Petunia Amarilys

Petunia Amarilys
29. Tak memiliki pilihan lain.


__ADS_3

Di sebuah kamar yang cukup luas, Adam Billy Hutama tengah duduk nyaman di meja kerjanya. Lelaki itu sengaja meletakkan meja kerja barunya di dalam kamar, agar ia tak bolak-balik kaluar kamar hanya untuk mengecek pekerjaan.


Sudah berhari-hari lalu, Kia mengusirnya, melayangkan permintaan untuk sebuah perceraian. Tetapi sayangnya, Adam tak sedikitpun berniat untuk mengabulkan. Kerisauan hatinya tentang Petunia, Juga rasa cintanya pada Zaskia Kenanga, membuat Adam mau tak mau harus melarikan diri dan mengalihkan pikiran hanya pada pekerjaan.


Satu-satunya pelampiasan yang ada. Bekerja dan bekerja, menjadikannya seolah robot yang bekerja dua puluh empat jam, dengan jeda beberapa jam saja untuk istirahat.


Tak pernah keluar rumah, lelaki itu memilih untuk bekerja di dalam rumah, dan mengontrol lapangan hanya dua pekan sekali. Nyatanya apa yang ia pikirkan, tidak semudah apa yang orang lain katakan.


Bila Adam dikata egois, ya, Adam mengakui dan tak akan mengelak sama sekali. Dirinya menginginkan kakak beradik itu, keduanya untuk ia miliki. Tamak, itulah kata yang pantas disematkan pada lelaki bermulut manis itu.


Kini, sesal tinggal sesal belaka. Ia gagal melindungi Petunia dan suaminya, hingga membuat segalanya terbongkar sudah. Bahkan hanya tinggal meratap saja, Adam tak bisa melakukan banyak hal selain meratapi penyesalannya.


Konsentrasi pria itu tiba-tiba buyar, ketika ia menatap layar ponselnya yang tiba-tiba menyala. Sebuah pesan dari salah satu temannya, membuat Adam melihat sekilas foto putranya yang terpampang pada layar ponselnya. Foto yang ia ambil sewaktu di rumah sakit. Pertemuan sekilas itu, berhasil menumbuhkan tunas rindu pada hati Adam.


Putra tampan yang terlahir dari rahim mantan mahasiswinya itu, bahkan Adam belum memberi putranya nama. Sejenak, Adam tersenyum kecut.


Memberi nama? Jangankan memberi nama, bahkan untuk sekadar menyentuh apalagi menggendong dan menatap putranya saja, Petunia tidak memberinya izin. Beruntung, kala Nia terbaring tak berdaya diatas ranjang pesakitan di rumah sakit, Adam sempat memotret beberapa gambar putranya.


Sebuah keberuntungan, bayi mungil dengan tanda lahir di lengan kirinya itu, Adam masih sempat memotret sebagai kenang-kenangan dirinya. Kala Petunia tak sadarkan diri, maka kala itu pula, Adam diberi kesempatan oleh Tuhan. Sayangnya, kesempatan itu tak berlangsung lama, serupa penderitaan Petunia selama ini karenanya.


"Apa kabar, sayang? Kau sehat? Papa rindu. Apakah kau baik-baik saja disana bersama Mama? Papa harap, suatu saat nanti kita bisa bertemu, ya? Boleh membenci Papa, tapi jangan panggil aku paman, atau Om. Panggil aku Papa jika nanti kita bertemu," ujar Adam dengan suara lirih. Bahkan lelaki bertubuh tegap itu, tak sadar jika ada sang Mama yang menghampirinya.


"Mama?" gumam Adam, yang begitu terkejut mendapati sosok mamanya, tiba-tiba muncul dan duduk di kursi seberang Adam. Keduanya hanya terhalang meja kerja Adam.

__ADS_1


"Maaf, Mama sudah mengetuk pintu, tapi kau tak menjawab. Mama sudah bisa menebak, kau pasti melamun lagi," jawab seorang wanita, yang memakai dress putih selutut.


Dia adalah Grace, Mama Adam yang begitu cantik dan memiliki pembawaan kalem. Namun meski begitu, Grace adalah orang paling tegas dalam keluarga Hutama. Bahkan Jovan Hutama saja, sang suami tak memiliki keberanian dan ketegasan serupa dengan Grace.


"Maaf," sahut Adam, meletakkan ponselnya diatas meja.


"Bagaimana sekarang rasanya? Masih sakitkah perasaanmu?" tanya Grace.


Wanita itu bangkit, meraih ponsel putranya dan kembali melihat potret cucunya.


"Sangat sakit, Ma. Aku merindukan Petunia dan anakku. Entah Nia memberinya nama apa," ungkap Adam lirih.


"Pada Kia, kau tak merindu?" tanya Grace terkekeh pelan.


"Rindu. Tapi Kia tak mengharapkan kehadiranku," jawab Adam, menyandarkan bahunya dengan nyaman pada kursi kebesarannya.


"Bukankah Petunia Amarilys juga tak mengharapkan kehadiranmu?" tanya Grace, melirik sekilas putranya yang tampak lelah.


"Ya, semua salahku," jawab Adam.


"Bagus jika kau menyadari dimana letak kesalahanmu. Aku harap, setelah ini kau bisa menjadi lebih bijak lagi, Adam. Mama yang akan mencari Petunia. Putuskan mulai sekarang. Jika kau tak bisa mendapatkan Petunia sebab Ibu dari anakmu itu telah bersuami, maka kau harus memutuskan untuk mengabulkan permintaan cerai Kia, atau tetap kokoh menjadikan Kia itu istrimu. Kau tak bisa egois dengan berkehendak memiliki keduanya. Antara harus memiliki atau melepaskan Kia, kau harus memiliki alasan yang masuk akal," ujar Grace memberi petuah putranya.


"Terkadang Mama berpikir begini, Adam. Kau sejak kecil sudah mama didik dan tempa hingga sedemikian rupa, hanya agar kau bisa menjadi pribadi yang baik dan bertanggung jawab. Alih-alih bertanggung jawab, kau justru mempermainkan wanita. Mama bertanya-tanya, darimana kesalahan Mama dalam mendidikmu. Tapi ya sudah. Semua sudah berlalu, dan kau pun sudah dewasa. Mama tak akan terus menghakimi dirimu seumur hidup. Hanya saja, perbaiki semua. Mama akan mencari Petunia, untuk bicara empat mata dengannya. Ingat, bukan untuk meminta Nia agar kembali pada pria bajingan lagi bangsat sepertimu," sambung Grace.

__ADS_1


Kalimat Grace sontak saja sanggup melahirkan sakit hati pada Adam. Namun, Adam tak berkutik.


"Mama menyesal telah melahirkan aku?" tanya Adam lirih, yang sontak saja mendapat tatapan tajam dari Grace.


"Tak ada seorang Ibu pun di dunia ini, yang akan menyesal telah melahirkan putra yang tampan lagi gagah sepertimu. Hanya saja, semua tetap harus berjalan pada porosnya. Kau tetap bersalah dan Tuhan berhak menghukum dirimu," jawab Grace.


"Jika nanti Mama bertemu dengan Nia, Tolong sampaikan padanya, Adam minta maaf, juga beri Adam izin untuk menemui Petunia dan anak kami sesekali," pinta Adam penuh harap.


Grace bisa melihat dengan jelas, mata Adam berkaca-kaca. Suaranya bergetar dan dalam, pertanda Adam sudah tak tahan menghalau sesak di dadanya.


"Sesakit itukah, Dam?" tanya Grace tersenyum miring.


"Bahkan Petunia jauh lebih sakit darimu. Kau membuangnya, dan lantas kau mengiba untuk bertemu dengan anak kalian? Dasar Tolol. Jika Mama yang menjadi Petunia, Mama bersumpah tak akan peduli pada permintaanmu," ujar Grace dengan santainya.


"Adam tahu diri. Tetapi Mama harus tahu, Petunia bukanlah Mama. Dia wanita yang baik," ujar Adam tersenyum perih.


"Artinya, Mamamu ini bukanlah orang baik? Begitu? Jangan lupa, Dam, kau yang tak baik disini. Akan Mama usahakan untuk bertemu dan bicara dengan Petunia, hanya saja, Mama tak berani berjanji untuk hal ini. Namun jika seandainya Mama tak berhasil membujuknya, apa yang akan kau lakukan?" tanya Grace kemudian.


"Tak masalah apapun keputusannya. Yang terpenting, Adam sudah berusaha ingin yang terbaik untuk putra kami. Adam sadar, Adam memang layak mendapat hukuman darinya," jawab Adam.


Pada akhirnya, Adam tak memiliki pilihan lain, Bukan?


**

__ADS_1


__ADS_2