Petunia Amarilys

Petunia Amarilys
20. Dilema.


__ADS_3

Segelas susu khusus ibu hamil, berada dalam genggaman Farel Prahasta, yang ia buat khusus untuk sang istri yang begitu sangat Farel cintai. Lelaki itu menebar senyum hangatnya, sekalipun hatinya terasa berdarah-darah sebab Ayah mertua yang tak menganggap dirinya menantu.


Sehina itukah Farel? batin Farel tak berdaya.


Sekejam apapun Abimanyu memperlakukan dirinya, tetap saja Farel tak bisa melawan.


Sebaik itu Farel. Farel Prahasta adalah pemuda yang tak suka sama sekali dengan pertengkaran, apalagi keributan. Lelaki itu sejak dulu memilih untuk tetap diam, sekalipun ada yang mencoba berulah padanya.


Benar kata orang, tak semua mertua memiliki karakter baik dan menganggap menantu seperti anaknya sendiri. Hal itulah yang dirasakan oleh Farel.


Derap langka Farel, terdengar oleh rungu Petunia, yang tengah duduk di ruang tengah yang tak begitu luas. Netranya menatap kosong layar televisi yang mempertontonkan serial tom and Jerry.


Harusnya ada tawa terbahak yang muncul dari bibir Nia. Tetapi sayangnya, adegan lucu dalam film kartun tikus dan kucing itu, tak menerbitkan tawa sedikitpun dari bibir ranum Nia.


Wajar saja, pikiran Nia sedang kalut saat ini. Mendengar suara derap langkah Farel yang tengah mendekat saja, adalah sebuah keajaiban baginya. Sedalam itu batin Nia memikirkan kemalangan nasibnya dan anaknya.


"Nia, jangan melamun terus. Ingat kata Dokter, kau tak boleh stress dan harus menjaga kandunganmu dengan baik. Jadi, jangan banyak memikirkan hal yang tidak-tidak," ujar Farel menasihati. Lelaki itu duduk, di sofa panjang yang Nia tempati, tepat di samping Nia.


Aku tak masalah bila harus aku yang tertekan dan menerima intimidasi dari Ayahmu, Nia, asalkan anak kita, jangan sampai stress. Aku tak mau terjadi sesuatu padamu dan bayimu. Ya Tuhan, aku sangat menyayangi kalian berdua, aku berani mempertaruhkan semua yang aku miliki, asal kau dan anakmu bahagia dan tersenyum.


Batin Farel menyambung dalam hati.


"Anak mana yang tak tertekan jika memiliki Ayah macam Abimanyu, Rel? Aku tak yakin, aku sanggup menghadapi Ayah ke depannya. Sungguh, Aku sungguh tak sanggup, Rel. Aku tak sanggup," jawab Petunia, seraya memejamkan matanya.


"Ucapan Ayah, masihlah berlarut hingga kini. Ingatanku ini seolah menolak keras dengan keinginanku untuk melupakannya," jawab Nia, "katakan padaku, apa keputusanku menentang Ayah, adalah keputusan yang tepat?" tanya Nia balik.

__ADS_1


Farel tersenyum menenangkan seraya berkata, "tak ada yang salah dengan keputusanmu. Ikuti apa kata hatimu, tentukan pilihanmu sesuai dengan nuranimu, dan aku berjanji akan tetap tegak mendukungnya," jawab farel.


Nia tersenyum lebar, menganggap bahwa ia telah benar memilih langkah, dan menyirnakan kecewa yang tak ada gunanya untuknya. Lelaki semacam Farel, mengapa Nia tak jatuh cinta saja pada Farel sejak dulu?


"Kau benar-benar suami yang pengertian dan terbaik, Rel. Terima kasih sudah membuatku tak lagi dilema dan dilanda keraguan," ucap Nia, seraya mengecup bibir Farel secara spontan.


Farel tersenyum, dengan hati yang berbunga serta merekah indah. Nia benar-benar membuat hati Farel bahagia.


"Baiklah. Minum susu ini, nanti terburu dingin melenyapkan hangatnya. Hari ini, adalah hari libur terakhirku. Besok aku sudah kembali mulai bekerja, dan kau harus tetap bahagia," ujar Farel, menyerahkan segelas susu pada Nia.


Betapa hati Farel kian bahagia, ketika Petunia meneguk susu buatannya hingga tandas, menyisakan bekas pada gelas.


"Rel, jika aku tua nanti, apa kau akan tetap menyayangi dan mencintai aku?" tanya Petunia kemudian.


"Tentu saja," jawab Farel, membuat Nia dan dirinya tertawa bersama, menikmati madu pernikahan. Inilah hidup bahagia yang sesungguhnya, versi Nia.


**


Sebagai seorang istri, tentu saja Kia merasa ada yang aneh. Wanita itu tentu curiga pada sikap suaminya yang belakangan ini berubah.


"Tidak ada, hanya ingin sendiri saja. Kau kenapa lama sekali di bawah? Aku lebih suka menyendiri dan menghabiskan waktu hanya denganmu saja," jawab Adam kemudian.


"Maaf, aku tadi hanya berbincang dengan Ibu di bawah. Kami, ya ... menunggu saat yang tepat untuk bicara berdua, menunggu hingga Ayah kembali ke ruang kerjanya," jawab Kia. Wanita itu lantas duduk di samping Adam, bersandar pada dada suaminya itu dengan lengan kanan Adam yang melingkari punggung Kia.


"Kau dan Ibu kenapa, sayang? Kenapa harus menunggu saat yang tepat sampai Ayah tak ada? Apa kalian main rahasia?" tanya Adam kemudian. Lelaki itu lantas mengusap puncak kepala istrinya dengan sayang.

__ADS_1


Selain pada Nia, Adam juga merasa bersalah begitu besar terhadap sang istri. Harusnya, Kia mendapat lelaki yang lebih baik darinya. Rasanya, Adam telah berdosa pada dua wanita. Dosa yang sangat besar.


"Ibu ingin sekali mengunjungi Nia dengan waktu yang cukup lama, setengah hari mungkin. Tetapi, Ibu takut pada Ayah, sebab Ayah tak memberi izin. Bagaimana menurutmu?" tanya Kia pada suaminya.


Adam tak segera menjawab, menatap istrinya dengan rasa yang tak karuan.


"Mengapa Ayah tak memberi izin?" tanya Adam kemudian memancing Kia.


"Mas Billy, kau tahu sendiri semenjak Nia menikah, Ayah sangat membenci adikku yang malang itu. Bahkan untuk menjenguk Nia saja, aku mencuri waktu hingga ayah lengah. Sebagai seorang Ibu, wajar saja, bukan, jika ibu merindukan putrinya? Terlebih, sudah sebulan lamanya Ibu tak bertatap wajah dengan Nia. Kiranya menurutmu, apakah menemui Nia adalah sebuah kesalahan?" tanya Kia.


"Tak ada salahnya. Tetapi sebaiknya, mintalah izin Ayah. Diizinkan ataupun tidak, Ibu tetap bisa menemui Petunia. Yang terpenting, Ibu sudah pamit. Tidak ada hukum yang melanggar Ibu menemui putrinya. Kurasa, Ayah hanya masih di gulung rasa emosi," jawab Adam cukup bijak.


"Benar juga jika dipikir-pikir. Baiklah, aku akan bicarakan ini pada Ibu," ungkap Kia kemudian, "mas, aku ingin segera mengandung anakmu. Bagaimana jika nanti, kau menyempatkan aku untuk kau antar ke Dokter spesialis kandungan? Kita periksa dan kita memulai program kehamilan. Bagaimana?" tambah Kia.


Adam terdiam, bingung harus bagaimana. Belum lagi anaknya terlahir dari rahim Petunia, Kia kini sudah mendesaknya untuk menjalani program kehamilan.


"Baiklah, aku akan usahakan secepat mungkin," jawab Adam, merasa tak ada pilihan lain.


Hening tercipta, menambah suasana mencekam bagi hati Adam yang dilanda badai. Bagaimana jika nanti dia memiliki anak dari sepasang adik dan Kakak sekaligus?


Terbersit pemikiran, bahwa Adam ingin jujur saja pada Kia dan keluarganya, untuk mengurangi risau pada hatinya. Lelaki itu seolah tak tahan, menyimpan rapat bangkai lebih lama lagi.


Namun, apakah Adam sudah siap dengan segala risiko dan konsekuensinya?


Adam dalam dilema.

__ADS_1


**


__ADS_2