Pertarungan Tanpa Akhir

Pertarungan Tanpa Akhir
Keyakinan tetua Nuwa


__ADS_3

Lien Hua mengerjapkan mata saat dia tersadar, bulu mata lentiknya naik keatas dan menampakkan sepasang bola mata berwarna hijau yang indah, hanya saja meskipun mata Lien Hua sudah terbuka hanya kegelapan lah yang selalu menyambut hari-hari Lien Hua. Namun Lien Hua tidak pernah mengeluh meski tidak bisa melihat bagaimana dunia yang menjadi tempat Lien Hua menjalankan kehidupan ini. Lien Hua selalu bersyukur dengan apa yang Lien Hua miliki selama ini, meski matanya tidak bisa melihat, akan tetapi Lien Hua memiliki pendengaran yang jauh lebih sensitif dari pendengaran orang lain.


Tetua Ming Hao yang merasakan ada pergerakan disampingnya segera menoleh, "Bagaimana perasaan mu Hua'er, apa kau merasakan ada yang tidak nyaman?" tetua Ming Hao berucap lembut pada Lien Hua.


Setelah tetua Yu memberitahukan bahwa Lien Hua adalah cucu tetua Yu, tetua Ming Hao beserta yang lainnya sudah mengganggap Lien Hua bagian dari keluarga mereka juga.


"Lien Hua baik-baik saja paman, bagaimana kondisi kakek?"


"Kakekmu juga sudah lebih baik, hanya tinggal menunggu beliau bangun dari tidurnya."


Saat Lien Hua dan tetua Ming Hao terlibat dalam perbincangan ringan, jar-jari tangan tetua Yu mulai bergerak secara perlahan. Disusul oleh suara batuk kecil yang keluar dari mulut tetua Yu.


"Uhhuk, uhhuk..."


Tetua Yu terbatuk sambil memegangi dadanya yang terasa sakit, tetua Yu merasa sedikit kesulitan saat ia bernafas.


"Kakek,"


Lin Hua segera beranjak mendekati ranjang yang menjadi tempat istirahat tetua Yu.


"Hua'er, kau baik-baik saja nak?" hal pertama yang tetua Yu tanyakan setelah beberapa hari tidak sadarkan diri adalah kondisi sang cucu.


"Seharusnya Lien Hua yang bertanya karena kakek lah yang sedang terluka saat ini," ucap Lien Hua.


"Kakek baik-baik saja, Hua'er tidak usah mengkhawatirkan kakek," tetua Yu mengerutkan keningnya kemudian tetua Yu bertanya, "Dimana ini, bukankah sebelumnya kakek sedang bertarung dengan jelmaan siluman berjubah hitam?"


"Kita berada di tempat peristirahatan di bawah bukit," ucap tetua Ming Hao.


"Ah, tetua Ming Hao, bagaimana dengan akademi? para siluman itu datang dan langsung menyerang akademi!" raut muka tetua Yu berubah tegang setelah mengingat semua yang telah terjadi sebelum tetua Yu tumbang.


"Akademi telah hancur, para siluman itu telah berhasil menghancurkan segel perbatasan," ucap tetua Nuwa yang baru saja datang melihat kondisi tetua Yu.


"Apa?" tetua Yu sangat terkejut.

__ADS_1


"Lalu bagaimana dengan semua siswa dan para guru serta yang lainnya?" tanya tetua Yu, nampak jelas kekhawatiran dari sorot mata tetua Yu.


"Menurut cerita utusan Jin Hui, sebagian besar siswa senior maupun siswa junior berhasil meninggalkan akademi bersama para pejuang yang di pimpin oleh utusan Jin Hui," ucap tetua Nuwa.


"Tetapi utusan Jin Hui mengatakan bahwa beliau tidak melihat ketua Guan Lao, apa tetua Yu mengetahui dimana keberadaan suamiku?" tanya tetua Nuwa.


"Aku minta maaf," tetua Yu berucap sambil menundukkan kepalanya.


"Saat itu aku memberitahu ketua Guan Lao bahwa serangan yang dilakukan di akademi hanyalah pengalihan agar mereka bisa merusak segel perbatasan, Tetua Guan Lao langsung melesat ke arah perbatasan. Saat itu aku mengambil alih pertarungan ketua Guan Lao melawan jelmaan siluman berjubah hitam, ku pikir setelah aku berhasil mengalahkan siluman itu aku akan menyusul ketua Guan Lao ke arah perbatasan. Siapa sangka, ternyata jelmaan siluman berjubah hitam itu begitu kuat hingga aku pun sulit untuk bertahan, tidak lama kemudian utusan Jin Hui datang membantuku melawan jelmaan siluman berjubah hitam. Namun tidak lama kemudian ledakan dahsyat pun terjadi dan kami semua menerima efek dari ledakan itu, setelah itu aku tidak tau apa-apa lagi."


"Itu artinya suamiku berada di perbatasan saat ledakan itu terjadi," pertahanan tetua Nuwa pun kini hancur sudah.


Tetua Nuwa terduduk sambil memejamkan matanya, rasa sesak tiba-tiba ia rasakan saat mendengar apa yang tetua Yu ucapkan. Sudah berhari-hari tetua Nuwa berusaha untuk selalu berpikir positif, namun kini tetua Nuwa sudah tidak bisa lagi berpikir positif setelah mengetahui kenyataannya.


Jika memang sang suami berada di perbatasan, sekuat apapun ilmu yang suaminya miliki tidak akan mampu melindungi diri dari efek ledakan itu.


Lien Hua berusaha menguatkan tetua Nuwa, Lien Hua pun berucap, "Bibi harus tenang Lien Hua yakin paman ketua pasti selamat, di dunia ini tidak ada hal yang tidak mungkin, selalu ada keajaiban untuk orang-orang baik seperti paman ketua."


"Hati bibi juga merasa yakin bahwa pamanmu itu bisa selamat, namun kenyataannya menunjukan hal yang lain." tetua Nuwa segera menghapus cairan bening yang dengan sendirinya terus mengalir tanpa diperintah.


"Sebaiknya kita harus segera melanjutkan perjalanan ke pusat kota, kita juga harus memastikan semua siswa selamat di pusat kota," ucap tetua Ming Hao.


"Ming Shu dan senior Yue Yin telah menyiapkan tiga kereta kuda," ucap Ming Shu yang baru saja memasuki ruangan tempat tetua Yu beristirahat.


"Bagus, kalau begitu kita mulai perjalanan,'" ucap tetua Ming Hao.


***


Tian Zhi dan rombongan tiba dipusat kota, mereka semua langsung di sambut oleh penguasa Tian Ma yang sudah tau akan kepulangan sang anak dari Guan Lin. Penguasa Tian Ma sudah menunggu di depan pintu gerbang kediaman penguasa kota, penguasa Tian Ma bisa bernafas lega setelah melihat sang anak baik-baik saja.


"Salam ayah,"


"Salam yang mulia."

__ADS_1


Tian Zhi dan semua rombongan memberi hormat pada penguasa Tian Ma.


Penguasa Tian Ma mengangguk kemudian mengutus penjaga untuk menempatkan warga desa sunyi di tempat pengungsian.


Setelah penguasa Tian Ma tau bahwa warga desa sunyi akan tinggal untuk sementara di pusat kota, penguasa Tian Ma langsung menyuruh para penjaga menyiapkan tempat pengungsian untuk tempat tinggal sementara.


Penguasa Tian Ma juga memerintahkan penjaga lainnya mengundang beberapa tabib untuk mengobati semua orang yang terluka.


Setelah semua meninggalkan kediaman penguasa kota, kini yang tersisa hanyalah penguasa Tian Ma dan Tian Zhi yang masih berada di halaman depan.


"Ayah, Tian Zhi telah mengambil keputusan tanpa seijin ayah," ucap Tian Zhi.


Tian Zhi merasa bersalah karena telah berani membuat keputusan besar tanpa sepengetahuan sang ayah.


"Ayah sudah tahu, Guan Lin telah menceritakan semuanya!" penguasa Tian Ma menepuk bahu sang anak dengan lembut.


"Zhi'er adalah calon penguasa dimasa depan, sudah seharusnya belajar mengambil keputusan yang paling tepat dari sekarang."


"Ayah yakin dimasa depan Zhi'er akan menjadi penguasa yang lebih hebat dari ayah," penguasa Tian Ma kagum pada sang anak, Tian Zhi memang tumbuh menjadi seorang pemuda yang cerdas, bijaksana dan juga kuat.


Kini pasangan ayah dan anak itu berjalan beriringan memasuki kediaman penguasa kota sambil berbincang ringan.


"Ayah tadi bilang sudah mengetahui semua dari Guan Lin, apakah Guan Lin sekarang ada disini?"


"Mn, Guan Lin sedang menjaga ayahnya di ruang pengobatan."


"Memangnya paman ketua kenapa ayah?"


"Pamanmu terluka parah, beruntung Guan Lin tiba diwaktu yang tepat untuk menyelamatkan paman ketua mu, jika tidak sudah pasti paman ketua mu itu sudah tiada."


"Kalau begitu Tian Zhi akan menjenguk paman ketua sekarang juga ayah,"


"Mn, ayah juga akan kesana."

__ADS_1


Penguasa Tian Ma dan Tian Zhi kini berjalan menuju ruang pengobatan dimana ketua Guan Lao di rawat.


__ADS_2