Perjuangan Si Alter Ego Memperbaiki Hidup

Perjuangan Si Alter Ego Memperbaiki Hidup
Hambatan


__ADS_3

Malam itu setelah menemui Neneknya, Bagas langsung pulang berniat untuk menjenguk sekaligus menungggu Rena di rumah sakit. Tapi dipertengahan jalan, Bagas ditelepon dengan Vina yang meminta Bagas untuk menemaninya.


Dret … dret …, suara panggilan masuk.


Bagas mengambil teleponnya dan menggeser tombol terima.


“Halo!”


“Halo! Mas Bagas kamu bisa ke apartemenku nggak?” tanya Vina di seberang.


“Kenapa?”


“A-aku takut Mas. Aku mimpi buruk, mereka datang ke aku lagi dan mau menculik aku Mas,” ucap Vina ketakutan.


Nadanya memang masih meninggalkan jejak ketakutan dengan suaranya yang bergetar. Juga dengan napas Vina yang masih belum stabil. Padahal malam itu jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam.


“Vin, kamu tahu sendiri kan kalau Rena masih dirawat di rumah sakit?”


“Tapi Mas, aku benar-benar takut saat ini.”


Bagas memegangi pelipisnya dengan bingung. Di satu sisi Rena adalah kewajibannya, belum lagi dengan janin yang sedang dikandung Rena. Tapi di sisi lain Vina juga butuh bantuan darinya. Vina tidak akan tidur semalaman atau lebih parahnya lagi Vina bisa melakukan hal nekat dengan bunuh diri. Bagas tentu tidak mau hal itu terjadi. Atau Bagas tidak akan pernah mampu menebus kesalahannya kepada Vina.


Vina memang sering mengalami mimpi buruk setelah kejadian di mana ia akan dijual kepada preman-preman yang menagih utang ke ayahnya. Dan memang jika Vina mengalami mimpi buruk, Bagas akan selalu hadir menjadi teman dan penopang Vina untuk tetap kuat. Dan tidak melakukan hal-hal bodoh, seperti bunuh diri misalnya. Tapi setalah mengetahui masa lalu Rena, Bagas tidak ingin lagi mengabaikan Rena. Rasanya sudah cukup selama ini Bagas selalu memprioritaskan Vina dibanding Rena.

__ADS_1


Bagas menghembuskan napas lelah dan dengan terpaksa mengiyakan permintaan Vina. Lebih memilih meninggalkan Rena dan menemani Vina di apartemennya. Kali ini saja, mungkin juga akan menjadi kali terakhir untuk Bagas mengabaikan Rena demi Vina.


“Baiklah, aku akan ke sana,” panggilan diakhiri.


Bagas menambah laju mobilnya agar cepat sampai ke apartemen Vina. Begitu memasuki apatemen Vina yang memang Bagas ketahui kode masuknya. Bagas langsung disambut dengan pelukan erat dari Vina dan tangisan Vina yang sangat pilu.


Bagas yang kaget awalnya tidak bereaksi apa-apa. Tapi setelah beberapa saat barulah Bagas mulai merengkuh Vina dengan pelan dan mengelus rambutnya dengan pelan.


“Tidak papa, semuanya pasti baik-baik saja,” Bagas mencoba menenangkan Vina.


“Mas, kamu nggak akan pernah ninggalin aku kan?” Vina mendongak untuk melihat wajah Bagas.


Bagas menunduk dan melihat wajah Vina yang memang terlihat kacau. Vina tidak mengenakan riasan kali ini dan kantung matanya begitu hitam. Entah sudah berapa lama Vina tidak tidur.


“Mas, berjanjilah kalau kamu nggak akan pernah meninggalkan aku!” tuntut Rena.


Bagas hanya mampu menganggukan kepalanya pelan. Dan berujar maaf di dalam hati. Bagas tahu, jika janjinya tidak akan pernah mampu ia tepati. Karena nyatanya, sejak awal hatinya sudah dimiliki gadis kecil miliknya yang sayangnya juga menyimpan luka lama yang sangat dalam. Bagas jadi ingin melihat wajah Rena saat ini. Bagas sudah rindu saja dengan Rena, padahal belum setengah hari juga berpisah.


Bagaimana kabarnya ya?, batin Bagas


Sedangkan di sisi lain para dokter dan perawat begitu sibuk melakukan prosedur perawatan kepada Rena. Rena baru saja melakukan percobaan bunuh diri. Rena berhasil memotong nadi terbesar yang ada di pergelangan tangan kirinya. Untung saja, tindakannya itu sempat diketahui oleh seorang perawat yang berniat mengecek inpus Rena.


Rena langsung dilarikan ke area gawat darurat. Darahnya keluar begitu banyak sampai-sampai membuat baju dan sprei tempat tidur pasiennya berwarna merah. Padahal diperkiran hanya berselang tujuh menit dari Rena memotong nadinya dan sang perawat yang masuk. Tapi, karena tepat di nadi yang paling besar. Darahnya benar-benar mengalir secara deras bukan hanya menetes lagi.

__ADS_1


Pihak rumah sakit terus-terusa menelepon Bagas. Namun, tidak ada nada tersambung sama sekali. Hal itu karena ponsel Bagas mati setelah telepon dari Vina.


Bagas yang sedang duduk menunggu Vina merasa hatinya begitu resah, tapi tidak mengetahui apa yang menyebabkan ia merasakan hal itu. Bagas memandang wajah Vina yang ada di hadapannya. Ya, sesuai janji Bagas untuk menemani Vina di apartemen itu. Bagas menunggu Vina yang sudah tertidur lelap sambil mengenggam tangannya.


‘Maafkan aku Vin, tapi aku harap jika tiba saatnya nanti, kamu mampu memaafkan apa yang telah aku lakukan kepadamu. Berbahagialah dan carilah laki-laki baik-baik yang mampu melindungi kamu,’ batin Bagas sambil menatap wajah lelap Vina.


Setelah dirasa cukup menemani Vina, Bagas berniat untuk bangkit dan pergi ke Rena. Hatinya benar-benar tidak tenang jika belum melihat Rena. Tapi, saat Bagas mencoba melepas genggaman Vina, justru Vina malah terbangun dan memeluknya begitu erat.


“Mas, kamu nggak akan pergi kan?”


“Iya, aku nggak akan pergi.”


“Tidurlah lagi,” lanjut Bagas.


Dengan terpaksa, Bagas kembali menemani Vina sampai Vina benar-benar terlelap. Dan itu tidak membutuhkan waktu yang sedikit. Karena buktinya sekarang sudah menunjukkan pukul empat subuh. Bagas langsung mengenakan jasnya dan keluar dari apartemen Vina. Bagas tetap harus ke rumah sakit dan melihat Rena. Pikirannya benar-benar tidak tenang. Apalagi dengan cerita masa lalu Rena dari Neneknya.


‘Ren, aku janji akan membuatmu kembali tersenyum lepas seperti dulu,’ janji Bagas untuk dirinya sendiri


.


.


.

__ADS_1


Halo semua! Jangan lupa dukung karya ini dengan like, komen, dan vote ya.... author sangat berterima kasih sekali kepada kalian yang sudah menyempatkan diri untuk membaca karya author ini. Untuk yang mau kasih saran atau kritik secara pribadi, boleh banget DM author di @bintangfajar21. Pesan author buat kalian, tetap jaga kesehatan ya... dimanapun kalian berada. Big love for you all😘😘😘


__ADS_2