
Matahari sudah mulai menampakan sinarnya. Namun nampaknya hal itu tidak menganggu sedikit pun aktivitas tidur dari Bagas dan Rena. Bagas mulai mengedipkan matanya saat ia mulai merasakan kebas di lengan kananya. Serta ia merasa seperti tertindihi sesuatu yang membuat dadanya sesak.
Bagas menunduk untuk melihat apa yang membuat dadanya terasa sesak. Sedetik kemudian ia tersenyum. Memandang Rena dari atas sini dan membelai rambut Rena.
‘Seharusnya aku sudah merasakan hal seperti ini sejak dulu.’
Rena yang merasakan usapan-usapan halus di kepalanya mulai terusik dari tidurnya. Ia perlahan-lahan membuka matanya dan mengerjap pelan untuk menyesuaikan dengan cahaya matahari yang memasuki jendela kamar Bagas.
‘Ah, aku tidur dengan nyenyak sekali.’ Rena mendusel-duselkan kepalanya kepada dada bidang Bagas.
Bagas yang melihat itu hanya membiarkan saja. Namun ternyata tingkah Rena tidak berhenti hanya di situ. Rena sekarang bahkan malah mengendus-endus badan Bagas yang berhasil membuat badan Bagas merasa geli aneh.
Bagas memejamkan matanya dan menggigit bibirnya resah. ‘Cukup, Ren. Jangan lanjutkan! Nanti aku tidak bisa menahannya lagi.’
Rena yang merasakan aneh dengan bantal yang ia peluk pun mencoba meraba-raba badan Bagas.
‘Sejak kapan bantal menjadi keras?’
Rena terus membelai badan Bagas sampai merasakan bentuk kotak-kotak seperti roti sobek yang keras. ‘Kenapa bantalku jadi kotak-kotak begini.’
Bagas menahan napas dan menahan sesuatu yang mulai bergelora dalam tubuhnya. ‘Tahan! Rena lagi hamil muda, lo nggak bisa ngelakuin apa pun ke dia.’ Bagas mengingatkan dirinya sendiri agar tidak bertindak gegabah.
Rena akhirnya mendongak dan melihat hal yang seharusnya tidak ia lihat. Wajah Bagas yang memerah terlihat menahan sesuatu sontak membuat Rena bangkit secara tiba-tiba yang tidak sengaja menyentuh barang pribadi milik Bagas.
“Aish!” desis Bagas memejamkan mata.
“Ngapain Mas Bagas di kamar ku?!” Rena langsung berteriak di dalam ucapan pertama yang ia sebut setalah bangun.
Bagas masih belum menjawab. Ia sibuk menetralkan napasnya dan gejolak di dalam dirinya yang mulai bergelora.
Bagas bangkti dari tidurnya dan menatap tajam Rena. “Jangan bilang kalau kamu lupa kita sekarang sedang tidur berdua?” tandas Bagas.
Rena otomatis merentangkan tangannya di dadanya. “Mas! Aku kan lagi hamil! Masa kamu macam-macam sama orang lagi hamil sih?!”
“Lebay!” Bagas menoyor kepala Rena dengan pelan.
“Aku kan udah bilang kalau aku nggak bakal tertarik sama tubuh kamu! Nggak usah mimpi!” tajam Bagas.
Rena memayunkan bibirnya. ‘Aku kan lupa kalau Nenek menginap di sini dan aku harus tidur sekamar dengan Mas Bagas.’
“Kenapa? Kamu kecewa karena nggak aku sentuh?” goda Bagas kepada Rena.
Rena menyipitkan matanya. “Nggak ya! Justru aku bersyukur kalau Mas Bagas nggak tertarik sama tubuhku! Itu lebih mudah buat alasan aku cerai sama kamu Mas!”
Deg. Bagas merasakan linu di hatinya yang ia sendiri tidak tahu apa yang menyebabkan itu.
Bagas mendekatkan dirinya ke arah Rena dan mengurung tubuh Rena di antara kedua lengan kekarnya. “Sampai kapan pun jangan harap kamu bisa cerai dari aku Rena Maharani!” tandas Bagas dan bangkit menuju ke kamar mandi.
Di dalam kamar mandi, Bagas mulai menanyakan tindakannya. ‘Apakah tidak apa-apa jika aku langsung berubah begini?’
‘Rena bahkan sudah mulai berani secara terang-terangan menuntut perceraikan dariku’
__ADS_1
Bagas mendongak dan membiarkan air shower membasahi kepalanya yang sedang penuh dengan pikiran Rena.
‘Aku nggak akan salah langkah kali ini.’
...***...
Setelah tidur bersama itu baik Rena maupun Bagas tidak melakukan kontak sama sekali. Rena yang menghindar dengan berangkat lebih pagi. Dan Bagas yang berangkat kerja seperti hari biasa. Dan kebetulannya Bagas harus melembur beberapa hari ke depan. Sehingga Rena tidak akan bertemu dengan Bagas dan bisa menetralkan pikirannya yang suntuk karena terlalu memikirkan Bagas.
‘Sebenarnya Mas Bagas itu maunya apa sih? Aku kejar, maksudku Rena yang dulu kejar malah dicuekin. Bahkan malah direndahin. Aku inget banget waktu Bagas lebih milih jalan dengan Vina dibanding nganterin Rena berobat waktu itu.
Tapi sekarang kenapa Mas Bagas malah kaya nggak mau cerai. Bahkan tadi perkatannya kaya mengancam aku.’
“Hei!” Mira, sahabat Rena, mengagetkan Rena dari arah belakang. Saat ini Rena sedang duduk di bangku kampus yang berada di bawah pohon.
“Kenapa?” jawab Rena malas.
“Kamu mikir apa sih? Kok aku panggil dari tadi nggak nyahut.”
Rena menatap Mira serius. “Aku mau tanya sesuatu yang serius deh sama kamu.”
Mira menaikkan alisnya. “Apa?”
“Menurutmu saat seseorang tiba-tiba baik ke kita padahal sebelumnya cuek dan nggak peduli itu karena apa?”
“Kak Bagas ya?” Mira menebak dengan benar.
“Bukan! Aku cuman nanya aja!” Rena menaikkan nada berbicaranya.
Rena menghembuskan napasnya dengan pelan. “Iya deh. Anggep aja kaya gitu.”
“Beneran nih? Nggak papa aku anggep kaya gitu?”
“Apa sih?! Udah deh, sekarang jawab dulu pertanyaan aku tadi!”
“Mungkin dia mau ngajak kamu rujuk!”
“Nggak usah ngada-ngada! Cerai aja belum mau rujuk.”
Mira tertawa. “Lagian, cari suami kaya Kak Bagas itu susah. Mending kamu pertahanin pernikahan kalian deh!”
“Susah apanya! Selingkuh kaya gitu, pasti banyak kali!”
‘Ren, Ren. Kamu nggak tahu aja kenapa Kak Bagas ngelakuin itu karena apa.’
“Mir, kamu ada jadwal kuliah lagi nggak?”
“Aku banyak jadwal di bulan ini. Jadi habis ini aja aku masih ada 2 kelas.”
“Yah! Padahal aku mau ngajak nonton.”
“Lain kali ya, Ren.” Sesal Mira,
__ADS_1
Rena mengangguk dengan tidak rela.
Mira melihat jam tangannya. Dan kembali bersiap untuk pergi.
“Udah mau pergi lagi?” lesu Rena.
“Maaf ya! Dosen kali ini agak galak. Jadi nggak bisa telat.” Mira melangkah menjauh dari Rena. “Oh ya, emangnya kamu udah nggak ada kelas habis ini?”
Rena menggeleng.
“Ah, kalau gitu pulang aja! Siapa tahu kamu dapetin hal mengejutkan lainnya soal Mas Bagas!” Mira sedikit berteriak karena ia sudah mulai menjauh dari Rena.
“Yaudah sampai ketemu nanti!” melambaikan tangannya ke arah Rena.
“Hemm.”
‘Sekarang mau ngapain? Kalau pulang pasti di rumah nggak ada siapa-siapa. Nenek udah pergi tadi pagi.’
Ya, rencana Nenek Bagas yang akan menginap selama beberapa hari ke depan harus batal karena Kitty, kucing peliharaan Nenek mendadak sakit. Nenek yang mengetahui hal itu langsung pulang tanpa ingat dengan Rena yang sedang mengandung cicitnya.
‘Pulang aja deh!’
Rena menunggu ojek online yang ia pesan di halaman depan kampus. Biasanya Rena memang membawa mobil sendiri. Tapi karena ia sedang malas mengendarai mobil sendiri. Makanya ia pun memutuskan untuk memanfaatkan pelayanan teknologi zaman sekarang.
Tanpa diduga ia justru mendapati sebuah motor gede yang berhenti di depannya.
“Perasaan aku pesen ojol deh, kenapa yang datang malah motor gede begini?”
Sosok laki-laki tampan melepas helm yang menutupi wajahnya. “Saya ojol yang anda pesan, siap mengantarkan ke manapun tujuan anda.”
“Apasih, Ray!”
Ya, lelaki itu Rayan. “Ngapain kamu di sini?”
“Aku lagi jalan-jalan aja. Kebetulah aku lagi cuti. Terus lihat kamu di pinggir jalan makanya aku samperin deh.”
Rena terkekeh. “Kayaknya kamu emang ditakdirkan untuk jadi ojol pribadi aku deh!”
“Gombal deh!” Rayan menanggapi dengan wajah yang pura-pura malu.
Rena tertawa melihat itu.
“Udah yuk! Naik!”
Rena pun naik ke motor besar itu tanpa kesusahan. “Mau ke mana, Mbk?”
“Ke hatinya Mas boleh?”
Rayan terkekeh. “Boleh banget!” Rayan menancap gas dan mulai membelah jalanan ibu kota.
‘Padahal aku baru kenal dia beberapa hari. Tapi kok bisa langsung akrab begini ya?’ Rena menatap punggung Rayan.
__ADS_1