
Beberapa hari setelahnya, Bagas menemui Vina di café biasa mereka makan berdua di sana. Vina yang baru saja keluar dari rumah sakit terlihat pucat. Wajahnya putih bersih tanpa make-up sehari-hari yang biasa ia kenakan. Vina hari itu juga hanya menggunakan baju tebal dan celana saja. Bukan dress yang biasa Vina kenakan setiap harinya.
“Cokelat hangat,” ucap Bagas sambil memberikan segelas cokelat hangat kepada Vina.
Vina menerima itu dalam diam dengan pandangan yang bisa dibilang kosong.
“Vina, aku mau bicara,” ucap Bagas sambil memperbaiki letak duduknya.
Bagas menegakkan tubuhnya dan menatap Vina dengan lurus.
“Vina, aku minta maaf karena semuanya berakhir seperti ini. Tapi aku sudah tidak bisa lagi melanjutkan hubungan ini. Kamu sudah tahu alasan terbesar aku menjalin hubungan dengan kamu. Sebenarnya, Rena sekarang juga sedang hamil.”
Vina langsung mendongak saat mendengar kalimat jika Rena sekarang sedang hamil. Lalu, Vina terkekeh karenanya.
“Maaf,” ucap Bagas melihat Vina yang terkekeh tapi dengan ekspresi yang sedih.
“Kamu benar-benar berhasil menghancurkan aku Mas!” ucap Vina kemudian dan bangkit pergi meninggalkan cokelat hangat yang sudah dipesan Bagas.
Bagas hanya menatap sosok Vina yang menjauh darinya dalam diam. Sekarang Bagas harap dirinya mampu memulai lagi sebuah hubungan yang baik dengan Rena. Bagas juga berharap semoga Vina mendapatkan seseorang yang baik ke depannya. Seseorang yang mampu membuat Vina merasa dihargai dan mencintai semua kekurangan maupun kelebihan Vina.
...***...
Sedangkan di sisi lain, Rena sedang berjalan sendiri di pinggir jalan. Kali ini kembali lagi Rena pergi tanpa sepengetahuan dari Nenek Bagas maupun Bagas. Pikir Rena ia hanya akan pergi ke swalayan terdekat rumah. Jadi, tanpa izin kepada mereka pun Rena pasti akan baik-baik saja.
Namun, semua pikiran itu terbukti salah saat Rena melihat sebuah mobil hitam tiba-tiba berhenti di depannya dan beberapa orang berpakain serba hitam membekap mulut dan hidung Rena dengan sapu tangan yang sudah diberikan obat bius di dalamnya. Rena seketika langsung pingsan dan lunglai tak berdaya sehingga salah seorang dari mereka menggendong Rena untuk dibawanya masuk ke mobil.
‘Uh, dimana aku?’ monolog Rena saat siuman dari pingsannya.
Rena mencoba menggerakkan tubuhnya tapi tidak bisa sama sekali. Hingga Rena sadar jika dirinya diikat di sebuah kursi. Rena mencoba untuk teriak tapi yang keluar hanya gumaman saja. Hal itu karena mulut Rena tertutupi oleh plaster besar. Rena mencoba untuk berontak melepaskan tali yang mengikatnya. Namun, semua itu percuma karena buktinya tali itu tidak bergeser sama sekali.
Tak lama setelah itu terdengar suara langkah kaki yang mendekat ke ruangan yang Rena tempati. Ruangan itu terlihat seperti sebuah gudang dan hanya ada satu lampu berwarna kuning sebagai penerangan. Rena mendongak untuk menatap orang yang baru saja masuk saat ia mendengar suara pintu terbuka.
Rena dapat melihat sosok itu mengenakan baju serba hitam dan bahkan juga menggunakan masker hitam. Hanya matanya saja yang dapat Rena lihat dan Rena tidak bisa memastikan mata itu milik siapa.
Sosok itu berjalan dengan tenang ke arah Rena dan melepas penutup mulut Rena dengan kasar yang menyebabkan perih luar biasa untuk Rena.
“Aush,” ringis Rena.
__ADS_1
“Sakit?” seorang suara perempuan terdengar dari sosok serba hitam itu.
Sosok itu mencengkram dagu Rena dengan kuat dan mendongakkannya. “Ku dengar kau sedang hamil? Seenaknya saja yang dirimu menghancurkan kehidupan seseorang!”
“A-apa maksud kamu?” tanya Rena yang tidak mengerti.
Rena tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan oleh sosok berbaju hitam.
“Oh, kau tidak mengerti ya?” Sosok berbaju hitam melepas cengkramannya dengan membuang dagu Rena ke samping. Lalu, menarik sebuah kursi kosong yang berada di ruangan itu. Membalik posisi kursi itu dan duduk di sana.
Rena tidak baru sadar satu hal jika sosok berbaju hitam ternyata membawa sebuah benda hitam yang terlihat seperti linggis. Rena sedikit gemetar melihat linggis itu yang disandarkan di kursi.
“Kenapa?” tanya sosok itu yang menyadari Rena gemetar. Setelahnya sosok itu menyadari jika Rena gemetar karena melihat seonggok linggis itu.
“Kamu takut dengan ini?” tanya sosok itu sambil mengangkat linggis itu dan mengarahkannya kepada Rena.
Rena hanya mampu diam dan mencoba untuk merilekskan wajah maupun ritme jantungnya agar sosok di depannya ini tidak tahu seberapa takutnya Rena.
‘Rileks Rena, jangan biarkan kamu telihat lemah di depannya.’
“Siapa yang bilang jika aku takut? Aku hanya sedang berpikir bagaimana caranya untuk keluar dari sini,” ucap Rena dengan lantang.
Sosok itu menggesekkan pisau itu ke pipi Rena dan menggesernya ke atas dan kebawah. Terus bergerak sampai ke arah leher Rena.
Rena menelan ludahnya saat merasakan dingin alat berbahan besi itu menempel di lehernya.
Sosok itu terlihat menyeringai puas saat melihat Rena menelan ludahnya.
“Kamu takut?”
“Tidak!” jawab Rena lantang dan mencoba menatap lurus ke arah sosok berbaju hitam itu dengan pandangan menantang.
“Tak heran dia bisa jatuh cinta ke kamu! Perubahanmu begitu banyak!” ucap sosok itu sambil menggoreskan ujung pisau itu ke pipi Rena sehingga menciptakan luka sobekan yang mengalirkan darah.
Rena memejamkan matanya merasakan perih di pipi dan merasakan darahnya yang meleleh secara perlahan.
“Siapa kamu sebenarnya?” desis Rena.
__ADS_1
“Kau pasti akan terkejut jika tahu siapa aku!” ucap sosok itu sambil melepas masker hitamnya dan topi hitamnya.
“Vina!” ucap Rena tidak percaya akan sosok yang ada di hadapannya saat ini.
Vina yang Rena kenal adalah sosok yang lemah lembut dan bahkan cenderung manja itu berada di hadapannya saat ini dengan pandangan sadis dan terlihat seperti seorang orang gila.
“Kenapa Rena sayang? Kamu terkejut kan?” tanya Vina dengan senyum iblisnya.
“Mas Bagas bilang dia mengakhiri hubungannya dengan aku karena kamu sedang mengandung. Itu berarti kalau aku membunuh janin itu pasti Mas Bagas akan meninggalkan kamu kan?” tanya Vina dengan sosrot mata seperti orang gila.
“Kau gila! Janin ini tidak salah apa-apa!” teriak Rena.
“Stss! Jangan berisik! Tidak akan ada yang mendengarmu juga. Gudang ini ada di dekat hutan. Dan kau! Akan aku pastikan janin itu tidak akan bernyawa lagi!” Mata Vina berkilat penuh amarah dan dendam.
Vina mengambil linggis itu dan terlihat akan memukul linggis itu. Rena yang melihat hal itu otomatis menutup matanya dan berteriak histeris. Namun, Rena tidak merasakan apa-apa dan malah mendengar suara barang yang pecah.
Vina menatap Rena remeh dan menyeringai. “Uh! Kau takut? Lihatlah guci ini yang langsung hancur seketika saat aku memukulnya dengan linggis. Uh! Bagaimana kalau aku melakukan ini di perutmu ya?” ucap Vina sambil menopangkan dagunya seakan berpikir.
“Aha! Aku tahu.” Vina menjentikkan jarinya. “Janinmu pasti akan mati kan?” Vina menaikkan alisnya kejam.
Vina mendekat ke arah Rena sambil membawa linggis itu.
“A-aku mohon, aku akan lakukan apa pun yang kamu mau asal kamu tidak membunuh janin ini!” ucap Rena dengan kaku.
“Ehm, terdengar bagus! Tapi aku tidak tertarik! Bisa saja kau keluar dari sini dan malah membawa Mas Bagas pergi dariku lalu kalian hidup bahagian di suatu daerah. Wah! Ternyata aku juga berbakat untuk menjadi pengarang juga sepertinya.”
Rena menangis dalam diam saat mendengar perkataan Vina. Entahlah, Rena merasa jika nyawanya dan nyawa janin yang ada di kandungannya berada di tangan Vina seorang. Rena sudah pasrah, tidak ada yang bisa dia lakukan.
“Uluh uluh! Jangan menangis! Tidak akan seru kalau kamu berhenti melawan seperti ini!” Vina mengangkat wajah Rena yang sudah berlinang air mata. Menghapusnya dan tersenyum mengerikan.
Vina sudah bersiap-siap akan memukulkan linggis itu ke arah Rena. Namun Vina merasakan ada seseorang yang memukul bahu belakangnya dengan sebuah balok. Vina seketika terjatuh dan pingsan di tempat.
Sosok yang memukul Vina itu juga mengenakan pakaian yang serba hitam. Baru saja Rena akan bernapas dengan lega, tapi malah muncul sosok berbaju hitam yang lain.
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa like, komen, dan vote ya🤗🤗