
Di pagi yang cerah, sebuah kereta kuda sudah siap untuk menemani perjalanan Guan Lin, Lien Hua dan juga Pang Xiongmao.
"Kalian berhati-hatilah di perjalanan, sampaikan salamku pada ayah ibumu dan juga pada Paman Ming Hao dan Shu'er!" pesan penguasa Tian Ma.
"Akan Guan Lin sampaikan paman, dan Terimakasih atas jamuan makan malamnya."
Kini Guan Lin beralih menghampiri teman baiknya. "Aku pasti akan berkunjung kembali dilain waktu."
"Mn, akan ku tunggu!" ucap Tian Zhi.
"Nona Yue Yin, apa nona beneran tidak mau ikut dengan kami ke akademi pedang dan sihir?" tanya Guan Lin.
"Hei bocah, sudah ku bilang aku tidak akan ikut dengan mu. Dan satu lagi, sudah ku peringatkan berulangkali aku ini seniormu jadi panggil aku senior Yue Yin!" ucap Yue Yin dengan ketus.
Guan Lin hanya memanyunkan bibirnya, tidak ada niatan sama sekali untuk menanggapi peringatan dari Yue Yin.
"Baiklah Paman kalau begitu kami pamit." pada akhirnya Guan Lin pun memutuskan untuk segera berangkat dan mengajak Lien Hua untuk berpamitan.
Satu kereta kuda dengan dua orang penumpang beserta seekor panda kini mulai melakukan perjalanan dengan di antar dua orang kusir.
Setelah kereta kuda menjauh dari kediaman penguasa kota, sang penguasa Tian Ma pun kembali masuk kedalam kediaman.
Kini tinggal Tian Zhi dan Yue Yin yang masih setia berdiri di tempat masing-masing, Yue Yin pun mulai buka suara.
"Tidakkah menurutmu nona Lien itu terlalu sombong?"
Tian Zhi menatap heran pada Yue Yin, seakan Tian Zhi tidak mengerti dengan apa yang Yue Yin ucapkan.
"Dia tidak pernah mau memandang kita saat sedang berbicara, dan juga bicaranya itu terlalu sedikit. Aku bahkan hampir mati karena merasa bosan saat harus duduk satu kereta dengannya kemarin!" keluh Yue Yin.
Memang benar, selama di perjalanan Yue Yin berusaha menanyai tentang kehidupan Lien Hua, namun Lien Hua hanya menjawab sekedarnya. Seperti ada batasan yang Lien Hua bentuk untuk menutupi kisah hidup pribadinya.
Sementara Tian Zhi semakin menatap heran pada Yue Yin. Memang Tian Zhi akui bahwa Lien Hua tidak terlalu banyak bicara, tetapi itu bukan berarti Lien Hua sombong. Karena Tian Zhi sendiripun tipe orang yang sulit banyak berkata, jadi Tian Zhi bisa merasakan apa yang Lien Hua alami.
"Aku rasa nona Lien tidak sombong," pada akhirnya Tian Zhi pun mengutarakan pendapatnya.
"Ah, sudahlah. Bicara dengan mu juga sama membosankan nya, oh ya. Terimakasih karena sudah mau merahasiakan identitasku."
"Mn."
__ADS_1
Setelah Yue Yin bercerita dengan Tian Zhi dan penguasa Tian Ma kemarin, Yue Yin meminta untuk dirahasiakan tentang identitasnya.
Tian Zhi dan penguasa Tian Ma pun menyetujui permintaan Yue Yin, karena menurut penguasa Tian Ma, untuk saat ini identitas Yue Yin memang sebaiknya dirahasiakan terlebih dahulu.
*
Guan Lin Menikmati perjalanan sambil bercerita pada Lien Hua dan Pang Xiongmao.
"Itu adalah patung sang pahlawan, kalian tau! Suatu saat nanti aku ingin seperti sang pahlawan!" ucap Guan Lin sambil menunjuk kearah patung sang pahlawan.
Sementara Lien Hua hanya diam saja, tidak seantusias Guan Lin saat melihat patung sang pahlawan.
Bahkan Pang Xiongmao pun ikut menjulurkan lehernya guna memperjelas pandangannya pada patung sang pahlawan.
Guan Lin hampir melupakan suatu kebenaran, bahwa Lien Hua tidak bisa melihat. Begitu sempurnanya Lien Hua menutupi kekurangannya dengan segala kelebihan yang Lien Hua miliki.
"Maaf," lirih Guan Lin saat menyadari kesalahannya.
"Tidak masalah," balas Lien Hua.
Kini Guan Lin mencairkan suasana dengan bercerita tentang Guan Lin saat Guan lin terjebak di dalam jurang bersama Xiongmao. Namun Guan Lin masih merahasiakan tentang cincin penyimpanan dan juga giok teleportasi pemberian dari Pang Xiongmao. Dan Lien Hua pun adalah tipe orang yang tidak banyak bertanya, bagi Lien Hua, yang terpenting sekarang Guan Lin sudah kembali dengan selamat.
***
Pada akhirnya tetua Nuwa memutuskan untuk mengisi perut terlebih dahulu sambil berusaha mencari informasi.
Tetua Nuwa memasuki sebuah kedai yang ramai dikunjungi oleh para pelanggan, saat tetua Nuwa melewati salah satu meja yang terdapat tiga lelaki paruh baya, tidak sengaja tetua Nuwa mendengar percakapan antara ketiganya.
Tetua Nuwa pun memilih duduk di bangku yang bersebelahan dengan ketiga lelaki itu guna mencuri dengar, tetua Nuwa sengaja menajamkan pendengarannya agar ia bisa mendengar dengan lebih jelas apa yang sedang ketiga lelaki paruh baya itu bicarakan.
"Apa kalian tidak merasakan keanehan di penginapan seribu bunga?" Tanya seorang lelaki paruh baya pada temannya.
"Maksudmu, tentang beberapa pemuda yang tidak kembali setelah memasuki penginapan seribu bunga?" ucap lelaki paruh baya lainnya.
Mata tetua Nuwa melotot sempurna saat mendengar tentang pemuda yang tidak kembali setelah memasuki penginapan seribu bunga.
"Lin'er... Tidak, tidak mungkin. Lin'er tidak akan pernah mau berkunjung ketempat seperti itu, Lin'er masih sangat terlalu muda untuk menjadi tamu ditempat hiburan," batin Nuwa.
"Itukan cuma rumor yang beredar, belum tentu juga kebenarannya seperti apa!" ucap lelaki paruh baya lainnya.
__ADS_1
"Aku serius, kemarin aku lihat sendiri ada seorang pemuda yang datang bersama dua temannya yang sudah bapak bapak. Dan setelah lima jam kemudian, dua bapak bapak itu keluar dari penginapan seribu bunga tetapi tidak dengan si pemuda."
"Terus kenapa dua orang itu tidak menunggu si pemuda untuk keluar bersama, bukankah mereka bertiga masuk bersama sama?"
"Justru itu, mereka berdua sepertinya juga sedang marah besar saat keluar dari penginapan."
"Saya dengar, si pemuda telah tewas karena terlalu banyak mengkonsumsi obat kuat."
"Itukan wajar, lalu dimana bagian yang salah?"
"Tentu saja saat kedua temannya ingin membawa jasad si pemuda, pihak penginapan tidak mengizinkannya. Bukankah ini aneh?"
"Hmm.. betul juga yang kau ucapkan."
"Terus kenapa dua orang itu tidak melapor pada pemimpin desa?"
"Apa kau bodoh, pemilik dari penginapan seribu bunga itu adalah istri dari pemimpin desa ini. Siapa juga yang berani mengadukan masalah penginapan seribu bunga pada pemimpin desa? Yang ada malah orang itu yang nanti akan kena hukum oleh pemimpin desa, kalian taukan pemimpin desa ini sangat patuh pada istrinya."
"Tentu saja patuh, wong istri pemimpin desa itu sangatlah cantik. Sudah seperti bidadari. Kalau aku di berikan kesempatan untuk mempunyai istri secantik istri pemimpin desa, aku bahkan rela menjilati kedua telapak kaki istriku itu."
"Ha.... Ha... ha...."
Ketiga lelaki paruh baya itu tertawa lepas saat membayangkan mereka bisa mempunyai istri secantik istri pemimpin desa bunga.
"Heh.. Dasar lelaki tidak tau malu, usia sudah tua pun masih berkhayal tentan wanita cantik," batin tetua Nuwa.
Tanpa menunda waktu tetua Nuwa langsung bangkit dan keluar dari kedai itu, kini tujuan tetua Nuwa adalah penginapan seribu bunga.
Sepanjang perjalanan tetua Nuwa melihat bangunan yang berjejer di sepanjang jalan, sampai pada akhirnya tetua Nuwa melihat satu bangunan yang berukuran besar dengan lantai dua.
Tetua Nuwa melihat papan nama pada bangunan itu tertulis nama 'Penginapan Seribu bunga' setelah memantapkan hatinya tetua Nuwa pun melangkah masuk kedalam penginapan seribu bunga.
***
Sementara Jing Mi yang mendapat perintah untuk memberhentikan pencarian, kini menarik kembali semua tim pencarian.
Namun Jing Mi tidak menemukan keberadaan tetua Nuwa. Pada awalnya mereka memang mencari Guan Lin secara berkelompok, akan tetapi setelah beberapa hari tidak juga menemukan tanda tanda keberadaan Guan Lin, tetua Nuwa pun memutuskan untuk mencari Guan Lin secara terpisah.
Jing Mi pun memutuskan untuk kembali ke akademi pedang dan sihir terlebih dahulu untuk melapor, Jing Mi juga berharap bahwa tetua Nuwa sudah kembali ke akademi pedang dan sihir.
__ADS_1