Perjuangan Si Alter Ego Memperbaiki Hidup

Perjuangan Si Alter Ego Memperbaiki Hidup
Beli Bakso


__ADS_3

“Itu calon cucu saya Dok?” tanya Nenek Bagas.


Dokter wanita itu hanya mampu mengulas senyum sebagai balasannya.


Saat ini Bagas, Rena, dan Nenek Bagas telah berada di ruang pemeriksaan dokter spesialis kandungan. Rena bahkan sedang melakukan tes USG untuk mengetahui kondisi janin.


Meskipun banyak hal-hal yang tidak diingankan terjadi sebelum pemeriksaan. Namun, untungnya semua berjalan dengan lancar.


Bagas masih terlihat tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Ia dapat melihat calon anaknya yang baru sebesar biji kacang.


‘Aku bisa merasakan jantungku begitu berdebar melihat hal ini,’ batin Bagas.


Rena yang melihat calon anaknya juga begitu terharu degan apa yang ia lihat. Sudah lama ia menginginkan anak dari Bagas. Namun, selama menikah yang hampir dua tahun ini Bagas bahkan tidak pernah menaruh atensinya terhadap Rena meskipun hanya untuk sedetik. Rena bahkan sempat putus asa dan ingin mengakhiri perjuangannya. Tapi siapa sangka jika pada akhirnya ia dapat mengandung anak Bagas.


‘Aku masih tidak percaya kalau aku hamil anak Mas Bagas,’ meneteskan air mata haru.


Bagas yang melihat Rena meneteskan air mata, menghapus air mata itu dengan lembut menggunakan jempolnya. Lalu, beralih menggenggam tangan Rena dengan hangat.


Rena yang diperlakukan seperti itu memandang Bagas dengan pandangan yang sulit untuk percaya.


‘Mas Bagas menggenggam tanganku? Apakah aku hanya mimpi?’


Rena tidak sepenuhnya percaya dengan apa yang ia lihat sehingga tangan satunya yang tidak digenggam dengan Bagas ia gunakan untuk mecubit pipinya sendiri.


“Aws!”


‘Sakit, jadi ini bukan mimpi?’


“Ada apa, Ren? Bagian mana yang sakit?”


Rena hanya mampu menggeleng. Rena masih tidak percaya jika Bagas jadi berubah ke Rena.


‘Ya Tuhan, apakah kamu berubah karena janin ini Mas?’ batin Rena sendu.


Setelah pemeriksaan dan konsultasi tentang kehamilan Rena, Bagas langsung membawa Rena pulang setelah sebelumnya mengantarkan Neneknya terlebih dahulu.


“Mas, kenapa kamu kok tadi nggk ngebolehin dokter laki-laki itu buat meriksa aku sih?” Rena bertanya karena penasaran.


Sebenarnya dalam pemeriksaan kandungan tadi, sudah ada seorang dokter laki-laki yang akan memeriksa Rena. Tapi Bagas yang mengetahui hal itu langsung keluar dari ruangan pemeriksaan dan malah memesan dokter perempuan. Sehingga mau tidak mau mereka harus mengantre lagi karena mencari dokter baru.


Bagas yang sedang fokus dengan kemudinya menoleh sebentar ke arah Rena. “Nggak papa, aku tahu kok kalau kamu juga nggk bakal nyaman kalau diperiksa dengan dokter laki-laki.”


“Ehm … bener juga sih.” Rena yang percaya begitu saja tidak bertanya lebih lanjut.


‘Untung dia percaya’ napas lega Bagas.


Sebenarnya Bagas cemburu dan tidak rela jika tubuh Rena dijamah dengan lelaki lain. Meskipun lelaki itu adalah seorang dokter sekali pun.


Mereka mengisi perjalanan ke rumah dengan keterdiaman. Tidak ada pembicaraan apa pun setelah itu. Namun, saat sudah mau memasuki kompleks perumahan mereka. Rena mendadak menyuruh Bagas untuk berhenti yang langsung dituruti dengan Bagas.


“Kenapa?”


“Aku pengen bakso itu deh Mas.”

__ADS_1


Bagas beralih melihat penjual bakso yang menggunakan gerobak di pinggir jalan.


“Kita pergi ke rumah makan aja ya?”


Rena menggeleng. “Aku pengennya itu Mas!”


“Tapi itu kan nggak higienis. Nanti kalau kamu sama kandungan kamu kenapa-napa gimana?”


Rena cemberut. ‘Padahal aku juga biasa makan bakso di pinggir jalan, tetep biasa aja tuh.’


Bagas yang melihat Rena cemberut juga menjadi tidak tega.


‘Jarang sih dia minta sesuatu.’ Beralih melihat penjual bakso pinggir jalan tadi. ‘Tapi emangnya nggak papa kalau makan itu?’ ragu Bagas.


Bagas sebenarnya adalah seorang anak yang manja yang bahkan tidak pernah keluar rumah kecuali jika menghadiri acara penting saja. Oleh karena itu, jangankan penjual bakso pinggir jalan. Seumur hidup, Bagas bahkan belum pernah makan kerak telur yang ada di pinggiran jalan monas.


“Oke oke, aku beliin. Tapi ingat, nggak ada sambal dan cuman satu, oke?”


Rena mengangguk setuju.


Akhirnya, Bagas keluar dan membeli bakso itu. Sesuai dengan yang ia katakana tadi, tidak menggunakan sambal dan hanya satu saja tidak lebih. Padahal porsi dari bakso itu lumayan sedikit. Karena bakso itu adalah bakso malang yang memang notabennya jumlah porsinya tidak seperti bakso pada umumnya. Tapi Rena ya ... suka-suka aja. Lah, orang Rena suka karena yang beliin dia bakso adalah Bagas kok, bukan baksonya.


...***...


“Enak?” tanya Bagas.


Saat ini Bagas sedang asyik melihat Rena makan bakso yang tadi Bagas beli.


Rena tidak menjawab dengan mulutnya melainkan dengan anggukan yang sangat pasti. Hal itu karena mulutnya sedang penuh dengan makanan saat ini. Setelah membeli bakso yang di pinggir jalan tadi. Bagas membei bakso lagi lewat orderan online. Ia tahu, makan Rena memang banyak. Jadi, ukuran porsi di pinggir jalan tentu tidak akan mampu membuat Rena kekenyangan. Alhasil, selain bakso Bagas membeli beberapa makanan lain sehingga meja makan ruang makan itu penuh dengan berbagai macam makanan.


“Nanti saja.”


“Makan nih Mas!” menyodorkan sesendok bakso yang sudah dipotong kepada Bagas.


Bagas tersenyum menatap itu dan membuka mulutnya menerima suapan dari Rena.


“Gimana, enak kan?”


Bagas mengangguk-angguk.


“Makanya tadi Mas Bagas nggak mau beliin Rena. Harusnya tadi belinya jangan cuman satu,” omel Rena.


“Iya nanti kapan-kapan belinya nggak cuman satu,” ucap Bagas sambil menyeka sudut bibir Rena yang terkena air kuah bakso.


Rena yang mendapatkan perlakuan sepeti itu sempat membeku selama beberapa detik. Pikirannya begitu blank sehingga ia bahkan tidak tahu apa yang harus ia lakukan.


“Ren, kamu nggak papa?” tanya Bagas khawatir. Pasalnya, Rena tidak menjawa pertanyaan Bagas dan malah seperti orang yang melamun.


“Ha, eh i-iya Rena nggk papa kok!” tersenyum canggung.


Bagas yang gemas dengan tingkah Rena mengacak rambut Rena dengan gemas.


“Kamu itu aneh-aneh aja!” Bagas bangkit menuju kulkas untuk mengambil air minum.

__ADS_1


Rena masih terpaku dengan tangan yang memegang rambutnya. Lalu, tersenyum-senyum sendiri.


‘Mimpi apa aku semalam sampe Mas Bagas jadi perhatian gini.’


Rena yang terus senyum-senyum membuat Bagas bertanya-tanya.


“Kamu kenapa? Kok senyum-senyum gitu?”


Rena menggelengkan kepalanya dengan masih tersenyum manis dan menundukkan kepalanya malu.


‘Duh, aku malu banget kalau Mas Bagas tahu aku baper. Wajahku, wajahku panas banget!’ batin Rena menangkup kedua pipinya.


“Ren!” Bagas menyentuh dagu Rena untuk melihat ke arahnya.


“Kamu nggk papa? Wajah kamu merah banget!” panik Bagas.


Rena yang dibilang seperti itu langsung berlari menuju kea rah kamarnya tanpa menyelesaikan makannya.


‘Duh, jantungku udah kaya konser aja.’


“Ren, kamu nggk papa?” diluar pintu kamar Rena, Bagas terus memanggil-manggil dan mengetuk pintu kamar Rena.


Rena mengambil napas secara panjag dan mengeluarkannya. ‘Tenang-tenang, habis itu jawab Mas Bagas kalau kamu nggak papa oke!’


“Aku nggak papa kok Mas?”


“Kamu yakin?”


“Iya!” teriak Rena.


Bagas yang mendengar teriakan Rena hanya mampu menatap pintu kamar Rena dengan bingung.


‘Kenapas sih?’


“Oh, kamu nggak mau habisin makannya?”


“Nggak Mas! Udah kenyang! Kamu pergi aja!”


Bagas yang masih bingung pun melangkah pergi dari depan pintu kamar Rena.


Rena yang mendengar suara derap langkah kaki Bagas mulai menjauh langsung melemparkan dirinya di atas kasur dan berguling-guling tidak karuan.


‘Uh, Mas Bagas aku jadi baper nih!’


Rena berguling-guling tidak karuan sampai-sampai tempat tidurnya begitu berantakan.


Sedangkan di sisi lain, terdapat seorang perempuan yang sedang memandang sebuah foto dan mencoret foto itu menggunakan tinta warna merah. Memajang foto itu di dindingnya yang sudah penuh dengan hal-hal yang begitu abstrak. Lalu, melemparkan sebuah pisau kecil yang langsung menancap di tanda silang foto itu.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, dan vote ya! Makasih😘


__ADS_2