
“lho Ren, kamu kok ada di sini?” tanya Nenek Bagas.
“Oh, iya Rena mau makan Nek.”
Nenek Bagas mengernyit. “Nenek tadi udah bawain kamu makanan tuh di kamar.”
Rena menaikkan alisnya. “Ehm, kalau gitu biar Rena ambil Nek.”
Belum sempat Rena melangkah, Nenek Bagas sudah mencegah Rena.
“Nggak usah. Biar Bagas yang bawa.”
“Tapi aku nggak enak sama Mas Bagas Nek.”
Nenek Bagas tersenyum. ‘Kenapa kamu jadi seorang gadis yang terlalu baik seperti ini Rena?’
Nenek Bagas mengangguk. “Yaudah, kamu hati-hati naik tangganya.”
Rena mengangguk dan berlalu menaiki tangga. Belum sampai di ujung tangga Rena sudah menemui Bagas dengan nampan berisi makanan di tangannya.
“Mau ngambil ini?”
“He em. Tumben kamu baik Mas?!” sadis Rena.
“Aku baik salah, nggak peduli salah. Mau kamu apa sih?”
“Habisnya kalau kamu baik itu patut dipertanyakan Mas. Pasti ada maunya ya?”
Bagas mendekatkan mulutnya ke leher Rena. “Kalau aku mau kamu gimana?”
Rena langsung mendorong wajah Bagas menjauh dan berteriak. “Mesum!”
Rena sudah akan berbalik arah akan berlari sebelum ia mengingat untuk mengambil nampan makanan yang dipegang Bagas. Rena berbalik arah lagi dan mengambil makanan dari Bagas dengan kasar.
Ekspresi Rena seakan mengatakan. ‘Awas kalau berani macam-macam!’
Sepeninggal Rena Bagas tertawa dalam hati. Ternyata Rena yang sekarang justru lebih seru dibanding Rena yang dulu. Ah, ia jadi lebih bersemangat untuk menggoda Rena.
...***...
“Nenek kenapa ke sini kok nggak bilang-bilang?” tanya Bagas saat menimbrung di meja makan.
Rena dan Nenek Bagas memang sedang makan saat itu. Bisa dibilang sebagai sarapan sekaligus makan siang karena memang seharusnya waktu sarapan sudah lewat.
“Kenapa emang? Kamu nggak bakalan ngebolehin Nenek kalau bilang mau ke sini kan?” ketus Nenek.
“Bukan gitu Nek. Nenek sukanya prasangka mulu sama Bagas. Bagas kan tanya dengan tujuan baik. Biar kalau Nenek pas ke sini keadaan rumah lagi nggk kosong.”
“Kamu kan tadi kata Rena udah berangkat kerja sejak pagi. Tapi kok kamu pulang keadaanya kusut begitu?” curiga Nenek.
“Oh, aku anu Nek. Itu ....” Bagas tidak bisa melanjutkan kata-katanya.
“Tadi Rena yang salah ngomong Nek. Mas Bagas ngelembur tadi malam sampe nggak pulang. Makanya keadaanya kusut begitu waktu pulang.” Rena menyaut dengan santai.
Bagas menatap Rena dengan pandangan bertanya. Rena mengkode untuk mengiyakan, namun Bagas tidak paham. Sehingga Rena dengan terpaksa menginjak kaki Bagas di bawah meja dengan lumayan keras.
“Bener Bagas?”
“I-iya Nek.” Bagas meringis tersenyum untuk menahan sakit di kakinya.
__ADS_1
Rena melotot untuk memberikan peringatan kepada Bagas.
‘Baru kali ini aku ditindas sama cewek. Mana yang nindas Rena lagi.’
Bagas benar-benar tidak menyangka jika Rena seberubah ini. Menjadi lebih bar-bar.
Rena membuat isyarat dengan jari telunjuknya yang dipotong dengan jari lainnya membentuk gunting. Bagas menelan ludah melihat itu dan menutupi dareh pribadinya.
‘Dia kok jadi sadis kaya gitu sih?’
“Bagas kamu nggak kerja kan hari ini?”
“Ha-oh-ya. I-iya Nek. Bagas nggak kerja hari ini.”
“Kita periksa ke dokter kehamilan yuk untuk Rena!” ajak Nenek bersemangat.
Bagas menatap Rena. Rena menggeleng.
“Maaf Nek. Tapi Rene udah cek kehamilan kemaren. Jadi kayaknya harus nunggu bulan depan deh. Lagian Rena nggk ada keluhan kok.”
“Jadi sebenarnya udah berapa bulan kandunganmu?”
“Udah hampir tiga bulan Nek.”
Nenek melotot mendengar itu. “Udah hampir tiga bulan dan kamu nggak bilang Nenek, Bagas?”
“Ehm, kan niatnya mau dibuat kejutan Nek?” Bagas menyengir.
Nenek menapok punggung Bagas dengan keras. “Kalau sampai kaya gini lagi, Nenek bakal coret kamu dari daftar warisan Nenek beneran!” ancam Nenek Bagas.
“Nggak lagi-lagi Nek.”
“Nggak, Nenek bakalan pulang kok. Setelah ini paling Nenek juga pulang.”
Rena menggigit bibir bawahnya berpikir. “Kalau gitu Rena nganter nenek pulang ya?”
“Nggak usah, kamu istirahat aja. Nenek bisa pulang sendiri kok!”
Tiba-tiba Rena merasa mual lagi. ‘Kenapa sih kok aku mual-mual terus kaya gini? Biasanya nggk kaya gini!’
Rena bangkit menuju dapur dan muntah-muntah di wastafel. Kali ini ia malah memuntahkan makanan yang sudah ia makan barusan.
“Kamu nggk papa?”
“Ren, kamu kenapa?” Bagas bertanya dengan guratan kekhawatiran.
‘Aneh banget ngelihat Mas Bagas khawatir kaya gini.’
“Nggk papa kok Nek.”
“Nenek ubah keputusan Nenek. Nenek bakal nginep di sini sampai kamu udah baikan.”
Jder. Mereka berdua berpandangan.
‘Bagaimana caranya menutupi hubungan yang sebenarnya kalau Nenek menginap di sini?’
Bagas menggeleng tidak tahu juga.
“Ehm, Nek. Bagas bisa urus Rena kok. Bener kan sayang?” Bagas merangkul Rena.
__ADS_1
Rena memberontak. “I-iya Nek. Nenek nggak perlu khawatir.”
“Udah diem. Kamu nggak mau Nenek nginep di sini kan?” bisik Bagas.
“Keputusan Nenek udah bulat. Nggk bisa dingganggu gugat lagi!” final Nenek Bagas lalu berlalu.
Rena menepis tangan Bagas. “Apasih?! Modus tahu nggak?!” ucap Rena sebelum meninggalkan Bagas.
“Pinggang dia nyaman juga buat dipeluk,” monolog Bagas tersenyum miring.
...***...
“Nek, Rena yang ikut Nenek aja deh! Biar Rena yang tinggal di rumah Nenek.”
Rena sekarang sedang membujuk Nenek Bagas untuk membawa ikut serta Rena pulang ke rumahnya. Pasalnya jika Nenek Bagas tidak pulang maka Rena mau tidak mau harus tidur sekamar dengan Bagas. Dan Rena tidak mau hal itu terjadi.
“Memangnya kenapa? Ren, Nenek kan udah lama juga nggak nginep di rumah ini. Jadi, angap aja kalau Nenek lagi liburan di rumah cucu Nenek.”
“Tapi Nek!” rengek Rena.
“Udah sih nggak papa. Biarin aja Nenek nginep di sini. Lagian jarang-jarang juga kok kita ada yang ganggu.”
Nenek Bagas langsung mengalihkan perhatiannya dari menyiram tanaman di taman belakang rumah Bagas.
“Oh, Nenek lupa. Tenang aja Rena, Nenek nggak bakal ganggu kalian kok.”
“Tuh dengar kan kata Nenek. Nenek nggak bakal ganggu kita kok sayang.” Bagas kembali merangkul pinggang Rena dengan mesra. “Jadi, tenang aja oke.” Bagas mengedip genit ke arah Rena.
Rena mengidikkan badannya melihat tingkah Bagas begitu.
‘Kok dia jadi begitu sih? Harusnya kan marah-marah.’
Rena mencoba melepas rangkulan Bagas namun hal itu cukup sulit karena kekuatan Bagas jelas lebih besar dibanding Rena.
“Tapi, Nek. Rena nggak mau tinggal sama Mas Bagas!” teriak Rena.
Nenek Bagas menghentikan tindakannya menyiram tanaman. “Lho kenapa?”
“Maklum, Nek. Bawaan hamil. Suka agak sensi gini.” Bagas malah yang menjawab pertanyaan Nenek Bagas.
“Oh, Ren. Nggak papa kali kalau kamu emang lagi nggak srek sama Bagas. Tapi ya jangan terus pergi. Selesain semuanya dengan baik-baik, tenang, dan juga kepala dingin. Itu kunci dari sebuah pernikahan lho.”
‘Nenek nggak tahu aja kalau Mas Bagas ini cuman pura-pura. Aslinya mah tiap hari marah-marah, teriak-teriak nggak jelas, belum lagi nanti arogannya itu lho. Bikin eneg.’
Rena yang dinasehati seperti itu hanya mampu menyengir bodoh.
“Yaudah yuk sayang, jangan ganggu Nenek lagi berkebun. Kita ngamar aja ya!” Bagas menyeret Rena secara paksa namun masih terlihat lembut di mata Nenek Bagas. Sehingga Nenek Bagas tidak merasa curiga sedikit pun.
“Mas! Kamu itu kerterlalaun ya! Nggak perlu sok-sok akting bergitu deh! nggak mempan di aku!”
“Emangnya siapa yang akting. Aku kan baik sama kamu. Makanya aku itu membuat hubungan kita kelihatan mesra di mata Nenek. Emang itu salah?” Bagas pura-pura tidak tahu kemarahan Rena.
“Mas! Pokoknya awas aja kalau kamu sampai bertingkah di luar kesabaran aku!” ancam Rena menunjuk wajah Bagas dengan garang. Lalu, meinggalkan Bagas.
“Aish! Aku suka cewek galak.” Bagas berucap tanpa sadar.
‘Eh, kok aku jadi bilang gitu sih?’ Bagas memukul bibirnya pelan.
‘Tapi wajah marahnya kelihatan imut sih!’ Bagas tersenyum tipis.
__ADS_1