Pertarungan Tanpa Akhir

Pertarungan Tanpa Akhir
Adu kekuatan


__ADS_3

Sang penguasa kota duduk di kursi kehormatan sambil menyaksikan para peserta yang sedang beradu kekuatan, setelah putaran pertama kini berlanjut keputaran kedua. Sang penguasa kota menyaksikan dua peserta dengan senjata yang berbeda ditangannya masing-masing.


Peserta nomor 3 memutar tongkatnya beberapa kali sebelum ia menghempaskan tongkat yang sudah dialiri energi spiritual kepada peserta nomor 4.


"Hempasan bayangan."


Energi tak kasat mata seketika melesat kearah peserta nomor 4, peserta nomor 4 menyadari serangan energi yang keluar seiring hempasan tongkat kayu itu, peserta nomor 4 langsung mematahkan serangan energi dengan cambuknya yang juga dialiri energi spiritual.


Semua para penonton bertepuk tangan mengapresiasikan rasa kagumnya, dibanding aksi dalam putaran pertama, aksi dalam putaran kedua lebih menarik perhatian para penonton.


Bahkan utusan Jin Hui juga ikut menganggukkan kepala pertanda ia juga merasa kagum dengan pertarungan kedua peserta yang saat ini masih bertukar serangan.


Peserta nomor tiga mengikis jarak, ia semakin mendekat dan langsung menyerang peserta nomor 4 dengan tongkatnya. Tongkat peserta nomor 3 mengenai pinggang kiri peserta nomor 4, peserta nomor 3 kembali mengayunkan tongkatnya berniat melakukan pukulan kearah kanan. Namun peserta ke empat menangkap tongkat kayu itu dengan tangan kirinya, terjadilah aksi tarik menarik antara peserta nomor 3 dan peserta nomor 4.


Peserta nomor 3 berhasil menarik kembali tongkat bambunya dan langsung menusukkan tongkat bambunya pada dada peserta nomor 4, namun peserta nomor 4 berhasil menahan ujung tongkat dengan telapak tangannya.


Keduanya kini saling mempertahankan posisi masing-masing, tongkat kayu itu menjadi subjek aliran energi spiritual dari dua belah pihak. Peserta nomor 4 terdorong mundur namun kedua kakinya dengan sigap memasang kuda-kuda yg kokoh, lalu peserta nomor 4 meningkatkan saluran energinya.


Dengan sekali sentakan peserta nomor 3 berhasil terhempas kebelakang, hampir saja peserta nomor 3 melewati garis pembatas, beruntung dia sigap dan berhenti tepat diujung sebelum pembatas. Darah segar merembes disudut bibirnya, iapun mengelapnya menggunakan ujung kain bagian lengannya dengan kasar.


Meski menerima luka dalam tapi peserta ketiga masih belum menyerah, kini berganti peserta nomor 4 yang mengayunkan cambuk ditangannya untuk melakukan serangan.


Peserta nomor 3 berusaha menangkis cambukan dengan tongkatnya, namun dengan kondisinya saat ini peserta nomor 4 berhasil melilit tongkat kayu yang ia pegang. Dan terjadilah kembali aksi tarik menarik senjata masing-masing, dengan sekali sentakan kembali peserta nomor 4 berhasil merebut tongkat kayu peserta nomor 3 dengan cambuknya.


Setelah tongkat kayu terlepas dari tangannya, peserta nomor 3 tidak lagi mempunyai senjata untuk digunakan. Sementara peserta nomor 4 sudah bersiap mengayunkan cambuknya kembali, peserta nomor 3 langsung mengangkat tangannya dan menyatakan bahwa ia menyerah.

__ADS_1


"A-aku menyerah."


Cambuk yang sudah terlanjur diayunkan mendarat tepat di samping peserta nomor 3.


"Bagus, setidaknya kau tau batasanmu."


"Putaran kedua dimenangkan oleh peserta nomor 4!" sang pengawas kembali mengumumkan pemenang dari putaran kedua.


"Peserta nomor 4 maju ke babak selanjutnya," sang pemimpin acara kembali memberikan pengumuman.


Setelah dinyatakan sebagai pemenang, peserta nomor 4 kembali ke tempatnya. Sementara peserta nomor 3 dibawa keruang pengobatan untuk mendapatkan perawatan.


"Kita langsung saja lanjutkan ke putaran ketiga, silahkan peserta nomor 5 dan nomor 6 memasuki lapangan!" kembali pemimpin acara memanggil peserta berikutnya.


Peserta nomor 5 dan nomor 6 berjalan beriringan memasuki lapangan, melihat peserta yang tersisa tinggal Zhi Lin, membuat semua mata tertuju kepadanya.


"Eh lihat, ternyata anak muda itu yang mendapatkan keberuntungan."


"Iya, beruntung sekali dia."


"Tanpa bertanding sudah berhasil lolos ke babak selanjutnya."


Suara-suara sumbang masih juga terdengar saling bersahut-sahutan, beberapa tatapan pun terus terarah pada Zhi Lin dengan pandangan yang berbeda-beda. Ada yang ikut merasa senang dan ada juga yang merasa tidak terima karena menurut sebagian dari para penonton, Zhi Lin tidaklah cocok untuk menjadi seorang pengawal pribadi.


Pemimpin acara mempersilahkan kedua peserta untuk memilih senjatanya masing-masing. Namun peserta nomor 5 dan nomor 6 tidak memilih senjata apapun, keduanya memilih untuk bertarung menggunakan tangan kosong.

__ADS_1


Sudah lama kedua peserta ini menjadi rifal dalam latih tanding, maka dari itu dengan kesempatan ini mereka berdua akan kembali mengetes siapa yg lebih kuat diantara mereka berdua dihadapan semua orang termasuk sang pemimpin kota dan tamu kehormatannya yaitu salah satu utusan dari kota timur.


"Peraturannya masih tetap sama, tidak boleh membunuh lawan dan tidak boleh ada kecurangan. Dan selalu ingat, jangan sampai keluar dari garis pembatas. Kalian boleh menyerah jika memang merasa sudah tidak sanggup melanjutkan pertarungan. Kalian mengerti?!"


"Kami mengerti."


Kedua peserta menjawab dengan kompak.


"Baiklah kita mulai dari hitungan ketiga, Satu... Dua.... Tiga." sang pengawas kembali mundur untuk memberi ruang pada kedua peserta melakukan pertarungan.


"Semoga latihanmu selama ini tidak mengecewakan," peserta nomor 5 berucap sambil membungkukkan badannya sebagai tanda hormat sebelum bertarung.


"Semoga saja, kau juga tidak mengecewakanku," peserta nomor 6 juga melakukan hal yang sama seperti peserta nomor 5.


Kini peserta nomor 5 dan nomor 6 saling berhadap-hadapan, keduanya memasang kuda-kuda yang kokoh. Terlihat bahwa peserta nomor 5 maupun nomor 6 sudah terbiasa melakukan pertarungan, keduanya terlihat tenang walau sebenarnya mereka berdua sedang berusaha mengukur kekuatan lawannya masing-masing.


Peserta nomor 6 melancarkan serangan pertama, ia mengalirkan energi spiritual di kedua telapak tangannya dan melakukan gerakan memukul lawan dengan tangan kanannya. Peserta nomor 5 berhasil mengelak, alhasil peserta nomor 6 hanya meninju udara.


Kembali peserta nomor 6 menggerakkan tangan kirinya dan langsung ditangkis oleh peserta nomor 5, saat peserta nomor 6 kembali menggerakkan tangan kanannya peserta nomor 5 langsung menangkap pergelangan tangan kanan peserta nomor 6.


Tidak berhenti sampai disitu saja, peserta nomor 6 melakukan tendangan menggunakan kaki kanannya. Tendangan itu tepat mengenai ulu hati peserta nomor 5, peserta nomor lima meringis merasakan sakit pada ulu hatinya.


Namun peserta nomor 5 menghiraukan luka yang tidak seberapa itu dan langsung membalas peserta nomor 6 dengan cara bersalto dan mendaratkan tendangan yg cukup kuat tepat mengenai dada sebelah kiri peserta nomor 6.


Peserta nomor 6 terjatuh sambil memegangi dadanya yang terasa sangat sakit, sedikit darah menetes dari sudut bibirnya. Namun peserta nomor 6 kembali bangkit untuk melancarkan serangan berikutnya.

__ADS_1


Kedua peserta sama-sama telah mengalami luka, namun keduanya masih juga saling bertukar serangan. Sudah beberapa jurus yang mereka gunakan dalam pertarungan ini dengan teknik mereka masing-masing, namun hasilnya masih juga sama. Belum ada tanda-tanda dari kedua peserta itu untuk menyerah, keduanya masih asik bertukar serangan.


__ADS_2