
Hening menguasai malam Nia kali ini. Hening yang begitu indah bagi wanita yang telah mengalami luka lebam di hatinya, hingga berdarah dan tak lagi berbentuk. Bermacam sakit yang kini mulai terasa, nyatanya telah membuat hati Nia beku.
Malam ini, harusnya Petunia yang mencecap manis madu pernikahan, melalui malam pertama pernikahan dengan indah, dan menciptakan keromantisan diantara kelopak bunga Mawar yang bertebaran diatas ranjang. Sayangnya, semua itu hanyalah sebuah mimpi semu, yang selamanya tak akan pernah bisa Nia gapai bersama Adam.
Semua keluarganya seolah mengabaikan Nia. Tak ada yang peduli pada sakit yang Nia rasakan. Alih-alih peduli, mereka justru menghakimi Nia, menyalahkan dan saling mencaci satu persatu.
Semua ini, memang salah Nia sendiri.
Apakah Adam tahu? Lelaki itu bahkan tahu dengan apa yang menimpa Nia. Alih-alih menolong dan membela, si bajingan itu bahkan tidak bergeser dari tempatnya, hanya menatap Nia dengan tatapan datar, seolah penghakiman yang Nia terima adalah sebuah hiburan untuknya.
Menyesali segalanya pun sudah terlambat, tak ada yang peduli dan tak ada yang sekiranya bisa menolong Nia, selain dirinya sendiri. Kini, wanita itu telah benar-benar sendiri, tak ada yang menemani.
Selain menyaksikan pernikahan kakaknya di altar, Nia juga merasakan penghakiman dari keluarganya. Kehilangan Adam, nyatanya harus memiliki efek yang demikian kejam. Kehancuran apa lagi yang tidak Nia terima?
Pintu di ketuk dari luar, entah siapa yang datang, Nia tak peduli. Mungkin hanyalah sebuah mulut yang masuk dengan membawa hinaan, makian, dan penghakiman yang menyakitkan. Mana perduli Nia pada hal itu? Yang Nia pedulikan, ia perlu keluar dari rumah neraka ini, sesegera mungkin.
Tinggal satu atap dengan lelaki yang kini masih menetap di hatinya, sama saja dengan neraka.
"Nia, kau sudah tidur?" itu suara Adam, dan berhasil membuat Nia kembali merasakan luka.
"Nia, kau dimana?" Adam mengulang tanya, ketika Petunia tidak ada di ranjang. Lelaki itu lantas berjalan cepat menuju pintu balkon, saat ia mendapati pintu balkon terbuka.
__ADS_1
"Kau tidak tidur?"
Nia diam tak menjawab, masih tetap diam dalam duduk, seraya menatap langit malam yang bermuram durja. Eksistensi seorang Adam yang ia cintai, sudah tak lagi menempati posisi penting dalam jiwa Petunia Amarilys.
"Benarkah yang kau kandung itu anak Farel?" tanya Adam, seraya duduk di kursi memanjang tepat di samping Nia.
Nia tetap diam tanpa peduli, apa yang dilakukan Adam saat ini. Baginya, keberadaan Adam hanyalah akan membuat hidupnya kacau balau.
"Jawab aku, Nia. Hasil USG dokter, anak itu berusia dua puluh sembilan minggu. Jika di hitung mundur, saat itu hanya aku yang intens bersamamu. Apa kau membohongi semua orang?" tanya Adam lagi, dengan suara lembut.
Tetap sama, Petunia tak tertarik sedikitpun untuk sekadar menoleh. Ada kehancuran yang jelas terlihat pada matanya yang mengalirkan kristal bening.
Dengan gemetar, Adam meraih pipi Nia, berniat untuk menghapus air mata wanita yang tengah mengandung darah dagingnya itu. Namun, spontan Nia menghempas dengan kasar, tangan kokoh Adam.
"Aku hanya ingin tahu kepastiannya," Adam menjawab dengan pelan, menyadari bahwa emosi Nia tidak stabil.
"Andaipun kau tahu bahwa yang aku kandung ini adalah darah dagingmu, apa kau akan menikahi aku? Apa kau bisa meninggalkan Zaskia Kenanga yang kau cinta? Apa kau bisa membelaku di hadapan orang tuaku? Apa kau bisa merubah garis takdirku? Apa kau bisa mengembalikan masa depanku? Apa kau bisa membawaku dalam surga pernikahan seperti yang kau janjikan? Jawabannya adalah tidak, Adam! Oh aku lupa, kau tidak memberikan janji manis itu, melainkan aku yang datang dan tak tahu diri sudah menaruh harap pada lelaki bajingan sepertimu!" lantang Nia bersuara.
Napas Nia naik turun dan putus-putus. Air matanya terus berderai dengan bibir yang bergetar hebat. Wajah wanita itu seputih kapas, dan hatinya yang serapuh kertas.
Hati Adam mendadak sakit, menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri akan penderitaan yang dialami oleh wanita yang dulu sering seranjang bersamanya.
__ADS_1
Nia bangkit, sekuat tenaga untuk menjauhi Adam. Tetapi sayangnya, ia tak cukup kuat dan memilih untuk bersandar pada pagar balkon yang cukup tinggi. Petunia lunglai, merosot ke lantai yang dingin dengan ketidakberdayaan.
"Nia ...." Adam bangkit dan berniat membopong Nia. Namun, Nia menghentikan dengan isyarat menyuruh Adam tetap duduk.
"Mengapa kau meninggalkan aku, Mas Adam? Berapa lama kau menggantungkan hubungan kita? Empat bulan lebih aku mencarimu kesana kemari, untuk mengabarkan tentang kehamilanku, tapi kau memblokir seluruh akses komunikasi. Tidakkah kau memiliki hati iba padaku? Aku menjalani trimester pertama kehamilan dengan sangat tersiksa. Seorang diri, seorang diri aku menguatkan hatiku agar orang tuaku tak tahu. Dan lihat, kau justru datang dengan membawa cinta untuk Kakakku. Kenapa harus Kak Kia? Kenapa harus satu-satunya saudari yang aku punya? Kau tega!" Nia menangis, meluapkan amarahnya.
Adam tak tahu harus apa. Lelaki itu juga cukup syok dengan pengakuan Nia secara tak langsung itu.
"Andai membunuh itu tidak berdosa, kau akan aku habisi tanpa ampun, dan aku akan menghabisi anakmu ini setelahnya. Percayalah, Adam, menjalani masa kehamilan seorang diri, bukanlah yang mudah. Aku ingin mati saja, andai bunuh diri pun tidak berdosa. Sayangnya, aku sudah sangat jatuh cinta pada sosok penghuni rahimku, meski wujudnya belum aku temui. Apa yang akan kau gunakan untuk menebus dosamu padaku dan anakmu, Adam?" Tanya Nia dengan suara terisak pilu.
"Aku akan menjelaskan," lirih Adam, berjongkok untuk menolong Nia agar Nia kembali duduk di kursi. Namun, Nia justru mendorong Adam, dan membiarkan Adam menjauhinya.
"Penjelasanmu tak akan menolongku dari derita ini, Adam. Percuma kau datang dan bertanya padaku, jika pada akhirnya itu tak memberikan efek baik bagi anakku. Pergilah. Bahagiakan Kak Kia. Tinggal menghitung hari saja sampai Farel membawaku pergi dari rumah neraka ini, kebahagiaan dirimu dan Kak Kia akan lengkap," tambah Nia.
Hati Adam kian tersayat pilu. Wajah lelaki itu juga tampak kehilangan ronanya, dan sialnya, Nia baru menyadari.
"Nia, jika kau mengandung anakku, aku akan bertanggung jawab dan .... "
"Dengan memberikan sejumlah uang sebagai kompensasi. Tidak, terima kasih. Lebih baik aku mati kelaparan daripada aku harus menerima uang kompensasi darimu. Aku, tidak menjual cinta! Pergi kau dari sini dan jangan pernah menemui aku lagi!" Seru Nia dengan suara menjerit.
Adam pun pergi, untuk menenangkan hatinya yang sama berdarahnya dengan Petunia.
__ADS_1
**