Pertarungan Tanpa Akhir

Pertarungan Tanpa Akhir
Hancurnya segel perbatasan


__ADS_3

Hati Yue Yin bergetar saat melihat Lien Hua, ingin sekali Yue Yin bertanya langsung apakah Lien Hua benar-benar Yu Hua, namun melihat kelincahan Lien Hua saat bertarung menghabisi para siluman laba laba, seketika keraguan kembali menyergap perasaan Yue Yin.


Mungkinkah adiknya yang dulu tidak bisa melihat sejak dia lahir bisa menjadi seorang gadis sehebat itu.


Saat jarak antara Yue Yin dan Lien Hua semakin dekat, Yue Yin pun memanggil Lien Hua, "Yu Hua."


Gerakan tangan Lien Hua terhenti saat mendengar seseorang memanggil namanya dengan nama Yu Hua, namun saat Lien Hua hendak berbalik, seekor burung cantik terbang dari kejauhan dan hinggap di bahu Lien Hua.


Burung cantik itu membisikan sesuatu ke telinga Lien Hua, dengan gerakan cepat Lien Hua melesat meninggalkan pertarungan yang hampir di menangkannya.


"Nona Lien!" Yue Yin memanggil Lien Hua saat melihat Lien Hua pergi meninggalkan area pertarungan begitu saja.


"Akademi pedang dan sihir sedang di serang oleh sekumpulan siluman laba laba, dan siluman rubah sedang berusaha menghancurkan segel perbatasan!" Lien Hua berkata dengan menggunakan energi pada suaranya.


Semua orang mendengar ucapan Lien Hua yang mengatakan bahwa akademi sedang di serang, segera menyelesaikan pertarungan dan bersiap untuk kembali ke akademi.


Tetua Nuwa dan tetua Ming Hao melesat bersamaan dengan Lien Hua, meninggalkan Ming Shu dan yang lainnya untuk menyelesaikan permasalahan yang ada di desa bunga.


Yue Yin juga mengikuti Lien Hua karena merasa khawatir jika hal besar akan terjadi di akademi pedang dan sihir, Yue Yin teringat akan ucapan Guan Lin yang mengatakan bahwa segel perbatasan sudah semakin melemah.


"Kenapa kita begitu ceroboh, seharusnya cukup salah satu dari kita yang keluar dari akademi!"sesal tetua Nuwa.


"Siapa yang tahu bahwa para siluman itu akan menyerang langsung ke akademi," timpal tetua Ming Hao.


"Sepertinya para siluman itu mengetahui pergerakan kita, sehingga bisa bergerak di waktu yang tepat." ucap Lien Hua.


Saat jarak mereka semakin dekat dengan akademi pedang dan sihir, mereka bisa melihat perubahan cuaca yang ekstrim di akademi.


Awan hitam berkumpul di atas permukaan akademi, bukan hanya itu saja, bahkan kini juga terdengar suara petir menggelegar saling bersahut-sahutan.


Badai menggulung dan menerjang apa saja di wilayah akademi, banyak pohon-pohon tumbang dan bangunan juga banyak yang roboh.


Mereka semakin mempercepat perjalananan, melesat dan sesekali menapakkan kaki dari pohon satu ke pohon lainnya.


*

__ADS_1


Utusan Jin Hui membantu tetua Yu yang kewalahan menghadapi Er, sudah lama tetua Yu melawan Er dan kini tetu Yu hampir kehabisan energi spiritualnya, bahkan tubuh tua nya sudah hampir menyerah karena kekuatan fisiknya sudah tidak seberapa.


Sementara para petarung bergabung bersama para guru pembimbing menghadapi pasukan siluman laba laba yang jumlahnya sudah mulai berkurang, sehingga para siswa senior kini bisa fokus dalam penyelamatan siswa junior.


Semua siswa junior di arahkan untuk segera keluar dari akademi, Sementara para siswa senior memimpin jalan sambil melindungi para siswa junior dari serangan nyasar.


Salah satu petarung membantu memimpin jalan di barisan paling depan, petarung itu memberitahukan untuk semua para siswa pergi ke pusat kota sesuai perintah utusan Jin Hui.


*


Sementara ketua Guan Lao kini sudah bersimbah darah, selain dari serangan Yi, ketua Guan Lao juga menerima tekanan dari aura yang di keluar siluman rubah saat siluman rubah itu menggunakan sihir kegelapan untuk merusak segel perbatasan.


Begitu juga dengan Yi, kondisi Yi juga tidak jauh berbeda dengan ketua Guan Lao, berada di jarak dekat dengan siluman rubah membuat Yi juga tertekan oleh aura yang keluar dari siluman rubah.


***


Dalam perjalanan, Guan Lin mulai menceritakan tentang giok teleportasi kepada Tian Zhi, dan saat Guan Lin sedang asyik bercerita, tiba-tiba Guan Lin terhenti sambil memegang dadanya.


"Kenapa?" tanya Tian Zhi.


"Mungkin kau kelelahan, sekarang beristirahatlah." saran Tian Zhi.


"Tidak Tian Zhi, aku merasa sangat gelisah, sepertinya telah terjadi sesuatu,"


"Aku harus segera kembali ke akademi, kita berpisah disini Tian Zhi, berhati-hatilah di perjalanan."


Guan Lin mengeluarkan giok teleportasi dan memusatkan pikiran kearah titik timur sambil menyalurkan energi spiritualnya. Guan Lin yakin bahwa titik itu akan mengantarkan Guan Lin ke akademi pedang dan sihir.


"Berhati-hatilah," Tian Zhi berpesan pada Guan Lin sebelum Guan Lin menghilang dari pandangannya.


***


Lien Hua, tetua Nuwa, tetua Ming Hao dan Yue Yin terlambat untuk menggagalkan rencana siluman rubah, sebelum mereka sampai di akademi, segel perbatasan sudah mulai retak dan tak lama kemudian ledakan yang dahsyat tercipta saat segel perbatasan benar-benar hancur.


Semua yang ada di sekitar perbatasan tersapu bersih oleh ledakan hancurnya segel perbatasan, beruntung sebagian penghuni akademi telah berhasil keluar dari jangkauan ledakan.

__ADS_1


Sementara sebagian lagi tidak terselamatkan dan berakhir mati di tempat, bukan hanya penghuni akademi pedang dan sihir, semua para siluman laba laba juga terkena imbas dari ledakan.


Setelah ledakan yang maha dahsyat itu berhenti, suasana akademi menjadi hening. Kosong tidak ada lagi satu tanda kehidupan pun yang masih bertahan, semuanya hancur.


Semua bangunan runtuh begitu juga semua pepohonan tumbang ke segala arah, kini yang tersisa hanya puing-puing yang masih mengeluarkan asap, sisa-sisa dari keganasan ledakan yang baru saja membuka perbatasan.


Kini perbatasan itu sudah terbuka, siapa saja sudah bisa melewati garis perbatasan, hanya saja untuk saat ini tidak ada satu pihak pun yang berani melewati perbatasan itu.


Umat manusia dan bangsa siluman belum berani untuk melanggar batasannya masing-masing, bahkan siluman rubah yang telah merusak segel perbatasan pun kini menghilang entah kemana.


*


Tetua Ming Hao mengusap wajahnya dengan kasar, rasa penyesalan kini menghantui pikirannya.


"Semua sudah terjadi, sekarang kita selamatkan yang masih bisa diselamatkan," ucap tetua Nuwa.


"Tetua Nuwa benar," ucap tetua Ming Hao pada akhirnya.


"Di depan sana, aku masih bisa merasakan banyak energi kehidupan," ucap Lien Hua.


Mendengar ucapan Lien Hua, tetua Nuwa dan tetua Ming Hao merasakan setitik harapan. Tetua Nuwa dan tetua Ming Hao sangat berharap semua orang bisa lolos dari tragedi ini.


Lien Hua menghentikan langkahnya saat merasakan ada energi kehidupan walaupun terasa samar, "Ada yang masih hidup disekitar sini," Lien Hua berucap, "Salah satunya adalah energi kehidupan kakek Yu."


Lien Hua berjalan semakin mendekat ke arah tumpukan bangunan, lalu mengeluarkan sihirnya untuk menyingkirkan puing-puing yang saling bertumpuk.


Setelah puing-puing berhasil di singkirkan, nampak lah tiga sosok yang sudah berlumuran darah, namun masih bernafas meskipun lemah.


Tetua Ming Hao memperhatikan ketiganya dengan seksama, tetua Ming Hao langsung menarik pedang dan menusuk tepat di jantung salah satu diantara tiga orang yang tetua Ming Hao perhatikan.


Tetua Nuwa terkejut melihat tetua Ming Hao yang langsung membunuh salah satu dari ketiga orang itu, namun setelah di perhatikan kini tetua Nuwa juga ingin melakukan hal yang sama seperti tetua Ming Hao, karena salah satu dari tiga orang yang mereka temukan adalah siluman laba laba.


Sementara dua lainnya adalah tetua Yu dan utusan jin Hui. Lien Hua langsung mengalirkan energi kehidupan miliknya pada tetua Yu, ini adalah kali kedua Lien Hua mentransferkan energi kehidupannya setelah menyelamatkan Pang Xiongmao.


Sementara kondisi utusan Jin Hui tidak separah tetua Yu, sehingga hanya dialiri energi penyembuhan saja sudah cukup.

__ADS_1


__ADS_2