Perjuangan Si Alter Ego Memperbaiki Hidup

Perjuangan Si Alter Ego Memperbaiki Hidup
Kesadaran Rena


__ADS_3

Rena secara perlahan membuka matanya dan menyesuaikan dengan cahaya yang masuk ke mata. Tiba-tiba Rena mendengar suara dengungan yang sangat memekakkan telinga sehingga Rena langsung bangkit dan menutupi telinganya berharap dapat meredam dengungan itu.


Dalam pikiran Rena tiba-tiba saja muncul bayangan-bayangan di mana Rena yang dianiaya dengan beberapa orang. Mereka memukuli Rena tanpa belas kasihan. Bahkan salah satu diantara mereka sempat melecehkan Rena. Rena terus menangis, berteriak, dan memberontak. Tapi mereka tidak menanggapi sama sekali.


‘Apa ini? Kenapa aku seperti ini?!’


Rena ingin berteriak tapi suaranya tertahan di tenggorakan. Seperti ada penyumpal tak kasat mata yang membuat Rena tidak dapat membuka suara. Setelah itu kepalanya berdeyut luar biasa. Saat denyutan itu terasa, Rena mengeluarkan suara teriakan yang sangat keras telinga sehingga tenaga medis yang berada di rumah sakit itu berlarian ke arah kamar rawat Rena. Mencoba menenangkan Rena yang mulai memukuli kepalanya sendiri.


‘Kenapa sakit sekali?!’ Rena terus memukuli kepalanya sendiri.


Beberapa tenaga medis juga sampai ada yang terkena pukulan dari Rena. Dengan begitu salah seorang dokter terpaksa menyuruh beberapa perawat untuk memegangi Rena agar tidak banyak bergerak. Hal itu karena dokter itu akan menyuntikkan obat penenang kepada Rena.


Setelah disuntik, Rena perlahan tenang dan mulai tidak sadarkan diri lagi.


Bagas yang mendapatkan kabar jika Rena telah sadar langsung berlari dari ruang rapatnya. Padahal saat itu rapat sedang berlanjut. Tapi, Bagas tidak peduli yang ada di pikirannya saat ini hanya Rena. Begitu sampai di rumah sakit Bagas juga nampak berlari menuju ke arah ruang rawat Rena. Namun, begitu mendekati ruangan itu Bagas mulai dapat melihat jika Rena belum sadar.


‘Apakah dokter itu membohongiku?’


Saat Bagas akan masuk ke kamar Rena, sudah ada dokter yang keluar terlebih dahulu dari kamar Rena dan meminta Bagas untuk mengikutinya ke ruangannnya.


“Pak Bagas mari ikuti saya!”


"Baik, Dok." Bagas mengangguk dan mengikuti langkah sang dokter degan sesekali melihat kea rah di belakang di mana Rena di rawat.


...***...


Dokter itu memberikan sebuah dokumen kepada Bagas.


“Pak Bagas, sepertinya masalah Ibu Rena lebih serius dibanding yang saya perkiraan.”


“Apa maksudnya Dok?”

__ADS_1


“Saya rasa saya harus merujuk Ibu Rena kapada psikiater untuk mengetahui apa yang terjadi.”


“Maksud Dokter, Rena kemungkinan terkena gangguan kejiwaan?”


Sang dokter terlihat mengangguk sekali.


“Saya belum dapat memastikannya, Pak. Tapi, saya takut jika masalahnya lebih dari itu.”


“Apa dugaan Dokter sementara ini?”


“Saya menduga Ibu Rena mengalami kelaian mental Pak.”


Bagas sedikit syok mendengar hal itu.


‘Kelainan mental? Apakah itu karena tingkahku?’


“Tapi tenang Pak, saya masih menduga saja. Masih belum ada kepastiannya.”


‘Ini semua pasti salahku! Seharusnya aku tidak melakukan Rena seperti itu!’


Bagas berjalan menuju ke arah kamar rawat Rena. Lalu, berhenti tepat di depan kaca yang masih memperlihatkan bagaimana kondisi Rena.


Memandang Rena sendu dan menempelkan tangannya ke kaca di depannya seakan membelai wajah Rena.


‘Aku salah sayang, tapi kenapa kamu jadi seperti ini?’


Bagas terus menatap Rena dalam diam. Namun, dalam keterdiamannya Bagas juga menyimpan kesedihan yang cukup hanya dirinya saja yang tahu.


Begitu masuk di kamar rawat Rena. Bagas langsung duduk dan mengenggam tangan Rena. Mengecupnya berkali-kali dan terus membisikkan kata-kata penyesalan kepada Rena.


Rena yang mendapatkan perlakuan seperti itu, entah bagaimana bisa sadar. Padahal seharusnya Rena dalam pengaruh obat bius.

__ADS_1


“Kamu sadar? Sebentar biar kupanggilkan dokter!” Bagas bangkit dan akan membelai wajah Rena.


Namun, yang terjadi Rena malah menjauhkan wajahnya.


“Menjauhlah! Siapa kamu?!” ucap Rena dengan nada ketakutan.


Bagas bertanya-tanya, ‘Apa yang terjadi kepada kamu Rena?’


“Pergi! Aku bilang pergi!” teriak Rena.


Suara Rena terdengar sampai luar membuat dua orang perawat kembali masuk ke ruang rawat dan mencoba menenangkan Rena. Namun, yang ada Rena malah tambah berteriak histeris. Rena mulai mejambak rambutnya sendiri dan mulai memukuli kepalanya lagi.


Para pewarat tidak memiliki pilihan lain selain membius Rena lagi dengan dosis yang ditinggikan.


Salah seorang perawat dan dokter tiba di kamar Rena dan menyaksikan Rena yang sedang berteriak histeris, menjambak rambutnya, dan memukuli kepalanya. Mereka menyaksikan bagaimana Rena disuntik dan berakhir dengan tenang sebelum hilang kesadaran.


“A-apa yang terjadi kepada Rena, Dok?” ucap Bagas gemetar.


Bagas gemetar bukan karena takut akan diapa-apakan oleh Rena. Tapi Bagas justru takut dengan apa-apa yang terjadi kepada Rena.


“Pak Bagas, sepertinya kita harus lebih cepat melaksakan pemeriksaan.”


“Baik, Dok. Lakukan apa pun yang terbaik, Dok!”


Dokter itu mengangguk sekali dan nampak mulai mengoordinasikan anggotanya.


Bagas masih syok dan termenung melihat wajah damai Rena.


‘Kenapa kamu seperti ini?’


Nenek Bagas masih belum tahu apa yang telah terjadi kepada Rena. Jika, Nenek Bagas tahu entah apa yang akan ia lakukan kepada Bagas. Atau justru sebenarnya Nenek Bagas mengetahui suatu hal yang tidak Bagas ketahui?

__ADS_1


__ADS_2