
Setelah kedatangan para pejuang beserta rombongan para siswa dari akademi pedang dan sihir, kini penjaga gerbang timur kembali membukakan pintu gerbang untuk utusan Hong Li yang juga membawa serta para tetua akademi pedang dan sihir.
Setelah beberapa saat kemudian utusan Hong Li tiba di kediaman penguasa kota, penjaga yang melihat kedatangan utusan Hong Li segera melaporkan kedatangannya kepada sang penguasa kota.
"Salam yang mulia, utusan Hong Li telah kembali beserta para tetua akademi pedang dan sihir," ucap penjaga.
"Persilahkan semuanya masuk ke aula utama, saya akan segera kesana."
"Baik yang mulia."
*
Di aula utama semua orang sudah berkumpul, penguasa Tian Ma memasuki aula dan langsung mendapat hormat dari semua orang.
"Salam yang mulia."
Setelah menerima hormat penguasa Tian Ma mengedarkan pandangan dan memperhatikan semua orang yang ada di dalam ruangan, penguasa Tian Ma menarik nafas merasa sedikit kelegaan setelah melihat para sahabatnya bisa bertahan dari peristiwa yang telah terjadi di akademi pedang dan sihir.
"Baguslah kalian semua bisa selamat," ucap penguasa Tian Ma.
"Tapi kami masih belum bisa memastikan keadaan ketua Guan Lao, kami tidak dapat menemukannya walaupun kami telah berusaha mencarinya di seluruh area akademi pedang dan sihir," ucap tetua Ming Hao dengan lesu.
"Tentu saja kalian tidak akan bisa menemukan ketua Guan Lao, karena ketua Guan Lao ada disini sudah beberapa hari."
Ucapan penguasa Tian Ma mengejutkan semua orang yang ada di dalam ruangan termasuk tetua Nuwa, tetua Nuwa yang sebelumnya hampir putus asa kini kembali bersemangat bak di terpa angin segar disaat merasa kepanasan.
"Benarkah itu yang mulia?" tanya tetua Nuwa.
"Mn, Lin'er yang telah membawanya kemari," jawab penguasa Tian Ma.
"Lin'er, benarkah itu? Bukankah saat terjadi penyerangan anak itu sedang tidak berada di akademi?" tetua Yu merasa tidak percaya, pasalnya sebelum terjadi penyerangan, ketua Guan Lao mencari-cari keberadaan Guan Lin namun tidak juga ditemukan, sampai pada akhirnya Pang Xiongmao memberikan isyarat bahwa Guan Lin telah pergi dari akademi.
Sebelumnya ketua Guan Lao dan tetua Yu mengira bahwa Guan Lin mengikuti sang ibu pergi ke desa bunga, namun setelah mendengar cerita tuan Hong Li ternyata Guan Lin pergi ke pusat kota dan melakukan perjalanan bersama Tian Zhi ke desa sunyi.
Dan sekarang tiba-tiba Guan Lin membawa ketua Guan Lao ke pusat kota yang jelas-jelas sebelumnya ketua Guan Lao sedang bertarung di perbatasan akademi. Semua ini membuat kepala tetua Yu semakin berdenyut-denyut, sakit yang awalnya ia rasakan kini bertambah karena terlalu berpikir keras
Terlepas dari itu semua, semua orang merasa bersyukur karena ternyata ketua Guan Lao juga selamat dari peristiwa yang menimpa akademi.
"Yang mulia, bolehkah saya menemui ketua Guan Lao," tanya tetua Nuwa penuh harap.
"Tentu saja, tetua Guan Lao berada di ruang pengobatan bersama Lin'er dan Zhi'er."
__ADS_1
Penguasa Tian Ma memanggil salah satu penjaga dan memerintahkannya untuk mengantarkan tetua Nuwa ke ruang pengobatan.
Tanpa menunda waktu tetua Nuwa segera beranjak keluar dari aula meninggalkan semua orang yang masih berbincang di dalam ruangan.
*
"Ibu," Guan Lin yang melihat sang ibu dari kejauhan berjalan kearahnya, langsung berteriak memanggil sang ibu.
"Lin'er," setengah berlari tetua Nuwa menghampiri sang anak.
"Kau baik-baik saja nak? Ibu sangat mencemaskan mu," tetua Nuwa tak kuasa menahan tangis haru.
Sudah beberapa hari tetua Nuwa seolah kehilangan separuh jiwanya, namun kini separuh jiwanya telah kembali setelah mengetahui anak dan suaminya berada di hadapannya.
Tetua Nuwa mengalihkan perhatiannya pada sosok pria yang selama ini telah menjadi pendamping hidupnya.
Dengan tangan bergetar tetua Nuwa menyentuk wajah sang suami yang terlihat pucat, meski matanya tertutup rapat namun tidak sedikitpun mengurangi karisma yang suaminya miliki.
Tetua Nuwa menyalurkan energi penyembuhan untuk mempercepat proses penyembuhan ketua Guan Lao.
Saat tetua Nuwa masih fokus mengalirkan energi penyembuhan, secara perlahan ketua Guan Lao mulai membuka matanya. Sosok pertama yang tertangkap dalam pandangan ketua Guan Lao adalah wajah pucat sang istri, hal itu membuat ketua Guan Lao merasa sedih.
Saat tetua Nuwa mengakhiri penyembuhannya, dengan perlahan tetua Nuwa membuka matanya. Kedua pasang mata kini saling bertatapan dengan begitu dalam, terselip kekhawatiran yang terpancar diantara pandangan keduanya.
Guan Lin dan Tian Zhi yang menyaksikan adegan didepan matanya ikut terharu, bahkan Pang Xiongmao juga menundukkan kepalanya seperti ikut menghayati adegan yang Pang Xiongmao saksikan.
***
Beberapa hari pun berlalu dengan damai, semua orang mulai pulih dari lukanya masing-masing. Semua siswa juga telah memulai aktifitas pembelajaran di akademi yang dibangun di desa terbuang.
Meski masih dalam keadaan berkabung atas meninggalnya sebagian siswa senior maupun siswa junior dan para guru pembimbing.
Yue Yin, Lien Hua, Ming Shu, Guan Lin dan Tian Zhi juga akan tinggal di desa terbuang sesuai perintah penguasa Tian Ma. Dengan didampingi tetua Yu, kelima anak muda itu akan mengajar para siswa junior di akademi baru di desa terbuang.
"Apa ada yang ingin kau ucapkan setelah membaca surat dariku?" tanya Yue Yin pada Lien Hua.
"Mm... Aku, sebenarnya aku.....!"
"Sudah ku duga, aku tau akhir-akhir ini kita begitu sibuk, tetapi tidak bisakah kau meluangkan waktu meski hanya sebentar saja untuk membaca surat dariku?" ucap Yue Yin dengan kesal.
"Maaf, sebenarnya aku....."
__ADS_1
"Ah sudahlah, sebaiknya aku memang tidak usah mengganggu waktu berharga mu, nona Lien Hua."
Yue Yin pun segera meninggalkan Lien Hua seorang diri di tempat biasa Lien Hua menghabiskan waktu untuk memberikan arahan pada siswa senior akademi, sambil menghentak-hentakkan kedua kakinya Yue Yin berjalan kembali ketempat nya biasa mengajar.
Di tengah perjalanan Yue Yin berpapasan dengan Guan Lin, melihat Yue Yin yang sedang menahan amarah Guan Lin langsung bertanya, "Hei nona Yue Yin, ada apa dengan mu?"
"Tidakkah cucu tetua Yu itu terlalu sombong?! hanya meluangkan waktu sebentar saja untuk membaca surat dariku dia tidak bisa?"
"Oh ya ampun, nona Yue Yin sepertinya telah salah faham terhadap nona Lien, pasti bukan maksud nona Lien untuk mengabaikan surat yang nona Yue Yin berikan." ucap Guan Lien.
"Apa yang kau tau! ini masalah penting, tapi cucu dari tetua Yu itu terlalu sombong sehingga mengabaikan apa yang telah aku anggap penting."
"Tunggu dulu, nona Yue Yin bilang telah memberikan surat kepada nona Lien? Ya ampun nona Yue Yin, bagaimana nona Lien bisa membacanya sedangkan nona Lien tidak bisa melihat."
Yue Yin yang sudah membuka mulutnya hendak kembali protes seketika kaku, "Apa kau bilang? Nona Lien tidak bisa melihat?"
"Bukankah nona Lien sangat luar biasa, bahkan nona Yue Yin yang selalu merasa bahwa dirinya adalah seorang senior pun tidak bisa menyadari apa yang menjadi kekurangan nona Lien," ucap Guan Lien.
"Hah... Semoga saja, setelah ini nona Yue Yin berhenti mengatai nona Lien sombong."
Guan Lien meninggalkan Yue Yin yang masih diam mematung, sekarang Yue Yin sudah yakin bahwa Lien Hua adalah Yu Hua, adik satu-satunya yang telah terpisah sepuluh tahun yang lalu.
Setelah bisa menguasai diri, Yue Yin berlari dengan kencang dan langsung ber hambur memeluk Lien Hua yang masih terdiam sambil menggenggam surat pemberian dari Yue Yin.
"Yu Hua," Yue Yin berucap lirih.
Lien Hua yang mendengar Yue Yin memanggil namanya Yu Hua, langsung menegang dalam pelukan Yue Yin.
"Kak Yu Yin," Lien Hua juga berucap lirih.
"Mn," Yue Yin masih saja terisak.
"Syukurlah ternyata Hua'er juga selamat, selama ini kehidupan kakak selalu terbayang-bayang saat perpisahan kita sepuluh tahun yang lalu."
"Mn, Lien Hua juga sama."
Tetua Yu yang hendak menemui sang cucu tertegun, tetua Yu mendengar semua percakapan antara Yue Yin dan Lien Hua.
Tetua Yu menghampiri Lien Hua dan memanggilnya pelan, "Hua'er."
Lien Hua dan Yue Yin melepaskan diri dari pelukan, kemudian Lien Hua mendekat pada sang kakek sambil mengandeng tangan Yue Yin, "Kakek, senior Yue Yin ini ternyata adalah kak Yu Yin."
__ADS_1
Lien Hua pun mulai menjelaskan awal pertemuannya dengan tetua Yu kepada Yue Yin, tetua Yu dan Lien Hua bisa saling mengenal karena giok peninggalan sang ibu yang diberikan kepada Lien Hua.
Yue Yin juga pernah mendengar cerita tentang ibunya yang memang berasal dari keluarga Yu, namun Yue Yin tidak tau kisah tentang kehidupan masa lalu sang ibu karena sang ibu ternyata hanya bercerita pada Lien Hua.