Perjuangan Si Alter Ego Memperbaiki Hidup

Perjuangan Si Alter Ego Memperbaiki Hidup
Jalan-Jalan


__ADS_3

“Nah, kita sekarang makan dulu,” ucap Rayan setelah menghentikan motor gedenya di warung bakso.


Aneh memang motor Rayan bahkan bukan sembarang motor yang terlihat murah. Namun, saat ia membawa cewek ia malah membawanya ke warung bakso yang ada di pinggir jalan.


“Jadi gimana tadi seru nggak filmya?”


“Nggak seru sama sekali! Yang ada nanti malam aku malah nggak bisa tidur.”


Sesuai dengan keingan Rena yang ingin menoton bioskop. Awalnya memang akan menoton dengan Mira namun karena Mira tidak bisa jadilah Rayan yang menemani Rena menonton di bioskop.


“Yah, aku kan emang sengaja pilih itu. Biar kamunya nempel-nempel atau peluk-peluk aku gitu,” rajuk Rayan.


Rena menatap Rayan dengan pandangan yang geli. “Kamu mau modus ke cewek kok terang-terangan sih?!”


Rayan tertawa. “Tapi jujur deh kamu takut kan tadi?”


“Bukan takut, ngeri aja!” bantah Rena.


Gimana nggak takut coba kalau malah nonton film zombie. Habis itu zombienya brutal lagi sampe makan-makan manusia. Aku kan jadi ngeri banget. Manusia kaya binatang buas gitu.


Rena masih bergedik kalau mengingat film zombie yang baru saja ia tonton.


“Lain kali aku ajak kamu nonton film horror.”


“Ogah!” ngegas Rena.


“Kenapa?” tanya Rayan pura-pura polos.


“Nggak usah pura-pura polos ya! Pokoknya nggak lagi-lagi nonton yang begituan!” menggeleng dengan pasti dan masih merasa ngeri.


“Silahkan mas mbak baksonya!” seorang perempuan meletakkan dua mangkok bakso di atas meja mereka dengan senyam-senyum.


Bahkan saat mangkok bakso itu sudah diletakkan dan Rena sudah mulai menambahkan sambal dan kecap, pelayan wanita itu masih berdiri di samping Rayan.


Rena menatap pelayan itu dan menatap Rayan bergantian.


Wah, ternyata dia bisa secuek itu ya!


Rena melihat sendiri seberapa cueknya Rayan saat bahkan terdapat seorang perempuan yang terlihat begitu antusias dengan Rayan.


“Ehm Mbk, mau apa ya?” Rena akhirya buka suara.


“Mas boleh minta nomor teleponnya!” tanya pelayan itu antusias.


Padahal yang tanya Rena, tapi pelayan itu bahkan nggak melihat Rena sama sekali dan malah terus menatap Rayan.


Rayan yang awalnya menunduk fokus dengan baksonya akhirnya mengangkat kepalanya dan menatap pelayanan tadi dengan pandangan dingin. “Nggak, pergilah!”


Rena sampai kaget dengan suara Rayan yang tiba-tiba dingin tidak tersentuh.

__ADS_1


Aku kaget dia bisa berbicara seperti itu. Setahuku dia bahkan begitu hangat kepadaku.


Pelayan perempuan yang mendapatkan perilaku seperti itu memilih langsung undur diri karena merasa malu pastinya. Seorang perempuan yang mendekati laki-laki duluan saja pasti sudah malu bukan main. Apalagi kalau ditolak secara langsung dan terang-terangan.


“Kamu nggak papa bersikap begitu?” tanya Rena hati-hati.


“Biasa. Cewek-cewek yang begitu kalau dibaikin malah suka ngelunjak.”


Rena bungkam, memilih tidak menimpali kalimat Rayan. Biar bagaimanapun Rena adalah seorang perempuan yang juga pasti akan sakit hati jika diperlakukan seperti itu.


“Baksonya enak ya!” mengalihkan percakapan.


“Iya, baksonya ini tuh langganan aku tahu. Aku udah langganan di sini sejak aku masih SMP!” Rayan menjelaskan dengan nada yang kembali ceria lagi.


Dia ternyata juga tipikal cowok yang dingin ya!


Setelah itu mereka makan bakso dengan nikmat tanpa ada gangguan sama sekali. Hingga tanpa sadar makanan mereka telah tandas tidak bersisa.


“Mau langsung pulang atau mau ke mana lagi?” tanya Rayan saat mereka berada di parkiran motor.


Rena melihat jam tangan yang melingkar apik di pergelangan tangannya. “Pulang aja deh! Ini udah jam delapan malam juga.”


“Oke,” jawab Rayan.


Rayan mengendarai motornya dengan kecepatan sedang hingga sampai ke rumah Rena.


“Nah, udah!” menaruh helm di atas pangkuannya.


“Ehm, makasih ya!” ucap Rena canggung.


Rayan mengangguk.


Rena menunggu Rayan yang juga tidak beranjak dari tempatnya. “Ehm, terus mau ngapain lagi?”


“Nunggu kamu masuk lah!” jawab Rayan santai.


“Nggak usah lah. Kamu pergi aja dulu!”


“Nggak, aku kalau nganter cewek totalitas tahu. Nganter sampe selamat masuk ke rumah. Kalau kamu masih tinggal sama orang tua kamu, aku bahkan akan menemui mereka dulu. Tapi, berhubung kamu tinggal sama suami kamu yang galak itu. Jadi, aku cukup lihat kamu sampai masuk ke rumah aja deh!”


“Udah nggak usah, pulang sana! Ini udah malam! Kamu belum mandi juga kan? Sana pulang, mandi, terus tidur!” usir Rena.


“Kamunya juga belum mandi!”


“Udah sana pulang!” mendorong lengan atas Rayan pelan.


“Tapi-“


“PULANG!” ucap Rena penuh penekanan.

__ADS_1


Rayan tertawa geli. “Iya iya, aku pulang!”


Rayan melambaikan tangannya terakhir kali sebelum mengendarai motornya untuk pulang. Rena masih bediri beberapa saat sebelum ia justru melihat sesosok bayangan hitam di seberang jalan.


‘Apa itu?’


Rena melihat sosok bayangan hitam itu menghilang begitu saja.


‘Ah, mungkin aku cuman salah lihat.’


Melangkah memasuki rumah yang terlihat masih gelap. ‘Mungkin Mas Bagas belum pulang.’


Rena melangkah dengan santai memasuki rumah.


“Kamu habis dari mana lagi sama laki-laki itu?”


Suara dingin Bagas menyambut kedatangan Rena.


“Lho Mas, kamu udah pulang? Aku kira kamu belum pulang. Kok gelap-gelapan begini?”


Bagas mendekat ke arah Rena dengan pandangan yang sulit diartikan.


Menatap tajam mata Rena dan terus mendekatkan wajahnya kepada Rena sampai berjarak beberapa centi saja.


“Jangan-jangan macam Rena! Aku peringatkan untuk berhenti! Kamu tidak tahu apa-apa tentang diriku! Jangan memancing amarahku!” ucap Bagas lirih penuh dengan penekanan.


‘Apa maksudnya? Memang aku melakukan apa?’


“Maksud kamu apa Mas?”


Bagas menjauhkan wajahnya. “Kupikir sebagai seorang mahasiswi seharusnya kamu paham dengan maksudku!”


Setelah itu Bagas pergi begitu saja menuju ke kamarnya.


‘Apa sih? Nggak jelas banget!’


Rena menganggap itu hanyalah sebuah kejadian biasa saja. Maka dari itu Rena tetap santai dan tidak memikirkan apa-apa. Rena melakukan rutinitas malamnya sebelum tidur dengan biasa.


“Aku sekarang sudah mau menjadi Ibu ya?” mengelus perut datarnya.


“Apa aja yang harus aku lakukan selagi hamil?”


Rena menggapai ponsel pintarnya dan mulai mengetik hal-hal tentang kehamilan. Ia terus mencari informasi itu sampai tidak terasa terlelap dengan sendirinya karena saking asyiknya.


Bagas keluar dari kamarnya dan berniat untuk mengambil air minum. Tapi saat ia melewati kamar Rena. Terbesit rasa penasaran dengan apa yang sedang Rena lakukan. Secara perlahan Bagas menyelinap ke kamar Rena.


Bagas melihat ponsel pintar Rena yang masih dibiarkan menyala dengan pemiliknya yang sudah terlelap tidur. Bagas memperbaiki posisi tidur Rena dan mengambil ponsel pintarnya. Dapat ia lihat bahwa ponsel Rena menunjukkan pencarian tentang kehamilan. Diam-diam Bagas tersenyum tipis melihat itu.


Mengelus pelan rambut Rena dan beranjak dari kamar Rena dengan berusaha tanpa mengeluarkan suara agar tidak menganggu tidur Rena.

__ADS_1


__ADS_2