
Gaun putih tulang yang di kenakan oleh Petunia Amarilys dalam acara pernikahannya, membalut tubuh kurusnya dengan sempurna. Meski perut Petunia buncit, namun tetap saja gaun pilihan Farel begitu pantas dikenakan oleh Nia.
Memasuki altar, jantung Nia serasa di tarik paksa dari rongga dadanya. Wanita itu tak berdaya, saat melihat ketulusan yang terpancar dari wajah dan sorot mata lelaki itu. Janji suci yang mengikat mereka di hadapan Tuhan, membuat Petunia merasa kian lepas dan jauh dari sosok Ayah dari janin yang dikandungnya.
Tepat ketika acara pembukaan kerudung, imam mengatakan, "semoga kalian saling memandang dengan wajah penuh cinta," dan lembut bibir kedua insan itu saling beradu dan menyalurkan kesediaan.
Awal mulanya, Farel begitu gugup dan tak berani mengeluarkan sepatah kata pun. Mulutnya benar-benar sulit mengungkapkan kata, terlebih kala netranya melihat kecantikan Petunia yang sesungguhnya.
Hatinya dipenuhi kebanggan sekaligus puas, sebab mampu memiliki wanita yang ia cintai, sejak saat itu. Ya, Farel memang menyukai Nia sejak lama. Beruntung Tika membantunya banyak hal, demi bisa mendekati Petunia.
Dalam diam dan memejamkan mata, Nia menjadi pihak yang pasif. Wanita itu memejamkan matanya, pertanda bahwa wanita itu menyerahkan sepenuhnya hidupnya pada Farel.
Tatkala wanita itu telah dimiliki oleh Farel Prahasta, maka saat itu pula Nia memutuskan untuk menerima Farel sebagai suami, seperti Farel yang sudah menerima dirinya dengan segala kekurangan dan cacat cela.
Andai pun suatu saat kau tak lagi ingin meneruskan pernikahan ini, aku sanggup menerimanya, Rel. Terima kasih sudah tulus menerimaku.
Batin Nia.
Di sudut ruangan, ada Adam yang memejamkan mata. Pria keturunan Hutama itu seperti tak percaya, dirinya dan Nia benar-benar akan sulit saling memiliki setelah ini.
Adam terdiam, menikmati sakit yang menyayat bagian dadanya. Sesak mendera dengan sangat besar, saat Nia dan Farel saling menautkan bibir. Rasanya mengapa sakit ini? Apakah Nia merasakan hal serupa, ketika dirinya dan Kia melakukan pernikahan? Terlebih, Nia tengah mengandung saat dirinya dan Kia menikah.
"Tidak!" teriak Adam refleks, mengejutkan seluruh keluarga. Semua mata memandang ke arahnya dengan penuh tanya tersirat, apa yang Adam lakukan di tengah khidmad pernikahan Nia dan Farel?
"Mas? Kau baik-baik saja?" tanya Kia kemudian, "kau sakit?"
"Tidak," yang sakit adalah hatiku, Kia. Tubuhku baik-baik saja sejauh ini.
__ADS_1
Sambung Adam dalam hati.
Kia kembali bungkam, begitupun dengan Abimanyu dan Kirana yang juga ikut serta diam.
Begitu Petunia dan Farel turun dari altar, maka saat itu pula ada banyak suara patahan hati dari dalam dada Adam. Lelaki itu merasakan patah hati yang sesungguhnya, terlebih ketika tangan kanan Nia menggamit lengan Farel, dan tangan kirinya mengelus perut Nia yang terlihat jelas buncit.
"Selamat, Nia. Kakak berharap kau bahagia dengan pilihanmu. Kau benar-benar cantik dan istimewa," sambut Kia, ketika Nia sudah bersiap untuk pulang.
"Terima kasih, Kak. Kau juga sangat cantik hari ini," jawab Nia dengan sorot sendu.
Nia bahagia, sekalipun dirinya harus melalui jalan terjal yang menyiksa. Tidak sia-sia pengorbanan besar wanita itu, bila melihat kakaknya tersenyum lebar seperti ini.
"Ayah, Ibu," ucap Nia, namun yang Petunia terima adalah tatapan dingin sang ayah. Entah sampai kapan dirinya akan menerima sorot kebencian sekaligus kecewa dari sang Ayah. Yang jelas, Nia tak akan membalas kebencian ayahnya, sebab dirinya yang bersalah.
"Maafkan Ayah dan Ibu. Mereka hanya belum bisa menerima situasi ini. Nanti, mereka pasti akan mengerti, dan bisa beradaptasi dengan baik. Kau dan aku, kita sama-sama putri Ayah dan Ibu. Akan ada saatnya nanti, mereka pasti bisa menerima keadaan ini," ungkap Kia menguatkan.
Adam sejak tadi hanya bisa menatap Nia, mengagumi kecantikan yang baru lelaki itu sadari hingga kini. Sial! Lelaki itu mengumpat matanya sendiri yang sulit lepas dari Nia.
Dasar mata keranjang!
Itulah kata yang pantas di sematkan pada Adam.
Hingga lantas Farel datang, sengaja membuat Adam terbakar api cemburu. Fares Prahasta kemudian menggandeng tangan Nia erat, seolah takut kehilangan Nia.
"Sudah siap pulang?" tanya Farel lembut.
"Ya, Mas. Aku akan ikut denganmu," jawab Nia dengan suara lembut mendayu-dayu.
__ADS_1
Seperti ada kobaran api, yang panasnya sanggup membakar semesta dan seisinya. Begitulah gambaran singkat suasana hati Adam saat ini.
"Maaf, kak Kia, kak Billy, kami pamit pulang dulu. Mohon sampaikan salam kamu berdua pada Ayah dan Ibu," kata Farel sopan.
Mata Adam terasa pedih, memandangi kepergian Nia yang semakin menjauh, hilang di telan jarak. Ia hanya bisa diam, dan berusaha untuk fokus hanya mencintai satu wanita saja, Yaitu Kia.
"Mas, kau tak enak badan? Aku rasa sejak tadi kau hanya diam," tanya Kia kemudian. Wajah Adam Billy bila di perhatikan, terlihat kehilangan sedikit ronanya.
"Tidak. Aku baik-baik saja. Mungkin kelelahan sebab membantu Ayah dan Ibu mempersiapkan pernikahan Nia," jawab Adam berdusta.
"Baiklah, ayo kita pulang agar kau bisa segera istirahat," ajak Kia seraya menarik tangan suaminya.
Kia hanya tak bisa melihat, juga tak bisa mengenali betapa suaminya itu tengah terbakar api cemburu. Andai Kia tahu, mungkin tak akan seperti ini jadinya.
Sedang Nia, wanita itu banyak diam, dan lebih banyak tersenyum saja pada Farel. Meski tak ada cinta di hati Nia untuk Farel, namun Nia ingin sekali belajar mencintai Farel sebagai abdinya yang sudah di tolong oleh Farel Prahasta.
Perjalanan pulang kali ini, menjadi sebuah kisah lara yang melengkapi tragedi. Nia duduk berdua dengan Farel di bangku belakang, dan sopir yang duduk seorang diri di bangku depan.
Keheningan mendominasi ruangan interior mobil pengantin. Beberapa bunga dan pernak-pernik keindahan dalam mobil, serta bunga Petunia, mawar dan melati yang ada di dalam mobil, adalah rancangan Kia.
"Nia, kita akan pulang ke rumahku dulu malam ini, Besok, kita akan tempati rumah baru kita. Tapi maaf, rumahnya kecil. Aku hanya bisa membeli rumah minimalis untuk tempat tinggal kita, itupun, aku hanya punya dana separuh lebih. Kekurangannya, Ibuku yang menguras tabungan untuk menambahnya. Maaf juga tak ada pesta meriah seperti yang seharusnya," ujar. Farel tiba-tiba.
"Tak apa, Rel. Ini pun sudah lebih dari cukup. Terima kasih sudah menerimaku. Sekarang, kau bebas memiliki aku, tetapi bukan berarti kau boleh semena-mena padaku," sahut Nia seraya tersenyum.
"Ah ya, itu pasti," sambut Farel kemudian, menahan haru yang benar-benar hanya dirinya yang bisa merasakan.
**
__ADS_1