
Bak sebuah kematian berkali-kali bagi seorang Ayah, yang menyesali semua masa lalu akibat ulahnya. Kehancuran putrinya yang didalangi oleh lelaki yang tinggal satu atap dengan seorang ayah, menjadi sebuah pukulan berat hingga membuat Abimanyu nyaris mati.
Abimanyu duduk berdua dengan putri bungsunya. Hanya dengan Abimanyu, Petunia bersedia bicara dari hati ke hati sebelum ia benar-benar pulang ke rumahnya tanpa berniat kembali lagi. Kirana juga hanya bisa bicara seperti biasa tanpa pribadi. Terlebih Kia. Nia tak lagi memberi kesempatan Kia tuk bicara.
Andai semua sakit hati itu bisa dihapus dengan uang, Abimanyu bersedia untuk menjual semua aset-asetnya untuk menghapus sakit hati Nia. Abimanyu tak akan keberatan jika dirinya jatuh miskin dalam sekejap.
Sebuah dengung suara showcase mini dalam ruang kerja Abimanyu, menjadi saksi kesunyian suasana sore menjelang malam kali ini. Ada rasa tak suka, di hati Petunia sebab menunggu terlalu lama, untuk mendengar apa yang akan Ayahnya katakan.
"Apa yang mau Ayah sampaikan?" tanya Petunia dengan suara datar.
Sebagai seorang anak, Petunia tentunya sangat menyayangi orang tuanya. Tetapi dirinya terpaksa harus membatasi kedekatan dengan sang Ayah, tidak seperti dulu kala saat keluarganya masih baik-baik saja.
"Kali ini Ayah minta maaf dengan sungguh-sungguh, Petunia. Maaf sudah membuatmu menderita dan Farel tersakiti. Setiap orang, pastilah memiliki kesalahan dan juga berhak mendapatkan kesempatan kedua, Bukan? Tolong Ayah kali ini, Ayah ingin hubungan Ayah denganmu dan suamimu, terjalin dengan baik saat ini dan di masa depan," ungkap Abimanyu pertama kali, secara panjang lebar.
Petunia mengerutkan alisnya seraya menimpali, "apakah Farel telah dianggap dalam hati Ayah, sebab Farel sekarang telah sukses?" tanya Petunia pelan, namun terasa menohok hati sang Ayah.
"Tidak. Ayah tidak membedakan Farel dengan Adam. Mereka berdua menantuku. Tadinya Ayah akan tetap larut dalam kemarahan dan kebencian terhadap Adam. Tetapi rasanya, Ayah semakin hari semakin tua. Lebih damai rasanya jika Ayah berdamai dengan takdir," jawab Abimanyu.
"Lantas setelah Nia memaafkan Ayah, apakah Ayah akan berhenti mengusik mas Farel?" tanya Nia.
Tak segera menjawab, Abimanyu memilih untuk mengulas senyum. Lelaki itu mencoba untuk memahami bagaimana rasa hati putrinya saat ini. Mengalami kesialan bertubi-tubi dalam hidup, pasti membuat hati Nia tak akan mudah menerima banyak alasan dan omong kosong.
"Ayah sudah berhenti mengusik keluarga kecilmu, Nia. Termasuk Farel. Ayah ingin kami menjalin hubungan Baik. Toh Farel juga sudah memaafkan Ayah," ujar Abimanyu.
"Ya. Mas Farel mungkin sudah memaafkan Ayah. Tetapi Nia, tidak akan pernah bisa melupakan semuanya, Ayah. Nia rasa Nia tak memiliki banyak waktu, dan harus pulang segera," jawab Nia.
"Nak, tolong jangan terburu-buru. ayah mohon kali ini, saja," Abimanyu mencoba untuk bernegosiasi.
__ADS_1
"Maaf, Ayah. Nia tak bisa," jawab Petunia seraya memalingkan wajahnya. Wanita itu tak mampu, menatap sang Ayah yang mengiba padanya.
Sejatinya, orang tua tak pantas mengiba atas sebuah permintaan pada sang anak. Namun Petunia bisa apa?
Wanita itu melakukan sesuatu berdasarkan isi hatinya.
Hening menyelimuti keduanya. Abimanyu tak lagi membantah, ataupun memenangkan keinginannya. Lelaki itu menyadari, bahwa ada banyak hal yang memang tak selalu bisa ia dapatkan di dunia ini.
Dunia memang penuh dengan lelucon. Sekuat apapun kita meraih dan berusaha memeluk kemenangan atas ego, nyatanya semua itu akan kalah dengan yang namanya takdir. Kali ini, dirinya memang harus mengalah demi bahagia sang putri.
"Baiklah. Ayah mengerti dan tak akan pernah memaksa. Tapi sebelum pulang, bolehkah Ayah mengajukan permintaan? Ayah tidak memaksa jika kau tak mengijinkan," pinta Abimanyu dengan nada suara yang sangat hati-hati.
"Akan Nia berikan jika Nia mampu," jawab Petunia tanpa berpikir panjang.
"Beri Ayah pelukan sebelum kau kembali. Lain waktu, Ayah juga ingin mengunjungimu dan Farel, juga Kairav untuk melepas rindu," ungkap Abimanyu kemudian.
Tadinya, Nia kuat dan baik-baik saja. Tetapi sayangnya, Nia kini tak lagi mampu menahan segala lukanya. Bayangan kenangan masa kecil terlintas begitu saja dalam otak Nia. Momen penuh suka cita dan pelukan hangat Abimanyu dan Kirana kala Nia masih kecil, berputar dalam otak wanita itu.
Rindu tentu saja, dan kerinduan itu mendadak saja menjelma menjadi tombak yang menghunus pertahanan Nia.
Tangis putri bungsu Abimanyu itu pecah, hingga menyebabkan kemeja putih Abimanyu basah oleh air mata.
"Nia juga minta maaf atas semuanya, Ayah. Hanya saja, Nia tetap tidak bisa tinggal disini lebih lama. Maaf, Nia sudah meninggalkan Ayah cukup lama. Nia hanya tidak tahan dengan sakit dari lukanya," isaknya dalam tangis.
Abimanyu pun tak kalah pecah tangisnya. Sepasang Ayah dan anak itu, mengukir sejarah haru untuk pertama kalinya setelah sekian lama perpisahan mereka.
"Petunia dan mas Farel pamit, Ayah," kata Nia.
__ADS_1
Abimanyu mengangguk tanpa kata, menghapus air matanya.
Nia keluar, menatap Ibu dan kakaknya yang menatapnya sendu. Benar-benar, Nia tak memberi kesempatan Kia untuk bicara secara pribadi dengannya.
"Bu, Ayah, kak Kia, aku pamit," Nia pamit untuk sebuah perpisahan yang mungkin akan terjadi cukup lama.
"Hati-hati di jalan, nak. Ibu usahakan, secepatnya Ibu akan mengunjungi Cucu Ibu," ujar Kirana seraya menggendong Kairav yang cukup berat baginya. Tak lupa, wanita paruh baya itu juga menciumi setiap sudut wajah Kairav.
"Tanpa seseorang yang tak aku inginkan tentunya, Bu," ujar Petunia, tanpa melirik Adam sekalipun orang yang ia maksud adalah Adam.
Adam menatap Farel dan Nia datar, sayangnya hatinya penuh luka berdarah. Semua salahnya, dan wanita manis yang ia buang dulu, kini adalah sumber harapannya. Adam sungguh mendapatkan balasan atas dosanya. Ia bisa melihat Nia, namun tak bisa merengkuh wanita itu dalam hangatnya raga.
"Pasti. Ibu akan simpan baik-baik pesanmu," sambut Kirana dengan girangnya.
Farel segera membawa keluarga kecilnya masuk ke dalam mobil, tak lupa, ia juga pamit pada keluarga istrinya.
Sepanjang perjalanan, rasa hati Petunia mendadak lebur seketika. Wanita itu merasa tak nyaman, dan berkali-kali merasakan jantungnya berdegup tak karuan.
"Sayang, kau kenapa?" tanya Farel yang bisa membaca gelagat tak nyaman istrinya.
"Perasaanku tak nyaman," jawab Nia.
Baru saja Farel hendak kembali bersuara, suara benturan keras dari belakang mobilnya terdengar memekakkan telinga.
Mobil sport mewah berwarna hitam metalik itu, tertabrak truk box besar yang mengalami rem blong, hingga mobil Farel terbentur pada tiang listrik tepat di sebelah jembatan. Kejadian terjadi tak jauh dari rumah mewah Abimanyu.
Tragedi kembali menimpa sang bunga, Petunia Amarilys yang malang.
__ADS_1
**