
Sebuah kereta kuda memasuki gerbang akademi pedang dan sihir, kereta kuda itu berhenti tepat di halaman akademi.
Penjaga yang melihat Guan Lin turun dari kereta kuda bersama seorang gadis dan juga seekor panda langsung mendekat dan memberi hormat.
"Salam tuan muda."
"Akhirnya tuan muda kembali dengan selamat, kami sangat mengkhawatirkan tuan muda selama ini," salah satu penjaga berucap sebagai perwakilan dari teman temannya.
"Terimakasih karena kalian sudah perduli padaku," balas Guan Lin.
"Apa ayah dan ibuku ada di akademi?" tanya Guan Lin.
"Ada tuan muda, tetua Nuwa baru saja tiba. Sudah beberapa hari tetua Nuwa sibuk mencari tuan muda di luaran sana," jawab si penjaga.
"Baiklah, kalau begitu kami masuk dulu," ucap Guan Lin.
"Silahkan tuan muda."
Guan Lin pun mengajak Lien Hua dan Pang Xiongmao masuk kedalam akademi, di halaman akademi nampak sepi karena para siswa sedang beristirahat setelah menjalani pelatihan di sore hari.
Guan Lin mengajak Lien Hua dan Pang Xiongmao masuk kedalam kediaman ketua Guan Lao, setelah beberapa kali mengetuk pintu akhirnya pintu pun terbuka dan nampak lah seorang wanita yang selama ini sangat Guan Lin rindukan.
Guan Lin langsung memeluk wanita yang meski usianya sudah tidak lagi muda namun masih tetap terlihat sangat cantik.
"Ibu, Guan Lin sangat merindukan ibu."
"Ibu juga sangat rindu pada anak ibu yang nakal ini." tetua Nuwa tidak kuasa menahan cairan bening yang mengalir dari kedua matanya, cairan bening itu menetes begitu saja tanpa di perintah.
"Lin'er, kau kembali," suara berkarisma itu yang juga sangat Guan Lin rindukan, suara dari sang ayah yang selalu memberikan Guan Lin kasih sayang tanpa batas.
"Ayah, Guan Lin sangat merindukan ayah."
"Ayah juga sangat merindukan Lin'er, kemari lah." ketua Guan Lao merentangkan kedua tangannya menyambut pelukan dari sang anak.
Meskipun kini Guan Lin sudah berusi tiga belas tahu, tapi di hati ketua Guan Lao, Guan Lin masihlah sama seperti Guan Lin kecil yang selalu ketua Guan Lao manjakan.
Sudah lebih dari dua tahun pasangan anak dan kedua orang tua ini tidak pernah saling bertemu, suasana haru pun kini menyelimuti kediaman ketua Guan Lao.
__ADS_1
Setelah melepas rindu dengan berpelukan kini Guan Lin mulai memperkenalkan Lien Hua dan Pang Xiongmao kepada ayah dan ibu nya.
"Ayah, ibu, ini nona Lien Hua dan ini Pang Xiongmao, mereka berdua adalah teman Guan Lin."
"Saya sudah mendengar cerita dari para siswa senior tentang nona Lien Hua dan juga Pang Xiongmao, saya sebagai orang tua dari Guan Lin mengucapkan banyak terimakasih karena sudah melindungi dan menemani Guan Lin selama ini," ucap tetua Nuwa dengan tulus.
"Kami berteman dan itu sudah menjadi kewajiban kami untuk saling membantu sesama teman," balas Lien Hua.
Sementara Pang Xiongmao hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas ucapan tetua Nuwa.
"Panda yang pintar," puji tetua Nuwa.
"Lin'er, antar lah non Lien dan Pang Xiongmao untuk beristirahat, kalian pasti lelah setelah melakukan perjalanan!" ucap ketua Guan Lao.
"Baik ayah,"
Guan Lien pun mengajak Lien Hua dan Pang Xiongmao untuk beristirahat, sementara tetua Nuwa akan menyiapkan masakan khusus untuk keluarga kecilnya yang kini telah berkumpul kembali. Tetua Nuwa sengaja memasak sangat banyak karena tetua Nuwa tau bahwa porsi makan Pang Xiongmao sangatlah banyak, sebelumnya siswa senior pun juga telah memberitahu dengan sangat detail sampai kebiasaan makan Pang Xiongmao pun mereka bicarakan.
Setelah tetua Nuwa sampai di akademi, hal pertama yang tetua Nuwa lakukan adalah, memanggil beberapa siswa senior yang pulang dari desa sunyi untuk menanyakan hal apa saja yang berhubungan dengan Guan Lin.
Dengan wajah ceria tetua Nuwa mulai sibuk dengan bahan-bahan yang akan tetua Nuwa olah menjadi masakan kesukaan Guan Lin.
Acara makan bersama pun di mulai setelah kedatangan ketua Guan Lao, Guan Lin dan Pang Xiongmao nampak bersemangat saat memakan masakan tetua Nuwa, dan itu membuat tetua Nuwa merasa sangat senang.
Setiap diajak makan bersama, Lien Hua pasti akan menolaknya dengan cara halus dan lebih memilih makan sendiri atau menikmati suasana sendiri.
Seperti saat ini, Lien Hua duduk sambil bersandar pada sebuah pohon besar yang ada di halaman belakang akademi.
"Yu Ning,"
Lien Hua mendengar suara langkah kaki mendekat kearahnya, semakin mendekat orang itu kembali bertanya.
"Yu Ning, kau kah itu nak?"
Lien Hua yakin bahwa pertanyaan dari lelaki tua yang kini mendekat kearahnya ditujukan kepadanya.
"Maaf, nama saya Lien Hua, bukan Yu Ning," jawab Lien Hua dengan suara bergetar.
__ADS_1
"Yah kau benar, kau masih sangat muda sedangkan Yu Ning saat ini pasti sudah berusia sekitaran empat puluh tahun, tapi kau persis sekali seperti Yu Ning saat masih seusiamu," ucap lelaki tua itu.
"Anda siapa? kenapa anda mengenal seorang wanita yang bernama Yu Ning?" tanya Lien Hua.
"Saya tetua Yu, salah satu tetua di akademi ini," Jawab tetua Yu
"Apa sebelumnya anda pernah tinggal di desa harapan?" tanya Lien Hua.
"Tentu saja, dan aku adalah seorang pemimpin di desa harapan. Yah sebelum desa itu hancur dua puluh tahun yang lalu karena serangan dari para siluman laba laba yang menjelma menjadi manusi berjubah hitam." Tetua Yu kini kembali mengenang masa lalunya saat tetua Yu menjadi seorang pemimpin di desa harapan.
Sebenarnya tetua Yu adalah tipe orang yang sangat tertutup apalagi tentang masa lalunya, namun entah mengapa tetua Yu bercerita tentang masa lalunya begitu saja pada Lien Hua. Mungkin saja karena tentu Yu merasa rindu pada putri semata wayangnya yang telah terpisah selama dua puluh tahun.
"Tidak mungkin,"
Lien Hua sangat terkejut setelah mengetahui identitas asli dari tetua Yu.
"Bisakah, Tetua Yu mengatakan nama asli anda?" pinta Lien Hua.
Tetua Yu nampak berpikir sebelum ia menjawab. "Nama saya adalah Yu Ming," pada akhirnya tetua Yu pun memberitahukan nama aslinya yang selama ini hanya putri semata wayangnya lah yang tahu nama asli dari tetua Yu.
Kini Lien Hua semakin yakin bahwa lelaki tua yang ada dihadapannya ini adalah seorang ayah dari ibunya yang selama ini ibunya kira telah meninggal, begitupun tetua Yu yang mengira bahwa sang putri semata wayangnya juga telah meninggal.
"Aku adalah putri dari ibu Yu Ning,"
Lien Hua berucap sambil menyerahkan sebuah giok pemberian dari sang ibu, tetua Yu menatap lekat giok yang di berikan oleh Lien Hua, sebuah giok yang terdapat ukiran huruf Yu di dalamnya.
"Yu Ning, putriku, ternyata kau masih hidup nak," tetua Yu berkata dengan lirih sambil memeluk giok yang ada ditangannya.
"Lien'er, itu artinya kau adalah cucuku."
Tetua Yu sangat senang mengetahui putri semata wayangnya telah memberikan seorang cucu yang sangat cantik persis seperti ibunya.
"Lien'er, di mana ibumu sekarang? beritahu kakek, kakek ingin bertemu dengan ibumu sekarang juga." tetua Yu sudah tidak sabar untuk bertemu dengan putri sematawayangnya.
"Maaf kakek, kakek tidak bisa bertemu dengan ibu," ucap Lien Hua dengan lirih.
Tetua Yu mengernyitkan keningnya tidak mengerti dengan apa yang cucunya katakan.
__ADS_1
"Kenapa Lien'er?" tanya tetua Yu dengan heran.
"Karena......."