Perjuangan Si Alter Ego Memperbaiki Hidup

Perjuangan Si Alter Ego Memperbaiki Hidup
Kunjungan Nenek


__ADS_3

Pagi harinya Rena sedang fokus berdandan, tapi ia mendengar suara bel rumah yang membuatnya mau tidak mau membuka pintu rumah.


Saat ia membuka pintu rumah, ternyata Nenek Bagas menepati janjinya untuk berkunjung ke rumah.


“Lho Nek. Kok nggak bilang dulu? Kan bisa dijemput.” Rena mengambil tas berukuran sedang yang sedang dijinjing oleh Nenek Bagas.


“Ah, Nenek sekalian mau jalan-jalan juga kok. Lagian kan ada Sagala yang antar Nenek tadi.”


Sagala memang sekertris Bagas, tapi rumah Sagala berada di samping rumah Nenek Bagas. Makanya Nenek Bagas selalu minta bantuan Sagala yang lebih dekat dibanding Bagas.


“Terus sekarang Sagalanya ke mana, Nek?”


“Katanya dia langsung mau berangkat kerja.”


Rena mengangguk-angguk mengerti. “Kalau gitu, mari masuk Nek!”


Nenek Bagas tersenyum dan masuk rumah itu.


“Kamu kelihatan rapi gini, mau ke mana?” tanya Nenek Bagas setelah duduk di sofa ruang tamu.


“Sebenarnya Rena ada jadwal kuliah hari ini Nek, tapi nggak papa Rena bolos aja. Kan jarang-jarang Nenek di sini.”


Nenek Bagas hanya tersenyum. “Kamu pinter banget ngelesnya biar nggak masuk kuliah ya?!” goda Nenek Bagas.


Rena hanya meringis canggung.


“Bagas kemana, Rena?”


“Mas Bagas tadi berangkat pagi banget, Nek. Mungkin ada pekerjaan yang mendesak.”


Sebenarnya setelah pertengkaran kemaren sore, Bagas keluar malamnya dan tidak pulang sampai sekarang.


“Kamu sudah sarapan?”


Rena menggeleng. “Niatnya tadi mau sarapan di kampus, Nek.”


“Kalau gitu kita masak aja yuk! Nenek udah kangen banget nih ngajarin kamu masak lagi.”


“Baik Nek.” Rena tersenyum.


Nenek Bagas memang selalu baik kepada Rena. Bahkan dari dulu. Rena dan Bagas sebenarnya sudah kenal sejak dulu masih kecil. Bagas bahkan dulu sangat baik kepada Rena. Namun, karena perjodohan itu. Bagas mulai menjauh dan benci kepada Rena. Menurutnya tidak seharusnya ia menikahi bocah seperti Rena.


Mereka memasak dengan biasa saja awalnya. Tapi, saat bagian Rena ingin menggoreng telur ia mendadak merasakan mual luar bisa yang membuatnya eneg sampai ia ingin muntah. Rena berlari ke kamar mandi dapur dan muntah di sana. Tentu saja tidak ada tidak yang keluar. Rena bahkan belum sarapan pagi itu.


“Kamu nggak papa, Ren?” Nenek Bagas memijat tengkuk Rena pelan.


Rena hanya mengangguk lemas.


‘Apa ini yang namanya morning sickness ya?’


“Kamu kelihatan pucet gini. Kita ke dokter aja ya!” Nenek Bagas khawatir.


“Nggak usah, Nek. Rena baik-baik aja kok!”

__ADS_1


“Kamu yakin?”


Rena mengangguk yakin. Tapi kembali muntah lagi.


“Tuh, muntah lagi kaya gini. Mending Nenek telepon dokter keluarga aja deh.”


Dan akhirnya Rena diperiksa dengan dokter keluarga kenalan Nenek Bagas.


‘Kalau Nenek tahu aku hamil, itu nggak masalah kan?’


Rena sebenarnya takut juga. Biar bagaimana pun hubungan Bagas dan Rena tidak sebaik itu. Namun, karena sebuah kejadian membuat Bagas mampu menitipkan benihnya ke Rena yang tumbuh sekarang ini.


“Bagaimana cucu menantu saya, Dok?”


Dokter laki-laki itu tersenyum. “Bukan masalah serius, Bu. Ibu bahkan akan menjadi nenek buyut.”


Nenek Bagas terkejut dengan wajah yang berbinar senang. “Maksudnya, Rena hamil Dok?”


Dokter laki-laki itu tersenyum mengangguk.


“Ya Tuhan, kenapa kamu nggak bilang ke Nenek lebih awal sih Ren?”


Rena hanya mampu meringis. Ia tidak menyangka jika ekspresi Nenek Bagas akan sebahagia ini.


‘Bagaimana bisa sifat cucunya begitu jauh dari Nenek baik hati sih?’


”Kalau begitu saya permisi ya, Bu,” pamit Dokter tadi.


“Dok, kira-kira muntah-muntah tadi itu tidak berbahaya untuk calon cicit saya kan?”


“Muntah-muntah dalam tri semester awal adalah hal yang biasa, Bu. Namun untuk lebih jelasnya saya sarankan untuk periksa ke dokter spesialis kehamilan.”


“Baik, Dok. Terima Kasih.”


Setelah mengantarkan dokter tadi. Bagas terlihat baru turun dari mobilnya dengan pakaian yang masih acak-acakan.


“Nenek ngapain ada di sini?”


Bukannya menjawa, Nenek Bagas justru menabok lengan Bagas dengan keras.


“Aw! Kenapa sih Nek?”


“Kamu, Rena hamil kok nggak bilang-bilang?”


“Oh, jadi Nenek sekarang udah tahu.” Jawab Bagas dengan santai.


“Kamu tuh ya! Awas aja nanti Nenek corek dari daftar warisan baru tahu!”


“Ya jangan gitu dong, Nek. Aku kan cucu Nenek satu-satunya.” Bagas menawar dan memelas kepada Nenek.


Nenek Bagas hanya menggeleng-nggelengkan kepalanya saja melihat ini.


“Yaudah Nek, Aku mau mandi dulu.”

__ADS_1


Bagas yang memasuki kamarnya tidak sadar bahwa Rena ada di sana. Nenek memang tahunya hubungan mereka baik-baik saja. Makanya Nenek langsung membawa Rena ke kamar Bagas tanpa ragu. Bahkan tidak memberitahu Bagas bahwa Rena sedang berada di kamarnya.


Bagas melangkah santai menuju kamar mandi dengan Rena yang tertidur di atas ranjangnya. Ya, Rena tertidur saat Nenek mengantarkan Dokter tadi. Memang Rena semudah itu untuk tidur. Apalagi bau parfum Bagas yang masih tercium di kamar Bagas membuat Rena nyaman dan tertidur dengan sendirinya.


Tak lama kemudian Bagas keluar hanya mengenakan handuk untuk menutupi daerah privasinya. Ia mulai berkaca untuk menyisir rambutnya dan …. Ia melihat Rena yang sedang tertidur di ranjangnya.


Bagas memutar tubuh syok.


‘Bagaimana ia bisa ada di sini?’


“Bagas, ini ada makanan untuk Rena. Tadi dia belum sempat makan soalnya.” Nenek berteriak dari luar kamar Bagas.


“Iya, Nek.” Bagas mengambil nampan berisi makanan untuk Rena. Meletakkan di nakas samping tempat tidur dan menatap wajah Rena yang masih tidur.


‘Apakah ia menangis semalaman?’ Bagas melihat kantung mata Rena yang nampak menghitam.


‘Seharusnya kamu bisa mendapatkan orang yang jauh lebih baik dari aku, Ren.’ Bagas menyibakkan anak rambut yang menutupi wajah Rena.


Tiba-tiba Rena terlihat membuka matanya tanpa ada tanda-tanda ia akan bangun dari tidurnya.


Rena melotot melihat Bagas dalam keadaan topless seperti ini. Bagas berhasil membukam mulut Rena yang akan berteriak.


“Jangan teriak, oke!” bisik Bagas tepat dihadapan Rena.


Rena mengangguk. Bagas pun melepaskan tangannya.


“Kenapa kau tidur di kamarku? Kau mau cari kesempatan ya?”


“Harusnya aku yang bilang begitu. Kau mau cari kesempatan ya udah topless segala?!”


Bagas melihat tampilannya yang memang hanya mengenakan handuk saja. “Bukannya kau suka yang menatap badanku yang seperti ini?” Bagas menaik-turunkan alisnya menggoda Rena.


Rena mentap Bagas tidak percaya. ‘Apakah ia kesurupan? Baru kemaren sore ia marah-marah nggak jelas.’


“Udah minggir!”


Rena mencoba bangkit, namun kakinya justru menyandung selimut yang belum ia sibakkan secara sempurna. Alhasil ia menutup matanya karena sudah akan jatuh menyapa lantai dingin. Namun ia tidak merasakan sakit sama sekali. Sehingga ia membuka mata dan melihat tangan Bagas yang melingkar dengan apik di perutnya. Memeluknya erat dari belakang sehingga Rena tidak terjatuh.


Deg deg … deg deg.


‘Kenapa jantungku malah deg-degan begini sih?’


“Lepasin!” Rena memberontak dari pelukan Bagas.


Bagas dengan santai melepas pelukannya dari Rena yang membuat Rena harus jatuh menyentuh lantai. Untung saja jadinya tidak terlalu keras benturan yang ditimbulkan karena jaraknya yang sudah tidak terlalu tinggi. Tapi tetap saja Rena merasakan panas di pantatnya.


“Kau kejam sekali!”


“Tadi kan kau nyuruh lepasin.”


Rena menatap Bagas sebal. “Udahlah, lupain!” Rena bangkit dengan kaki yang sedikit dihentak-hentakkan. Bagas menatap aksi itu dengan terkekeh.


‘Perubahan dia benar-benar unik.’

__ADS_1


__ADS_2