
Hari terus berganti dengan tahun yang berlalu tanpa bertoleransi. Situasi masa lalu dan masa kini, telah banyak berubah dengan banyak hal yang saling bertolak belakang. Segala hal yang menyangkut tentang masa lalu menyakitkan, pada akhirnya sang Petunia mulai bisa berdamai dengan takdirnya.
Sudah mulai merasa bisa mengendalikan segala perasaan dan isi hati, Petunia semakin dewasa dengan bijak yang ia miliki. Farel benar-benar mendidik istrinya itu menjadi wanita penyabar, namun juga tegas akan segala hal.
Kairav sudah berusia enam tahun, dengan banyak rasa ingin tahunya. Anak itu juga sudah mulai mengerti, dengan banyak urusan orang dewasa yang tak boleh ia tahu. Tak jarang, sang Ibu, melarangnya bertanya tentang keluarga besar.
Di bulan penghujung tahun kali ini, ada sebuah rencana yang di susun Farel Prahasta. Tak lagi lemah seperti dulu, mungkin inilah alasan Tuhan tak memanggilnya secepat yang orang pikir.
Seperti pagi ini, libur sekolah mulai tiba, sebab perayaan natal akan di gelar beberapa hari lagi. Anak itu sengaja libur lebih awal, sebab Farel akan membawanya untuk kembali ke kota kelahiran dirinya dan sang istri. Tentu anak itu senang tak terkira.
"Kata teman-temanku, memiliki nenek dan kakek sangat menyenangkan. Aku tak sabar untuk bertemu kakek, Pa," ujar Kairav dengan senyumnya yang menawan. Tak hanya itu, sepasang matanya yang cerah penuh kepolosan, membuat Farel jatuh hati meski Kai bukan darah dagingnya sendiri.
"Tapi disini sudah ada nenek, Kai. Jangan khawatir, Nenek Winda juga tak kalah menyayangimu," jawab Farel, membalas senyum putranya.
"Ya, nenek Winda baik. Tapi kan disini tidak ada Kakek. Jika aku datang ke kota lama Mama dan Papa, apa aku juga akan digendong Kakek?" Kau dengan cerewetnya kembali bertanya.
"Hentikan, Kai. Kau sudah seperti nenek Kabayan karena banyak bertanya. Sekarang kembalilah ke kamar. Semua sudah siap dan besok pagi kita akan berangkat sepagi mungkin," perintah Petunia dengan menghampiri putranya, yang tengah duduk di pangkuan Farel.
Nia sengaja menghentikan percakapan ayah dan anak itu, agar tak melebar kemana-mana. Nia tak siap, jika Kai tahu semuanya. Cukuplah bagi Nia, Kairav hanya tahu bahwa Ayahnya hanyalah Farel Prahasta.
Mata anak itu menyorot tajam pada sang Ibu. Ia enggan tidur dan masih ingin berbincang dengan Ayahnya yang cenderung berpihak padanya.
"Tapi, aku ingin bicara banyak dengan Papa, Ma. Mama tidur duluan saja, sana," jawab Kairav.
__ADS_1
"Besok jika Mama dan Papa segera berangkat dan kau masih tidur, Mama akan meninggalkanmu di rumah bersama Nenek Winda dan om Benn," ujar Nia dengan nada mengancam.
"Baiklah. Kai akan tidur lebih awal," jawab anak itu tak berdaya. Mata beningnya, membuat Farel dan Nia gemas.
Langkah Kairav pelan tanpa suara. Anak itu hendak menuju kamar, sebab tak ingin membuat Sang ibu, kecewa.
Si Petunia menatap bahu kecil putranya. Sudah sekian lama, Kai sudah sebesar ini. Satu hal yang membuat Nia merasa terganggu Setiap ia bicara dengan putranya. Mata Kairav demikian mirip dengan Adam. Farel sendiri tak menyangkal hal itu.
"Memikirkan ucapan Kairav tadi?" tanya Farel. Tangan lelaki itu terulur, menarik pelan lengan istrinya agar duduk di sampingnya.
Di tatapnya suami yang banyak berubah saat ini. Farel begitu dewasa, dengan pembawaan kalem dan tenang. Garis wajahnya jauh lebih tegas dengan wibawa yang kuat.
Harusnya Nia jatuh cinta sepenuhnya pada Farel. Tapi hatinya, masih saja sering ingat dengan Adam. Wajah Kairav yang mirip Adam, tentu menjadi penyebabnya.
"Tidak begitu. Aku pastikan, kedua orang tuamu begitu rindu dirimu dan anak kita. Ibu dan Ayahmu, merasa bersalah dan sangat mengharap maafmu," ungkap Farel kemudian.
"Terserah saja nanti bagaimana. Rel, terima kasih banyak atas semuanya," sambut Petunia dengan baik. Keresahan hatinya, berkurang karena ungkapan suaminya.
Malam terus beranjak. Hati Petunia terasa lebih hangat saat bersama Farel. Namun sayangnya, Farel harus keluar untuk mengecek beberapa masalah yang terjadi pada salah satu cabang outlet kacamata, usaha miliknya.
Berkat kegigihan dan keuletan Farel, lelaki itu meski tidak memiliki riwayat pendidikan setinggi Adam, namun kini Farel membuktikan bahwa ia bisa membahagiakan ratu hati tercinta.
Menjadi pengusaha sukses, butuh waktu bertahun-tahun. Ya, meskipun dengan titel pengusaha kelas menengah, setidaknya Farel memiliki harta yang bisa dibanggakan daripada dulu.
__ADS_1
Abimanyu?
Akan Farel pastikan Abimanyu tak akan menghinanya lagi.
"Rel, sebelum pergi, bolehkah aku mengajukan satu pertanyaan padamu?" tanya Nia hati-hati.
"Tanyakan saja, ada apa?" Farel balik bertanya.
"Bagaimana jika nanti kita pulang, ada Adam? Pasti dia akan bertemu dengan kita," tanya Nia lirih.
Dengan cepat, Farel meraih dan membawa tubuh langsing istrinya, dalam pelukan. Memberi ketenangan, sejak dulu Farel menjadi yang terbaik untuk Nia.
"Tika memberi kabar, di sudah bahagia dengan keluarga kecilnya. Tapi kita, kita juga harus menunjukkan keluarga kecil kita yang tak kalah bahagia. Kita akan segera pulang, memberi pelajaran kecil pada mereka yang telah menyakiti istri cantikku ini di masa lalu," jawab farel seraya terkekeh ringan.
"Tika? Aku merindukan anak itu," ungkap Nia dengan bibir tersenyum tipis.
"Kita akan bernostalgia mengenang masa lalu," tentunya dengan sedikit permainan pada keluargamu yang telah menyakitimu, juga berusaha melenyapkan aku.
Sambung Farel dalam hati.
Keduanya hanya tak sadar, sejak tadi, Kairav menguping pembicaraan mereka. Anak itu selalu ingin tahu, tentang urusan orang dewasa yang tak boleh ia campuri ranahnya.
**
__ADS_1