
Di sebuah ruangan yang minim cahaya nampak seorang laki-laki sedang berdiri menggenggam sebilah campuk. Ruangan itu nampak sangat gelap dan bahkan berbau apek. Entah apa yang sedang dilakukan laki-laki itu sampai-sampai terlihat dari auranya bisa memancarkan suatu kemarahan yang sangat besar.
“Cambuk mereka jika mereka tidak mau mengaku dan minta maaf!” titah seorang laki-laki lain yang sedang duduk di kursi dengan gaya santai yang pongah. Di belakangnya terdapat beberapa laki-laki lain yang berpostur sangar namun masih menggunakan jas.
“Baik, Tuan Muda,” ucap laki-laki yang membawa cambuk tunduk dan mendekati beberapa gadis yang sedang terikat dan di dudukkan di lantai tanah yang dingin.
“Kalian akan mengaku atau kalian akan merasakan panasnya cambuk ini?!” ancam Sagala.
Sagala telah mengumpulkan beberapa perempuan yang telah membuli Rena di sore hari, tepat setelah membuli Rena di siang harinya. Sagala langsung melaksanakan apa yang menjadi titah Bagas. Sagala langsung menculik gadias-gadis itu, terkecuali gadis yang menjadi pemimpin dari perundungan terhadap Rena.
Bagas yang melihat ke empat gadis itu malah hanya menangis tanpa menjawab sama sekali benar-benar muak. Bagas padahal hanya ingin bersenang-senang karena sudah lama juga tidak ada orang yang berani bermacam-macan dengan Bagas.
Bagas mendekati ke empat hadis itu yang tertunduk dan menangis ketakutan. Terlihat dari bagaimana bergetarnya tubuh mereka saat Bagas mendekat. Mereka lupa jika mereka menagganggu milik Bagas Adijaya. Tentu saja dibalik kesuksesan bisnisnya yang sangat melejit juga pasti ada hal kotor atau minimalnya pasti memiliki pasukan khusus untuk membasmi hama perusahaan. Jika tidak, mana mungki Adiajaya Group masih berdiri kokoh sampai saat ini.
Bagas mengambil alih cambuk dari Sagala dan melayangkan cambuk itu ke tanah sehingga meimbulkan suara yang sangat nyaring.
CTERR!
“Ayolah, kalian tidak ingin cambuk ini membuat kulit kalian merah kan? Katakan apa saja yang sudah kalian lakukan kepada Rena Maharani!” ucap Bagas dingin dengan nada seram yang menakutkan.
Salah seorang gadis mulai angkat berbicara meskipun suaranya selalu bergetar dan sedikit tidak jelas karena masih menangis.
“Hiks hiks, Saya hanya mencegat Rena, Tuan. Saya dan teman-teman saya tidak melakukan apa pun!” ucap gadis yang paling bongsor diantar yang lain.
“Tidak melakukan apa-apa? Lalu, siapa yang beraninya menjambak rambut Rena?!” selidik Bagas dengan nada rendah yang justru semakin terlihat menakutkan bagi para gadis yang sedang duduk di bangku perkuliahan itu.
“K-kami tidak melakukan apa-apa selain mengatakan jika Rena ayam kampus,” jujur seorang perempuan yang berambut lurus pendek.
“Oh, jadi kalian juga mengatakan kalau Rena ayam kampus? Sagala tunjukkan itu ke mereka!”
Sagala mengangguk sekali dan mengeluarkan handpone miliknya dari saku jas. Lalu, terlihat mengotak-atik handpone itu sebelum menunjukkan sebuah video di mana mereka berempat, para gadis itu, sedang berjalan menuju ke arah hotel dengan beberapa om-om. Bahkan, dalam video itu juga menunjukkan tingkah mereka yang sedang melakukan hal-hal tidak senonoh dengan om-om itu hanya demi seonggok uang.
__ADS_1
“Kalian tahu definisi dari seorang pelacur? Sepertinya julukan itu cocok untuk kalian, tapi pelacur kecil adalah julukan yang paling cocok."
Para gadis itu terlihat begitu terkejut dan semakin gemetar ketakutan. Mereka pikir tidak ada seorang pun yang tahu akan hal itu. Bahkan pemimpin dari mereka sendiri tidak mengetahui hal itu, apalagi orang lain seperti Bagas.
“Kalian ingin aku mengekspos video itu dan mengirimnya di situs kampus kalian?”
Para gadis itu kompak menggeleng menolak. “T-tolong Tuan, ampuni kami! Kami tidak akan melakukan hal itu lagi kepada Rena!” mohon para gadis itu. Mereka jelas tidak ingin merusak citra yang telah mereka bangun selama ini di kampus.
“Ehm,” Bagas memegang dagunya seperti sedang berpikir. “Menurutmu bagaimana Sagala? Apakah aku harus melepaskan mereka?”
Sagala menjawab dengan nada yang sangat datar, “Kalau menurut saya, saya tidak akan mengampuni mereka Tuan. Mungkin saya akan memotong salah satu bagian tubuh mereka dan memberikannya kepada buaya yang ada di depan.”
Para gadis yang mendengar hal itu nampak bergidik mendengarnya. Tentunya mereka tidak mau kehilangan anggota badannya. Apalagi anggota badan itu akan dijadikan sebagai santapan buaya.
“MOHON AMPUN TUAN!” teriak dan kompak mereka.
Bagas tersenyum tipis culas. ‘Kena kalian!’
“T-tidak akan Tuan! Kami janji!”
“Apa yang bisa menjadi jaminan dari kalian?”
“K-kami akan menjadi teman dari Rena dan melindungi Rena dari mahasiswa lain yang berniat menjahati Rena!” mencoba menawar.
“Memangnya Rena mau menjadi teman kalian?”
“K-kami akan menjaga dari jarak jauh dan secara diam-diam.”
Bagas menggeleng. “Tidak, aku juga bisa menyewa pegawal untuk menjaga Rena dari jarak jauh dan secara diam-diam.”
“K-kalau begitu kami tidak akan menganggu Rena sama sekali!”
__ADS_1
“Kalian yakin? Bahkan jika kalian harus pindah dari kampus itu?”
Para gadis nampak berpandangan satu sama lain, nampak menimbang. Lalu, tidak lama kemudian nampak mengangguk. Mungkin mereka berpikir pindah dari kampus itu dan tidak bertemu lagi dengan Rena adalah piliahan yang paling bagus. Daripada mereka malah menjadi orang cacat.
“B-baik kami mau!”
“Apa? Aku tidak mendengar kalian?!”
“Baik Tuan kami bersedia!”
“Bagus, Sagala lepas mereka dan bawa mereka ke ruang lain untuk mendatangi surat perjanjian.”
“Baik Tuan!”
Rey yang sudah menonton kejadian itu sejak tadi hanya geleng-geleng kepala.
“Memangnya sejak kapan kamu punya buaya?” Rey menghampiri Bagas.
Sebenarnya ruangan itu hanyalah ruang bawah tanah yang berada di rumah Rey. Bagas mana punya pasukan khusus atau berani bertindak jauh kepada mereka. Bagas kan juga tidak mau menjadi buronan polisi.
“Ya … cuman buat nakut-nakutin mereka aja!”
Rey tertawa ngakak sampai memegangi perutnya. “Ada-ada saja idemu, Gas!”
Bagas hanya menggaruk tengkuknya canggung karena ditertawakan dengan sahabatnya.
“Udahlah, yang penting caraku berhasil kan?” Bagas mencoba membela diri.
Rey masih tertawa saat Bagas mengucapkan hal itu. “Benar sih! Terus habis ini rencana kamu mau ngapain? Kudengar masih ada satu perempuan yang tersisa ya?”
“Aku punya rencana lain lagi yang tentunya lebih seru!” senyum misterius Bagas.
__ADS_1