Pertarungan Tanpa Akhir

Pertarungan Tanpa Akhir
Babak kedua : Adu kekuatan


__ADS_3

Satu jam waktu istirahat telah berlalu, kini semua orang kembali berkumpul di area kompetisi. Tujuh peserta kini berbaris di lapangan sesuai instruksi sang pemimpin acara, mereka menantikan seleksi yang akan segera dimulai.


"Kompetisi yang kedua adalah adu kekuatan! Ketujuh peserta akan bertanding satu lawan satu, tapi sebelum itu silahkan ketujuh peserta mengambil nomor urutan masing-masing didalam kotak ini."


Ketujuh peserta maju satu persatu dan mengambil nomor urutan secara acak dan kembali ke tempatnya masing-masing.


Pemimpin acara kembali melanjutkan, "Berhubung jumlah peserta ada tujuh orang, maka salah satu dari kalian akan diloloskan diputaran pertama dan akan langsung lolos ke babak selanjutnya."


"Selamat kepada peserta yang mendapatkan nomor urutan 7, kami nyatakan lolos diputaran pertama!"


Semua orang bertepuk tangan dengan rasa penasaran akan siapakah yang beruntung mendapatkan nomor urutan 7, yang sudah dipastikan lolos keputaran selanjutnya.


Ketujuh peserta melihat nomor urutan mereka masing-masing, keenam peserta menghela nafas merasa kecewa karena bukan angka 7 yang tertera di nomor urutan mereka.


Zhi Lin hanya diam saja tanpa ada ekspresi senang, kaget atau apapun itu. Membuat semua orang tidak menyangka bahwa angka 7 tertera di nomor urutannya.


"Baiklah kita mulai sekarang juga! Bagi peserta yang mendapatkan urutan nomor 1 dan 2 silahkan memasuki lapangan.


Peserta yang memegang urutan nomor 1 dan 2 beranjak dari duduknya dan mulai melangkah, keduanya sampai di tengah lapangan secara bersamaan.


Petarung yang akan menjadi pengawas telah siap di posisinya, dengan suara lantang pengawas itu memberitahukan peraturan tentang seleksi kedua yaitu adu kekuatan.


"Dalam babak ini kalian boleh mengeluarkan semua kemampuan kalian, tapi ingat jangan sampai menghilangkan nyawa lawan tanding kalian. Jika sudah tidak sanggup maka kalian bisa menyerah, ini bukan pertarungan antara hidup dan mati, tapi hanya sebatas kompetisi!"


"Kalian boleh memilih senjata yang telah disediakan, disini tersedia pedang kayu, tongkat kayu dan cambuk. kalian juga diperbolehkan menggunakan teknik apapun asal jangan menggunakan racun ataupun trik tipuan, karena ini kompetisi adu kekuatan. Jika kalian melanggarnya, maka kalian akan didiskualifikasi."


Petarung yang menjadi pengawas kembali melanjutkan, "Dan yang harus kalian ingat, jangan sampai diantara kalian melewati garis pembatas, karena akan dinyatakan kalah meskipun itu tidak sengaja. Kalian mengerti?"


"Kami mengerti!"


Kedua peserta memilih senjata yang akan mereka pakai untuk bertarung, peserta nomor 1 memilih pedang kayu sebagai senjatanya, karena peserta nomor 1 biasa menggunakan teknik berpedang.

__ADS_1


Begitupun dengan peserta nomor 2 yang juga memilih pedang sebagai senjatanya, peserta nomor 2 juga menguasai beberapa teknik berpedang.


Setelah memilih senjata masing-masing, kini


kedua peserta itu berdiri saling berhadap-hadapan, pengawas yang berdiri diantara mereka memberi aba-aba sebagai tanda pertarungan dimulai.


"Baiklah kita mulai setelah hitungan ketiga, Satu... dua... tiga."


Setelah hitungan ketiga, pengawas itu mundur untuk memberi ruang bagi peserta yang akan bertanding.


Peserta dengan urutan nomor 1 membungkukkan badannya terlebih dahulu sebagai tanda hormat, yang juga dilakukan oleh peserta dengan urutan nomor 2.


Setelah saling memberi hormat, pertarungan pun dimulai dengan peserta nomor 1 yang langsung menyerang peserta nomor dua dengan pedangnya, peserta nomor dua langsung menangkis serangan yang dilancarkan oleh peserta nomor 1.


"Teknik yang bagus, tapi itu terlalu lambat sehingga aku bisa dengan jelas membaca pergerakan mu," ucap peserta nomor 2.


"tck, jangan sombong dulu, ini baru permulaan."


Dengan gerakan memutar peserta nomor 2 mengayunkan pedangnya hendak menebas kaki peserta nomor 1, peserta nomor 1 merasa yakin bahwa serangannya akan mengenai lawan, sehingga peserta nomor 1 lalai dalam pertahanannya.


Pedang kayu yang di gunakan peserta nomor 2 sukses mendarat di kaki kiri peserta nomor satu, peserta nomor satu oleng sesaat. Peserta nomor 2 tidak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk kembali melakukan serangan.


Tidak tanggung-tanggung, peserta nomor 2 terus memukul mundur peserta nomor 1, peserta nomor satu berusaha bertahan namun ia melupakan satu poin penting. Peserta no 1 tidak menyadari bahwa kakinya telah berpijak sebelah di luar garis perbatasan.


Dengan gerakan cepat peserta nomor 2 memberikan tendangan pada dada peserta nomor satu, peserta nomor satu terhempas kebelakang dan melewati garis pembatas.


"Peserta dengan urutan nomor 2 telah memenangkan pertandingan di putaran pertama."


"Selamat untuk peserta nomor 2, silahkan kembali ketempat sebelumnya!" ucap sang pengawas.


Peserta nomor 1 terkejut saat mendengar sang pengawas telah mengumumkan pemenang dalam pertandingan, padahal ia belum menyatakan untuk menyerah. Sampai kedua bola matanya hampir keluar karena merasa tidak terima.

__ADS_1


Peserta nomor satu hendak memprotes, namun suara sorak dan tepuk tangan para penonton menyadarkan akan posisinya yang kini terduduk di luar garis pembatas.


"Arh... Sial, kenapa aku harus melupakan poin ini?!" peserta nomor 1 merasa frustasi dengan kekalahannya, ia langsung berbalik dengan muka merah padam.


Peserta nomor 1 pergi dari tempat kompetisi dengan menahan rasa malu, beberapa pasang mata menyorotinya sampai peserta nomor 1 benar-benar hilang dalam pandangan.


Sementara peserta nomor 2 kembali ketempat semula, duduk bersebelahan dengan para peserta lainnya.


"Berikutnya adalah peserta dengan urutan nomor 3 dan 4, silahkan memasuki lapangan!"


Dua peserta merasa terpanggil karena mereka berdua mendapatkan nomor urutan yang disebutkan. Peserta nomor 3 dan 4 beranjak dari duduknya dan maju kelapangan secara bersamaan.


Sang pengawas kembali mengulang peraturan yang telah ia sebutkan sebelumnya pada pasangan nomor 1 dan 2.


Peserta nomor 3 memilih senjata tongkat kayu karena ia menguasai beberapa teknik bertarung menggunakan tongkat.


Sementara peserta nomor 4 memilih senjata berupa cambuk, karena ia merasa lebih nyaman saat bertarung menggunakan cambuk.


Setelah keduanya memilih senjata masing-masing, kini peserta nomor 3 dan 4 kembali berhadap-hadapan ditengah area.


"Kalian berdua siap?"


Pengawas kembali melanjutkan setelah mendapat anggukan dari kedua peserta, "Baiklah kita mulai setelah hitungan ketiga, satu.... dua.... tiga."


Kembali sang pengawas mundur untuk memberikan ruang bagi para peserta untuk bertanding.


Kedua peserta membungkukkan badannya sebagai penghormatan sebelum bertarung, kemudian mulai mengeratkan pegangannya pada senjata yang dipegang masing-masing.


Beberapa detik berlalu namun belum juga ada yang melakukan serangan. Peserta nomor 3 mulai berjalan mendekat secara perlahan. Sementara peserta nomor 4 diam ditempat menunggu peserta nomor 3 melancarkan aksinya terlebih dahulu, terlebih ia menggunakan cambuk sebagai senjatanya yang mengharuskan menjaga jarak agar bisa melancarkan serangan dengan maksimal.


Kedua peserta tidak ingin melakukan kecerobohan seperti peserta nomor 1 yang akhirnya menjadi pecundang setelah dinyatakan kalah.

__ADS_1


__ADS_2