Pertarungan Tanpa Akhir

Pertarungan Tanpa Akhir
Giok teleportasi


__ADS_3

Sesuai arahan dari Lien Hua, kini yang pergi untuk menjalankan misi ke desa bunga hanya berjumlah lima orang, karena hanya lima orang yang berangkat ke desa bunga maka mereka sepakat untuk memilih orang-orang yang berkemampuan dalam bertarung.


Tetua Nuwa, tetua Ming Hao, Ming Shu, Jing Mi dan Jia Li. kelima orang itu sedang bersiap untuk berangkat bersama Lien Hua ke desa bunga dengan penampilan berbeda.


Kelima orang itu berpakaian biasa layaknya pakaian yang biasa dikenakan oleh warga di desa bunga, sesuai rencana Lien Hua mereka akan menyamar menjadi anak buah dari tabib Lien yang di pimpin oleh Lien Hua.


*


Sementara Guan Lin sedang duduk termenung di dalam hutan, tempat yang dulu biasa menjadi tempat bermainnya. Guan Lin kembali teringat pada batu giok yang sebelumnya telah membuat Guan Lin bisa ber teleportasi, Guan Lin pun mengeluarkan batu giok itu dari dalam cincin penyimpanan yang kini selalu melingkar manis di jari tengahnya.


Pang Xiongmao yang melihat batu giok yang di pegang oleh Guan Lin seketika mendekat, Pang Xiongmao berpegangan erat pada lengan Guan Lin seakan panda gendut itu mengerti bahwa tuannya akan pergi dan panda gendut itu tidak mau ditinggalkan.


"Aish.. Panda gendut ini," desah Guan Lin.


"Pang Xiongmao, untuk kali ini sebaiknya kau tunggu saja di akademi, kau bisa bermain bersama para siswa dan juga bisa makan sepuasnya disini, jadi untuk kali ini biarkan aku pergi sendiri, ok.!" ucap Guan Lin.


Seakan mengerti dengan permintaan dari tuannya, Pang Xiongmao pun mengangguk dan melepaskan pegangan tangannya meski dengan muka yang terlihat murung.


"Tidak usah sedih, pergilah, aku pergi hanya sebentar tidak akan lama!" ucap Guan Lin meyakinkan.


Panda itupun kembali mengangguk dan mulai berjalan dengan mudur sambil terus memandang ke arah Guan Lin.


"Pang Xiongmao yang pintar," puji Guan Lin sambil tersenyum pada Pang Xiongmao.


Kini Guan Lin kembali memfokuskan pikirannya pada sebuah titik yang berada di tengah-tengah giok teleportasi sambil menyalurkan energi spiritualnya.


Giok teleportasi pun bercahaya dan menghisap Guan Lin kedalam cahaya yang dikeluarkan oleh batu giok teleportasi.


*


Guan Lin mendarat dengan sempurna tepat di depan patung sang pahlawan, Guan Lin pun terdiam untuk sesaat sambil memperhatikan patung sang pahlawan yang ada di hadapannya.

__ADS_1


"Sesuai perkiraan ku, batu giok ini memang sebuah alat yang bisa membuatku ber teleportasi. Dan ternyata benar, titik tengah ini tepat di lokasi pusat kota." Guan Lin pun sangat senang mempunyai benda yang sangat bisa membantunya untuk memangkas waktu saat melakukan perjalanan ke lima arah.


"Dengan begini informasi yang akan ayah sampaikan bisa lebih cepat sampai pada Paman penguasa," batin Guan Lin.


Guan Lin pun menyimpan kembali giok teleportasi kedalam cincin penyimpanannya, saat Guan Lin masih berdiri sambil menatap kagum pada patung sang pahlawan, tiba tiba ada seseorang menyapanya.


"Salam tuan muda Guan."


Guan Lin pun berbalik dan menatap Feng Ying yang sedang tersenyum pada Guan Lin.


"Tuan Feng Ying," sapa Guan Lin.


"Maaf tuan muda Guan, bukankan anda telah kembali ke akademi pedang dan sihir tiga hari yang lalu? tapi kenapa sekarang anda berada di sini?" tanya Feng Ying dengan heran.


"I-itu.... Ah, sebenarnya ada yang harus saya sampaikan kepada paman penguasa, ini sangatlah penting. Sebaiknya aku segera menemui paman penguasa sekarang juga." Guan Lin bingung harus menjelaskan pada Feng Ying bahwa Guan Lin baru saja tiba di pusat kota, pada akhirnya Guan Lin pun berusaha mengalihkan Feng Ying dari pertanyaannya.


"Kalau begitu, mari tuan muda Guan, saya juga akan menemui yang mulia!" ucap Feng Ying pada akhirnya.


**


Guan Lin dan Feng Ying memberi salam pada penguasa Tian Ma setelah memasuki kediaman penguasa kota.


"Lin'er, kau kembali?" penguasa Tian Ma mengerutkan kening merasa heran dengan kedatangan Guan Lin.


"Paman, sebenarnya ada sesuatu yang harus Guan Lin sampaikan, ini sebuah pesan dari ayah!" ucap Guan Lin.


Tian Zhi yang duduk di samping penguasa Tian Ma juga memandang heran pada teman baiknya, pasalnya baru tiga hari Guan Lin berangkat ke akademi pedang dan sihir, dan kini Guan Lin telah kembali ke pusat kota.


Tidak mau mengambil pusing, pada akhirnya penguasa Tian Ma pun mempersilahkan Guan Lin untuk menceritakan apa yang mau Guan Lin sampaikan.


"Paman, semalam saat kami mengadakan rapat, ayah bilang segel yang di ciptakan sang pahlawan beberapa ratus tahun yang lalu kini sudah semakin melemah, tidak menutup kemungkinan segel itu akan hancur jika ada yang berusaha merusaknya!" ucap Guan Lin.

__ADS_1


"Apa ayahmu sudah membuat sebuah pengaturan?" tanya penguasa Tian Ma.


"Sebenarnya, ayah beserta para tetua berencana untuk meminta persetujuan pada Paman untuk memindahkan para siswa junior ketempat yang lebih aman, sebagai antisipasi jika saja segel itu benar-benar hancur," jawab Guan Lin.


"Tentu saja paman setuju jika para siswa junior akan di pindahkan, mereka adalah masa depan kota timur, mereka harus segera diamankan!" ucap penguasa Tian Ma.


"Kalau begitu kita harus mencari tempat yang cocok untuk para siswa junior belajar sekaligus untuk tempat mereka tinggal," kembali penguasa Tian Ma berucap.


"Jika paman setuju, Yue Yin menyarankan untuk memindahkan pembelajaran para siswa junior ke desa terbuang. Di desa terbuang tanahnya masih luas karena penduduk desa terbuang hanyalah sedikit!" ucap Yue Yin.


"Baiklah, paman setuju," ucap penguasa Tian Ma.


"Dan satu hal lagi paman, pada saat rapat tadi malam, ibu mengatakan bahwa ada sesuatu yang telah terjadi di desa bunga, lebih tepatnya di penginapan seribu bunga." Guan Lin pun menceritakan kembali semua yang di ceritakan oleh tetua Nuwa pada saat rapat tadi malam.


Penguasa Tian Ma kembali menautkan kedua alisnya. "Paman sudah menempatkan utusan Lao Fu untuk memantau desa bunga, tetapi tidak sekalipun utusan Lao Fu melaporkan tentang kejadian di penginapan seribu bunga."


"Itu dia masalahnya paman, saat ibu menyelidiki penginapan seribu bunga, ibu juga melihat utusan Lao Fu memasuki tempat hiburan yang ada di penginapan seribu bunga!" ucap Guan Lin.


"Ayah, mungkinkah utusan Lao Fu juga berkhianat seperti utusan Xing Zhu?" Tian Zhi pun mengutarakan apa yang ada didalam pikirannya.


"Sekarang ibu dan paman Hao beserta Ming Shu sedang menuju desa bunga bersama nona Lien Hua. Ibu bilang saat ibu mau keluar dari desa bunga, di gerbang desa bunga sudah mulai di jaga ketat oleh para penjaga gerbang!" ucap Guan Lin.


"Mungkinkah ini berhubungan dengan para siluman laba laba yang ada di desa sunyi?" tanya Feng Ying.


"Mungkin saja, nona Lien Hua bilang bahwa pemilik penginapan seribu bunga memiliki hubungan dekat dengan salah satu istri sang penguasa kota Utara. Dan nona Lien juga bilang bahwa istri penguasa kota Utara bukanlah wanita biasa, melainkan jelmaan dari siluman rubah!" terang Guan Lin.


"Apa kau bilang?" spontan Yue Yin bertanya pada Guan Lin setelah mendengar keterangan dari Guan Lin tentang istri sang penguasa kota Utara.


"Pemilik dari penginapan seribu bunga itu memiliki hubungan dekat dengan salah satu istri penguasa kota Utara!" ulang Guan Lin.


"Darimana Lien Hua tau?" kembali Yue Yin bertanya.

__ADS_1


"Apa kau lupa, nona Lien Hua itu berasal dari desa bunga, tentu saja nona Lien tahu tentang apa yang ada di desanya!" jawab Guan Lin ketus.


Bukan itu yang ingin Yue Yin dengar dari Guan Lin, yang Yue Yin ingin tahu adalah, darimana Lien Hua tau tentang istri penguasa kota Utara. "Jangan jangan Lien Hua itu adalah... Yu Hua," batin Yue Yin.


__ADS_2