
Dengan kematian sang penguasa siluman naga batu beserta para pemimpin bangsa siluman, menandakan perang dimenangkan oleh umat manusia, kini semua umat manusia menata kembali kehidupan yang hampir saja hancur akibat ulah bangsa siluman.
Sementara pasukan siluman kelas teri berlarian tunggang langgang mencari tempat yang sekiranya aman untuk bersembunyi, padahal umat manusia tidak ada niatan untuk menyerang bangsa siluman yang memang tidak berniat untuk melanjutkan pertempuran.
Suasana di perbatasan timur kini kembali sunyi, tidak adalagi suara ledakan ataupun benturan senjata seperti sebelumnya, namun tanah perbatasan timur kembali di hiasi oleh darah segar dari kedua belah pihak.
"Kita masih beruntung, jika saja kita telat mengetahui rencana para siluman itu, kemenangan yang kita raih tidak akan sesingkat ini," ucap ketua Guan Lao.
"Kau benar, ini semua juga berkat anak-anak generasi muda kita! Mereka telah bekerja keras dalam hal ini," ucap tetua Ming Hao.
"Maka dari itu, sebagai penguasa kota, aku harus memberikan gelar sebagai penghargaan pada anak-anak generasi muda."
Semua orang kembali saling bahu-membahu membereskan kekacauan paska pertempuran, sementara tabib Lien kembali disibukan oleh pekerjaannya mengobati para petarung yang mengalami luka. Lien Hua dan tetua Nuwa juga membantu tabib Lien untuk mengobati semua orang yang terluka.
Semua orang yang terluka dikumpulkan menjadi satu agar tabib Lien tidak kerepotan harus berkeliling dalam pengobatannya, Lien Hua mengobati Pang Xiongmao dan Tian Zhao. Sampai saat ini Tian Zhao masih juga belum bangun dari pingsannya.
Sementara tetua Nuwa mengobati Jing Mi dan Jia Li, keduanya mengalami luka dalam dan luka pisik yang cukup parah.
Berbagai macam luka yang para petarung dapatkan hasil dari pertempuran, ada yang hanya mendapat luka ringan, ada yang mendapat luka parah. Bahkan ada beberapa petarung yang harus rela kehilangan organ tubuh seperti lengan atau kakinya.
Namun semangat para petarung masih tetap tinggi untuk bertahan hidup, mereka semua ingin segera kembali berkumpul bersama keluarga dan menjalani kehidupan yang aman dan damai.
Setelah selesai dengan tugasnya, kini tetua Nuwa dan ketua Guan Lao menghampiri Guan Lin.
"Lin'er bangun nak, kau sudah cukup lama tertidur!" tetua Nuwa terus saja mengguncang tubuh Guan Lin, namun Guan Lin masih saja betah untuk menutup mata.
"Ayolah Lin'er, setidaknya bersihkan diri terlebih dahulu baru kau lanjutkan tidurmu!" ketua Guan Lao juga membantu tetua Nuwa membangunkan Guan Lin.
"Aish... Anak ini, masih saja tidak berubah," keluh tetua Nuwa.
"Paman ketua dan bibi tidak usah mengkhawatirkan Guan Lin, biar Tian Zhi yang menemani Guan Lin di sini."
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu paman dan bibimu akan kembali lagi nanti."
"Mn."
Pada akhirnya ketua Guan Lao dan tetua Nuwa kembali berkumpul bersama penguasa Tian Ma dan tetua Ming Hao.
"Jika aku menjadi dirimu, sedah sejak tadi ku siram dia menggunakan sihir air!" Ming Shu sungguh tidak mengerti, kenapa Tian Zhi masih setia duduk disamping Guan Lin yang terlelap dengan bau di sekujur tubuhnya.
Sedangkan Ming Shu telah kembali dengan penampilan rapihnya, sangat berbeda dengan Guan Lin yang notabennya anak pemalas.
"Biarkan dia beristirahat sebentar lagi, jika dia masih juga nyenyak dalam tidurnya, aku akan melakukan saranmu."
"Kau ingin menyiram ku dengan sihir airmu Tian Zhi? Kau sama teganya dengan Ming Shu jika sampai melakukannya!"
"Oh ayolah... badanku terasa remuk semua, bisakah kalian membantuku untuk memberikan sedikit pijatan?!"
"Pemuda yang tidak tahu malu, pergilah cepat bersihkan dirimu, kau masih punya hutang penjelasan padaku!"
"Baiklah,"
"Kau mau ikut denganku Tian Zhi?"
"Pergilah cepat sebelum kau ku panggang sekarang juga."
Bukan Tian Zhi yang memberikan jawaban, melainkan Ming Shu lah yang berkata dengan bola api yang sudah Ming Shu persiapkan di sebelah tangannya untuk membakar Guan Lin jika Guan Lin masih juga tidak mau pergi membersihkan diri.
"Kau semakin hari semakin menyeramkan Ming Shu, pantas saja tidak ada gadis yang mau dekat denganmu!" teriak Guan Lin.
"GUAN LIN!"
Ming Shu kembali terpancing oleh Guan Lin, namun Tian Zhi langsung mengingatkannya.
__ADS_1
"Tidak usah hiraukan dia, atau dia akan semakin menjadi,"
"Kau benar."
Pada akhirnya Ming Shu membiarkan saja Guan Lin berteriak sesuka hatinya, toh jika Ming Shu meladeninya pasti akan berakhir dengan perkelahian seperti saat mereka masih kecil.
Di atas Padang rumput yang kini sudah tidak lagi indah, semua orang berkumpul untuk memberikan penghormatan bagi jiwa-jiwa yang telah berpulang, jasad para petarung yang telah gugur dalam pertempuran di bakar secara bersamaan di atas tanah yang telah terkontaminasi oleh darah.
Setelah ritual penghormatan selesai, semua orang mulai melakukan perjalanan kembali ke pusat kota. Penguasa Tian Ma duduk dengan gagah perkasa di atas kuda di barisan terdepan bersama ketua Guan Lao, tetua Ming Hao dan tetua Nuwa.
Sementara utusan Hong Li memimpin pasukan timur di barisan kedua, utusan Jin Hui juga memimpin pasukan Utara di barisan ketiga. Dan Feng Ying memimpin pasukan yang terluka di barisan keempat, barisan keempat melakukan perjalanan mengunakan kereta kuda sehingga perjalanan mereka memakan waktu yang lebih lama dari barisan kedua dan ketiga. Begitupun dengan Tian Zhao yang ikut serta dalam rombongan barisan keempat.
Dan untuk Tian Zhi, Guan Lin, Ming Shu, Yue Yin dan Lien Hua memilih perjalanan di barisan terakhir yaitu barisan kelima. Selain sambil menikmati perjalanan, juga sambil memantau pasukan yang terluka di barisan keempat.
Tabib Lien sendiri tidak ikut bersama rombongan ke pusat kota, ia memilih melakukan perjalanan beserta beberapa anak buahnya kembali ke desa bunga.
***
Jauh di kedalaman hutan yang ada di kota Utara, seorang anak perempuan berusia sepuluh tahun merintih tertahan saat tiba-tiba saja suara-suara yang entah berasal dari mana merasuki pikirannya.
"Kau adalah bagian dari kami, maka sudah sepatutnya kau yang membalaskan dendam kami, jika kau tidak membalaskan dendam kami maka kau adalah seorang pengkhianat!"
"Kau adalah bagian dari kami......"
"Kau adalah bagian dari kami......"
"Kau adalah bagian dari kami......."
"Tidak, hentikan, tida.....a......k"
Berulang kali anak perempuan itu menggelengkan kepalanya sambil menjambak rambutnya sendiri guna mengusir suara-suara yang mengganggu pikirannya, namun bukannya berhenti suara-suara itu malah semakin menggema dalam pikirannya.
__ADS_1
Bulir keringat sudah membanjiri sekujur tubuhnya, anak perempuan itu berusaha mempertahankan kesadarannya namun pada akhirnya anak perempuan itu tumbang juga.
Anak perempuan itu tergeletak begitu saja di bawah pohon tempat biasanya dia menghabiskan hari-harinya, namun tidak ada satu bintang pun yang berani mendekatinya dikarenakan aura kegelapan yang mengelilingi anak perempuan itu. Dan sesaat kemudian aura kegelapan itu berhasil merasuki anak perempuan itu.