Perjuangan Si Alter Ego Memperbaiki Hidup

Perjuangan Si Alter Ego Memperbaiki Hidup
Memberitahu Nenek


__ADS_3

Dikarenakan Rena yang ternyata tidak bisa mengontrol dirinya sendiri membuat Dokter harus menunda pemeriksaan lebih lanjut. Dokter hanya melakukan CT-scan atau MRI untuk menyingkirkan kemungkinan gejala yang dialami pasien disebabkan oleh efek samping obat atau penyakit lain.


“Pak, kita tetap belum bisa mendiagnosis apa yang terjadi kepada Ibu Rena.”


Bagas terlihat mengangguk.


“Apakah tidak ada gejala lain selain perubahan sifat secara mendadak?”


Bagas kembali menggeleng. “Tidak ada Dokter. Tapi ada sebuah kejadian di mana Rena tidak ingat apa yang telah terjadi selama seharian, Dok."


"Maksudnya, Pak?"


"Rena pernah bertanya dengan saya sehari setelah dia sadar. Bagaimana Rena tiba di rumah. Padahal, saat Rena sadar. Kita sempat cek kehamilan dan membeli bakso juga. Tapi Rena bilang dia tidak ingat hal itu."


Dokter perempuan itu terlihat mengangguk-angguk seperti sedang menimang kemungkinan yang terjadi.


“Apakah Ibu Rena pernah mengalami kejadian traumatis di masa lalu?”


Bagas terlihat berpikir selama beberapa saat. “Apakah suatu kejadian di masa lalu juga dapat memengaruhi psikologis Rena?”


“Tentu saja, Pak.” Dokteri perempuan itu mengangguk yakin.


Bagas mengingat-ingat kembali kejadian di masa lalu. Jika dipikirkan kembali, Rena mulai berubah saat Bagas kembali dari luar negeri. Bagas memang hanya menikahi Rena dua tahun yang lalu dan pergi begitu saja ke luar negeri. Tapi sebelum itu, Bagas dan Rena sudah diberitahu satu sama lain jika mereka memang dijodohkan. Rena telah diangkat menjadi anak asuh oleh Nenek Bagas diumurnya yang menginjak 16 tahun. Saat itu Nenek Bagas sudah mengajarkan banyak hal tentang keluarga Adijaya yang memang bukan keluarga sembarangan.


Bagi Rena, Nenek Bagas adalah penolong untuknya yang merupakan seorang anak yatim piatu. Rena bahkan tidak tahu siapa ayah dan ibunya. Ia ditinggalkan saat masih berumur satu hari di depan yayasan yang masih dibawah naungan Adijaya Group. Rena hidup di panti asuhan itu selama kurang lebih sampai umurnya 16 tahun. Karena saat ia menginjakkan umurnya yang ke-16, Rena menyelamatkan Nenek Bagas yang saat itu telah kecopetan. Oleh karena itu, Nenek Bagas mengangkat Rena menjadi anak asuhnya.


Rena tentu merasa berhutang budi kepada Nenek Bagas. Oleh karenya, saat Nenek Bagas meminta Rena untuk menjadi istri dari Bagas Adijaya. Rena tidak memiliki kuasa untuk menolak. Rasanya tidak pantas jika sampai Rena menolak keinginan orang yang paling berjasa dalam hidupnya.


‘Apakah aku harus menanyakan masa lalu Rena kepada Nenek?’ pikir Bagas.


Sampai hari ini, tepatnya sudah akan menuju hari ke dua Rena dirawat di rumah sakit. Bagas masih belum memberitahu Neneknya jika Rena sakit. Bagas takut jika Neneknya akan mengalami serangan sesak dadakan. Hal itu karena Nenek Bagas mempunyai riwayat jantung dan paru-paru. Dulu, saat Rena pingsan saja Nenek Bagas juga sudah mau dirawat di rumah sakit. Apalagi jika Nenek Bagas mengetahui Rena telah dikurung di kamar mandi dan mengetahui Rena yang tiba-tiba berteriak histeris saat sadar?


...***...


Setelah mengalami pergolakan batin, Bagas memutuskan untuk tetap memberitahu Neneknya. Ia tahu jika bagaimana pun juga Rena adalah cucu menantunya yang bahkan juga sedang mengandung calon cicitnya. Oleh karena itu, Bagas memang harus memberitahu Neneknya tentang apa yang terjadi dengan Rena.

__ADS_1


Di malam hari saat Nenek Bagas sedang duduk di depan televisi dan ditemani beberapa cemilan roti kering. Bagas datang berkunjung tanpa memberitahu Neneknya terlebih dahulu.


“Malam, Nek!” sapa Bagas saat berada di hadapan Nenek Bagas.


“Malam, Bagas! Tumben kamu ke sini malam-malam. Sini duduk di samping Nenek!”


Nenek Bagas memang sedang duduk di kursi panjang yang memang didesain khusus agar Nenek Bagas tidak mengalami pegal atau encok saat memutuskan duduk di situ. Kursi itu memang telah mengalami modifikasi sedemikian rupa hingga akan tetap terasa nyaman jika kebetulannya Nenek Bagas tertidur di kursi itu.


“Baik, Nek,” angguk Bagas.


Bagas memposisikan dirinya di samping Neneknya. Nenek Bagas yang awalnya tiduran telah duduk saat menawarkan Bagas untuk duduk.


“Jadi, ada apa?” tanya Nenek Bagas sambil mengusap bahu Bagas.


Hal ini sebenarnya yang selalu menjadi hal yang sangat dirindukan oleh Bagas. Neneknya begitu perhatian kepadanya. Bahkan, diusianya yang sudah mau memasuki kepala tiga. Bagas memang sudah tidak memiliki ayah dan ibu diusianya yang masih menginjak 7 tahun. Ibu dan Ayahnya terlibat kecelakaan hebat yang lansung merenggut nyawa mereka secara langsung di tempat kejadian.


Bagas mengambil napas secara dalam dan mengembuskan secara pelan.


“Nek, Bagas mau kasih kabar ke Nenek. Tapi tolong Nenek tetap jaga kesehatan ya?!” Bagas mengelus tangan Neneknya yang tadinya mengusap bahu Bagas.


Nenek Bagas terlihat bertanya-tanya dengan perkataan Bagas.


Nenek Bagas mengangguk sekali sebagai jawaban.


“Janji dulu, Nek!” tekan Bagas kepada Nenek Bagas.


Nenek Bagas mengangguk kecil.


“Nek!” rengek Bagas.


Nenek Bagas tersenyum kecil. “Iya, Nenek janji. Ada apa?”


Bagas terlihat mengambil napas dalam lagi. “Nek, Rena sekarang di rumah sakit. Masih belum sadar. Ada sebuah kejadian yang menyebabkan Rena seperti itu,” terang Bagas hati-hati.


Nenek Bagas terlihat tidak memberikan reaksi apa pun. Entah karena syok atau masih mencerna kata-kata Bagas.

__ADS_1


“Nek, Nenek nggak papa kan?” Bagas sedikit menguncang tubuh Neneknya.


“Ha—ya, Nenek nggak papa kok.”


Mengambil jeda sedikit lalu melanjutkan. “Lalu, bagaimana dengan keadaan kandungannya?”


Bagas tersenyum kecil. “Anak aku sekuat itu ternyata, Nek. Dia baik-baik saja!”


Nenek Bagas terlihat mengembuskan napas lega.


“Sebenarnya apa yang terjadi dengan Rena?” tanya Nenek Bagas.


“Itu juga yang ingin aku tanyakan kepada Nenek.”


Nenek Bagas mengernyit tanda tidak mengerti.


“Nek, apa yang terjadi saat aku pergi ke Amerika?”


Nenek Bagas terlihat sedikit terkejut sebelum kemudian menetralkan wajahnya lagi.


“Nek, tolong jawab aku. Aku ingin tahu apa yang terjadi dengan Rena,” pinta Bagas.


“A-apa yang terjadi dengan Rena? Nenek tidak tahu.” Nenek Bagas berucap sedikit terbata-bata. Terlihat seperti menyembunyikan sesuatu.


“Nek, Rena berubah bukan seperti Rena yang aku temui saat masih SMA. Lalu, Rena juga sempat bilang jika ia tidak mengingat apa yang telah ia lalui setelah sadar dari pingsan di acara ulang tahun perusahaan. Lalu yang terakhir, Rena sadar dan berteriak dengan histeris. Bahkan tidak mengingat siapa aku. Apakah ada hal yang telah aku lewatkan?”


Nenek Bagas terlihat menelan ludahnya gugup. Terlihat sekali jika Nenek Bagas mengetahui suatu hal.


“Nek, tolong Bagas. Dokter tidak bisa mendiagnosis Rena karena keadaannya yang tidak stabil. Lalu, aku juga tidak mengetahui masa lalu Rena seperti apa. Selain dia seorang anak yatim piatu yang diangkat menjadi anak asuh Nenek. Tolong jujur dengan Bagas, Nek.”


Nenek Bagas terlihat mengambil napas panjang. “Sebenarnya …”


.


.

__ADS_1


.


Halo! Maaf ya gantung. 😄Tapi besok diusahakan update kok! Jangan lupa dukung karya ini dengan like, vote, dan komen ya! Biar authornya makin semangat untuk update. Sehat-sehat ya readers di mana pun berada! See you!😘😘😘


__ADS_2