
Seseorang akan terlihat sangat aneh dan mencurigakan, ketika dirinya merasa dikejar rasa bersalah secara berlebihan. Selain itu, ada rasa tak nyaman dan mimpi buruk kerap kali melanda, kala malam tiba yang harusnya membawa mimpi indah.
Entah sudah berapa purnama, Abimanyu kerapkali bermimpi buruk mengenai putri bungsunya yang telah pergi tanpa jejak. Mimpi seolah ia dikejar oleh Farel, dan juga seorang bayi yang tangisannya memekakkan telinga. Tak jarang, Abimanyu sering merasa sakit telinga saat terbangun dari mimpinya.
Seperti malam ini contohnya. Petir kerap kali terdengar menyambar dan membuat telinga nyeri. Hujan turun dengan sangat deras mengguyur bumi. Kilat menyambar-nyambar di angkasa. Bulan yang semula menyinari, seolah lari ketakutan akibat suara halilintar yang datang mengeroyok.
Abimanyu gelisah, seperti malam-malam sebelumnya. Keringat tampak besar-besar menghiasi keningnya yang menampakkan kerutan dengan jelas. Kepala lelaki itu seolah menggeleng ke kanan dan ke kiri, seperti tengah menghindari sesuatu dalam mimpinya.
Kirana berkali-kali membangunkan dan berusaha agar suaminya segera bangun dan tersadar. Namun, Abimanyu terlihat gelisah berlalu dalam mimpi, mengisyaratkan jika dirinya tak ingin segera bangun dan sadar.
"Tidak, tidak. Jangan .... Maafkan aku, maaf," Abimanyu terus mengerang lirih, dengan suara yang seolah tertahan di tenggorokan.
Lama-lama jika Kirana memperhatikan, napas Abimanyu seolah seperti berat, terdengar menyakitkan. Wajah lelaki itu sudah pucat pasi, seperti lelaki yang tengah menghadapi malaikat kematian.
"Mas, bangunlah. Sampai kapan kau akan seperti ini?" tanya Kirana lirih, seraya tangan lembutnya menepuk-nepuk pipi Abimanyu.
Ini bukan kali pertama, melainkan ada banyak mimpi buruk yang terus membuat Abimanyu tersiksa. Bahkan dalam kondisi tidur, Abimanyu tak bisa tenang di dalam dimensi bawah sadarnya.
Merana, tersiksa, menderita, apalagi yang belum lelaki paruh baya itu alami?
"Tidaaaak....!" Abimanyu berseru lantang, saat ia tiba-tiba terjaga, merasakan sekujur tubuhnya tegang dengan urat-urat yang terasa kaku. Setiap malam, ini bukanlah pemandangan asing bagi Kirana.
"Minum dulu," ujar Kirana, menyodorkan segelas air putih yang memang tersedia diatas nakas. Sudah menjadi kebiasaan Kirana sejak dulu, menyediakan air putih menjelang tidur.
"Mimpi buruk lagi?" tanya Kirana kemudian.
__ADS_1
"Ya, kali ini seperti nyata. Aku seperti berada di alam nyata," jawab Abimanyu lirih, usai menenggak air putih menyegarkan pemberian istrinya.
"Tentang Petunia dan mendiang Farel?" tanya Kirana lagi. Meski ia sudah tahu jawabannya, namun tak ada salahnya bertanya.
"Ya. Farel mengejarku, seperti biasa. aku sungguh tidak tahan dengan mimpi ini. Bisakah aku menghilangkannya saja?" tanya Abimanyu kemudian. Lelaki itu tampak gelisah, memperbaiki posisi duduknya beberapa kali.
Kirana lantas menerima gelas yang dikembalikan oleh Abimanyu, meletakkan nya diatas nakas kembali.
"Kau hanya dikejar rasa bersalah. Jangan putus asa. Kita akan mencari Petunia terus, hingga ia kembali dalam delapan kita sebagai orang tuanya," jawab Kirana, seraya mengusap pelan lengan suaminya berkali-kali untuk menguatkan.
"Aku sudah pergi ke makam Farel, namun penjaga makam mengatakan, Farel tak jadi dikubur disana. Tidak tahukah kau, Kirana? Mungkin Petunia sengaja memutus keterkaitan dengan kita. Ia benar-benar pergi jauh, bahkan jasad suaminya pun, tak ia izinkan tersentuh oleh kita. Dimana aku harus mencari jejaknya? Bahkan setelah dua bulan berlalu, Petunia bak ditelan bumi," ungkap Abimanyu. Mata lelaki itu tampak basah, dengan kaca-kaca cair di pelupuk matanya.
"Sungguh, derita ini entah sampai kapan. Orang tua yang telah gagal menjadi ayah yang baik ini, apa masih pantas disebut sebagai orang tua? Jika aku boleh meminta, ingin sekali aku menjelaskan pada Nia, memperbaiki segalanya dan meminta maaf padanya. Aku ingin seperti dulu, anak-anakku hidup rukun dan bahagia. Jika Petunia-ku kembali, aku akan menerima Farel sebagai menantu di rumah ini," ujar Abimanyu. Lelaki itu tampak kusut massai, dengan napas yang masih naik turun tak beraturan.
"Kita akan perbaiki semuanya. Jika nanti Nia kembali, jangan lupa untuk tetap merendahkan diri, karena kita yang bersalah," ujar Kirana kemudian.
"Itu pasti," jawab Abimanyu lirih.
"Entah firasatku atau bagaimana, tetapi aku merasa, ada sesuatu yang kau sembunyikan pasca kepergian Petunia dari sini, Mas. Apa itu benar?" tanya Kirana, "tetapi jika memang tak ada yang kau sembunyikan, aku tak akan memaksa, mungkin ini hanya sekadar perasaanku saja."
Tubuh tegap Abimanyu membeku, merasa seolah dirinya tertangkap basah menyembunyikan sesuatu dari istrinya. Haruskah dirinya jujur? Namun, menyembunyikan sesuatu dari Kirana juga bukanlah sesuatu yang baik. Cepat atau lambat, kebusukan akan terbongkar segera. Abimanyu sadar itu.
Lantas, bagaimana jika nanti Kirana menghakimi Abimanyu?
Ah, rasanya Abimanyu tak lagi peduli akan hal itu. Toh dirinya memang bersalah. Andaipun dihakimi, sudah menjadi hal yang wajar sebagai konsekuensi dari perbuatannya.
__ADS_1
"Mas, kau melamun?" tanya Kirana pada Abimanyu.
"Maaf, aku ... aku memang memiliki sebuah rahasia besar yang aku sembunyikan darimu," jawab Abi dengan suara lirih. Kirana mengerutkan kening, merasa jantungnya yang tiba-tiba berdebar sangat kencang.
"Ada apa? Katakan saja. Aku tak akan bicara pada siapapun, termasuk Kia," sahut Kirana tak kalah lirih, "aku juga tak akan menghakimi dirimu, andai kau memiliki kesalahan. Kau suamiku, tetap suamiku," lanjut Kirana lagi.
Abimanyu diam sejenak, menghirup udara sedalam-dalamnya guna menetralkan perasannya yang bergejolak hebat.
"Sebenarnya, aku ... akulah yang menyebabkan Farel kecelakaan malam itu. Aku, sengaja ingin memisahkan Nia dari Farel dengan cara kotor, karena Nia dan Farel tetap bersikeras menolak berpisah," ungkap Abimanyu kemudian.
Jujur saja, butuh keberanian besar bagi Abimanyu untuk mengatakan kejujuran ini.
Suara halilintar yang besar menyambar-nyambar di luar sana, seolah juga Andik menyambar seonggok hati dalam dada seorang Ibu. Kirana bukan hanya terkejut, melainkan lebih dari sekedar syok berat usai mendengar pernyataan suaminya.
Apakah mungkin Kirana salah dengar?
"Aku, aku tak salah dengar, kan?" tanya Kirana kemudian, "katakan jika kau hanya bercanda."
"Tidak, sayangnya tidak," Abimanyu menjawab mantap, dengan kepala menggeleng pelan beberapa kali.
"Astaga, Mas. Itu artinya, kau yang telah membuat Farel tiada? Kau membunuhnya? Jawab, Mas. Jawab!" seru Kirana dengan suara tercekat. Refleks wanita itu menutup bibirnya dengan dua telapak tangannya, sebagai reaksi tak percaya.
"Sayangnya, inilah keadaannya. Mungkin mimpi burukku ini, sebab arwah Farel yang menuntut keadilan dariku. Aku akan rela, andai aku dipenjara. Apa sebaiknya aku menyerahkan diri saja? Aku sadar, Kirana, dosa tak lepas dari balas," Abimanyu menitikkan air mata tanpa sadar.
**
__ADS_1