Pertarungan Tanpa Akhir

Pertarungan Tanpa Akhir
Zhi Lin


__ADS_3

"Kau sudah bangun rupanya."


Suara seseorang menyadarkan Zhi Lin dari lamunannya, seorang wanita paruh baya menghampiri Zhi Lin dengan semangkuk bubur ditangannya.


"Ku pikir kau tidak akan bangun lagi, tidur sudah seperti mayat saja."


"Guru, aku_"


"Tiga hari yang lalu aku menemukanmu tergeletak didalam hutan, ada apa? Apa sesuatu terjadi padamu?"


"Apa! tiga hari? Itu artinya Zhi Lin tertidur selama tiga hari?!"


"Mn, kau masih beruntung! Jika kau telat bangun beberapa menit saja, maka kau harus berjuang untuk bangkit dari dalam kuburmu," wanita paruh baya itu berucap dengan ekspresi datar, sama sekali tidak terlihat sedang bercanda.


Zhi Lin hanya bisa menghela nafas mendengar ucapan yang terlontar dari mulut sang guru.


"Makanlah, setelah itu baru lanjut bicara."


Wanita paruh baya itu terlihat berusia sekitaran 65 tahunan, namun pada kenyataannya wanita paruh baya itu sudah berusia 99 tahun.


Shilin nama dari wanita paruh baya itu, Shilin adalah satu-satunya wanita tertua di daratan timur, kehadirannya pun tidak diketahui siapapun dikarenakan Shilin memilih hidup menyendiri di kedalaman hutan yang terletak di kota Utara. Namun bukan berarti Shilin tidak mengetahui apapun yang terjadi di dunia luar, hanya saja Shilin terlalu malas untuk ikut campur urusan umat manusia ataupun bangsa siluman.


Dan sepuluh tahun yang lalu Shilin kedatangan tamu kecil di kediamannya, pada akhirnya Shilin merawat bayi kecil itu sampai sekarang. Shilin menamai bayi kecil itu Zhi Lin, dan sekarang Zhi Lin menjadi murid satu-satunya Shilin.


Setelah menghabiskan setengah mangkok bubur buatan Shilin, Zhi Lin mulai bercerita.


"Saat didalam hutan, Zhi Lin mendengar suara-suara saling bersahutan didalam pikiran Zhi Lin. Zhi Lin tidak tau kenapa, tetapi Zhi Lin merasa familiar dengan suara-suara itu."


"Guru apakah guru mengetahui dari mana asal usulku sebenarnya?"


"Kenapa tiba-tiba bertanya? Sudah kubilang aku menemukanmu didepan kediamanku, jadi aku tidak tau darimana asal usulmu. Entah orang tua mana yang tega menelantarkan anaknya yang baru saja dilahirkan, yang pasti orang tua seperti mereka tidak patut disebut orang tua!"

__ADS_1


Zhi Lin tertegun, walau setiap hari berinteraksi dengan gurunya Zhi Lin masih saja sering merasa sedikit ter sentil perasaannya oleh sipat sang guru yang terkesan tempramental.


"Memangnya kau mendengar mereka berbicara apa? heh,"


"Suara-suara itu bilang..... a-aku adalah bagian dari mereka," Zhi Lin berucap sambil menunduk.


Ekspresi wajah Shilin berubah kaku, ia menatap murid satu-satunya dengan seksama.


"Sepertinya kau memang bagian dari mereka!"


Zhi Lin melongo, tidak mengerti apa maksud dari perkataan sang guru Zhi Lin pun bertanya, "Apa guru mengetahui sesuatu?"


"Tidak, hanya menebak saja," ekspresi Shilin kembali datar.


Zhi Lin sangat tahu sikap sang guru yang memang tidak pernah perduli tentang hal apapun, maka dari itu Zhi Lin bertekad akan mencari tahunya sendiri.


"Guru, bolehkah Zhi Lin meminta izin?"


"Kau ingin pergi ke kota dan berbaur bersama orang-orang yang ada di kota itu?!"


Inilah salah satu kelebihan yang dimiliki oleh gurunya, gurunya ini selalu bisa menebak tepat sasaran, persis seperti seorang cenayang yang selalu serba tahu.


Sambil menunggu jawaban yang tak kunjung juga keluar dari mulut sang guru, Zhi Lin meremas pakaiannya untuk mengurangi kegugupan yang ia rasakan, berhadapan dengan sang guru yang tempramental membuat Zhi Lin selalu was-was saat berhadapan dengannya.


"Baiklah, mungkin memang sudah saatnya kau melihat dunia luar. Tapi ingat, selalu berhati-hati dan jangan mudah percaya pada siapapun. Orang yang terlihat baik belum tentu orang baik."


"Terima kasih guru."


***


Tian Zhao dan utusan Jin Hui beserta seluruh rombongan para petarung kembali ke kota Utara, untuk pertama kalinya utusan Jin Hui meninggalkan kota timur dan akan menetap di kota Utara dengan waktu yang cukup lama.

__ADS_1


Beruntung utusan Jin Hui masih belum mempunyai pasangan, sehingga mudah saja bagi utusan Jin Hui untuk bertugas dan tinggal dimanapun.


Setelah menempuh perjalanan yang sangat melelahkan akhirnya Tian Zhao, utusan Jin Hui beserta rombongan tiba di gerbang kota Utara. Para penjaga menyambut dengan suka cita kedatangan para pasukan yang dipimpin oleh Tian Zhao. Namun sesaat kemudian mereka semua terdiam setelah memastikan tidak ada sang penguasa kota Utara diantara rombongan yang kembali dari Medan perang.


Suara bisik-bisik terdengar diantara para kerumunan warga yang ikut menyambut kepulangan para pasukan tempur, pasalnya kini yang kembali dari Medan tempur hanya tinggal sedikit, bahkan tidak ada sepertiga dari jumlah sebelum para pasukan berangkat. Dan dengan tidak adanya sang penguasa kota membuat semua orang berkesimpulan bahwa kota Utara telah kalah.


Utusan Jin Hui yang menyadari ekspresi semua orang berubah kecewa, langsung menyarankan Tian Zhao untuk mengucapkan beberapa patah kata terkait peristiwa perang dan akhir dari kesimpulan.


Tian Zhao mengangguk dan mulai membuka suara yang dialiri energi spiritual agar semua orang bisa mendengarnya dengan jelas.


"Para warga semuanya, Saya Tian Zhao yang akan menggantikan ayah menjadi penguasa kota dikarenakan ayah telah gugur saat di Medan perang. Namun kalian semua tidak perlu khawatir. Meski kita kalah dalam perang, kota kita masih menjadi kota milik kita. Penguasa kota timur tidak ada niat untuk menguasai kota kita, maka dari itu sudah dibuat perjanjian antara kota Utara dan kota timur. Kedepannya tidak akan pernah lagi ada yang boleh mengangkat senjata untuk berperang, dengan kata lain kita berdamai dan akan hidup saling berdampingan."


Setelah mendengar ucapan Tian Zhao, barulah semua warga bisa bernafas lega. Mereka semua sudah ketakutan jika nantinya kota Utara diambil alih dan akan merubah nasib mereka semua menjadi lebih buruk.


Pada awalnya semua warga tidak pernah setuju dengan keputusan sang penguasa kota untuk berperang, namun mereka hanyalah rakyat jelata yang jika berteriak pun tidak akan ada yang mendengarkan teriakan mereka. Apalagi sebelumnya kota Utara didominasi oleh orang-orang berjubah hitam yang selalu berbuat semena-menanya, semua warga tidak ada yang berani melawan dikarenakan orang-orang berjubah hitam mendapat dukungan dari istri tercinta sang penguasa kota.


"Baiklah, mulai sekarang mari kita susun kembali kehidupan kita menjadi lebih baik," ucap Tian Zhao.


"Semoga penguasa kota panjang umur dan selalu diberkahi."


"Hidup penguasa kota!" Pemimpin penjaga gerbang mewakili ucapan semua orang.


"Hidup penguasa kota."


"Hidup penguasa kota."


"Hidup penguasa kota."


Suara sorakan semua warga mengiringi perjalanan Tian Zhao menuju kediaman penguasa kota. Di sudut jalan berdiri seorang gadis kecil yang terus memperhatikan Tian Zhao, gadis itu tidak lain adalah Zhi Lin.


Zhi Lin mengepalkan kedua tangannya sampai merembes darah akibat kuku-kuku tajamnya menusuk telapak tangannya sendiri, buku-buku jarinya sampai memutih saking kerasnya Zhi Lin meremas tangannya sendiri.

__ADS_1


Tatapan Zhi Lin tidak pernah beralih dari anak muda berparas tampan yang duduk dengan gagah di atas kuda, Zhi Lin yakin bahwa anak muda itulah yang hadir dalam gambaran didalam mimpinya.


"Aku harus mencari tahu kebenarannya," gumam Zhi Lin.


__ADS_2