Petunia Amarilys

Petunia Amarilys
17. Kunjungan Mertua.


__ADS_3

Apalah arti limpahan harta, bila dibandingkan dengan kasih sayang yang tulus tanpa imbalan?


Apalah arti keindahan seluruh isi semesta, bila dibandingkan dengan kehangatan yang begitu murni tanpa kepalsuan?


Inilah titik hidup seorang Petunia Amarilys. Keluar dari kediaman Abimanyu yang penuh tuntutan dan tekanan, lantas masuk ke dalam keluarga Farel Prahasta yang sederhana, namun menampung banyak cinta.


Uang memang senjata paling ampuh dalam menggerakkan segala sesuatu. Tetapi bukan berarti segalanya bisa dibeli uang. Ada beberapa hal yang murni tak bisa dibeli dengan uang, termasuk cinta dan ketulusan. Dari sini Petunia menyadari satu hal, bahwa cinta dan kasih sayang, begitu berharga dan sulit di dapatkan.


Meski di malam-malam Nia termenung sendiri, masih sering mengingat sosok Adam dalam ingatannya, masih sering merasa perih saat bayangan Adam mendatanginya, namun Nia bersyukur, Tuhan membuka matanya lebar-lebar, tentang siapa Adam sebenarnya.


Sebuah keberuntungan tersendiri, Nia tak jadi pendamping lelaki tak bertanggung jawab itu. Nia justru mensyukuri, dirinya bertemu dengan Farel, tulus mencintainya hingga bersedia berjuang demi dirinya hingga harus banting tulang mencari uang.


Dan bagaimana dengan Adam?


Meski rindu itu masih seringkali datang menghantui Nia tanpa Nia minta, namun Nia berusaha menepis bayangan itu. Hanya farel satu-satunya orang yang berhak mendapatkan rindunya.


"Sayang, bagaimana kabarmu hari ini? Kau baik-baik saja?" Wanda, Ibu Farel yang baik hati lagi penyayang itu datang, dengan membawa rantang berisi makan dan sebuah parcel buah untuk anak dan menantunya.


"Aku baik, Bu. Ibu datang bersama siapa? Apa sendiri, atau dengan Benny?" tanya Petunia. Biasanya, kemana pun Wanda pergi, selalu ada Benny, adik Farel yang selalu mengantar.


"Benny sedang ada tugas dari sekolah, jadi tak bisa ikut. Dimana Farel? katanya anak itu sedang sakit?" tanya Wanda seraya meletakkan rantang makanan dan buah-buahan yang ia bawa, "Ibu bawakan makanan dan buah, dia harus banyak makan agar segera pulih."


"Terima kasih, Bu. Ibu seharusnya tak usah membawa banyak makanan begini. Cukup datang dan jenguk Mas Farel saja," jawab Petunia, membuat Wanda menoleh pada Nia.


Sebuah perubahan yang bagus. Dalam sebulan pernikahan Farel dan Nia, baru kali ini, rungu Wanda mendengar Nia memanggil Farel, dengan sebutan 'Mas'.

__ADS_1


Wanda bahagia dengan hal ini.


"Tak apa, sayang. Kebetulan ibu baru dapat sedikit uang dari tempat ibu bekerja, dan itu adalah bonus dari majikan Ibu. Ayo, antar Ibu ke kamar kalian," ujar Wanda, menggandeng lengan Petunia.


Sumpah demi Tuhan. Bahkan kasih sayang Wanda pada Petunia, jauh lebih besar bila dibandingkan dengan Kirana. Nia merasa terharu, dan meneteskan air mata bahagia. Sejauh ini, bahkan Wanda telah tahu jika anak yang Nia kandung, bukan darah daging Farel.


Awalnya Wanda tak menyetujui. Namun, ketika Farel menjelaskan pada Ibunya, bahwa Farel begitu mencintai Nia sudah sejak lama dan menginginkan wanita itu, Wanda mencoba berdamai dengan keadaan dan takdir. Tak ada alasan lagi bagi Wanda untuk menentang pernikahan Farel dan Petunia.


Masalah anak, Wanda janji akan merawat anak itu seperti cucu kandungnya sendiri.


Maha sempurna Tuhan, telah menciptakan hati wanita yang begitu lembut lagi santun itu.


"Kenapa menangis? Apa ibu salah bicara?" tanya Wanda menghentikan langkah. Ia khawatir, Nia menangis tanpa sebab yang Wanda tak sadari.


"Ibu," Nia memeluk Wanda erat, merasakan hangatnya pelukan penuh cinta dari seorang Ibu yang begitu tulus, "Nia sangat beruntung memiliki Ibu. Terima kasih, sebab ibu telah menganggap Nia seperti putri Ibu sendiri. Terima kasih telah menerima Nia, sementara Ibu tahu, bahwa yang dikandung Nia, bukan darah daging mas Farel. Maafkan Nia, Bu. Maafkan Nia," ujar Petunia seraya mengalirkan air mata.


"Sudah. Ayo kita jenguk Farel," ajak Wanda kemudian.


Tubuh jangkung Farel terlelap dalam tidur, disertai dengan suara dengkuran halus dadi Farel. Lelaki itu terlelap, selepas meminum obat dari apotik yang Petunia beli, sesuai resep dari Dokter Maria.


"Apa tidurnya sudah sejak tadi?" bisik Wanda, pada Nia yang berdiri di sebelah ranjang.


"Tidak terlalu tadi, Bu. Sepertinya dia begitu nyaman. Aku, aku merasa bersalah karena membuatnya bekerja keras hingga sakit begini. Maafkan Nia," jawab Nia tak kalah lirih.


"Sudah. Lupakan saja. Tak masalah dia bekerja keras. Toh itu sudah menjadi kewajibannya sebagai suami. Yang terpenting sekarang adalah, kau harus jaga kesehatanmu dengan baik. Oh ya, bagaimana dengan lelaki yang menjadi ayah biologis anakmu dan Farel? Apa masih suka berkunjung dan datang tiba-tiba? Ibu khawatir sekali," ungkap Wanda seraya menuntun Nia pelan, menuju ke luar kamar.

__ADS_1


Ia rasa, ia tak akan leluasa berbicara dengan menantunya, sementara ia harus bicara pelan sebab Farel telah tertidur.


"Sudah tidak pernah datang lagi, Bu. Jangan khawatir. Lagi pula, Nia tak memiliki banyak waktu untuk meladeni hal seperti itu," jawab Nia tenang.


"Bagus. Ibu harap, kau dan bayimu selamat dan sehat, tanpa harus melewati serangkaian proses rumit di rumah sakit. Semoga Tuhan memberikan kemudahan untukmu melahirkan," timpal Wanda, seraya mengusap perut Nia yang buncit.


"Terima kasih atas doanya, Bu. Nia juga doakan, Ibu sehat selalu," ungkap Nia.


Keduanya lantas keluar kamar, dan menutup pintu.


"Sejak kapan anak itu sakit?" Tanya Wanda, ketika Nia dan dirinya telah berada di luar kamar.


"Sejak pagi tadi bangun tidur. Semalam, dia masih baik-baik saja kok, Bu," ungkap Nia.


"Baiklah, Ibu akan membangunkannya nanti untuk makan. Oh ya, kau mau makan sekarang?" tanya Wanda menggandeng lengan Petunia untuk duduk di sofa.


"Tidak, Bu. Nanti saja jika mas Farel sudah bangun," jawab Nia kemudian.


Sebuah cinta yang memenuhi rumah tangga Nia, membuat Nia begitu kompak. Jika ada Farel di rumah, Nia tak akan makan seorang diri, tanpa Farel. Itulah yang nia terapkan.


"Kau benar-benar istri yang hebat. Terima kasih sudah bersedia belajar menerima dan mencintai Farel," Wanda mengusap puncak kepala Nia, merasa begitu iba pada nasib menantunya itu.


Dulu, Wanda begitu ingin anak perempuan. Kehadiran Nia, mungkin adalah jawaban dari Tuhan atas keinginnya itu.


Di tempatnya, Nia benar-benar merasa bahagia dengan keluarga barunya itu. Kehadiran mertua, membuat Nia tak lagi merasa sendiri, apalagi kesepian.

__ADS_1


Namun, apakah mungkin kebahagiaan Nia hari ini, akan bertahan hingga esok hari? Nia hanya berharap, semoga tak ada lagi duka di masa depan dalam pernikahannya bersama Farel.


**


__ADS_2