibu Fitri?”
“Ya, benar. Tapi Ibu Fitrinya sedang tidak ada. Apakah Bapak tidak memberitahu Ibu Fitri terlebih dahulu jika Bapak ke sini?” Satpam itu sedikit memiringkan kepalanya.
“Ah, iya saya lupa nggak kasih kabar.” Bagas tertawa canggung.
“Apa mau ditunggu saja di dalam? Biasanya Ibu Fitri akan pulang sekitar pukul lima sore.”
Bagas melihat jam tangan yang melingkar secara apik di pergelangan tangan kirinya.
‘Tinggal setengah jam lagi sih,’ batin Bagas.
Bagas memindahkan atensinya kepada Rey yang sedang duduk tenang di mobil yang berada di seberang jalan Bagas berdiri saat ini.
‘Tapi, memangnya dia sudah siap jika langsung bertemu?’ pikir Bagas bertanya-tanya.
“Tidak udah, Pak. Lain kali saja saya akan ke sini lagi atau saya akan mengubungi Ibu Fitri terlebih dahulu.”
“Baiklah, Pak.” Pak satpam itu tersenyum dengan maklum.
“Kalau begitu saya pamit, Pak. Mari!” Bagas sedikit menganggukkan kepalanya.
Dan dibalas dengan anggukan serupa dari Pak Satpam itu.
Begitu Bagas sampai di dalam mobil, Bagas langsung ditodong pertanyaan oleh Rey.
“Gimana? Bener itu rumah Fitri?” tanya Rey dengan antusias.
Bagas mengangguk sekilas.
“Kenapa kamu kaya gitu sih, Gas?” sebal Rey.
__ADS_1
Bagas menatap Rey dengan pandangan yang serius. “Kamu beneran bakal tanggung jawab sama wanita itu nggak? Kalau nggak, mending kamu jauhin aja dan anggap aja kalau kalian itu nggak saling kenal!” titah Bagas tegas.
Rey sedikit terkejut dengan kata-kata yang Bagas lontarkan. Rey menunduk dan meremas kedua tangannya.
“Kalau aku nggak serius, kenapa aku sampai repot-repot datang ke sini?” ucap Rey pelan.
Sebenarnya saat ini mereka sedang berada di Bali. Ya, setelah permintaan dari Rey tadi pagi. Bagas dan Rey langsung terbang ke Bali untuk memastikan apa yang menjadi dugaan Rey adalah benar.
Bagas menghembuskan napas dengan sedikit lega. Setidaknya Rey yang ia kenal telah berubah meskipun sedikit.
“Kalau begitu selamat berjuang! Aku nggak akan ikut campur lagi urusan kalian. Selesaikan dengan baik-baik, kali ini jangan hanya mengandalkan emosi saja!” peringat Bagas.
Rey mengangguk sekilas dan mengalihkan pandangannya ke arah rumah yang menjadi tempat tinggal baru dari wanita yang ia hamili.
‘Aku harap kamu masih mau memaafkan aku dan masih ada kesempatan kedua untukku,’ harap cemas Rey.
Bagas sebenarnya kasian juga kepada Rey. Ia tahu, Rey terlahir dari keluraga yang broken home. Karena kisah kedua orang tuanyalah Rey memilih untuk menghindar dari komitmen menikah. Bagas paham jika Rey tidak mau menjadi seperti mendiang ayahnya yang berperilaku buruk kepada ibunya. Tapi, apa yang Rey lakukan Rey saat ini, tidak berbeda jauh dengan apa yang dilakukan oleh ayah Rey.
Makanya Bagas selalu mewanti-wanti untuk Rey berhati-hati. Jangan sampai kecolongan di setiap permainannya sendiri. Tapi, takdir memang tidak ada yang tahu. Rey mengira jika Fitri adalah wanita panggilan sehingga tanpa ragu meniduri Fitri begitu saja. Fitri yang memang dalam keadaan mabuk dan sedang frustasi, tidak dapat berpikir jernih sehingga mereka terjebak cinta satu malam.
Namun, setelah itu mereka justru saling berhubungan dengan baik. Rey yang selalu bosan di rumah dan selalu ingin mencari hiburan. Dan Fitri yang juga stress dengan tekanan keluarganya.
Fitri adalah seorang gadis yang terlahir dari keluarga kaya. Bahkan, Fitri mampu membangun butik pribadi miliknya disaat usianya yang baru menginjak 24 tahun. Cukup muda untuk seorang desainer mampu membangun butik miliknya sendiri.
Gelora yang dirasakan mereka berdua begitu menggebu hingga mereka tidak menyadari bahwa mungkin akan ada makhluk kecil tak berdosa yang akan hidup setelah kegiatan mereka. Hingga akhirnya semuanya terjadi, Fitri dinyatakan positif dengan dua garis biru. Fitri mengatakan kehamilannya kepada Rey dan meminta Rey agar bertanggung jawab. Atau jika tidak, maka biarkan Fitri menggugurkan janin itu dan melanjutkan kehidupannya.
Rey yang menyesali tindakannya, mencari Fitri ke sana ke mari layaknya orang gila. Tapi, karena latar belakang Fitri yang tidak sembarangan. Semua akses pengetahuan tentang Fitri ditutup oleh keluarganya. Sehingga Rey cukup kesulitan untuk mencari Fitri. Untungnya saat Rey diajak untuk berpesta di Bali, tanpa sengaja Rey melihat Fitri secara sekilas. Oleh karenanya, Rey menyuruh orang-orang suruhannya untuk lebih fokus ke pencarian di Bali. Sehingga akhirnya Rey mendapatkan apa yang ia mau. Rey menemukan tempat tinggal Fitri. Tapi, Rey masih tidak berani menunjukkan wajahnya dihadapan Fitri. Entahlah, akan seperti apa kisah mereka berdua. Yang pasti Rey masih akan berjuang untuk mendapatkan Fitri kembali.
...***...
Sekarang Bagas sedang uring-uringan karena tidak diperbolehkan dekat dengan Rena. Setelah membantu Rey untuk memastikan keberadaan Fitri, Bagas langsung meluncur ke rumah Neneknya. Tentu saja karena ia juga merindukan Rena. Tapi, begitu sampai di rumah Neneknya, Bagas justru melihat Sagala yang sedang dikepung oleh sang Nenek dan Rena, istrinya.
Bagas tentu saja kesal bukan main. Bagaimana bisa Sagala malah diijinkan untuk dekat dengan Rena oleh Neneknya. Disaat Bagas sendiri malah dijauhkan dari Rena.
‘Huh, aku tambah frustasi kalau begini,’ monolog Bagas yang sedang mencuci piring di dapur.
Ya, akibat Bagas yang malah datang ke sini dan melanggar peraturan Neneknya. Bagas mendapatkan tugas untuk mencuci piring bekas makan malam. Nenek Bagas benar-benar memanfaatkan tenaga Bagas saat ada di rumahnya. Bagaimana tidak, bahkan saat ada Sagala sekalipun Bagas yang masih disuruh untuk mengambil barang-barang ini itu untuk membantu Nenek memasak.
Rena datang dari arah belakang Bagas membawa segelas cangkir kopi.
“Mas, ini aku buatin kopi,” tawar Rena saat meletakkan secangkir kopi di meja makan yang dekat dengan tempat pencucian piring.
Bagas menolehkan kepalanya untuk melihat Rena yang berada di belakangnya.
__ADS_1
‘Sekarang perutnya terlihat sedikit menonjol. Sudah berapa bulan sih sebenarnya kandungan Rena?’ batin Bagas.
“Mas! Mas!” panggil Rena untuk kesekian kalinya.
“Eh-iya?” tanya Bagas kikuk. Bagas tidak mendengarkan apa yang dibicarakan Rena dan tersenyum kikuk karena kepergok tidak fokus.
“Kamu kenapa Mas?” Rena mendekat ke arah Bagas dan memegang dahinya.
“Tidak panas,” monolog Rena.
Rena pikir Bagas sakit karena wajahnya yang memerah tiba-tiba. Tidak tahu saja jika sebenarnya wajah Bagas memerah karena baru sadar dengan pakaian yang dikenakan Rena.
Malam itu Rena mengenakan pakaian yang bisa dibilang cukup seksi. Sebuah piyama tidur terusan yang bertali spageti dan berada di atas paha. Bagas baru menyadari kalau Rena ternyata seseksi ini.
‘Ini kenapa aku malah ngerasa panas sih!’ rutuk Bagas kepada dirinya sendiri.
“Ehm, Ren!” Bagas menjauhkan Rena dari tubuh Bagas.
“Iya?” tanya Rena polos.
‘Ya Tuhan, ternyata benar jika aku menikahi seorang gadis polos!' batin Bagas.
“Ehm-ehmm,” Bagas bingung harus berbicara apa.
“Mas, kok kamu sampe keringatan kaya gini sih?” ucap Rena sambil menyeka keringat Bagas yang ada di pelipis.
Saat Rena sedikit menjinjit agar mampu menyamai tingginya dengan Bagas. Bagas mampu melihat sesuatu yang menyempul keluar secara malu-malu yang akan menjadi sumber makanan calon anaknya kelak.
‘Astaga Tuhan! Cobaan macam apa ini!’
Bagas yang merasa sudah tidak kuat lagi langsung menggapai tangan Rena dan mengenggemnya secara erat.
“Kenapa Mas?”
Bagas menghembuskan napas secara pelan untuk menetralkan ritme jantungnya.
“Aku mau ke kamar mandi,” ucap Bagas cepat dan beranjak pergi ke kamar mandi.
Rena yang ditinggalkan begitu saja memiringkan kepalanya berpikir. “Oh, Mas Bagas tuh kebelet toh sampai wajahnya merah dan berkeringat gitu,” monolog Rena sendiri.
.
.
__ADS_1
.
Halo lagi! Jangan lupa untuk like, komen, dan vote karya author ya... makasih😘😘😘