Perjuangan Si Alter Ego Memperbaiki Hidup

Perjuangan Si Alter Ego Memperbaiki Hidup
Kembali dari Rumah Sakit


__ADS_3

Rena membuka matanya secara perlahan. Bagas yang waktu itu memang menunggui Rena langsung memanggil dokter jaga.


“Dokter!” panggil Bagas sambil memencet bel khusus untuk memanggil dokter jaga.


“Ren, kamu udah sadar?”


Rena mengangguk dengan pelan.


“Kamu mau apa?”


“Air,” ucap Rena tanpa suara, tapi Bagas mampu menangkap apa yang diucapkan dengan Rena.


Bagas mengambil segelas air putih yang ada di atas meja kecil dan menaruh sedotan di sana agar semakin memudahkan Rena meminum air putih itu.


“Sudah?”


Rena menjawab dengan anggukan sekali lagi. Rasanya tenggorokannya masih sakit untuk sekedar menelan air ludah, apalagi untuk mengucapkan kata.


Tak lama kemudian seorang dokter perempuan datang dan memeriksa keadaan Rena.


“Benar saya berbicara dengan Rena?” tanya Dokter perempuan itu memastikan.


‘Apa maksudnya? Tentu saja aku Rena, meskipun aku Rena Sari yang masuk ke tubuh Rena Maharani,’ batin Rena.


Rena mengangguk dengan sekilas.


“Apakah Anda mampu menjawab pertanyaan saya dengan kata-kata?”


Rena menggeleng, tubuhnya terasa sakit semua. Tenggorokannya juga terasa seperti ada yang menancap di dalamnya sehingga terasa begitu perih.


“Apakah Anda mengingat kejadian kemaren?”


‘Kemaren? Aku ingat jika kemaren aku pingsan di kamar mandi.’


Rena mengangguk.


Sang Dokter yang melihat jeda yang diberikan Rena sebelum mengangguk yakin, sedikit curiga. Sehingga Dokter perempuan itu tidak menanyakan lebih lanjut tentang ingatan Rena.


“Pak Bagas, boleh saya berbicara dengan Anda?”


Bagas mengangguk dan mengikuti langkah Dokter Perempuan itu yang membawanya keluar dari ruangan Rena.


“Pak Bagas, jika melihat dari kondisi Ibu Rena dan cerita dari Nenek Anda. Sepertinya Ibu Rena mengalami penambahan kepribadian lagi. Yang bisa saya beri tahu untuk sementara adalah jika Ibu Rena memiliki tiga kepribadian. Satu kepribadian asli sebagaimana seperti Pak Bagas kenal, lalu kepribadian yang kuat dan cenderung membangkang, dan satu lagi adalah kepribadin yang paling lemah. Kepribadian ini yang akan sering membuat Ibu Rena mencoba melakukan percobaan bunuh diri. Karena di sini kepribadian Ibu Rena yang asli masih tidak mengetahui tentang penyakitnya. Maka kita masih bisa memperkirakan jika kepribadian Ibu Rena tidak mengalami depresi maka tidak akan melakukan hal-hal jauh sampai bunuh diri,” terang Dokter perempuan itu panjang lebar.


“Jadi, yang harus saya lakukan apa, Dok?”


“Kami meminta Anda untuk memantau Ibu Rena dan rajin membawa Ibu Rena untuk melakukan psikoterapi. Untuk info lebih lanjut lagi saya akan memberitahu Anda secara berkala,” ucap Dokter perempuan itu dengan anggukan kecil sebagai isyarat pamit undur diri.


“Baik, Dok. Terima kasih,” ucap Bagas pelan.


Bagas memutar tubuhnya dan melihat Rena yang sedang berbaring dengan wajah yang terlihat lelah. Sudah tiga hari Rena dirawat, wajahnya begitu pucat, bahkan bibir yang biasa berwarna merah alami itu berubah menjadi lebih putih dan pucat.


‘Aku harap kamu cepat sembuh dan kita perbaiki hubungan kita,” harap Bagas dalam hati sambil melihat Rena sendu.


...***...


Beberapa hari setelahnya, Nenek Bagas menepati perkataannya dengan membawa Rena untuk tinggal dengannya.


“Kenapa Rena dibawa ke rumah Nenek?” tanya Rena yang tidak paham.


“Ren, kamu kan bilang mau tinggal sama Nenek. Jadi, Nenek menyetujuinya.”


Rena mengangguk-angguk paham. Setelah dirawat di rumah sakit tiga hari lagi setelah siuman. Rena diperbolehkan untuk pulang, tapi masih belum diberitahu untuk melakukan psikoterapi.

__ADS_1


“Ehm … tapi Nek terus Mas Bagas jadinya tinggal sendiri dong?”


“Biarin aja, cucu seperti itu kadang-kadang memang harus diberi pelajaran.”


“Nek, kan Rena udah bilang kalau kejadian ini bukan salah Mas Bagas,” ucap Rena memperingati.


“Ya ampun Ren, jangan kamu bela dia dong! Udah lagian dia juga udah dewasa kok. Sebelumnya kan dia juga udah biasa tinggal sendiri,” sungut Nenek Bagas.


“Rena tahu, tapi masalahnya hati Rena sekarang ini lho. Sekarang malahan resah kalau nggak ketemu Mas Bagas,” dumel Rena pelan.


“Kamu bilang apa, Ren?” tanya Nenek Bagas yang mendengar sayup-sayup kalimat Rena tapi tidak mampu menangkap apa maksudnya.


“Bukan apa-apa kok, Nek.” Rena tersenyum canggung. “Kita masuk aja yuk, Nek!” ucap Rena mengalihkan percakapan.


Nenek Bagas tersenyum dan menggandeng tangan Rena. Mereka memasuki rumah besar miliki keluarga Adijaya layaknya seorang keluarga asli. Bukan keluarga sambung yang bahkan Rena merupakan anak angkat keluarga Adijaya.


Setelah masuk Nenek Bagas langsung sibuk di dapur dan melarang Rena membantu apa pun. Nenek Bagas hanya menyuruh Rena menunggu dan memandangi Nenek Bagas yang sibuk ke sana kemari.


“Nek, Rena kan juga bosen kalau cuman duduk doang!” rengut Rena.


“Sudahlah, kamu kan juga lagi hamil Rena. Oh ya, mending kamu cuti kuliah aja dulu ya!” tawar Nenek Bagas yang terlihat seperti perintah.


“Tapi, Nek …”


Belum selesai Rena berbicara sudah dipotong lagi dengan Nenek Bagas. “Pokoknya Nenek nggak mau tahu, kamu cuti kuliah terus tinggal bareng sama Nenek.”


Rena menghembuskan napas lelah. ‘Ternyata seperti ini kehidupan kamu kalau sama Nenek ya, Ren. Pantes kamu nggak berani nolak buat nerima perjodohan sama Mas Bagas.’


Rena sekarang paham kenapa Rena Maharani tidak bisa menolak keinginan Nenek Bagas. Nenek Bagas begitu licik, Nenek akan melakukan apa pun untuk membuat Rena luluh. Termasuk dengan melakukan apa-apa sendiri dan melarang Rena melakukan apa pun. Jika sudah seperti ini, Rena yang sekarang pun juga tidak enak jika mau menolak. Apalagi Nenek Bagas begitu baik kepadanya.


“Jadi Ren, kamu sudah siap untuk dikenalkan ke publik sebagai istri Bagas?” tanya Nenek Bagas tiba-tiba yang sekarang sudah duduk di hadapan Rena.


Rena mengerjapkan matanya, “Maksud Nenek?”


“Oh itu ….” Rena bingung mau menjelaskan apa.


Padahal tujuan Rena ke acara ulang tahun perusahaan ingin membuat acara itu rusak karena Rena yang marah dengan Bagas. Bagaimana bisa Bagas tidak mau mengakui Rena yang bahkan lebih cantik dan muda daripada si Vina itu kan? Apakah mata Bagas itu tidak sehat ya? Bisa-bisanya malah membawa Vina ke acara ulang tahun itu?


‘Lihat saja, kalau aku berhasil membuat kamu jatuh cinta. Nggak akan aku biarkan kamu sampai berpaling dari aku!’ sebal Rena bahkan sampai tidak sadar mengenggam meja dengan sangat erat.


“Ren, kamu nggak papa?” tanya Nenek Bagas.


Pasalnya wajah Rena mengkerut mengerikan seperti menahan sakit. Nenek Bagas kan jadi khawatir jika Rena kenapa-kenapa.


Rena nyengir dengan sok polos. “Nggak papa kok, Nek!”


Nenek Bagas hanya geleng-geleng kepala dengan Rena yang semakin lucu saja dimatanya. “Jadi, kamu sudah siap untuk dikenalkan sebagai istri dari Bagas?”


Rena yang sedang asyik mencicipi kue kering di toples tidak mendengarkan pertanyaan Nenek Bagas dengan serius dan mengangguk begitu saja.


“Beneran, Ren?” tanya Nenek Bagas lagi memastikan.


“Hah apa Nek?” tanya Rena tidak paham.


“Kamu udah siap go public sebagai istri Bagas kan? Biar nanti Nenek sama Bagas saja yang melakukan konferensi pers!” ucap Nenek Bagas dengan antusias dan langsung pergi begitu saja entah ke mana.


‘Itu tadi apa? Nenek bisa berbicara seperti itu?’ tanya Rena dengan pandangan tidak percaya dengan Nenek Bagas.


Sedangkan di sisi lain, Bagas sedang duduk termenung di dalam kantornya. Padahal di mejanya terdapat bergunung-gunung pekerjaan yang menunggunya, tapi Bagas tidak berselera sama sekali untuk mengerjakan tugas itu.


Bagas mengambil napasnya lesuh. ‘Aku nggak bisa ketemu Rena dong!’


‘Berapa hari? Masa iya sampai Rena melahirkan?’ monolog Bagas dalam hati.

__ADS_1


Bagas menggeleng. “Nggak, aku nggak bakalan kuat!” ucap Bagas menepis pikirannya sendiri.


“Terus aku harus gimana?”


Ditengah kesibukannya berpikir, Rey tiba-tiba saja masuk ke dalam kantor Bagas begitu saja.


“Hei! Kerjaan banyak begitu, kamu malah bengong!” teriak Rey yang menyadarkan Bagas akan kehadiran Rey.


Sagala mengikuti Rey dari belakang, takut menganggu atasannya.


Bagas memberi isyarat kepada Sagala untuk pergi saja dan membiarkan Rey berada di sini.


“Kenapa kamu?” tanya Rey dengan santainya setelah duduk di atas sofa tanpa dipersilahkan.


Bagas bangkit dan duduk di hadapan Rey.


“Nggak papa, emang aku kenapa?” tanya Bagas sok tidak mengerti.


“Alah, kamu kelihatan banyak pikiran gitu. Gimana sama keadaan istri kamu? Dia baik-baik saja kan?”


Bagas menghembuskan napas lelah. “Semuanya tambah rumit.”


Rey mencondongkan tubuhnya tanda tertarik dengan apa yang akan dibicarakan dengan Bagas. Tapi memang pada dasarnya Bagas yang tidak peka, maka Bagas hanya diam saja dan tidak mengatakan apa-apa.


“Pantas kenapa Rena nggak sadar perasaan kamu,” monolog Rey.


“Apa sih? Kenapa tiba-tiba?” tanya Bagas sewot.


“Nah, nah. Modelannya kaya gini. Kamu tahu nggak, kalau cewek tuh suka dilembutin, dikasih kasih sayang, diperhatiin juga,” nasehat Rey.


“Cewek kamu aja lari kok, Rey. Sok-sokan nasehatin aku,” tajam dan to the point.


Sampai-sampai Rey diam tidak berkutik.


“Kamu kalau ngomong benar-benar menusuk ya!”


“Ngomong-ngomong gimana dengan orang yang menyekap Rena?”


“Jangan panggil istriku dengan nama!” peringat Bagas.


“Iya-iya, masudnya istrimu itu. Galak amat sih, kaya cewek lagi PMS!”


Bagas menatap Rey dengan sengit. Lalu, mengalihkan perhatiannya ke arah jendela besar yang menunjukkan pemandangan kota Jakarta.


“Aku sudah urus dengan Sagala. Anak rektor itu, dia udah dapet ganjarannya kok.”


Rey mengangguk-angguk mengerti.


“Terus tujuan kamu ke sini itu mau apa?”


Rey merubah posisi duduknya menjadi serius. “Aku butuh bantuan kamu, Gas!”


Bagas memadang Rey dengan serius. Dan mendengarkan apa yang diminta Rey.


“Baiklah, aku akan membantumu,” ucap Bagas mengangguk.


.


.


.


Jangan lupa like, komen, dan vote ya... makasih😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2